
...♡♡♡...
Satu
Dua
Tiga
"Lepas talinya Devan," tegas Nathan seketika menoleh ke belakang selepas ia melemparkan pengait ujung tali ke arah besi yang tampak di atas sudut rumah Shopia sebelumny.
Ketika mendengar perintah tersebut Devan pun langsung melepaskan tali yang ada di tangannya akan tetapi di karenakan tali itu terasa berat baginya ia melangkah mundur tanpa melihat terlebih dulu ada sebuah lubang tepat di belakangnya sebab ia hanya terfokus pada talinya saja.
DEBUUGHH
"Aahh... Pinggangku sakit," spontan Devan teriak di dalam lubang itu karena ia sudah terperangkap di dalamnya.
Nathan dan Amelia juga ingin membantu Devan akan tetapi belum sempat mereka melangkah untuk mendekat ke arah Devan namun sudah di kagetkan oleh suara sebuah pintu yang tampak di buka oleh seseorang.
Kreeekk
"Siapa di sana?" teriak dari pengurus rumah yang tampak celingukan melihat ke arah luar pintu.
Yeap, Nathan juga Amelia sedang bersembunyi dari arah yang berlainan tampak Nathan berada di balik patung air mancur sedangkan Amel tepat berada di sebelah pot bunga berukuran sedang dan masih beruntung tali mereka terlempar tepat di bagian besi sehingga tali tersebut sudah tak terlihat lagi.
"Apa ada orang di sana?" pengurus rumah itu masih saja berteriak sehingga membuat Amel menjadi jengkel akhirnya ia memiliki ide untuk membuat pengurus rumah tersebut masuk ke dalam kembali dan tentu saja si pengurus rumah keluar dari pintu itu sebab dari balik pintu merupakan sebuah dapur.
Miauuww
Miauuww
"Oh ternyata kucing! padahal jarang sekali kucing bisa masuk ke halaman rumah ini serasa aneh, agh! tapi namanya kucing ya mungkin lompat dari atap, dasar kucing buat kaget saja!" celotehnya dengan ngedumel sendiri sehingga ia pun masuk kembali menutup pintu dapur secara rapat.
"Huffgghh," keduanya serentak membuang nafas lega karena ide dari Amel membuat mereka jadi selamat dari ketegangan barusan sebab jika ketahuan habislah mereka di cap sebagai maling karena masuk rumah orang dengan menyelinap.
Kini situasi menjadi aman kembali sehingga Nathan maupun Amel berlari ke arah Devan yang masih terperangkap di dalam lubang.
Sesampainya mereka ke tempat Devan tampak dari dekat kalau Devan sedang membungkam mulutnya supaya tidak bersuara lagi sebab itu ia lakukan untuk menahan rasa sakit di bagian pinggangnya.
"Van, ceroboh banget sih! apa kau tak melihat ada lubang di belakangmu?" celoteh Amel pula terlihat kesal namun juga merasa kasihan pada Devan akhirnya ia mengulurkan tangannya ke arah Devan untuk naik ke atas dan begitu juga pada Nathan yang melakukan hal sama seperti Amel.
"Ayo cepat pegang tangan kami," serentak keduanya.
Devan pun menuruti ucapan mereka lalu ia meraih tangan keduanya serta Nathan juga Amel bersusah payah untuk menarik Devan ke atas sehingga pada akhirnya mereka berdua berhasil membawa Devan naik.
Saat ini Devan sudah terduduk di sebuah batu sembari memijat pinggangnya yang masih terasa sakit.
"Ya Van, lebih baik kau kembali ke mobil karena aku tidak yakin kau bisa memanjat dalam kondisi begini," sambung Amel.
"Tidak tidak, aku akan ikut kalian coba lihat! aku sudah baik-baik saja sekarang," sejenak ia menggerakkan tubuhnya sehingga tampak memberi keyakinan pada keduanya karena terpaksa itu ia lakukan supaya tak di pandang lemah oleh Nathan.
"Hmm, apa kau yakin?" tanya Nathan seolah ia tak percaya omongan Devan barusan serta ia menaikkan sebelah alis matanya.
"Ya tentu saja! kau tak lihat aku sudah bisa berdiri?" tangkas Devan masih berusaha kuat walau sakit yang di rasakannya.
"Kau berbaliklah," titah Nathan sejenak membuat Devan bingung.
"Kau mau apa?" berbalik tanya pula.
"Sudah turuti saja ucapan ku! berbaliklah," katanya mengulang kembali.
Devan pun akhirnya berbalik membelakangi Nathan dan kemudian Nathan terasa sangat dekat dengan Devan sehingga Devan jadi kaget sementara kedua tangan Devan ia lipat dengan menyilang lalu memegangnya dengan erat.
"Jangan lupa kau tutup mulutmu karena ini akan terasa sedikit sakit takutnya kau terlepas menjerit sebab tidak ada orang yang akan membungkam mulut mu itu," ucap Nathan dengan santai tepat di sebelah telinga Devan.
"Iya, cerewet kau!"
Seusai pembicaraan keduanya tampak Nathan sedang bersiap mengangkat tubuh Devan melalui kedua tangannya.
Krakk
Krakk
Sungguh sakit yang di rasa oleh Devan karena tulang panggulnya berbunyi beberapa kali lalu Nathan menurunkan tubuh Devan perlahan dan yang di lakukan oleh Nathan merupakan salah satu cara untuk meregangkan otot pinggang yang terjepit akibat terperosok ke dalam lubang sebelumnya.
"Bagaimana? apa sudah mendingan?" tanya Nathan setelah melepaskan tubuhnya dari Devan.
"Bi... Biasa saja! sama seperti tadi, kan sudah aku bilang tidak sakit," celotehnya dengan berkilah pula.
Amel hanya bergeleng kepala saja melihat sikap Devan yang tak ada terimaksihnya pada Nathan yang sudah menolongnya.
"Kalau sakit bilang saja jangan sok merasa kuat!" semburan Nathan membuat Devan tertunduk malu karena Nathan sudah menyadari kalau ia tadinya berusaha menahan. "Sudahlah ayo! kita tak banyak waktu lagi," ajak Nathan dengan tegas lalu ia melenggang lebih dulu ke arah tali yang sudah tergantung.
^^^To be continued ^^^
^^^🍂 aiiWa 🍂^^^
...Kutipan :...
Orang yang kau anggap musuh malah lebih bisa mengerti tentang dirimu ❤️