
...♡♡♡...
Wiuu
Wwiuu
Mobil ambulans tampak memasuki area halaman rumah sakit lalu mobil tersebut berhenti seketika tepat di depan pintu masuk kemudian tak berapa lama dari beberapa orang perawat menghampirinya serta membantu untuk membaringkan Shopia di atas tempat tidur Stretcher di sebut juga dalam istilah brankar dorong dan di saat yang bersamaan tampak Panji juga Nathan dari arah lorong rumah sakit hendak menuju pintu keluar sudah pasti akan saling berpapasan namun tiba-tiba saja Nathan ingin buang air kecil makanya langkah mereka menjadi berbalik arah mencari toilet.
Kino terlihat cemas di raut wajahnya karena sang ibu belum juga tersadar dan kini Shopia di bawa menuju ke unit darurat namun Kino di minta untuk melunaskan pembayaran sebelum melakukan pemeriksaan terhadap ibunya, begitulah penyampaian dari salah satu perawat berkata demikian pada Kino dan untungnya tas kecil yang di bawa oleh ibunya berada di tangannya saat ini maka dari itu ia tak akan pusing mengenai masalah perobatan untuk ibunya itu.
Setelah Kino menyelesaikan semua pembayaran ia pun bergerak menyusul ke arah ibunya lalu ia berhenti tepat di ruangan unit gawat darurat kemudian Kino duduk di salah satu bangku yang sudah tersedia bahkan tampak raut wajahnya menjadi penuh amarah mengingat Khanza mencelakai ibunya.
"Dasar anak-anak gembel sialan?! beraninya kalian membuat ibuku celaka? kalau aku dapatkan kalian tak akan aku beri ampun sedikit pun."
Kino terus bergumam dengan ngedumel serta mengepalkan kedua tangannya namun dalam beberapa saat dia mengingat lagi kalau sebelumnya Khanza sedang memegang tumpukan koran lalu dia berfikir sejenak kalau Khanza saat ini sudah pasti sedang menjualkan koran yang di bawanya, itulah fikir Kino sehingga ia menyeringai dan merogoh ponsel miliknya serta membuka layar ponsel mencari nama Guntur.
Tuutt
Tuttt
Panggilan berulang pun di lakukan oleh Kino sebab Guntur belum juga mengangkat panggilan darinya.
Beberapa saat Kino mengulang panggilannya kembali.
Tuutt
"Halo, ya bos ada apa?" tanya Guntur dari sebrang sana.
"Guntur apa kau sudah mendapat informasi tentang anak gembel itu?" berbalik tanya seolah ia berpura tidak tahu.
"Belum bos karena wanita yang bernama Ratih itu sudah mengganti nomor ponselnya makanya aku tak dapat menghubunginya lagi," jawab Guntur pula.
"Sudah, tak perlu lagi itu yang kau tunggu! sekarang kau dengarkan aku baik-baik."
Kino mulai berkata tegas sehingga Guntur terdiam seketika.
"Aku dan ibuku sudah bertemu mereka di jalanan raya sedang membawa koran jadi tidak salah lagi kalau mereka memang menjualkan koran-koran itu di setiap jalan besar," lanjutnya lagi berbicara secara pelan supaya Guntur mendengar suaranya. "Tugasmu sekarang mencari tahu di mana mereka tinggal tapi ingat jangan sampai mereka menyadari kehadiran kalian supaya kalian mudah menangkapnya dan bawa padaku sesegera mungkin! apa kau dengar ucapan ku barusan?" tanya Kino terdengar meninggikan suaranya dari balik ponsel.
"Maaf bos, tapi bukankah bos mengatakan sudah menemukan mereka di jalanan? kenapa mereka tidak langsung di tangkap saja bos?" celoteh Guntur membuat Kino jengah sehingga wajahnya tampak merah padam serasa ingin meledak.
"Kalau aku sudah menangkap mereka tak perlu lagi aku menghubungi mu! jika mereka sudah ada di tanganku akan ku bunuh langsung sekaligus dengan mu akan ku kirim ke neraka!" amukan Kino terdengar sangat jelas sehingga dari beberapa perawat berhenti melihat ke arahnya namun dirinya merasa seolah tak ingin tahu sebab ia mengalihkan wajahnya.
"Kau tak usah banyak bicara! lakukan tugasmu dengan benar dan jika kau tak berhasil menangkap mereka uang mu akan hangus bahkan kau tak akan dapat sepeser pun, mengerti kau!"
Tutt
"Meng,-
Seketika panggilan terputus begitu saja sebab Kino mematikan secara langsung tanpa berbasa-basi lagi.
"Manusia tak tahu sopan! sialan ini orang, berani sekali dia membentak ku sampai begitu, kalau bukan karena uangnya mulutnya sudah aku hancurkan sampai tak bisa berbicara. Sial?!" cercaan Guntur sampai terdengar dari beberapa bawahannya bahkan ia melempar ponsel miliknya ke arah meja secara keras.
Braakk
Ponsel tersebut hanya retak saja namun layarnya masih tetap menyala sebab Guntur teramat geram ketika berbicara pada Kino barusan makanya ponsel miliknya menjadi sasaran empuk kemarahan dirinya itu.
"Bos, ada apa dengan mu? tak biasanya kau mengamuk seperti ini," tegur dari salah seorang bawahan Guntur bernama Juna sedang berdiri menyapa Guntur ketika ia sebelumnya bermain dam kartu bersama yang lain makanya dia langsung masuk di saat mendengar suara keras pada sebuah ruangan tempat biasa mereka berbincang.
"Aku hanya jengkel saja pada manusia sok merasa hebat itu! jika bukan karena uangnya aku sudah membunuhnya dan ibunya yang sok berkuasa," balasnya pula terdengar masih penuh kemarahan serta ia bertolak pinggang dengan membalikkan tubuhnya dari Juna.
"Yasudah biarkan saja bos, lagian setelah kita dapatkan uangnya urusan kita dengan mereka sudah tak ada lagi," timpal Juna secara langsung ia menenangkan Guntur sesaat.
"Ya, kau benar! kita harus segera tuntaskan urusan dengan mereka karena aku sudah muak di atur-atur oleh mereka berdua," sarkas Guntur anggukan kepala sebab ia setuju dengan ucapan Juna barusan. "Ohya Jun, apa kau melihat Adam? sedari tadi aku tak melihatnya," cakap Guntur sembari celingukan ke arah luar ruangan mereka saat ini.
"Ah, si Adam sekarang ada di kamarnya habis minum sampai mabuk bahkan aku mendengar beberapa kali dia sedang menyebut nama Khanza dan Zizi malah berulang kali," ungkap Juna demikian pula sehingga Guntur tampak sesekali memegangi dagunya.
"Mungkin saja itu nama anak-anaknya yang sudah tak perduli lagi padanya," ucap Guntur sembari menatap ke arah Juna.
"Mungkin," singkat Juna menjawabnya.
"Biarkan saja dia, sekarang kita harus bergerak cepat dan kau bawa yang lainnya aku akan menunggu di mobil," titahnya dengan serempak berjalan ke arah pintu hendak keluar.
"Baik bos!" turut Juna secara patuh.
^^^To be continued^^^
^^^🍂 aiiWa 🍂^^^
...Kutipan :...
Saling memanfaatkan padahal semuanya tak ada guna jika apa yang di dapatkan bukan dari cara yang baik ❤️