
...♡♡♡...
Srakk
Grasak
Grusuk
"Kau sedang mencari apa ma?" tanya sang suami dari Ratih ketika ia melihat istrinya sedang membongkar isi tas dalam tampang keseriusan.
"Mama yakin ada menyimpannya di sini, ini sedang mama cari."
Sang istri masih saja fokus pada isi tasnya sementara sang suami tampak terheran dengan jawaban istrinya itu.
"Memangnya apa yang sedang kau cari ma?" mengulang pertanyaan kembali.
"Amplop! mama yakin pernah menaruhnya di sini," balas istrinya terdengar berbisik lalu ia pun masih terus mengobrak-abrik isi tasnya.
Tak berapa lama kemudian sesuatu yang ia cari akhirnya ia dapatkan. "Nah ini dia yang mama cari," ucapnya pula serta menghela nafas lega lalu ia menatap ke arah suaminya melontarkan senyuman tipis bahkan suaminya tak tahu apa yang sedang ingin di lakukan oleh istrinya pada amplop berwarna putih polos itu.
Ketika sepasang suami istri itu sedang sibuk dengan urusan mereka kini tampak Khanza beserta adiknya sedang ingin bersiap untuk pergi.
"Yuk Taro, Zizi... Kita harus segera pergi karena satu pun koran belum ada yang kita jual," ajak Khanza pula yang hendak berdiri dari tempat duduknya.
Keduanya anggukan kepala dan bersiap ikut berdiri bersamaan dengan Khanza.
Greep
Lengan tangan Khanza sesaat di pegang erat oleh Ratih ketika Khanza sudah berdiri dari tempat duduknya.
"Kenapa buk?" tanya Khanza secara ramah pula ia lontarkan senyuman simpul.
"Duduk dulu nak sebentar," pinta Ratih terdengar tak ingin Khanza pergi begitu saja makanya ia langsung menahan lengan tangan Khanza.
"Ada apa buk?" tanya Khanza lagi kemudian ia pun duduk kembali sembari menatap lurus ke arah Ratih sehingga pegangan di tangan Khanza di lepaskan setelah Khanza duduk di tempatnya.
"Kami akan mengantar kalian sampai tujuan," cakap Ratih pula sembari melirik ke arah suaminya.
"Ya Khanza bapak akan mengantar kalian sampai di tempat yang ingin kalian tuju," sambung suaminya pula dengan ikut membenarkan perkataan istrinya.
"Pak, buk! Khanza hari ini sudah banyak merepotkan jadi biarkan kami berjalan kaki saja," katanya pula yang sudah menolak kesekian kalinya.
"Tidak tidak! untuk kali ini tidak ada penolakan dan biarkan ibuk sama bapak mengantar kalian lagipula kami juga bawa mobil jadi dengarkan permintaan ibuk kali ini, oke nak?" bujuknya pula dengan nada sedikit memaksa sehingga Khanza tak bisa lagi menolak karena sudah pasti Ratih akan memaksanya kembali.
"Baiklah buk, terima kasih sebelumnya karena ibuk dan bapak sudah sangat baik terhadap kami," balas Khanza lagi terdengar begitu merendah sehingga tampak wajahnya yang merasa tidak enak selalu menerima kebaikan mereka sedari tadi.
"Karena kau juga anak yang baik jadi sudah sepantasnya kau menerima kebaikan dari orang lain," ucap Ratih sembari mengelus dagu Khanza dengan sentuhan hangat darinya. "Oh iya ibuk hampir saja lupa!" sekejap ia meraih tas dari toko pakaian yang sebelumnya ia beli bersama Khanza dengan melepaskan sentuhan tangannya di dagu Khanza. "Nah ini untuk mu Khanza dan ini untuk kalian berdua, ohya ada satu lagi ini ibuk berikan buat Zizi," lanjutnya lagi serta memberikannya langsung ke tangan mereka masing-masing.
"Apa ini buk?" tanya Zizi pula setelah ia menerima sebuah bungkusan yang terasa berat dan yang berbentuk tas sudah di pegang oleh Taro.
Setelah Zizi mendengar jawaban itu kemudian ia membuka bungkusnya secara perlahan dengan tampang yang sangat penasaran di wajah tampannya.
"Waaah," keriuhan Zizi membuat Taro juga kaget sehingga Taro langsung bergerak mendekat ke arah Zizi.
