
...♡♡♡...
Rasa kalut menghampiri Devan setelah ia mendengar jawaban dari Amel barusan sebab ia seakan tak percaya karena Amel selalu bergurau padanya.
"Apa kau sedang bercanda? Jerman itu jauh Mel... Bukan selangkah dua langkah lalu bisa sampai," celoteh Devan seolah ia menganggap Amel membohonginya.
"Tak bisa kah kau lihat raut wajahku yang sedang berkata jujur ini?" sanggah Amel pula.
"Kau mau meninggalkan kami di sini Mel? lalu bagaimana dengan Alsha? apa kau tak ingin mencarinya? jika kau pergi sudah pasti tak akan mungkin lagi kau lakukan itu," cerocos Devan sehingga Amel menjadi pusing karena mendengar Devan terus mengoceh.
"Ya! aku paham maksud mu, lalu aku harus bagaimana lagi Van? aku tak dapat membantah ucapan papa ku dan kau juga sudah tahu nilai ku selama ini selalu buruk bahkan kelulusan kali ini nilaiku sangat anjlok makanya sekarang papa tak bisa di ajak kompromi lagi," imbuhnya terdengar bahwa ia sedang berkeluh kesah bahkan Amel tampak sedang bersandar di bagian tembok pembatas sembari membayangkan wajah Alsha yang sangat ia rindukan.
"Lagian kenapa harus sampai ke luar negri sana sih! di sini juga masih banyak sekolah yang terkenal," cakap Devan pula.
"Apa yang kau katakan memang benar, tetapi orang tua juga ingin yang terbaik untuk anaknya dan aku tak bisa mengerti kenapa papa ingin mengirim ku sampai ke sana dan dia mengatakan hidupku akan lebih serius dari pada di sini, ya memang aku selalu di manja oleh orang tua ku makanya sekarang mereka lebih keras padaku setelah mengetahui nilai ku yang selalu buruk," katanya pula bercerita panjang lebar.
"Kau sih! sudah aku bilang dari dulu belajar yang benar tapi kau tak mau mendengarkan lalu sekarang apa yang akan kau lakukan Mel?" tanya Devan lagi.
"Aku hanya bisa menuruti perkataan papa dan aku juga ingin membuktikan padanya kalau aku bisa hidup mandiri tanpa bermanja lagi dengan kedua orang tua ku," balasnya dengan tersenyum tipis menoleh pada Devan.
Seketika melebarlah kedua mata Devan saat ia melihat senyum yang tampak jelas di wajah Amel. "Khem, terus kau berapa lama di sana?" setelah ia berdehem lalu mengalihkan topik sebab ia tak tahu mengapa jantungnya berdebar lebih cepat ketika melihat wajah Amel yang tersenyum barusan bahkan saat ia melihat Alsha tidak seperti sekarang ini yang ia rasakan.
"Hmmhh..."
"Kenapa?" tanya Devan terheran melirik ke arah Amel hanya menghembus nafas panjang.
"Mungkin sampai aku lulus universitas."
"Apa?!" teriak Devan tanpa di sadari sudah mengagetkan seorang suster ketika sedang mendorong kursi roda pasien yang ia bawa.
"Sssst! berisik banget sih, ini rumah sakit Van bukan mall! kau bisa di usir dari sini tahu gak?" kata Amel terdengar kesal lalu ia menoleh pada suster yang berhenti itu dan melontarkan senyum ramah kemudian suster itupun membalasnya sehingga suster tersebut kembali melanjutkan langkahnya.
"Ya maaf! habisnya aku jadi kaget kau mengatakan hal barusan," jawab Devan sembari mengelus pundak lehernya.
"Bu -bukan begitu! hanya saja jika kau pergi siapa lagi temanku di sini? apalagi Alsha juga belum di ketahui keberadaannya lagian kau lah satu-satunya orang yang biasa aku bully lantas jika kau pergi siapa lagi sasarannya?" kilahnya pula namun wajah Devan tak dapat di bohongi setelah Amel melihatnya secara jelas kalau Devan memang lagi gelisah.
"Pffttt, hahaha!" terkekeh lah Amel secara spontan ia terbahak ketika melihat raut wajah sedih Devan.
"Kenapa kau jadi tertawa?" protes Devan dengan tampang cemberutnya.
Namun Amel masih saja tertawa hingga ia menyeka air mata yang keluar di pinggir matanya karena sangking kekeh sehingga tak tertahan olehnya.
"Haahh, jelas saja aku tertawa karena kau itu sungguh lucu Van! aku ini pergi bukan untuk berperang sampai kau sesedih itu seolah aku akan mati besok saja!" cakapnya pula yang masih terlihat tertawa sembari bergeleng kepala. "Aku akan terus memberi kabar padamu lagian lewat email kita mengirim pesan juga bisa lalu apa yang kau sedihkan?" lanjutnya lagi setelah berhenti tertawa.
"Namun tetap saja kau itu sudah jauh dari kota ini, teman ku siapa di sini Mel?" keluh Devan pula.
"Hmm, aku melihat Nathan orang yang sangat baik sebab dari dulu aku sering memperhatikannya dan sekarang aku tak menduga bisa berbarengan dengannya apalagi dia orang yang gesit juga sangat bijak namun hanya sikapnya saja yang dingin," imbuh Amel sehingga membuat Devan menaikkan sebelah alis matanya.
"Sebenarnya kau ingin mengatakan apa padaku?" tanya Devan mulai merasa Amel sudah terang-terangan memuji Nathan di depannya.
"Kau tak mengerti maksud ku?" balik bertanya pula.
Devan hanya bergeleng kepala saja tanpa menjawab.
"Hmm, memang dulu aku menyukainya tapi sekarang rasa suka itu menjadi rasa kagum sehingga perasaan ku hanya ingin menjadi seorang teman baginya karena aku melihat Nathan sangat perduli tentang Alsha, coba kau fikir saja seorang Nathan yang tak pernah mau tahu urusan orang lain bahkan dengan anak perempuan di sekolah saja dia sungguh kasar namun pada Alsha dia langsung maju ke depan dan sekarang dari idenya itu kita bisa menolong tante, apa kau tak sampai berfikir ke sana Van?" tanya Amel sejenak membuat Devan jadi ingin membenarkan namun dia juga menyimpan suatu perasaan pada Alsha makanya dia hanya anggukkan kepala dan tersenyum kecil.
"Aku rasa dia memang sangat menyukai Alsha sampai rela melakukan hal sejauh ini, sedangkan kita saja yang selalu di dekat Alsha belum tentu bisa berpikir sampai sejauh itu," lanjut Amel lagi lalu ia menoleh ke samping melihat Devan yang berusaha tersenyum. "Aku harap kau bisa berteman dengannya Van karena aku merasa dia bukan orang yang buruk, bagiku dia orang yang perduli namun tak ia tampakkan pada orang lain," cakap Amel yang sedari tadi di dengarkan oleh Devan namun dirinya masih berdiam tak berkomentar seolah tak ada harapan jika menyimpan perasaan pada Alsha sebab semua yang di katakan oleh Amel memang benar adanya.
^^^To be continued ^^^
^^^🍂 aiiWa 🍂^^^
...Kutipan : ...
Mencintai tak harus memiliki namun kita masih bisa saling menyayangi sebab tidak ada yang mengetahui takdir, maut dan jodoh ❤️