Domain Dewa : Penguasa Benua

Domain Dewa : Penguasa Benua
Tim 1 Fairy Dance


Qin Huang membawa panah sepanjang 1,5 meter. Warnanya menyerupai api abadi dan ada sebuah batu di tengahnya.


Panah itu sebenarnya milik Apollo yang telah ditingkatkan. Phoenix yang di tunggang Qin Huan menjadi bukti bahwa dirinya adalah penguasa api abadi. Namun gelar itu masih belum bisa menyaingi Raja dari segala api, yaitu Blue sendiri.


Asura mengibaskan lengannya untuk menyingkirkan asap yang menghalangi pandangannya. "Pengecut, kenapa kau membawa teman!"


Blue tersenyum. "Sebenarnya aku bisa membunuhmu dengan sedikit trik, tetapi manusia tidak pernah menang sendirian!"


Perkataan Blue sama persis seperti yang dikatakan Zeus. Namun konsepnya sedikit berbeda karena Zeus menyebutkan bangsa manusia, yang artinya merujuk pada manusia di zaman itu saja.


"Kau membuatku sadar, kalian para manusia memang seperti semut yang mengerumuni gula!" ucap Asura melempar pedangnya.


Lingkaran di belakang punggungnya mulai berputar kembali. Auranya meledak dan langit mulai mendung, petir menyambar ke segala penjuru.


"Thunder God!" ucap Asura menyebutkan gelarnya yang lain.


Asura disebut Dewa Perang bukan karena satu pencapaian saja, ia memiliki beberapa pencapaian sehingga disebut sebagai dewa. Diantaranya adalah Dewa Pedang dam Dewa Petir.


Menurut ingatannya, petir adalah senjata terbaik Zeus. Namun Asura mengganggam sebuah petir dan menciptakan ledakan di lingkungannya.


"Tikus biasa menggunakan kecepatannya, mari mulai babak selanjutnya!" kata Asura memprovokasi lawannya.


Dari awal Blue sudah menduga akan jadi seperti ini. Namun siapa yang menyangka ternyata Asura adalah pemilik pencapaian Dewa Petir.


Pencapaian berbeda dengan gelar, pencapaian hanya merujuk pada kekuatan pemberian. Sedangkan gelar adalah kekuatan yang mengakuinya.


Memberikan pencapaian pada seseorang tidak mudah, pemberi harus berkorban banyak benda dan umurnya. Sedangkan untuk penerima harus menahan rasa sakit yang tidak pernah dirasakan sebelumnya.


Karena Asura sangat suka dengan sakit, ia menikmati prosesnya dan mendapatkan banyak pencapaian. Meskipun gelar bawaannya adalah Dewa Perang, Asura lebih dari dewa perang biasa. Inilah yang dimaksud Typhon manusia merepotkan.


Asura memang manusia, tetapi karena kekuatannya terlalu hebat. Ia menyebut dirinya sebagai Dewa Senjati dan mengikuti Zeus kemanapun dia pergi.


Mengikuti bukan berarti setia, Asura hanya mengikutinya karena dipastikan akan ada banyak pertarungan di sekitar Zeus itu sendiri. Salah satunya adalah pertarungan dengan Blue saat ini.


Untuk membuka serangan, Asura berlari dengan kecepatan petir. Ia langsung muncul di depan Blue dan mengayunkan tinjunya menggunakan tangan kiri.


Blue di hempaskan puluhan meter jauhnya, ia segera bersiap serangan berikutnya. Benar saja, aliran petir menyambar tubuhnya langsung.


Sayangnya petir bukan kelemahan Blue, Armor yang selama ini melindungi tubuhnya mulai beraksi. Cahaya kebiruan terpancar dari armornya, Blue segera mengambil Dual Secret Sword.


"Bagaiman rasanya di sambar petir?" tanya Blue dengan senyum tipis.


Asura menoleh ke atas, sebuah petir langsung menghantamnya. Padahal ia adalah seorang Dewa Petir, tetapi petir malah menyerangnya.


