Aku, Khanza

Aku, Khanza
Awal Pertemuan...


...โ™กโ™กโ™ก...


Kedua mata Yuli juga Putri melebar serta tampak pula mulut mereka menganga karena melihat Tiara sudah terbujur kaku tak sadarkan diri lagi lalu mereka langsung bergerak cepat mendekati Tiara.


Kemudian Putri meraih kepala Tiara dengan meletakkan di atas pangkuan pahanya.


"Ra, kau kenapa? hei ayo bangun!"


Rasa panik keduanya sudah sangat terlihat jelas sampai mereka berulang kali menggoyangkan tubuh Tiara namun tetap tidak ada respon darinya.


"Yul, kita harus segera membawa Tiara ke rumah sakit aku takut terjadi hal buruk padanya," cakap Putri pula menoleh pada Yuli yang hanya terdiam terlihat memejamkan mata. "Yul! apa kau mendengar yang aku katakan?" lanjut Putri lagi merasa terheran dengan sikap Yuli.


Yuli bangkit dari tempatnya lalu berjalan ke arah sofa sesaat dia duduk sambil memijat dahinya merasakan tubuhnya yang lemas "Tidak tahu kenapa kepalaku rasanya berat sekali aku ingin merebahkan tubuhku dulu sebentar dan kau pergilah minta bantuan yang lain untuk membawa Tiara," katanya pula terlihat sudah berbaring di atas sofa hingga terlelap seketika tanpa berbicara lagi.


Berdasarkan apa yang di saksikan oleh Putri saat ini membuat dirinya merasa kebingungan tidak tahu harus berbuat apa sehingga dia tampak frustasi dengan berulang kali membuang nafas kasar dari mulutnya.


Sejenak ia bangkit dari tempatnya sambil berusaha memindahkan Tiara ke sofa berdekatan dengan posisi Yuli. "Aku harus bagaimana? tidak mungkin aku membawa Tiara sendirian sampai ke lantai bawah, aku tidak akan sanggup! ayo Putri berfikirlah, kau harus melakukan sesuatu!" gumamnya terlihat panik sendiri dengan mondar mandir mengurut kepalanya yang sudah mulai terasa sakit.


Aaaagghhh


Jeritan rasa sakit keluar dari mulut Putri seketika dia terduduk di lantai mengerang kesakitan.


"Rasanya kepalaku mau pecah sekarang, ada apa ini sebenarnya? kenapa kepalaku juga terasa sakit sekali? tidak bisa begini aku harus keluar dari sini minta pertolongan, ah nyonya! ya, aku harus mencari nyonya sekarang."


Setelah dia menyadari kalau dirinya juga merasakan hal yang sama seperti Tiara barulah dia faham kalau ada sesuatu dari minuman yang mereka habiskan sebelumnya tetapi reaksi dari Yuli sedikit berbeda darinya juga Tiara mungkin karena Yuli hanya menelannya sedikit makanya tidak merasakan gejala yang sama dengannya.


Karena dia sudah menyimpulkan seperti itu akhirnya dia berusaha bangkit dengan menahan rasa kesakitan yang begitu luar biasa di kepalanya.


"Akhh kepalaku sakit sekali, tubuhku rasanya seperti mati rasa," gumamnya pula sambil terus memegang dahi hingga menyenderkan dirinya di tembok supaya tidak terjatuh karena dia merasakan tubuhnya seperti kehabisan tenaga.


Akan tetapi dia terus berjalan dengan memegang tembok sepanjang dia melangkahkan kaki sehingga sedikit demi sedikit dia sampai ke pintu setelah itu dia menggenggam gagang pintu berusaha membukanya sungguh hanya untuk membuka pintu saja rasanya tenaga sudah sangat terkuras habis dalam sesaat, begitulah yang di rasakan oleh Putri saat ini.


Klakk


Pintu ruangan akhirnya terbuka berkat usahanya yang tidak sia-sia itulah fikirnya bahkan terlihat sedikit merasa puas di balik wajahnya yang tampak pucat itu tanpa dia sadari.