Yeap, dalam bungkusan itu terdapat sebuah sendal berwarna hitam bertali belakang dengan ukuran kaki Zizi bahkan berbahan kulit dengan tapak yang begitu lembut ketika tangan Zizi menyentuhnya di tambah pula sebuah mainan set robot beserta pedangnya membuat kedua mata Zizi menjadi tidak berkedip sedikitpun sebab robot itu merupakan sebuah robot yang sedari ia berniat mengumpulkan uang di saat ia pernah mengatakan hal demikian pada nek Raya sebelumnya.
"Bagaimana? apa kau menyukainya?" tanya Ratih ketika ia melihat Zizi sedang memegang mainannya tersebut.
Drakk
Tap
Tapp
Zizi sejenak berdiri dan meletakkan bungkusan itu di atas meja lalu ia berjalan ke arah Ratih sehingga kini ia sedang berdiri tepat di hadapan Ratih sembari menunjukkan tawa kecilnya.
"Buk, apa Zizi boleh memelukmu?" pertanyaan Zizi tersebut membuat hati Ratih begitu tersentuh sebab senyuman dari anak sekecil Zizi merupakan sebuah senyuman tulus tanpa ada seorangpun yang memaksanya.
"Boleh sayang, tentu saja boleh."
Anggukan kepala dari Ratih serta sorotan mata bahagianya itu membuat mereka yang melihatnya ikut terbawa suasana bahkan seorang Zizi yang begitu membencinya sudah menerima keberadaan dirinya tersebut.
Dekapan dari pelukan hangat Ratih sangat di rasakan oleh Zizi sehingga ia terus tersenyum simpul serta memejamkan ke dua matanya dengan menyambut memeluk erat tubuh Ratih seolah ia dapat merasakan sentuhan dari Hayati walau dari orang yang berbeda.
"Terima kasih buk sudah baik pada Zizi dan maafkan Zizi yang sudah berkata yang buruk pada ibuk," imbuhnya dengan nada rendah sehingga Ratih hanya anggukan kepala berulang kali dan semakin mendekap erat tubuh Zizi.
Beberapa saat kemudian pelukan itu pun berakhir dan Zizi berjalan kembali ke arah mejanya sembari meraih bungkusan plastik tersebut lalu di ikuti oleh Taro yang sudah berdiri di sebelah Zizi.
Seketika Ratih memasukkan sebuah amplop di bawah tangan Khanza yang sudah ia isi saat Khanza dan yang lainnya tak menyadari. "Nak ini ada sedikit uang untuk kalian dan kau harus menyimpannya supaya kau dapat menggunakannya di waktu yang tepat," imbuh Ratih pula serta ia melekatkan semua jemari tangan Khanza untuk menerima uang tersebut.
"Buk jangan begini, sudah cukup kebaikan dari ibuk! maaf Khanza tak bisa menerimanya," tolaknya secara lembut.
"Nak... Ibuk mohon padamu terima uang ini karena ibuk yakin pasti suatu saat kau akan membutuhkannya," pintanya lagi sembari terlihat memohon di balik raut wajahnya itu sementara sang suami tak menduga ternyata amplop yang sebelumnya di cari untuk di berikan pada Khanza makanya sang suami hanya menatap saja sebab ia merasa tidak percaya kalau istrinya memang sudah berubah menjadi seorang wanita yang begitu penyayang.
Khanza cuma terdiam tanpa membalas ucapan dari Ratih bahkan kedua tangan Ratih semakin erat menggenggam jemari tangannya sebab Ratih melakukan hal tersebut karena ia tak tahu sampai kapan waktunya akan bertemu Khanza kembali.
"Ayo nak ibuk mohon jangan menolaknya, hanya ini yang bisa ibuk berikan supaya kau ada pegangan di luar sana," pintanya lagi masih dengan tampang berharap.
Khanza menghembus nafas kasar seolah ia tak tega membiarkan Ratih memohon padanya sampai seperti itu.
^^^To be continued ^^^
^^^🍂 aiiWa 🍂^^^
...Kutipan :...
Kebaikan akan secepatnya di balas namun kejahatan belum tentu langsung dapat balasan sebab orang yang berbuat kejahatan akan terus di berikan peluang sampai ia menemukan sendiri jalan kebenaran ❤️