
Blue yang sudah siap dengan pedangnya langsung menerjang musuh. Ayunan pedangnya membelah kesatria kadal dengan sangat mulus.
Monster di depannya hanya level 300, sedangkan Blue punya level yang jauh lebih tinggi. Ditambah lagi gua ini penuh dengan misteri karena level monster sama sekali tidak mempengaruhi kerusakan.
Ayunan dengan penuh tenaga menciptakan kerusakan yang jauh lebih besar. Ditambah lagi dengan kerusakan pasti yang didapatkan. Darah para monster juga sangat relatif, mereka yang terkena serangan mematikan langsung mati.
Blue sudah tahu ini, jadi tidak melambatkan pedangnya sedikitpun. Berbeda dengan rekan-rekannya yang masih menyesuaikan diri.
Jumlah stamina yang digunakan juga relatif lebih banyak dibandingkan monster biasa. Meskipun begitu, Yami dan kelompoknya masih misa mengontrol napas dan menyelesaikan gelombang pertama.
"Jangan lakukan hal gila lagi! untuk sekarang ayo istirahat dan pulihkan stamina kalian." Blue menggambar sesuatu di tanah.
Yami dan Liem langsung duduk meditasi, mereka merasa duduk seperti itu dapat mengembalikan stamina dan konsentrasi lebih cepat. Berbeda dengan Kitty yang tidur dengan nyenyak di atas sebuah batu.
Naga Angin yang kehabisan napas bingung dengan situasi aneh ini. Ia adalah seekor naga yang tidak akan kelelahan bahkan setelah bertarung beberapa hari.
"Sial!" seru Naga Angin dan langsung duduk untuk memulihkan staminanya dengan cepat.
Bee keluar dari ruang penyimpanan. "Peta apa yang kau buat?"
"Hei mengapa kau tidak keluar tadi. Lihatlah mereka semua kelelahan." Blue mengalihkan pembicaraan dan menyalahkan Bee karena tidak memberikan bantuan.
"Setidaknya panggil tuh Raul dan lainnya, mereka hanya tidur dan tidak bekerja sama sekali!"
"Sudahlah lupakan. Ayo bicara soal gua ini, menurutmu pintu mana yang menuju ruang rahasia?" tanya Blue yang baru saja menyelesaikan gambar peta.
"Darimana kau mengetahui struktur gua seperti ini?"
"Jangan menanyakan hal sepele seperti itu, sekarang fokus kita mencari jalan yang benar." Blue tidak mau menjawab karena dia mendapatkan peta ini dari kehidupan sebelumnya.
"Ada 7 jalur dan 8 pintu. Dilihat dari banyaknya monster seharusnya pintu nomor 5 menjadi pilihan terbaik." Bee menjawab sambil mengusap dagunya.
Blue menunjuk jalan ke 7. "Memang pintu nomor lima banyak monster di jalurnya. Tapi lihatlah pintu ke 7, tidak ada monster sama sekali."
Bee mengerutkan kening dan menelusuri pintu 7 yang tak terdapat monster sama sekali. "Ini jauh lebih aneh ketika pintu rahasia tidak di jaga sama sekali."
"Karena raksasa tanah sangat kuat, tidak ada monster yang berani mendekatinya. Jadi besar kemungkinan raksasa itu asa di pintu 7."
Bee menyetujuinya. "Aku setuju, pintu 7 lebih masuk akal karena raksasa cenderung menyendiri setelah para titan hancur."
Setelah keduanya sepakat, Yami dan kelompoknya bangun dari meditasi. Hanya Naga Angin yang masih diam karena terlalu fokus.
"Kita tunggu saja dulu." Blue duduk dan membahas beberapa rencana serangan. Dengan memanfaatkan pengetahuan dari masa lalu, Blue mengarahkan semua pasukannya.
Emma juga muncul untuk membantu penyerangan kali ini. Anthony tidak bisa hadir karena Rafaela butuh kehadirannya.
Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya Naga Angin membuka matanya. "Apa yang kalian lakukan?" tanya Naga Angin yang melihat rekan-rekannya berkumpul.
Liem melambaikan tangannya. "Ayo sini kau lambat sekali."
Sebagai seorang Lucifer, Liem tidak pernah kelelahan dalam pertarungan. Namun dalam wujud Liem ia hanya menghemat stamina miliknya.
Karena pengalaman yang melimpah, Liem adalah orang pertama yang menyelesaikan meditasi nya. Kemudian disusul Kitty dan Yami, Naga Angin paling akhir.
Naga Angin tidak punya pembelaan, ia merasa kekuatannya sudah kadaluwarsa dan harus ditingkatkan. Karena pengaruh Yami dan kelompoknya, Naga Angin mulai punya motivasi untuk menjadi lebih kuat.
"Sudah diputuskan, kita akan ke pintu tujuh. Memang menurut informasi tidak ada monster yang menghadang. Namun semua tetap waspada dan jangan buat kesalahan seperti sebelumnya!" seru Blue sambil melirik Naga Angin.
"Baik!" jawab Naga Angin sendirian, padahal lainnya hanya diam dan mengangguk.
Blue dan kelompoknya segera melanjutkan perjalanan, mereka berjalan pelan untuk mengamati sekitar dan mencari informasi.
Sampai akhirnya Blue melihat selamat adanya relief yang terukir di dinding gua. Kakinya segera melangkah mendekat dan tangannya meraba dinding.
"Bahasa apa ini?" tanya Blue.
