Domain Dewa : Penguasa Benua

Domain Dewa : Penguasa Benua
Kenyataan


Blue tidak mau ambil pusing, ia mengayunkan pedangnya seperti anggota tubuhnya sendiri. Ilmu pedangnya begitu menawan meskipun hanya menggunakan satu pedang.


Salem dan Pak Tua mulai kewalahan hanya karena sayatan pedang yang muncul dari segala arah.


Meskipun mereka sudah menjadi Dewa Menengah, Blue bisa membunuhnya hanya dengan ujung jarinya. Namun untuk memaksa mereka mengeluarkan kartu andalannya.


Sayatan pedang yang terus bermunculan membuat ruangan berantakan. Blue sengaja tidak melukai mereka lebih lanjut.


"Membunuh kalian sagat mudah."


Pak tua mengaktifkan formasi untuk kedua kalinya. Kekuatan Blue di rantai untuk waktu singkat.


[Kekuatan anda di belenggu formasi Penyiksa.]


[Kekuatan formasi tidak dapat mempengaruhi anda.]


Blue sekali lagi berpura-pura lemah, ia berlutut dan melepaskan pedangnya. "Apa yang terjadi?"


"Haha," tawa Pak Tua Sang Pelayan Osiris terdengar sangat keras.


Blue memasang wajah panik, ia benar-benar penasaran dengan formasi andalan yang memakan banyak korban ini.


"Matilah kawan!" teriak Salem sambil mengayunkan pedangnya ingin menebas Blue.


Sedikit energi jiwa dialokasikan untuk menutupi target serangan musuh. Blue ingin melihat apa yang akan dilakukan mereka.


Namun pedang Salem dihentikan Pak Tua. "Jangan membunuhnya, tuan akan marah karena tubuhnya masih belum bersih."


"Maaf kawan." Salem meminta maaf pada pak tua yang menemaninya.


Formasi ruangan diaktifkan, Blue membiarkan dirinya terkena serang formasi. Bukannya mendapat penyiksaan, tubuhnya malah otomatis menyerap energi yang susah payah dikumpulkan formasi.


Kumpulan simbol yang disusun perlahan mulai meredup. Berbanding terbalik dengan Blue yang merasa energinya memakan kekuatan simbol.


Merasa dirinya tidak terancam, Blue membiarkan Pak Tua dan Salem menggunakan semua kekuatannya. Blue berpura-pura kesakitan dan berteriak, "Argh!"


Tidak berasa 15 menit telah berlalu, manusia biasa akan mati jika menerima serangan formasi ini selama itu. Namun Blue sangat istimewa, ia masih bisa sadar dan menatap tajam ke arah Salem.


"Brengsek kau kuat juga!" umatnya.


Pak Tua mendorong Salem. "Jangan sentuh barangnya, ayo segera panggil pengawal dewa."


Keduanya memanjatkan doa layaknya seperti sedang ibadah. Mereka berlutut dan memohon untuk mendatangkan pengawal pribadi.


Sayangnya doa mereka tidak dihiraukan, Osiris sudah tahu Blue sedang mempermainkannya.


"Huh sepertinya dia tidak akan datang. Baiklah ayo sudahi aktingnya."


Blue berdiri dengan santainya, ia mengambil pedang milik Pak Tua yang sekarang sudah menjadi sebongkah besi tak berharga.


"Monster kau pasti monster!" teriak Salem mencoba melarikan diri. Namun kepalanya langsung ditebas oleh seorang pria yang mempunyai 6 sayap di punggungnya.


"Hamba yang takut mati tidak pantas untum tuan!" katanya dengan suara tegas.


Pak Tua tertawa keras mendengar suara pengawal Osiris datang. "Bodoh, akhirnya kau mati sialan!"


Blue tidak bergerak ia melihat pengawal Osiris dengan Mata Dewa, semua informasi tentangnya langsung terkirim ke otaknya.


"Menarik, sebenarnya kau dewa jatuh. Malangnya nasibmu berakhir menjadi budak Osiris!" kata Blue mengejek.


Wajah pengawal Osiris berubah menjadi tak sedap dipandang, ia merasa marah dan menarik pedangnya yang terbuat dari energi alam. Tanpa rasa takut pria itu berlari dan menusuk Blue dengan pedangnya.


Blue tidak menghindar, ia menghentikan pedang lawannya dengan dua jari saja. Tidak hanya menghentikannya, ia menyerap energi alam yang dipancarkan musuh.


Sembari menyerap energinya, Blue mencoba menggali informasi lebih lanjut. "Apa hubunganmu dengan Moris?"


Pasalnya hanya Moris dan Oberan yang bisa menggunakan energi alam dengan bebas. Namun ia melihat pria didepan juga menggunakan energi alam meskipun masih sangat kasar.


"Bagaimana kau tahu nama terkutuk itu?"


"Aku mengenalnya."


Pengawal Osiris menarik pedang energinya, ia mulai berbicara tentang kehidupannya di masa kecil.


Kala itu ia hidup bersama keluarga lengkap di pinggiran Kerajaan Damaskus. Moris masih menjadi pemilik kerajaan dan memimpin semua orang.


Hidup yang damai mulai berantakan karena para monster menyerbu Kerajaan Damaskus, keluarga pengawal Osiris itu meninggal karena penyerbuan monster.


