Aku, Khanza

Aku, Khanza
Tinjuan Amelia


🍁🍁🍁


BRAAAKK


Pintu di banting keras oleh Shopia tanpa berkata apapun setelah ia mengetahui orang yang datang ke rumahnya hanyalah seekor kecoak saja, itulah fikir Shopia hingga tak segan lagi membanting pintu tersebut.


Bahkan Amelia di buat menganga oleh sikap Shopia yang sangat tidak sopan saat dirinya bertanya tanpa menjawab terlebih dulu, begitu pula dengan Devan hanya bisa menautkan kedua alis matanya melihat reaksi Shopia tanpa balik menyapa mereka terlihat begitu sombongnya.


"Van." Amelia mulai naik spaning tampak juga matanya kian memerah menahan emosi.


"Apa? kau ingin melampiaskan padaku rasa emosi mu itu?" tanya Devan pula melirik sekilas reaksi yang di tunjukkan oleh Amel.


"Apa kita tidak salah rumah? dasar nenek lampir! berani sekali nenek tua itu berbuat begini pada kita, sudahlah! kita pergi dari sini sebelum aku bakar rumah ini nantinya," celoteh Amelia meremas pundak Devan tanpa dia sadari.


"Sssshhh sakit banget loh Amelia! apa kau tidak sadar kuku mu sudah seperti setan? akh, minggir kau!" desis rasa sakit yang di terima oleh Devan seketika pula meninggalkan Amelia di tempat.


Dirinya hanya menggigit bibir bawah sejenak karena sudah merasa bersalah makanya ia terdiam tanpa membalas celotehan Devan.


"Van tunggu dong! ah elah Van gitu saja pake ngambek segala, gue kan gak sengaja Van!" ia pun membujuk Devan dengan berlari menghampiri sedari samping sebelum masuk ke dalam mobil.


Devan pun berhenti saat lengannya di pegang oleh Amelia.


"Mau masuk tidak? apa kau mau aku tinggalkan di sini? susul tuh nenek lampir yang kau katakan barusan!" cocot Devan menepis tangan Amelia saat memegang lengannya.


Aiihh Devan kalau marah serem juga ternyata! lebih serem dari nenek lampir barusan! batin Amelia mencibir Devan sambil menggeliat dan masuk ke dalam mobil bangku paling depan.


"Pasang belt mu! minta alamatnya kita harus cari alamat yang di berikan tante barusan." Devan meminta dengan menggerakkan semua jemarinya tapi tidak melihat Amelia yang sudah duduk di sampingnya.


Amelia hanya terdiam saja sambil memasang salt belt miliknya.


"Loh, kenapa? kok malah bengong? ayo sini alamatnya biar aku lihat!" lanjut Devan lagi membuat Amelia tersadar sejenak.


"Eh tunggu sebentar, kertasnya di mana?" spontan Amelia sibuk mencari dan merogoh semua kantong yang berada di baju dan saku celananya namun masih tak dapat ia temukan.


"Aduhh tuhaaann! kenapa teman ku jadi pikun begini?" celetuk Devan mengurut dahinya dia pun langsung merebahkan tubuh di kursi tempatnya duduk.


Amelia berlari hingga sampailah dia di tempat sebelumnya sehingga terlihat oleh matanya kertas yang sudah kusut saat dirinya meremas tangannya tadi.


"Astaga, kenapa aku bodoh sekali?bisa-bisanya aku menjatuhkan kertas ini, kalau sampai tadi kami jalan dan sudah berjarak jauh mungkin saja aku sudah di babat habis oleh Devan," gumam Amelia merasa merinding menatap dari kejauhan seolah ia bisa melihat mobil Devan yang mengeluarkan aura jahat. "Hiiiy, sereemmm." Amelia kembali lagi masuk ke dalam mobil setelah memungut kertas yang dia jatuhkan.


Blam


Mobil Devan pun melaju pelan keluar dari pekarangan rumah Hayati.


"Sudah kau dapatkan kertas itu, mana? berikan padaku, aku mau lihat ini arahnya kemana," pinta Devan mulai bermainlah kembali jemari tangannya sambil menyetir.


Amelia memberikan kertas itu ke tangan Devan.


"Kenapa bisa hancur begini? ya tuhan Amelia! apa karena kau emosi tadi? makanya kertas ini jadi remuk?" mulai lagi celotehan Devan membuat begah Amelia yang sudah menahan kesabaran sedari tadi.


.


.


Entah bagaimana ceritanya kepala Devan bisa benjol πŸ˜‚πŸ˜‚ kenak skakmatt pukulan tersadis dari Amelia 🀣🀣


Pada akhirnya Devan pun melanjutkan perjalanan dengan menyetir mobil tanpa bersuara lagi, bahkan Amelia merasa puas bisa menghantam Devan dengan sekali pukulan terdapat dua benjolan bagian dahi.


..........


^^^To be continued^^^


^^^πŸ‚ aiiWa πŸ‚^^^


...Kutipan :...


Jangan menyepelekan kesabaran dalam bentuk apapun, kesabaran memang tidak ada batasnya tapi tidak bisa di pungkiri lagi jika dalam hal sabar pun kita tetap tidak akan terima kalau kepala kita di injak orang lain❀️


TETAP IKUTI TERUS CERITA AKU, KHANZA