Bee tidak tahu bahasa yang tertulis di dinding gua, terapi Liem memberikan penjelasannya.
"Disini dikatakan bahwa Titan tidak akan pernah musnah, mereka selalu bereinkarnasi dan menantang dunia. Disini juga disebutkan bahwa sosok raja titan tidak akan pernah mati oleh seorang wanita kecil!"
Liem menggelengkan kepala. "Kisah di bawahnya lebih mengharukan. Ternyata Raja Titan tidak mati di tangan Athena, tetapi raja sendiri yang memberikannya supaya para titan aman dari sergapan dewa rakus. Sayangnya sosok bocah kecil berpakaian putih dengan aksen merah muncul dan memburu semua titan."
Goresan di baris paling bawah bukan di ukir menggunakan batu atau benda keras, sosok yang menulisnya menggunakan darahnya.
Liem tampak serius dan menatap tajam ke arahnya. "Athena pengkhianat dan Satan bajingan!"
Untuk memastikan sekali lagi, Liem meraba darah yang ada di dinding. Wajahnya tidak berubah sedikitpun.
"Darah di goresan ini belum lama. Aku yakin ini tidak lebih dari 100 tahun yang lalu, artinya keturunan titan ada di sekitar sini!" seru Liem.
Blue segera mengalihkan pandangannya ke Bee. "Bukankah katamu titan musnah 1000 tahun yang lalu?"
"Dalam catatan sejara Titan memang sudah musnah lebih dari 1000 tahun yang lali."
Blue segera menanyakan kebenaran pada Liem. "Apa kau yakin itu darah Titan murni?"
"Ya, aku pernah melawan Raja Titan. Aroma dan strukturnya sama persis dengan Raja Titan."
Blue, Bee, dan Liem langsung memandang pintu nomor 7. Mereka berpikiran sama, mungkinkah Raja Titan sebenarnya masih hidup dan bersembunyi di balik pintu besar itu.
Sebagi pemimpin, Blue melangkah paling depan. Ia tetap waspada dan membuka pintu ruangan perlahan.
Pintu terbuka pelan, Blue dan seluruh kelompoknya sudah siap bertarung. Liem punya ingatan tentang kekuatan Raja Titan, jadi mereka punya kesempatan menang.
Setelah pintu terbuka, Blue dan kelompoknya melihat sekeliling serta melangkah perlahan. Nyatanya tidak ada tanda-tanda monster ataupun harta lainnya. Mereka hanya melihat hiasan dinding yang mewah dan simbol tingkat tinggi yang sangat tua.
"Mengapa banyak simbol tingkat tinggi disini?"
Bee menjelaskan pengetahuannya. "Ini memang simbol tingkat tinggi, tapi lihat medianya. Pasti ini simbol kuno yang sudah melemah."
"Aku setuju," ucap Liem.
"Sepertinya aku pernah ketempat ini sama Athena, tapi ingatanku sedikit kabur karena efek simbol pengekangan." Kitty memberikan penjelasan tetang kondisinya.
"Baiklah, ayo jalan perlahan-lahan. Perhatikan langkah kalian!"
Blue melanjutkan perjalanan, ia terus waspada selama setengah jam untuk sampai di sebuah tempat yang sangat luas dan ada sosok besar duduk di singgah sana.
Mata Dewa digunakan, tetapi tidak ada informasi yang ditunjukkan. "Bersiap bertarung!"
"Roar!" teriakan mengerikan terdengar, semua orang yang ada di dalam kelompok terkena efek buruk membatu. Karena tidak ada Rafaela, Blue hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri.
Setelah 10 detik, efek membatu telah hilang. Blue segera mengeluarkan Raul, Drakula, Ela, Elvy, dan Bee.
Sosok raksasa sangat besar setinggi 50 meter, matanya yang berwarna merah dan senyum lebar membuatnya sangat menakutkan.
"Siapa kalian?" tanya sosok besar itu dengan suara lirih.
Blue yang mempunyai pendengaran super langsung mengalihkan pandangannya ke belakang kursi. Ia merasa sumber suaranya bukan dari atas gedung dari depannya.
"Kami kelompok yang ingin mencari Celana Raja Tanah!" jawab Blue dengan suara lantang supaya lawan bicaranya tidak sadar bahwa ia sebenarnya tahu sesuatu.
"Kurang ajar, siapa yang memberitahu manusia lemah mengambil barang ku!"
"Informasi ini sudah menyebar ke seluruh dunia, pasti akan ada manusia lain yang akan menantang kehadiranmu!"
"Bodoh, apa kau pikir aku bisa kalah!" suara tawa terdengar sangat keras. Hal itu mengkonfirmasi bahwa raksasa di depannya bukan yang berbicara.
"Jangan pernah meremehkan kami. Apa kau tahu kami para pemain akan terus menjadi kuat dan tidak akan pernah bisa mati seperti para titan." Blue sedikit menyinggung hal sensitif untuk mengorek informasi lebih lanjut.
"Bajingan, siapa bilang titan sudah musnah!"
"Sejarah mengatakan para titan sudah menghilang dari dunia. Bahkan jika mereka ke tanah dewa, pasti Zeus dan para dewa serakah lainnya akan mengambil jantungnya!"
Sebuah cahaya merah menyinari Blue dan kelompoknya. "Ternyata hanya bocah banyak omong kosong, kau saja tidak punya jantung titan di tubuhmu!"
"Takutnya kamu akan marah jika aku punya jantung dari keluargamu, Raja Titan Kronos!" ucap Blue sambil tersenyum.