
Yuliana menanggapi dan memeluk tubuh Arief yang sudah tumbuh besar. Punggungnya yang lebar segera dielus dan senyum manis muncul di wajah Yuliana.
Pria di belakang Yuliana membuka maskernya dan tersenyum manis, tidak dapat dipungkiri Doni memang sangat tampan. Bahkan ketampanannya tidak dapat disandingkan dengan aktor tertampan di dunia.
Melihat pria itu tersenyum, Arief membalasnya. Ia masih menganggap pria itu adalah pengawal yang ditugaskan keluarga Baskoro untuk menjaga ibunya.
"Ibu, bagaimana kamu datang kesini tanpa kendaraan?" tanya Arief yang sedikit penasaran. Meskipun tidak terkejut dengan kejadian ini karena Aries Hardiman pernah melakukannya.
"Semuanya berkat keterampilannya." Yuliana menunjuk pria di belakangnya.
"Siapa dia ibu?"
"Coba tebak, siapa dia sebenarnya?" tanya Yuliana melemparkan pertanyaan.
"Mungkinkah dia pengawal terbaik keluarga Baskoro?"
Arief tidak bisa merasakan kekuatan dari Doni, kemampuannya masih belum cukup untuk memeriksanya.
Meskipun Arief adalah pria yang paling kuat di Fairy Dance, dia sama sekali tidak melihat aura yang keluar dari tubuh pria itu. Satu hal yang dapat disimpulkan, pria di belakang ibunya sangat kuat atau mungkin sekuat Aries Hardiman.
"Tidak salah sih, tapi tebakanmu kurang benar. Coba perhatikan lagi, aku yakin kau akan mengenalinya."
Arief memperhatikannya lebih teliti, sosok pria di foto rumah lamanya terlintas. Dia melihat sosok pria di sebelah ibunya dan langsung membuka mulutnya.
" Tidak mungkin," kata Arief sambil melompat kebelakang. Tanpa sadar ia langsung memasang kuda-kuda bersiap untuk bertarung.
Pasalnya dia lebih percaya perkataan ibunya daripada kesimpulannya. Ibunya pernah mengatakan bahwa ayahnya sudah mati di medan pertempuran, jadi tidak mungkin ada manusia yang mirip dengannya.
Hanya ada satu kesimpulan yang bisa dia tarik, pria di belakang ibunya adalah penipu ulung untuk memanfaatkan statusnya di keluarga Baskoro.
"Jangan percaya dengannya, Bu!" seru Arief langsung menggunakan tinjunya untuk menyerang lawan.
Tinju Arief sangat cepat, hingga mata tidak dapat mengikutinya. Namun pria di belakang Yuliana menghindarinya dengan sedikit gerakan.
Yuliana tampak panik melihat anaknya menyerang ayahnya. Tiba-tiba ada telepati yang mengatakan untuk membiarkan Arief menyerang Doni.
Kaki kanan Arief langsung diayunkan dengan sekuat tenaga, hembusan angin di malam hari membuat suara tendangan terdengar sampai ke lantai bawahnya.
Amelia, Jessica, dan Leon tanpa ragu langsung lari ke loteng markas besar Fairy Dance, hanya mereka bertiga yang punya akses untuk masuk selain Arief.
Ketiganya melihat pertarungan satu pihak, Arief menyerang terus menerus tanpa ada perlawanan. Namun anehnya lawan tidak terkena sedikitpun sedangkan, bahkan aura Arief di belokkan dengan mudah.
Doni tanpa menggerakkan tangannya bisa menghindar dan membelokkan semua serangan yang di terima. Disisi lain Arief sadar betul kekuatannya tidak cukup mengalahkan musuh.
Leon, Amelia, dan Jessica langsung mengerti apa yang dimaksud bosnya. Ketiganya langsung berlari dan menggunakan tubuh bagian terkuatnya untuk menyerang.
Amelia mengepalkan kedua tangannya untuk menggunakan serangan beruntun. Leon mengepalkan tangan dan mengayunkannya tepat ke muka Doni. Jessica dengan anggun bergerak dan mengangkat kaki kanannya.
Tiga serangan bersamaan dilancarkan, sayangnya itu belum cukup untuk menggerakkan tangan Doni. Semuanya di hentikan hanya dengan kaki kirinya.
"Tidak buruk!" ucap Doni memprovokasi keempat anak muda di depannya.
Arief dengan sigap langsung membuat gerakan besar, tinjunya memancarkan cahaya yang sangat kuat. Ia menggabungkan mana dan aura dalam waktu bersama.
Pukulan tangan kanan dilancarkan, Doni sadar kekuatan itu tidak sederhana, ia sedikit melompat kebelakang. Anehnya tiga orang yang sebelumnya tidak berkutik sudah ada di belakang.
Dengan santainya Doni mengadu tinju Arief dan jari telunjuknya. Sangat mengejutkan, serangan Arief dihentikan dengan satu jari saja.
