
...โกโกโก...
Betapa terkejutnya Khanza saat dirinya mengetahui kalau istri pak Yudi sudah berdiri di belakangnya dengan tatapan sinis seolah tidak menyukai keberadaan Khanza di warung miliknya.
Khanza langsung berdiri dari tempat duduknya dengan menyatukan semua jemari tangannya hingga tertunduk tidak berani menegakkan kepala dan tampak begitu gelisah karena istri pak Yudi masih menatapnya sudah sangat terlihat jelas dari sorot matanya yang tajam
Sebut saja nama istri pak Yudi itu Ratih yang sudah berusia sebaya dengan suaminya.
"Siapa anak ini? kenapa kau harus menemani dia makan?" tanya sang istri berkata sedikit nada nyelekit.
Pak Yudi melirik Khanza dengan menoleh ke arah samping terlihat jelas sekali kalau Khanza sudah merasa sangat tidak enak setelah mendengar perkataan istrinya itu.
Tentu saja dengan sigap pak Yudi menarik lengan kanan istrinya supaya tidak berlanjut lagi omongan yang akan membuat Khanza merasa terbebani, begitulah fikirnya.
"Hei, kenapa kau menarik tangan ku? apa-apaan kau ini?!" gerutu istrinya pula berteriak seolah tidak terima dengan sikap suaminya.
Meskipun suara itu melengking terdengar di telinga pak Yudi tidak akan membuatnya berhenti sampai dia membawa istrinya pergi dari hadapan Khanza.
Sementara itu Khanza hanya menatap dari jauh saat pak Yudi menarik lengan istrinya, dia merasa tidak enak saja kalau kehadirannya akan membuat bumerang bagi orang lain, sejenak Khanza menoleh pada adiknya dengan tatapan kesedihan mendalam, ingin rasanya dia lari dari tempat itu sesegera mungkin tetapi itu tak dapat dia lakukan karena pak Yudi sudah sangat baik pada dirinya tidak mungkin dia lari begitu saja tanpa ucapan terimakasih, berkecamuk lah fikiran Khanza saat ini.
.
.
.
Rumah besar Shopia.
"Ma, semuanya sudah kita lakukan dan sekarang kita harus mencari anak itu lagi? mau cari di mana ma? mungkin saja kedua anak itu sudah mati!" ucap Kino yang tampak bersender di balik lemari hias kamar ibunya dengan wajah yang sebal.
"Mama juga tidak tahu harus mencari anak gembel itu di mana? apalagi kita sudah mencari di sekitar tempat pembuangan itu," resahnya pula sampai memijat dahinya karena mendengar anaknya mengeluh saja sedari tadi tanpa mencari solusi.
"Aku tidak mau tahu, kita harus mendapatkan kembali anak gembel itu! dasar anak sialan."
Kino memukul keras lemari ibunya tanpa dia sadari telah membuat sang ibu terkejut.
PLAKKK
Tamparan pun melayang di pipi Kino.
"Jadi kita harus apa? aku sudah dari tadi berfikir tapi belum juga dapat jalan keluarnya," protes Kino pula sambil berjalan dan duduk di atas kasur ibunya dengan wajah kesal karena dia tak bisa mencari ide.
"Kau diamlah dulu, biar mama yang mencari solusi! kau cukup diam dan jangan banyak komentar."
Shopia mulai terdiam seketika sambil menatap dirinya sendiri ke arah pantulan kaca hiasnya.
Sejak ide yang di dapat oleh Shopia waktu itu mereka mulai melakukan aksinya untuk menjual seluruh aset yang di miliki Hayati.
Mulai dari tempat prakteknya ada di beberapa daerah, investasi emas, tabungan di bank, serta ada pula asuransi jiwa, belum termasuk rumah besar Hayati yang terletak di sebuah kota lain yang dia beli dan semua itu memang hasil kerja kerasnya selama ini.
Semua itu Hayati berikan atas nama Khanza Alesha, entah sedari kapan dia mengubah semuanya yang pasti aset miliknya atas nama Khanza, maka dari itu Shopia dan Kino menjadi sangat frustasi setelah mengetahui itu semua.
Sampai mereka meminta bertemu pada pengacara Hayati yang membantunya mengubah namanya menjadi Khanza pun tidak bisa berbuat apapun tuk mereka berdua, karena segala sertifikat sudah jelas tanda tangan dari Khanza sendiri.
Ketika itu Hayati berpura meminta tanda tangan dari Khanza beralasan karena rasa penasaran saja dan ternyata semua itu dia lakukan tuk masa depan Khanza juga Zizi.
Betapa bangganya memiliki seorang ibu angkat seperti Hayati jika Khanza mengetahuinya mungkin dia tidak akan berfikir buruk tentang Hayati, namun semua itu di tutupi oleh Hayati sementara karena tak ingin mengundang perhatian mertua dan suaminya, dia juga tidak menyangka orang terdekatnya nekat melakukan hal buruk kepada anak yang sangat dia sayangi.
Sejak Hayati di kurung oleh ibu mertua dan suaminya ia hanya di beri makan dan minum dari balik pasung yang mengikat dirinya, sungguh Hayati tidak bisa melakukan apapun dalam keadaan seperti itu dia cuma bisa pasrah serta berharap di pertemukan kembali pada kedua anaknya, setiap harinya Hayati mengeluarkan air mata mengingat saat kebersamaan dirinya ketika berkumpul pada putra putrinya sehingga rasa rindu itulah yang membuatnya bertahan sampai saat ini.
Rumah yang di tempati oleh mereka sebelumnya itu sudah di sita kantor saat Kino ketahuan menggelapkan uang makanya mereka pergi dari rumah itu dan sekarang menetap di kediaman Shopia, serta harta Kino juga di sita semuanya termasuk mobil miliknya makanya mereka menggunakan mobil Hayati tuk sementara waktu menyelesaikan kejahatan mereka yang belum ada ujungnya.
Yeap, Kino sekarang memang sudah benar-benar jatuh miskin sehingga dia siap melakukan apapun tuk mendapatkan Khanza kembali ke tangannya, karena dia belum siap menjadi orang miskin yang akan di injak-injak harga dirinya oleh orang lain, begitulah fikir Kino yang tampak gelisah sekali dengan terus mengepalkan tangannya kuat.
^^^To be continued^^^
^^^๐ aiiWa ๐^^^
...Kutipan :...
Orang yang mencari harta dengan jalan yang tidak baik, maka akan berakhir dengan tidak baik pula karena segala sesuatu perbuatan pasti akan mendapatkan hasil yang sesuai pada apa yang di kerjakan, itulah kenyataannya kita tidak bisa lari walau sejauh apapun kaki melangkah karena apa yang di tanam itulah yang di tuai โค๏ธ
Nantikan terus kelanjutan ceritanya.. ๐