
Kelompok penjaga penjara menarik teman Raphael keluar. Pintu di banting dengan keras oleh kepala kelompok.
Raphael masih duduk bersila dengan dua tangan di borgol rantai khusus. Entah mengapa perasaannya merasa tenang pada hari ini.
"Kau sudah sampai, Blue."
Disisi lain Blue dan kelompoknya naik ke tanah dewa dengan sangat mulus. Dewa pemandu yang memperlambatnya malah kehabisan energi.
"Terima kasih telah membantu kami, Tuan."
Blue tersenyum tipis, ia sebenarnya tahu orang di depannya mempersulitnya. Namun sebagai pemain yang baik, Blue harus bersikap sesuai dengan posisinya.
Karena sudah melewati batas dunia Dewa dan Manusia, semua kelompok Blue masuk ke Dunia Buatan dan familianya masuk ke ruang penyimpanan.
Sekarang hanya Blue, Liem, dan Kitty. Mereka berjalan ke desa terdekat untuk mengumpulkan informasi.
Tujuan mereka sangat jelas, yaitu mencari informasi keberadaan Raphael dan mencoba menyelamatkannya.
Sebelum sampai di desa, seorang pria dikepung para prajurit. Tangan kanannya tampak terluka hingga meneteskan darah segar.
Blue, Kitty, dan Liem tidak mau ikut campur dalam pertengkaran mereka. Namun perkataan pria yang dia kepung membuat Blue memutuskan untuk berubah pikiran.
"Pangeran Raphael tidak bersalah, mana mungkin hakim sepertiku membiarkan ini terjadi!" ucap sosok pria yang terluka.
Meskipun mereka semua hanya setengah langkah menjadi dewa, Blue bisa merasakan ada sosok kuat yang melindunginya. Mata Dewa yang sudah berevolusi kesekian kalinya menyebutkan bahwa para penyerang adalah bawahan dari Dewa Keberuntungan Ebisu.
"Ah, apa takdir sudah dikendalikan!" gumam Blue. Pasalnya dia dengan Dewa Ebisu mempunyai beberapa perselisihan, jadi akan ada peperangan antara dia dan Dewa Ebisu cepat atau lambat.
Blue menggerakkan tangannya memberi isyarat pada Liem, sebagai tanggapan Liam mengeluarkan ratusan jarum tak kasat mata.
Dengan kibasan lengannya, ratusan jarum itu langsung terbang menuju prajurit yang mengepung hakim.
Untuk membuat pertunjukan lebih menarik, Blue menyuruh Liem tidak meledakkan keterampilannya. Sebagai gantinya, Blue bertepuk tangan dan mendekati hakim.
"Sangat bagus, bagaimana prajurit Dewa Ebisu begitu berani menyerang hakim dari pengadilan surgawi." Blue tersenyum manis memberikan tekanan pada para prajurit.
Perkataan Blue menyadarkan sosok hakim yang terluka. "Jadi kalian utusan Dewa Ebisu, aku tidak akan melupakan penghinaan ini!"
Blue memiringkan kepalanya, ia kira sosok hakim yang terluka sudah tahu bahwa penyerangnya adalah utusan Dewa Ebisu. Situasi menjadi canggung, para prajurit membatu menunggu instruksi selanjutnya.
Mereka ditugaskan untuk membunuh hakim pengadilan surgawi tanpa diketahui identitasnya. Namun Blue membongkar identitasnya dengan begitu gamblang dan santainya.
Merasa identitasnya sudah terungkap, para prajurit setengah dewa itu langsung kabur dengan keterampilan terbaiknya.
Blue menjentikkan jarinya, 12 orang yang mengepung hakim pengadilan surgawi meledak berkeping-keping.
Hakim Pengadilan Surgawi tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya terperangah tak percaya keterampilan seperti itu muncul di dunia ini.
