Aku, Khanza

Aku, Khanza
Di balik kisah keluarga pak fahri


🍁🍁🍁


Depan pagar rumah.


"Ayo nak masuklah Ini rumah bapak," ajaknya dengan tersenyum lebar memberi jalan keduanya.


Zizi tampak celingukan melihat bunga kian bermekaran begitu cantik seperti sudah sangat terawat begitu pula dengan sang kakak melirik Zizi yang sudah tidak sabar untuk masuk ke dalam rumah.


Tok Tok


"Buk... ieu bapak(ini bapak)," ketuknya berulang kali namun perlahan.


"Leres pak sakedap ibuk mukakeun panto (iya pak sebentar ibuk bukain pintunya)," sahut bunda Amy dari dalam rumah.


Mereka sedang berbicara apa ya? kenapa aku tidak mengerti? batin sang gadis menggaruk kepala pelan.


Kreek


"Bapak aya di imah(bapak sudah pulang)," sambutnya dengan mencium punggung tangan pak Fahri.


Seketika Zizi menatap ke depan langsung bersembunyi di balik tubuh sang kakak karena takut melihat sesosok perempuan yang sedang di dorong bunda Amy memakai kursi roda.


"Loh saha ieu pak(ini siapa pak)?" tanya bunda Amy saat menoleh ke arah mereka.


"Hayu urang lebet heula hayu urang boga carita alus di jero(kita masuk saja dulu buk biar enak cerita di dalam)," ajak pak Fahri sambil mendorong kursi roda tersebut.


"Mari nak kita masuk tidak perlu takut," bujuk pak Fahri membuat Zizi melirik sedikit karena masih merasa takut dengan gadis yang sedang duduk di kursi roda itu.


"Baik pak kami akan masuk," turut gadis itu langsung meraih lengan Zizi yang sedari awal sudah girang untuk mengajak kakaknya ikut ke rumah pak Fahri.


Tetapi Zizi belum juga bergerak saat kakaknya menarik telapak tangan adiknya entah kenapa sikap Zizi berubah drastis menjadi pendiam saat sang kakak mengajaknya untuk masuk ke dalam.


"Ada apa Zi? kenapa kau tidak mau ikut masuk?" tanya sang kakak terheran menatap wajah Zizi yang mengalihkan pandangannya.


"Apa yang kau takutkan Zi? apa karena orang yang ada di kursi roda barusan?" bertanya lagi karena sang kakak bingung memperhatikan reaksi Zizi.


"Ya kak Zizi sangat takut pada orang itu," keluhannya membuat sang kakak tersenyum kecil.


"Kenapa kau harus takut? gadis itu sama seperti kakak dan dia juga bukan zombie," seloroh sang kakak mencubit ujung hidung adiknya.


"Tapi kakak janji ya jangan tinggalkan Zizi karena Zizi tidak mau sendirian," gelisahnya tampak mata berkaca.


"Tidak mungkin kakak meninggalkan kamu Zi kita akan terus bersama dan sekarang kita harus masuk tidak enak kalau sampai pak Fahri menunggu kita," bujuk sang kakak pula meyakinkan adiknya kembali.


Zizi akhirnya menuruti ajakan sang kakak bahkan dia terus ngumpet di balik tubuh sang kakak karena rasa takut masih ia rasakan setelah melihat sosok seorang gadis duduk di kursi roda tadi.


"Assalamu'alaikum," keduanya serentak mengucapkan salam saat hendak memasuki rumah pak Fahri.


Sang kakak selalu mengajarkan pada adiknya untuk selalu mengucapkan salam saat hendak masuk ke rumah orang lain karena itu pula yang di ajarkan oleh ayahnya saat dirinya masih sangat kecil.


"Wa'alaikumsalam," sahut pak Fahri beserta istrinya.


Sepasang saudara itu berjalan mengarah pada ruangan yang sudah tampak sebuah meja dan beberapa kursi tersusun sangat rapi.


"Nak kemarilah kita duduk di sini," panggil pak Fahri sejenak terdengar oleh keduanya mereka pun terus berjalan mematuhi ucapan itu.


Sampailah mereka di meja makan keluarga pak Fahri hingga lontaran senyum pun begitu hangat saat mereka berdiri di hadapan pak Fahri dan istrinya.


Tetapi Zizi masih bersembunyi di balik punggung sang kakak sedari masuk hingga sampai ke arah meja makan, entah mengapa rasa takut menghantui Zizi saat itu.


Anak seusianya mungkin baru pertama kali melihat seorang gadis duduk di atas kursi roda dengan bola mata yang begitu besar seakan terlihat menonjol hingga keluar dari area mata.


^^^To be continued..^^^


^^^🍂 aiiwa 🍂^^^