
...♡♡♡...
Saat ini Hayati telah menceritakan tentang dirinya ketika di kurung oleh mertua juga suaminya sendiri sehingga para pendengarnya seperti Nathan serta Devan hanya bergeleng kepala saja ketika mengetahui yang sebenarnya dari mulut Hayati sendiri akan tetapi Panji hanya menghela nafas kasar karena ia sudah tahu persis bagaimana watak dari Shopia itu makanya dia melontarkan senyuman kecil di balik bibirnya merasa tak terkejut lagi sebab ia sudah mengetahuinya lebih dulu daripada mereka semua termasuk menantunya sendiri bahkan ia sembunyikan kejahatan Shopia dari orang lain dan ia fikir Shopia akan berubah setelah keluar dari perusahaannya namun ternyata semakin parah dari yang ia duga selama ini bahkan melebihi seorang iblis perbuatannya itu terhadap menantunya sendiri, begitulah sedari tadi pemikiran Panji usai mendengar semua pengakuan dari Hayati.
Kepalan kedua tangan Panji sangat tampak jelas ketika Nathan menoleh pada kakeknya, lalu Nathan merogoh ponsel miliknya dan seketika membuka galeri foto yang tersimpan di ponselnya tersebut.
Awalnya Hayati sudah menahan semuanya sendirian bahkan ia selalu bersabar menghadapi suami juga ibu mertuanya ketika mereka berdua menyiksanya secara kejam serta ingin merenggut nyawa kedua anak yang sangat ia sayangi makanya saat ini Hayati sudah tak bisa menahannya lagi karena ia juga sudah kehilangan kedua anaknya di karenakan ulah tangan mereka sendiri oleh sebab itu ia tak ragu lagi untuk menceritakan semua yang dia alami kepada orang-orang yang ada di dekatnya sekarang.
Nathan beranjak dari tempatnya dengan melenggang ke arah sang kakek yang sedang tampak fokus menatap lurus ke arah Hayati bahkan masih terdengar keluh kesahnya semakin jelas sehingga bibirnya ikut gemetaran saat berbicara.
"Khem," ia pun sengaja berdehem ketika sudah bersebelahan dengan sang kakek.
"Ya, kenapa kau kesini?" tanya kakeknya pula sembari menoleh ke arah Nathan.
"Coba kakek lihat ini," katanya pula sambil memberikan tampilan foto Shopia juga Kino yang ada di dalam ponsel miliknya.
"Kapan kau mengambil gambar ini?" tanya kakeknya pula merasa terheran sehingga ia meraih ponsel Nathan seketika lalu ia melihat secara jelas dengan melebarkan kedua matanya.
"Itu hasil jepretan pak Wandi sebelumnya saat ia menjalankan tugasnya," ungkap Nathan secara santai lalu ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kemudian menatap lurus ke arah Hayati ketika itu Devan sedang menyeka air mata Hayati menggunakan tisu.
Hmm dasar caper! kau fikir bisa membuat orang lain tersentuh dengan caramu yang murahan itu? batin Nathan yang tanpa sadar mengumpat Devan di dalam fikirannya sehingga ia seketika mengelus pundak lehernya berulang kali mengalihkan pandangan matanya.
Jelas saja sang kakek melihatnya dengan tersenyum simpul di saat cucunya bersikap demikian bahkan begitu klise ketika di lihat oleh sepasang mata.
"Ada apa Nathan? apa kau sedang cemburu pada teman mu sendiri?" lontaran sang kakek membuat Nathan menoleh padanya secara langsung.
"Dia bukan temanku lebih tepatnya dia rival ku ( lawan ) karena dia sudah beraninya memberi tantangan padaku," timpal Nathan dengan raut wajah yang tampak jengkel serta ia mengepalkan secara kuat kedua tangannya.
"Tantangan seperti apa?" tanya kakeknya terdengar penasaran sembari terus saja tersenyum kecil merasa senang karena cucunya sudah mulai percaya diri terhadap dirinya sendiri.
"Bukan hal besar, lupakanlah!" balasnya dengan lontaran mata yang tegas ke arah sang kakek.
"O, ooh! ternyata anak mudanya sudah mulai mengerti naskah yang sebenarnya," timpal sang kakek berkata demikian namun ia terdengar seperti bergumam sehingga Nathan menaikkan sebelah alis mata.
