Aku, Khanza

Aku, Khanza
Hilangnya Taro?


...♡♡♡...


Jalan raya babakan ciparay.


"Kak, kenapa kak Taro tidak pamit dulu sebelum dia pergi?" tanya Zizi sesaat sambil berjalan di samping kakaknya dengan membawa koran.


"Kakak juga tidak tahu Zi, mereka bilang Taro di bawa oleh keluarganya pagi-pagi sekali lagian kakak juga tidak sempat melihat kepergian Taro," jawab Khanza yang juga terheran sedari awal sebab ia merasa ada yang tidak beres dengan kepergian Taro namun ia juga tak dapat mengambil kesimpulan apalagi ia sempat mengingat ketika teman Taro mengatakan bahwa Taro tidak memiliki saudara dan hidup sebatang kara.


"Biasanya kalau pagi hari kak Taro selalu membangunkan kita tapi sekarang kak Taro hanya pergi begitu saja tanpa pamit pada kita kak," keluh Zizi yang tampak cemberut soalnya ia merasa kehilangan Taro teman bermainnya itu.


"Kakak juga tidak paham Zi sudah jangan cemberut begitu mungkin Taro sedang terburu-buru makanya tak sempat bilang pada kita," imbuh sang kakak pula berusaha memberi kejelasan secara perlahan.


"Hmm tapi Zizi tidak punya teman bermain lagi kak karena Zizi sangat suka bermain dengan kak Taro," ucapnya lagi yang tampak menghembus nafas kecil serta wajahnya yang masih sedih.


"Masih ada kakak bersama mu jadi kau tak sendiri kakak akan menemani mu bermain, oke?" balas kakaknya lagi masih berusaha memberi pengertian pada adiknya itu.


Zizi hanya anggukkan kepala lalu ia tersenyum kecil pada kakaknya sehingga sang kakak mengelus kepala adiknya sesekali membuang nafas lega sebab dirinya berhasil membujuk adiknya yang tampak cemberut sedari keluar dari gubuk sampai saat ini.


TINN


TINN


Sebuah mobil membunyikan klakson berulang kali tepat di belakang mereka setelah itu keduanya pun berhenti di saat itu pula mobil tersebut berhenti juga.


Baik Zizi juga Khanza menoleh ke belakang dengan menautkan kedua alis mata mereka.


"Siapa kak? kenapa mobil itu berhenti di belakang kita?" tanya Zizi menoleh ke arah kakaknya pula.


"Entahlah kakak juga tidak tahu siapa Zi," jawab sang kakak melihat sang adik dengan menaikkan kedua bahunya.


Tap


Tap


Seorang lelaki keluar dari dalam mobil tersebut melangkah ke arah sepasang kakak beradik itu dengan memberikan senyuman tipis ke arah mereka berdua bahkan lelaki itu memakai baju tampak seperti sopir pribadi karena begitu rapi makanya Khanza sempat terheran mengapa orang yang tak di kenalnya bisa menghampirinya sekarang.


"Halo dik, apa benar kalian bernama Khanza dan Zizi?" tanya lelaki itu pula tersenyum begitu ramah pada mereka sehingga Khanza terus memperhatikan gelagat dari lelaki tersebut.


"Ya benar itu nama kami, memangnya bapak kenal pada kami?" balik tanya pula sembari ia terus mengerutkan dahinya melihat ke arah lelaki itu.


"Saya sopir dari ibu Ratih dan pak Yudi ingin menjemput kalian karena saya di suruh oleh mereka secara langsung sebab saat ini ibu dan bapak sedang berada di rumah sakit makanya saya tahu tempat ini dari mereka," monolognya tampak sungguh meyakinkan makanya Khanza langsung kaget.


"A- apa! ibu dan bapak sekarang berada di rumah sakit? memangnya ada apa kok bisa sampai di rawat? apa yang telah terjadi pak?" paniknya Khanza berkata demikian sampai ia melangkah mendekat ke arah lelaki itu.