"Sebagai anak muda kau sangat baik!"
Tubuh Doni langsung terpental puluhan meter dan terjun bebas dari lantai tertinggi markas Fairy Dance. Blue dan teman-temannya langsung melihat ke bawah.
Yuliana sama sekali tidak khawatir, suaminya tidak selemah itu. Bahkan jika ada nuklir menyerangnya, Doni masih bisa selamat.
Debu yang mengelilingi Doni mulai hilang, bukannya kesakitan pria tampan itu malah tersenyum sambil membersihkan bajunya.
"Aku terlalu meremehkan kalian, ayo lanjutkan!"
Tepat setelah mengatakannya, Doni tiba-tiba sudah ada di sebelah Arief dan menggunakan pukulannya untuk menyerang. Manusia biasa tidak akan bisa membuat gerakan, tetapi anehnya Arief sudah siap dengan kuda-kuda bertahan untuk melindungi kepala bagian kirinya.
Tinju Doni dan tangan kiri Arief bertemu, dalam sekejap mata Arief langsung terbang sangat jauh hingga ia terguling-guling. Jessica langsung menggerakkan kaki kanannya untuk memberikan serangan balasan.
Sayangnya Doni tidak memberikan mereka kesempatan, tulang kering di kaki Jessica terkena tinju Doni yang sangat berat. Suara retakan kaki terdengar sangat nyaring.
"Argh...!" teriak Jessica yang tidak dapat merasakan kakinya. Tulang kaki Jessica patah, padahal ia sudah melindunginya dengan aura seratus persen.
Leon tidak mau kalah, ia tanpa ragu menggunakan tangan paling berharganya untuk membela kawannya. Tinjunya seperti pecut yang bergerak sangat cepat.
Doni tidak kehabisan akal, ia memberikan sedikit sentuhan di bisep tangan Leon. Seketika tangannya terkilir dan rasa sakit merasuk ke tubuh Leon, anehnya ia tidak berteriak sama sekali.
Tangan kanannya masih bisa digunakan, tetapi Amelia menghentikannya dan melompat ke arah musuh. Kedua tangannya bergerak layaknya pistol yang dapat menembus apapun.
Sekali lagi, Doni tidak kehabisan cara. Ia menggerakkan jari telunjuk untuk menghancurkan setiap tulang di tangan kanan dan kiri Amelia.
Hanya Jessica yang berteriak kesakitan karena kaki jauh lebih menyakitkan daripada tangan. Arief yang melihat tiga rekannya tersungkur langsung berdiri sambil mengusap darah di sudut mulutnya.
"Siapa kau sebenarnya, tidak mungkin orang itu masih hidup!"
"Bagaimana jika aku adik ayahmu?"
"Tidak mungkin, aku sudah menyelidiki Keluarga Baskoro sampai ke akarnya. Tidak mungkin ada satupun informasi yang tertinggal!"
Meskipun diam, Ayunda dan Yohana terus mengumpulkan informasi tentang Keluarga Baskoro. Jadi Arief bisa bersiap sebelum bertemu dengan keluarganya.
"Seperti yang diharapkan dari anakku!" ungkap Doni Baskoro sambil mendekati Arief yang kakinya gemetar. Bukan karena terkejut, kakinya gemetar karena serangan Doni sebelumnya menggangu semua peredaran darah dalam tubuhnya.
Tidak hanya itu, aura di dalam tubuh Arief mulai mengamuk dan sosok yang selama ini bersemayam di Domain Dewa mulai berbicara.
"Kacaukan!"
Aura di tubuh Arief mulai tidak stabil, Doni merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Dia langsung berlari dan menggunakan serangan terbaiknya. Meskipun tidak menggunakan kekuatan penuh, seharusnya manusia biasa akan langsung hilang dari muka bumi.
Arief menghentikannya dengan satu tangan saja. Aura kekacauan mulai menguasai tubuh Arief, bisikan yang menginginkan kekacauan terus terdengar di telinganya.
Gedung yang awalnya berdiri tegap langsung runtuh terkena serangan kuat itu. Semua manusia di dalamnya adalah seroang petarung, mereka bisa menyelamatkan dirinya masing-masing.
Doni tidak menyangka akan menjadi tidak terkendali seperti ini. Sosok pria tua muncul di sebelahnya, dia tidak lain adalah Aries Hardiman.
"Oh, tahap terkahir sudah dimulai."
Doni menoleh ke arah pria bau tanah itu. "Apa yang kau lakukan?"
"Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja. Siapa yang menyangka anakmu akan membuka gerbang bumi dengan kekacauannya."
Karena Doni masih baru menjadi anggota cadangan Shen, dia tidak tahu apa yang dimaksud. Tanpa pikir panjang ia langsung berlari dan menghampiri anaknya yang lepas kendali.