"Siapa sebenarnya anda, Tuan?" tanya Hakim sambil berujung memohon ampunan supaya ia tidak dibunuh.
Sebelum menjawab, Blue tersenyum manis dan mengangkat tubuh sang hakim. "Aku hanya orang yang kebetulan lewat, kira-kira apa yang terjadi pada Raphael?"
"Ceritanya panjang, mari cari tempat penginapan yang bagus."
Mereka semua mencari restoran di desa dewa, tampilannya tidak lebih baik dari Desa Koral. Namun menu makanan disini jauh lebih bergizi dan memberikan efek tambahan yang mengerikan.
Tanpa rasa takut, Blue memesan beberapa makanan yang dapat meningkatkan statusnya secara instan.
"Saya Alfaro, Hakim dari Pengadilan Surgawi."
"Jangan terlalu sopan, aku Blue dan ini rekan-rekanku."
"Aku Liem."
"Aku Kitty."
Liem dalam wujud manusia, jadi Alfaro sangat menghormatinya. Namun Kitty sedikit berbeda karena manusia disini punya sedikit permusuhan dengan ras kucing.
Kucing yang dimaksud adalah ras sebangsa kucing, contohnya singa, harimau atau bahkan serigala.
Blue dengan cepat langsung mengetahui perubahan ekspresi Alfaro. Dari sini ia dapat menyimpulkan bahwa manusia dan ras hewan punya sedikit permusuhan.
"Baiklah, aku akan mulai cerita dari pelarian Pangeran Raphael."
Wajib militer dimaksudkan untuk menunjukkan kekuatan masing-masing individu dan menempatkan mereka pada posisi yang sesuai. Namun Raphael muda memilih untuk turun ke dunia manusia dan menjadi pahlawan di sana.
Tidak ada hukum khusus untuk pelarian seperti ini, jadi para hakim pengadilan surgawi terus berdebat untuk menentukan kasus ini. Karena banyaknya kepentingan politik, masalah yang awalnya mudah menjadi rumit.
Disisi lain Zeus juga tidak peduli dengan Raphael karena telah kehilangan dua anaknya yang paling berbakat. Keduanya sudah setara dengan Dewa Tingkat Tinggi.
Namun kedatangan Baal membuat semuanya kacau, istana tanah dewa yang megah hancur dan Zeus terluka karena peperangan. Tidak sampai disitu, Baal memakan anak Zeus untuk merebut kekuatannya.
Karena berita itu tersebar ke seluruh penjuru dunia, para jendral perang Zeus kembali ke istana untuk melindunginya.
Meskipun terluka, Zeus masih raja paling kuat di tanah dewa. Jadi tidak ada yang berani membaut masalah dengannya. Karena itu, banyak lawannya yang memanfaatkan segala cara memainkan emosi Zeus.
Salah satunya dengan menemukan putranya yang telah hilang. Momennya sangat tepat ketika Baal membunuh dua putra Zeus, putra terakhirnya Raphael di temukan.
Para petinggi tanah dewa yang mempunyai kepentingan politik langsung mengerahkan semua kekuatannya untuk menghukum mati putranya.
Pengadilan Surgawi punya 7 hakim agung dan 84 hakim di bawahnya. Setiap hakim agung punya 12 orang bawahan.
Dari pertemuan sebelumnya, Raphael dinyatakan bersalah karena 5 dari 7 agung menyatakan harus dipenjara.
Selama sepuluh tahun tidak ada perkembangan dari kasus Raphael, hingga mereka harus melakukan pertemuan akbar bersama Zeus dan Hades.
"Bukankah Hades musuh bebuyutannya?"
"Informasi kapan itu, 12 tahun yang lalu Hades meminta maaf pada Zeus dan sekarang menjabat sebagai ketua dari pengadilan surgawi."
Blue sekarang paham mengapa situasi di tanah dewa menjadi semakin suram. Ia bisa merasakan bahwa energi dewa di sini semakin tipis. Jika terus seperti ini, tidak ada dewa lain yang akan terlahir.