"Ugh, apa yang kau lakukan?" tanya Asura.


"Tidak ada yang spesial." Blue masih ingin menyembunyikan banyak kartu di tangannya.


Dua pasang mata sedang memperhatikan pertarungan. Jadi Blue tidak boleh habis-habisan dalam prosesnya.


Odin dan Zeus adalah dua pasang mata yang dimaksud, Satan sendiri masih belum sampai ke Tanah Dewa karena persembunyiannya sangat jauh.


Asura yang belum sadar bahwa Armor Blue bisa mengembalikan 50% serangannya melihat sebuah panah mengarah padanya.


Api abadi membakar setiap benda yang menyentuhnya, Asura dengan percaya diri membelah panahnya.


Petir yang paling dia banggakan terbakar api abadi. Meskipun tidak memberikan kerusakan berarti, api abadi pada perlahan menghancurkan senjatanya.


"Sejak kapan kau menjadi sanga lemah?" tanya Blue pada Qin Huang yang tampak menyerang satu panah.


"Sabar dulu, Bos. Setelah ini akan ada hujan panah, semoga selamat untukmu!" jawab Qin Huang yang langsung terbang menjauh.


Benar saja, sebuah meteor tampak muncul dari langit. Namun setelah dilihat lagi meteor itu hanyalah segerombolan panah yang berjumlah sangat banyak.


Blue tersenyum kecut melihat langit. "Apa kau berusaha membunuhku sialan!" ucapnya pelan.


Raul muncul dan membawa Blue dengan kecepatan penuh. Ruangan disekitarnya melengkung dan mereka sampai di tempat yang aman.


Asura belum bergerak dari tempatnya, ia terlalu percaya dengan fisiknya. Jadi Asura menahan semua serangan musuh dengan petir dan tubuhnya.


"Hancurlah!" teriaknya sambil melemparkan senjata petir pada meteor panah.


Meteor dari panah berlubang, tetapi senjata petir milik Asura juga hancur. "Haha, kau terlalu lemah!" kata Asura dengan nada sombong


Disisi lain Qim Huang tersenyum manis. "Kau terlalu cepat senang bos anjing," katanya.


Asura yang sudah kehilangan setengah HPnya mulai berubah menjadi serigala. Jadi Qin Huang mengejeknya dengan kata Bos Anjing.


Meteor yang berlubang berkumpul kembali dan panah abi abadi yang padam mulai menyala lagi. Asura membelalakkan matanya tidak percaya.


"Apa!"


"Kau tidak bisa mengalahkan ku manusia!" teriak Asura dengan suara sangat keras.


Blue dari kejauhan hanya bisa merasakan tekad Asura yang sangat mengerikan. Tanpa sadar ia berpikir menarik Asura ke pihaknya untuk melawan Zeus.


Namun pikiramnya langsung hilang karena Asura punya prinsip hidup untuk bertarung. Tidak mungkin untuknya melayani seseorang.


"Haaaa...!" teriak Asura menghentikan meteor panah yang menghancurkan tanah di sekitarnya.


Gunung yang berdiri tegap tiba-tiba menghilang karena tabrakan gelombang serangan pamungkas Qin Huang dan pertahanan Asura.


Setelah 3 detik, pertahanan Asura retak. Meskipun retak, ia masih berteriak dan bertahan.


Setelah 5 detik, pertahanan Asura hancur berkeping-keping. "Jangan senang dulu manusia!" teriaknya memberikan peringatan.


HP Asura berkurang dengan lebat. Seiring berkurang darahnya, pertahanan Asura semakin tinggi sehingga api abadi mulai tidak efektif lagi.


Dengan satu serangan, Qin Huang berhasil memaksa Asura menggunakan perubahan sempurna. Sosok serigala dengan bulu berwarna hitam serta petir kuning mengelilinginya muncul.


Asura berubah menjadi monster setelah HPnya menyentuh 30%. Disisi lain Qin Huang yang barusaja menembakkan panah entah mengapa staminanya terkuras.