Pria muda yang beruntung bisa selamat berjalan tanpa arah masuk ke hutan. Sampai akhirnya ia bertemu seorang pria yang kebetulan sedang memetik buah apel. Pria itu adalah Osiris yang sedang santai menikmati kehidupan.


Dengan bimbingan Osiris, pengawal itu akan membalas dendam pada Moris yang tidak muncul ketika monster menyerang.


"Alasan yang masuk akal. Tapi menjadi Dewa Puncak tidak cukup untuk menghadapinya." Blue memuji kejujuran pria didepannya.


"Karena kau teman Moris, sebaiknya salahkan keberuntunganmu!"


Pertarungan terjadi lagi, kali ini pengawal Osiris serius menggunakan aura dewa dan tanpa sadar membunuh Pak Tua.


Aura dewa meledak hingga titik tertinggi, Pengawal Osiris menggunakan otoritasnya sebagai dewa untuk membuka ruang pertempuran.


Blue dan Pengawal Osiris dipindahkan ke tempat yang tidak berpenduduk. Mereka di ruang yang berbeda dari Domain Dewa. Blue bisa yakin karena sistem biru tidak dapat digunakan.


"Jangan mengharapkan Outer yang membantu kalian para abadi, di ruang ini kalian bisa mati kapanpun!"


"Sebelum bertarung katakan namamu?"


"Artha Moldova."


Blue terperangah mendengar nama Moldova, ia membaca bahwa nama keluarga itu mempunyai makna yang sangat dalam.


Siapapun yang mempunyai nama Moldova akan menjadi tiran di tempatnya berpijak.


"Sungguh disayangkan aku harus mengakhiri pahlawan masa depan Domain Dewa." Blue menghela napas, ia tidak bisa berbuat apapun karena tempatnya berpijak sangat istimewa.


Selama tidak ada yang mati atau mengaku kalah, keduanya akan terus berada di dalam dunia aneh ini.


Aura Artha meledak, matanya memancarkan cahaya merah kekuningan. "Karena tidak ada batasan, aku akan menunjukkannya padamu!"


Blue bisa melihat peningkatan kekuatan musuhnya. Dia tidak menyangka kekuatan musuh bisa naik hingga 5 kali lipat. Sekarang Artha setara dengan Maha Dewa.


Pedang alam dikeluarkan lagi, Artha menyerang seperti orang gila. Berbanding terbalik dengan Blue yang menangkis serangannya dengan santai. Ia melakukannya untuk menyerap energi lawan.


Pertarungan berlangsung sangat lama, tanah di sekitar arena pertempuran mereka hancur lebur. Pepohonan roboh dan debu bertebaran dimana-mana.


Artha kelelahan, ia kesulitan mengendalikan napasnya. Bahkan aura yang meledak-ledak pada awalnya sudah mulai redup.


Blue cukup puas dengan panen hari ini karena tubuhnya secara otomatis menyerap kekuatan musuhnya.


"Apa sudah selesai?" tanya Blue dengan santai, ia sama sekali tidak kelelahan.


"Bagaimana mungkin, kau pasti bukan manusia!"


Blue menghela napas karena dituduh bukan manusia. Sebenarnya ia ingin menyelamatkan Artha dari Osiris, tapi ia berubah pikiran.


"Sejujurnya aku ingin mengatakan ini sejak tadi. Apa kau tahu Osiris bisa mengerahkan para monster?" tanya Blue dengan santai.


"Tidak mungkin, aku sudah melihat tuan hanya membangkitkan manusia!"


Artha tidak percaya dengan informasi yang dibeberkan. Dia sudah menyaksikan dengan kedua matanya sendiri.


"Apa kamu masih ingat gelar Osiris, dia adalah Dewa Kehidupan yang hatinya bisa menghidupkan manusia maupun monster. Jika tebakanku benar, Osiris adalah orang yang mengerahkan monster untuk membunuh keluarga Moldova."


Blue menjelaskan semua pemikirannya, ia menduga Osiris sudah mengincar Artha sejak lama. Makanya ia menghapus semua keluarga Moldova untuk menutupi jejaknya.


Sayangnya otak Artha sudah tercuci Osiris yang sudah memberinya banyak kekuatan.


"Moris adalah anak Osiris, sebagai teman baiknya aku tahu betul itu adalah kebenaran. Karena konflik keluarga, Moris harua bersembunyi untuk menyelamatkan nyawa anaknya, Agni."


Karena merasa kasian dengan Artha, Blue menceritakan garis besar dari konflik antara Moris dan Osiris.


Artha yang mendengar kebenaran tak bisa berkata-kata. Dia menunduk dan tiba-tiba menarik pedang serta menusukkannya ke badannya.


"Jadi ini akhirnya." Artha tampak menyesal telah membela orang yang membunuh seluruh keluarganya.


Tubuhnya mulai transparan, Blue dilempar keluar arena pertandingan. Artha masih menunduk sambil meneteskan air mata.


"Maafkan aku, ayah ibu."


Blue tidak bisa berbuat banyak, ia harus menghormati keputusan Artha. Padahal ia bisa membantunya membalas dendam.


Salah satu Pengawal Osiris hilang untuk selamanya, bintang di langit tiba-tiba meledak karena kejadian tersebut.


Sang Peramal yang melihat bintang meledak tertawa keras. "Bagus bocah, aku menunggu aksimu selanjutnya!"