"Kau ada di pihak mana?" tanya Blue dengan tatapan serius.
Alfaro bukan orang bodoh, ia tahu bahwa lawan bicaranya sedang menanyakan sesuatu yang sensitif. Jadi ia harus berhati-hati dalam menjawabnya.
"Aku Zeus."
"Bohong! Katakan yang sebenarnya!"
Blue bisa membaca mimik wajah lawan bicaranya. Jadi kebohongan tidak berpengaruh padanya kecuali lawan bicaranya adalah seorang pembohong sejati.
Alfaro menghela napas, ia menganggap nyawanya sudah tidak berarti lagi. "Aku tidak memihak keduanya, sejujurnya akulah yang melempar Raphael ke dunia manusia."
Kenyataan yang mengejutkan, Alfaro sebenarnya adalah orang yang membantu Raphael. Sebenarnya, Ibu Raphael adalah kekasih Alfaro. Namun karena kepentingan politik tanah dewa, keluarga Raphael menikahkan tuan putrinya dengan Zeus penguasa tanah dewa.
Bukannya mendapatkan perlindungan dari Zeus, seluruh keluarga Raphael dibantai oleh pasukan musuh dan ibunya menggunakan kekuatan tanah dewa secara ilegal. Zeus yang berhati dingin langsung memenggal kepala ibunya di depan masyarakat.
Alfaro yang melihat kematian mantan kekasihnya tidak bisa menahan dirinya. Ia mendatangi seorang dewa yang membaca masa depan. Ternyata anak bernama Raphael akan membalaskan dendam ibunya.
Melihat ada secercah harapan, Alfaro bergegas mendekati Raphael dan melatihnya dengan tekun. Setelah beberapa tahun berlalu, ternyata anak-anak Zeus punya masalah dengan bakat yang ditampilkan Raphael.
Hingga akhirnya mereka sepakat akan mencelakakan Raphael di wajib militer. Karena Alfaro punya sedikit jaringan khusus, ia memindahkan Raphael ke tanah manusia.
"Apa kau tidak takut aku salah satu dari pasukan Zeus?"
"Tidak mungkin, aura kalian sangat berbeda. Bisa dibilang kalian adalah pemula dari dunia manusia, jadi tidak mungkin akan terjadi hal buruk."
Alfaro terang-terangan meremehkan Blue dan dua temannya. Meskipun mereka kuat, kekuatannya tidak lebih dari Dewa Sangat Rendah.
"Haha, baiklah anggap saja aku percaya dengan ceritamu. Jadi dimana Raphael dipenjara?"
"Penjara bawah tanah, Pengadilan Surgawi. Letaknya ada di bawah istana tanah dewa yang hancur akibat pertarungan Zeus dan Baal."
Blue tidak bisa menyembunyikan ekspresinya. "Sialan, kau membuat ini semakin rumit. Tunggu aku beberapa bulan lagi!" ungkapnya dengan suara pelan.
Alfaro sedikit kebingungan apa yang dikatakan Blue. Sehingga Liem menepuk pundaknya dan berkata, "Kami disini untuk menyelamatkan Raphael, tapi kurangnya informasi membuat bos berpikir dua kali."
"Jangan bercanda, dewa seperti kalian tidak mungkin bisa melewati jebakan penjara!" teriaknya dengan suara keras hingga beberapa orang di restoran menatapnya.
Blue menggelengkan kepala. "Siapa bilang kita akan membobol penjara, aku yakin si sialan itu sudah tahu kami disini. Dengan sedikit kode harusnya bajingan itu bisa melepaskan dirinya dari penjara. Masalahnya adalah persiapan kita melawan kubu lainnya."
"Persiapan?"
Blue menempelkan jari telunjuknya ke mulut, senyum tipis muncul di wajahnya. "Jangan terlalu berisik."