Keringat mulai keluar dari dahinya, Qin Huang mengendalikan tubuhnya dengan Teknik Jiwa. "Apa yang terjadi?"


Pheonix yang ditungganginya berbicara, "Tekanan dan hawa membunuh monster itu terlalu kuat. Kita harus turun!"


"Ya."


Qin Huang sempoyongan, ia pertama kali menggunakan teknik sinkronisasi dengan Pheonix. Namun lawannya terlalu kuat dan menguras stamina Qin Huang itu sendiri.


Asura yang sudah menetapkan musuhnya segera berlari dengan empat kakinya. Mulutnya terbuka siap menggigit Qin Huang yang kelelahan.


Blue terlalu jauh dari tempatnya, Raul juga terlambat merespon. Sehingga hanya Pheonix yang bisa diandalkan.


Pheonix segera berdiri di depan Qin Huang untuk menghalangi musuh. Namun Asura bisa melewatinya dengan sekejap mata.


"Ini..."


Pheonix tidak percaya pertahanannya dilewati dengan mudah. Ia segera melihat kebelakang dan mendapati serangan Asura di hentikan perisai setinggi dua meter.


"Hei, hei kelihatannya kalian menikmatinya!" kata Cola menampakkan wajahnya di balik perisai.


Argya muncul dengan penampilan seorang pria sejati yang mendenadari kuda. Kuda itu bukan sembarang kuda, sebuah tanduk tampak di dahi kudanya.


Gelombang air menopang pijakan sang kuda, Argya mengenakan pakaian putih layaknya seorang pangeran berkuda putih.


Gelombang air setinggi 3 meter muncul dari belakangnya dan segera menghantam Cola dan Asura yang mengadu kekuatan.


"Sialan apa kau berusaha membunuhku!" teriak Cola yang tekan sedikit kerusakan dari Argya.


"Diamlah!" ucap Argya menyembuhkan HP Cola yang sedikit berkurang.


Rina mengenakan pakaian serba ungu serta topi khas penyihir muncul. Segera setelahnya membuat sebuah tombak dari sihir dan menyerang Asura. Tombak itu langsung menusuk perut Asura yang masih mencoba mengendalikan tubuhnya.


Meskipun menembus perutnya, tidak ada darah yang keluar darinya. Serangan Rina tidak sederhana karena tombak itu bisa menyebabkan semua keterampilan musuh masuk mode pendinginan.


Lina yang mengenakan pakaian serba hijau. Mengucapkan mantra aneh dan memberikan buff pada semua rekan di sekitarnya.


Blue yang jauh dari tempatnya juga menerima buff. "Kalian sudah sekuat ini!" katanya sambil tersenyum senang.


Asura yang mulai mengendalikan tubuhnya mengibaskan bulunya dan menembakkan sebuah bola energi dari mulutnya.


Sebuah sayatan pedang membelah bola energi yang akan ditembakkan. Disusul sebuah formasi pedang dan menebas tubuh Asura berturut-turut.


Leon muncul sambil memegang pedangnya yang berwarna hitam gelap. Kostum yang ia kenakan sedikit berbeda dari biasanya.


Biasanya Leon menggunakan kostum milik Fairy Dance. Namun kali ini ia mengenakan kostum berwarna merah dengan aksen hitam layaknya samurai.


"Pedangku belum berkarat ternyata," kata Leon membanggakan dirinya.


Blue dengan Langkah Cahaya segera mendeksti Leon. "Hei, bukankah Fairy Dance sedang sibuk?"


Leon menjawab, "Tentu saja masih sibuk seperti sebelumnya!"


"Bagaiman posisimu?"


"Lain kali lihatlah pesanmu dan baca!" jawab Leon dengan ketus.


Blue tidak tahu apa yang sedang dibicarakan Leon. Namun sekarang bukan waktunya untuk menanyakan itu karena Asura sudah masuk ke mode sempurna.


"Manusia!" geram Asura dengan suara serak.