
...♡♡♡...
Semenjak Khanza berkenalan dengan bocah lelaki yang bisu itu kini semangat Khanza sudah hadir kembali karena dia berfikir anak sekecil itu saja mampu melawan rasa sakitnya akibat tidak bisa berbicara sedangkan dirinya sudah di berikan nikmat yang begitu cukup dari Tuhan ingin mengeluh sebab di buang oleh orang yang dia anggap keluarganya sendiri.
Perasaan kalut sebelumnya di buang Khanza sejauh mungkin dan dirinya juga berjanji untuk tetap semangat dalam menjalani hidup yang masih banyak lagi harus di lewatinya.
Sudah hampir petang namun Khanza belum juga pulang ke gubuk nek Raya karena dirinya sedang membantu bocah kecil tadi untuk menjual koran di jalanan.
Sebut saja nama bocah itu Akhtar yang memiliki marga Lubis di ambil dari marga ayahnya, semua temannya memanggil dengan sebutan Taro karena dia memiliki sifat periang dan tak mudah lelah walau hanya hidup sebatang kara tanpa orangtua juga tanpa keluarga.
Khanza mengetahui nama dan cerita tentang bocah itu dari salah satu teman Taro yang selalu bersama saat menjual koran, Taro berumur 7 tahun namun sikap bijaknya tidak jauh berbeda dengan Zizi.
Saat di depan sebuah warung kecil.
"Taro ini minum dulu," tegur Khanza dari balik punggung Taro sambil menyuguhkan botol air mineral dengan senyuman hangat di wajahnya.
Kemudian dia meraih botol minuman itu dan menarik lengan Khanza supaya ikut dengannya duduk di bangku.
Setelah Khanza mengikuti langkah Taro mereka pun duduk bersama menikmati minuman mereka dan mulai terasa gerahnya cuaca karena berjalan sepanjang lalu lintas untuk menawarkan koran yang mereka bawa, sungguh itu membuat Khanza menjadi merasa puas setidaknya dia dapat meringankan beban orang lain.
Tak berapa lama Khanza merogoh kantong celananya dari uang hasil menjual koran tadi, dia juga tidak ingin memakan uang orang lain walaupun dia lah yang menjualkan koran tersebut itu bukanlah tipe Khanza, sungguh ia sangat tulus ingin membantu Taro saja.
"Ini uang hasil jualan tadi, kau simpanlah," seru Khanza memberikan uang itu langsung ke tangan Taro.
Namun Taro hanya tersenyum dan memberikan kembali uang yang ada di tangannya itu balik pada Khanza.
"Tidak-tidak, ini uang mu! aku hanya membantu saja, tolong jangan menolak kebaikan ku," turut Khanza menolak dengan lembut supaya Taro tidak salah mengartikan dirinya.
Meskipun Taro anak yang bisu tapi dia sangat mengerti ucapan dari Khanza walau tidak memakai isyarat tubuh.
Akhirnya Taro membagi uang itu menjadi dua bagian supaya terlihat adil.
Dengan cara itu Taro tak ingin ada penolakan lagi dari Khanza makanya dia menyembunyikan kedua tangan ke arah belakang badannya.
Khanza hanya menghembus nafas pelan karena Taro memberikannya uang itu, dengan berat hati Khanza menerima uang itu walau hanya bernilai kecil untuk sebagian orang yang selalu berlebih.
"Sekarang aku harus pulang," kata Khanza mengingat hari sudah hampir gelap bahkan dirinya saja tidak ada makan sedari sibuk menjual koran.
Khanza hanya tersenyum kecil membalas tatapan itu, ia juga merasa berat harus berpisah dengan Taro walau pertemuannya terhitung setengah hari saja jadi Khanza sejenak memegang telapak tangan Taro begitu hangatnya.
"Aku berjanji akan menemui mu lagi di sini, sekarang kau pulanglah! besok kita bertemu di sini, oke!" pesan Khanza pula mengelus pipi Taro seperti adiknya sendiri.
Akhirnya Taro mengerti maksud Khanza makanya dia dengan cepat anggukkan kepala berulang kali begitu antusias setelah Khanza berjanji padanya.
Genggaman itu pun terlepas dan Taro bangkit dari duduknya melangkah pergi sambil melambaikan tangan terlihat senyum manis di balik bibirnya berbeda saat pertama kali Khanza bertemu dengannya tadi.
Khanza juga bangkit dari duduknya dan bergerak pergi setelah Taro tak terlihat lagi oleh matanya.
Di saat perjalanan.
"Oh ya ampun! kenapa aku tidak bertanya rumahnya? ah yasudahlah besok juga bisa bertemu dengannya di tempat tadi," gumam Khanza sambil terus berjalan melihat tanda yang sudah dia buat sebelumnya.
Khanza terus berjalan dengan hati yang sedikit lebih baik, hingga terdengar suara senandung yang dia keluarkan dari mulutnya.
.
.
.
Sesampainya mengarah pada gubuk dia melihat rumah nek Raya di penuhi oleh banyak orang bahkan di berikan tenda berwarna hijau serta bangku yang sudah kian tersusun.
Tatapan Khanza hanya tertuju pada bendera yang terikat di salah satu kayu di tancapkan di depan tenda hijau itu.
Karena rasa penasaran yang mendalam ia langsung sigap berlari dengan cepat serta membuang fikiran jeleknya, dia tak ingin kehilangan siapapun lagi sudah cukup baginya kehilangan orang-orang terdekatnya.
^^^To be continued^^^
^^^🍂 aiiWa 🍂^^^
...Kutipan :...
Takdir tidak ada yang mengetahui sekalipun itu nabi, Tuhan lah yang mengetahui pada semua makhluk yang bernyawa, sedangkan manusia di dunia ini hanyalah tempat persinggahan semata jadi apalagi yang kau cari di dunia fana ini? renungkanlah wahai orang-orang yang beriman❤️