"Dik bukan saatnya bertanya di sini baiknya kita langsung ke rumah sakit saja karena mereka juga sudah menunggu kedatangan kalian berdua," monolognya lagi dengan menepuk pelan sebelah pundak Khanza sebab ia mencoba beri ketenangan pada raut wajah Khanza yang sudah terlihat panik mendengar kabar barusan.


"Baik, kami akan segera ikut sekarang!" kata Khanza pula dengan memasang wajah cemasnya. "Ayo Zi, kita harus segera pergi ikut bapak ini," ajaknya pula namun Zizi masih menahan tubuhnya enggan bergerak setelah tangannya sudah mulai di tarik oleh kakaknya karena ia merasa berat entah mengapa untuk ikut pergi dengan lelaki barusan.


"Kak, apa kakak sudah yakin ingin pergi karena kita tak kenal bapak ini," kata Zizi pula sembari bicara berbisik.


"Mari dik silahkan masuk," kata lelaki itu dengan ramah serta ia membuka pintu mobil belakang tampak pula senyuman tipis di bibirnya.


Khanza pun anggukkan kepala dan menarik lengan Zizi pada akhirnya Zizi pun terpaksa mengikuti kakaknya dengan terus menatap wajah lelaki itu sebab ia sekilas melihat ada gambar tengkorak di bagian leher yang sempat terlihat olehnya namun ia tak paham itu gambar apa sebab ia juga tak pernah melihat sebelumnya, yeap tentu saja itu sebuah tato tanpa Zizi ketahui.


Baik Khanza juga Zizi sudah memasuki mobil tersebut dan dari kejauhan lelaki itu tersenyum kecil menatap ke arah lain bahkan sempat terlihat oleh mata Khanza sendiri namun ia mencoba membuang fikiran jeleknya sebab saat ini yang dia fikirkan hanyalah Ratih dan juga pak Yudi sehingga ia terus menggenggam erat jemari tangan adiknya itu.


.


.


.


Drap


Drap


Seorang lelaki sedang ingin menyebrang jalan tampak sedang berbicara melalui ponsel genggam miliknya dan ia fikir jalan itu sudah aman makanya ia tak melihat dengan lebih teliti lagi makanya ia tak sadar ada sebuah bus sudah hampir dekat pada dirinya.


"Paaakkkk, awaaaaassss!" jeritan hebat dari seorang bocah terdengar langsung di telinga lelaki itu sebab si bocah tadi berlari ke arah dirinya lalu ia menoleh ke arah samping dan ternyata mobil berbentuk bus sedang mengarah ke dirinya saat ini.


"Aaaaaaa," lelaki tersebut menjerit sekuatnya.


PHAKKKK


GEBRAAAKK


BRAKKK


BRUUUGHH


"Akh, ssshh!" desis rasa sakit terasa di bibirnya akibat terbentur sebuah batu berukuran sedang bahkan kepalanya juga terluka namun matanya langsung melebar ketika melihat bocah yang tadinya menolak dirinya sekarang sudah tergeletak dengan lumuran darah segar di kepala serta wajah akibat bocah itu terlempar jauh menggantikan dirinya yang hampir tertabrak.


Lelaki itu bangkit dan berlari secara cepat kearah si bocah bahkan kakinya gemetaran hebat saat ini sebab orang-orang mulai berdatangan melihat kejadian tersebut.


"Tolong, bantu saya panggilkan ambulan, cepat tolong saya!" paniknya ia sekarang sehingga dirinya tak tahu harus apalagi karena ponselnya juga sudah tak tahu di mana terlemparnya.


Secara cepat salah satu orang yang berada di kerumunan itupun langsung menghubungi pihak rumah sakit terdekat untuk segera datang ke tempat kejadian.


^^^To be continued^^^


^^^🍂 aiiwa 🍂^^^


...Kutipan :...


Sekeras apapun kau ingin mencelakai orang lain jika tuhan tak izinkan maka jalan mu tak akan ada gunanya ❤️