Gedebug


Ternyata tubuh Putri memang sudah tidak mampu menahan lebih lama lagi karena tenaganya memang sudah habis untuk berjalan keluar dari pintu saja yang pada akhirnya dia terkapar di lantai dalam sekejap tidak sadarkan diri.


Tap Tap


Suara kaki melangkah ke arah pintu ruangan yang sudah terbuka lebar hingga Putri yang terkapar di lantai di seret begitu saja masuk ke dalam ruangan kembali secara kasar.


.


.


.


"Aku baru saja melihat seorang pelayan dan seorang wanita masuk ke dalam ruangan itu," katanya pula dengan menunjuk dari jarak jauh.


Yeap, orang yang berbincang itu adalah Nathan anak pewaris tunggal keluarga Austin karena ia sedang berjalan ke arah toilet makanya dia sempat melihat Shopia juga Kino yang menyamar memakai baju waiters sedang masuk ke dalam ruang modeling tetapi Nathan tidak tahu menahu kalau ruang yang mereka masuki itu merupakan ruang ibunya sendiri.


"Mungkin pelayan itu ingin membersihkan ruangan di dalamnya makanya mereka masuk bersamaan," jawab Hardi yang merupakan bodyguard untuk menjaga di manapun Nathan berada.


"Ya mungkin saja begitu, yasudahlah aku masuk dulu ke dalam," ucapnya pula namun mata masih ke arah ruangan tersebut entah mengapa rasanya Nathan menjadi sangat penasaran melihat baju yang di kenakan oleh Kino berbeda dengan pelayan yang dia temui saat bersama kakeknya tadi.


Bugh


"Akh!"


"Pfftt."


Karena Nathan berjalan tidak fokus ke depan akhirnya dia terjedut pintu masuk toilet seolah dia tidak menyadari kalau pintu sudah ada di depan matanya karena pandangannya tertuju pada ruangan tadi.


Brakk


Seketika Nathan menendang kuat pintu toilet memakai sebelah kakinya dengan hati yang kesal karena sudah membuat dahinya memerah seolah dia menyalahkan sebuah dinding dengan mengalihkan rasa malunya terhadap diri sendiri serta Hardi.


"Dasar pintu sialan! kenapa? apa sedang mengejekku sekarang?" semburan yang keluar dari mulut Nathan mengarah pada Hardi yang terlihat menahan tawanya.


"Ma -maaf tuan saya mana mungkin melakukan itu," cakap Hardi terdengar kelabakan seolah merasa panik kalau Nathan menyadari wajahnya yang sedang menahan tawa. "Sini tuan saya bantu tuan masuk ke dalam," lanjut Hardi lagi dengan begitu beraninya memegang lengan Nathan tanpa dia sadari karena kepanikannya tadi.


"Yang sakit dahiku! bukan kakiku," celetuk Nathan pula melirik ke arah tangan Hardi yang memegang lengannya. "Aku bisa masuk sendiri, malah aku tidak tenang kau ikut ke dalam," timpalnya lagi terdengar mencibir Hardi.


Secepat mungkin Hardi melepas tangannya dari lengan Nathan.


"Maaf tuan, maaf! saya tidak sengaja tuan, sekali lagi maaf," riuhnya berulang kali bungkuk di hadapan Nathan yang tampak heran dengan sikap takut Hardi padanya.


"Sisakan kata maafmu untuk besok jangan kau habiskan sekarang," semburan ucapan Nathan terdengar nyelekit di telinga Hardi lalu dia membalikkan tubuhnya mengarah ke pintu toilet yang sudah di buka oleh Hardi.


"Hati-hati licin tuan," pesan yang terdengar menyindir itu membuat Nathan berhenti sejenak.


"Aku bukan anak kecil, tak perlu kau cemas sampai begitu," sarkasnya pula melirik dari samping lalu dia melanjutkan kembali langkahnya.


Hardi terdiam tanpa menjawab perkataan tuan mudanya itu.


^^^To be continued^^^


^^^ ๐Ÿ‚ aiiWa ๐Ÿ‚^^^