"Kakek mengatakan apa barusan?" tanya Nathan secara tegas.
"Ah tidak ada, kakek cuma bilang kau anak yang hebat bisa melakukan tugas berat seperti ini sampai kau menyelamatkan nyawa orang lain," kilahnya pula sambil melihat layar ponsel terus tanpa menoleh pada Nathan yang masih menatap serius padanya.
Sepertinya tadi tidak begitu, apa kakek mencoba mengalihkan topik? batin Nathan sembari melipat kedua tangan di dada menatap kakeknya yang berpura tak menganggap dirinya ada.
Panggilan Hayati walau terdengar samar akan tetapi masih jelas di telinga Nathan kemudian ia langsung menoleh dan bergerak mendekati Hayati berlalu pergi dari tempatnya namun sang kakek terus saja bergeleng kepala serta tertawa kecil ketika cucunya usai meninggalkan dirinya.
.
.
.
Di sisi lain ketika Shopia melihat Khanza di lampu lalu lintas.
Yeap, tentu saja Khanza kaget di saat Shopia muncul di depan matanya sekarang bahkan Zizi malah berlari secepat mungkin dan bersembunyi di balik tubuh kakaknya.
"Oh anak yang manis ke sini biar nenek belikan ice cream," seru Shopia pula secara perlahan memainkan jemari tangan kanannya tepat di hadapan mereka.
Taro merasa heran kenapa raut wajah Zizi juga Khanza berubah setelah kedatangan Shopia yang sama sekali tak ia kenal sebab baru pertama kali ini ia melihat keduanya merasa ketakutan kemudian Taro memungut koran yang mereka bawa serta ia berikan ke tangan Khanza dan sisa koran lain ia pegang sendiri.
Beberapa saat Taro tampak berdiri di depan Khanza juga Zizi seolah ia mencoba menghadang jangan mendekati keluarganya, itulah sikap yang terlihat dari sorot mata Shopia ketika Taro merentangkan sebelah tangannya apalagi wajah Taro tampak serius namun Shopia malah ingin tertawa melihatnya sebab itu ia menyeringai menatap Taro.
"Kau bukan nenek ku! aku tak punya nenek jahat seperti mu, aku tak ingin punya nenek jahat tak mau!" teriak Zizi pula namun tangannya sudah gemetaran di atas punggung Khanza sebab sudah pasti Zizi trauma dengan kejadian yang telah berlalu menimpa mereka.
"Apa yang kalian inginkan? bukan kah kami sudah tak di rumah itu lagi? jadi untuk apa kalian mendekati kami? kami tidak mencuri apapun dari rumah kalian," kelakar Khanza sembari menepuk-nepuk sebelah tangan Zizi supaya adiknya sedikit lebih tenang.
"Aagh, dasar anak sialan!" amukan Kino terdengar jelas namun tangannya di tahan oleh ibunya karena sudah pasti mereka akan menjerit jika di paksa itulah fikir Shopia.
"Kau tahan dulu emosi mu! apa kau bodoh? ini jalan besar, jika kita memakai cara paksa-an sudah pasti kita akan di curigai orang-orang! kau diam saja di belakang ku jangan bertingkah, paham kau!" bisik ibunya pula sehingga Kino terdiam tak berkutik namun dia cuma mengalihkan wajah serta berbalik arah.
Shopia bungkukkan badannya sedikit lalu tersenyum kecil di hadapan mereka. "Apa kalian tak merindukan bunda kalian? dan apa kalian tahu kalau bunda kalian sedang sakit parah sekarang? tidak tahu, kan? makanya aku mencari kalian dari kemarin," monolog Shopia berkata demikian serta memasang raut wajah yang menyedihkan.
"Aku tak percaya, bukan kah kalian semua sudah membuang kami? termasuk bunda sendiri juga membuang kami jadi kami tak akan percaya apapun lagi," tangkas Khanza pula dengan tegas lalu ia meraih lengan tangan Taro dengan sangat erat pula ia memegangnya.
^^^To be continued ^^^
^^^🍂 aiiWa 🍂^^^
...Kutipan :...
Mengalah bukan berarti kalah bersabar bukan berarti menerima sebab manusia itu adakalanya lebih bisa berbuat jahat dari seorang penjahat pada dasarnya ❤️