
...♡♡♡...
Perbincangan antara Nathan dan kakeknya berlangsung hingga beberapa jam yang pada akhirnya Nathan berhasil membujuk sang kakek untuk makan hingga habis tak bersisa bahkan cuma Nathan yang mampu untuk mendekati sang kakek dan dia pula yang bisa mengerti perasaan gelisah yang di rasakan oleh kakeknya itu.
Sebelum Nathan beranjak pergi sejenak dirinya tampak terdiam entah mengapa walaupun kakeknya tidak bisa melihat namun dia mampu merasakan melalui hatinya jika cucunya itu sedang ada sesuatu yang ingin di sampaikan.
"Nat, apa ada hal yang ingin kau ceritakan pada kakek?" tanya sang kakek yang menoleh ke arah samping namun sudut matanya yang sudah tampak keriput itu terlihat jelas oleh Nathan.
"Kenapa kakek bisa mengetahuinya?" balik bertanya pula seolah ingin mengalihkan topik.
"Ceritakan saja pada kakek karena kau cucu kakek satu-satunya, bagaimana mungkin kakek tidak tahu gelagat mu itu," celoteh sang kakek yang tampak serius ingin mendengar sesuatu dari cucunya.
"Mmmh, begini kek... Tapi kakek berjanji tidak akan bercerita pada siapapun."
Nathan seakan ragu ingin bercerita namun dia entah mengapa rasa di hatinya ingin berbagi pada orang lain.
"Iya kakek berjanji dasar cerewet," seloroh kakeknya yang tampak sedikit tersenyum tipis.
Nathan menarik nafas panjang lalu dia bangkit dan berdiri menatap ke arah luar jendela sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana.
"Aku merasa ada yang aneh dengan diriku kek," imbuh Nathan berbicara dengan terus menatap lurus ke depan.
"Apa yang membuatmu berfikir begitu?" tanya kakeknya lagi.
"Aku tak pandai untuk berteman sebab aku di cap si balok es oleh seorang anak lelaki karena dia melihatku susah untuk memiliki teman di karenakan aku dingin," ungkapnya pula terdengar lirih.
"Apa kau tak memiliki teman di sekolah?" bertanya lagi terdengar tak percaya cucunya yang sangat hangat itu bisa di katakan balok es.
"Aku hanya memiliki seorang teman lelaki saja akan tetapi aku sangat iri melihat mereka yang memiliki banyak teman namun kenapa aku tak bisa bersikap ramah pada yang lainnya aku merasa aneh pada diriku sendiri kek," keluhannya itu terdengar jelas dan dapat di rasakan oleh sang kakek bahwa cucunya sedang gelisah.
"Kau coba untuk menerima mereka saat ada yang ingin mengajakmu untuk mengobrol jangan kau abaikan kakek yakin kau akan mendapat banyak teman kalau kau menyambut obrolan mereka," saran kakeknya pula lalu Nathan membuang nafas kasar dari mulutnya.
"Belum ada yang mengajakku untuk berteman kek malah yang ada para murid perempuan suka berteriak asal aku ingin masuk ke kelas mereka sangat membosankan karena mereka hanya kagum padaku bukan untuk ingin berteman, haahh! memikirkannya saja aku sudah sangat pusing kek," tampak Nathan menghela nafas panjang saat dia bercerita panjang lebar.
Sang kakek hanya tersenyum lebar mendengarnya seakan dia teringat pada waktunya masih muda dahulu hampir mirip dengan cerita Nathan karena ia juga sangat sulit mendapatkan teman yang tulus ada di sampingnya.
Tapi..."
"Kenapa? ayo lanjutkan, kok terdiam?" tanya kakeknya yang terdengar tak sabar.
"Ahh sudahlah kek," katanya pula bahkan tampak sedikit rona di pipinya sekilas terlihat jelas lalu dia melenggang ke arah sofa dan duduk dengan bersandar dan wajah mendongak ke atas.
"Pasti ada hal yang masih belum kau ceritakan, ayo ceritakan semuanya pada kakek! tadi sudah kakek katakan berjanji tidak akan bercerita pada orang lain," timpalnya terdengar sedikit memaksa.
"Ya, hanya pada kakek aku ingin bercerita karena aku tidak nyaman jika bercerita pada yang lain," cakapnya pula sambil terus mendongak hingga tampak ia pejamkan matanya sejenak.
"Ada seorang perempuan yang sampai saat ini aku selalu perhatikan dari awal masuk aku bertemu dengannya sampai aku meminta papa untuk memindahkan aku ke ruang kelas yang sama dengannya, bahkan aku sangat terheran kenapa hanya dia sendiri yang terlihat biasa saja kalau melihatku padahal semua para perempuan hampir setiap hari berteriak jika aku hadir di tengah mereka tetapi tidak untuk dia, makanya saat ini aku ingin sekali mengajaknya ngobrol dan berteman dengannya tetapi aku tidak bisa kek, karena salah satu temannya sungguh tidak aku sukai sudah jelas aku akan risih di tambah lagi temanya yang perempuan kalau sudah melihatku pasti tak berhenti untuk menatap ke arah ku terus, bagaimana caranya aku mengajaknya untuk berteman kek?" dari sepanjang dia bercerita sang kakek hanya tertawa kecil saat mendengarnya. "Apa ada yang lucu dari ceritaku tadi kek?" protes Nathan pula seolah tak terima sang kakek menertawakannya.
"Apa kau sungguh sangat menyukainya sampai kau berniat mendekatinya?" tangkas sang kakek pula sehingga Nathan langsung tergerak dari sandarannya dan membelalakkan mata ke arah kakeknya.
"A -aku hanya ingin berteman bukan menyukainya," ia mulai kelabakan membuat sang kakek bertambah yakin kalau ucapannya itu benar.
"Apa kau yakin hanya ingin berteman? bahkan kau sampai meminta papa mu untuk memindahkan kelas untukmu, jika hanya sekedar ingin berteman bisa saja kau mendekatinya saat ia berada di luar kelas kenapa harus satu kelas? supaya kau bisa memandangi wajahnya?" cerocos sang kakeknya yang begitu blak-blakan membuat Nathan tak berkutik.
Zlepp
Jantung Nathan seolah berhenti saat perkataan kakeknya yang terdengar olehnya.
"Apa yang kakek katakan barusan benar Nat?" masih belum puas sang kakek mengulanginya kembali.
"A -apa sih kakek ini, sudah ah aku mau kembali ke kamar dulu ada tugas yang harus aku selesaikan kakek beristirahat lah," cakapnya yang terdengar buru-buru kemudian dia bergegas langsung ke luar dari kamar itu dan menutup pintunya kembali.
"Hahaha... Nathan Nathan kau ternyata sudah besar sekarang," kekehan Panji berucap demikian sambil terus tertawa merasa lucu dengan sikap pemalu dari cucunya itu lalu ia pun bersandar di kursinya sambil memejamkan mata menikmati kembali udara yang berhembus masuk ke dalam kamarnya tanpa menghidupkan AC.
Perbincangan pun usai dan kini Panji telah beristirahat di tempat duduknya karena ia merasa lebih baik setelah banyak bercerita pada Nathan.
^^^To be continued ^^^
^^^🍂 aiiWa 🍂^^^
...Kutipan :...
Carilah orang yang tepat untuk kau ajak cerita jangan kau bercerita di sosial media bahkan yang tak akan bisa memberikan masukan yang baik untukmu ❤️