Domain Dewa : Penguasa Benua

Domain Dewa : Penguasa Benua
Musuh Bebuyutan


Raja Hollow mendekati Blue dan berkata, "Tuan tolong keluarkan semua pasukan ku."


Blue tidak terlalu yakin dengan keputusan Raja Hollow, tapi ia tetap mengeluarkan semuanya.


"Memangnya untuk apa?"


"Lich, kita akan melawan monster itu." Raja Hollow bersemangat karena akan melawan musuh bebuyutannya.


Lich punya tubuh abadi tapi punya kelemahan yang sangat mencolok yaitu inti mana. Sedangkan Hollow tidak punya inti mana tapi nyawanya terbatas.


Dua ras ini terus berperang di zamannya. Oleh karena itu keduanya di lempar ke Tartarus karena terlalu merusak dunia.


"Baiklah, lakukan sesukamu. Aku ingin istirahat." Blue mengatakannya sambil menghela napas.


Raja Hollow berlari menuju markas para mayat hidup, mereka sangat bersemangat. Berbeda dari sebelumnya, tubuh Hollow sangat lemah. Namun sekarang mereka cukup kuat untuk melawan Lich.


Blue menggelengkan kepala melihat Raja Hollow dan pasukannya tampak bersemangat. "Huh mereka tidak sabaran."


Tanpa disadari Ghost sudah tidak ada di tempatnya. Ia berlari menuju pusat energi Yin yang tercemar dan memakannya layaknya macan kelaparan.


Blue membiarkannya, ia langsung keluar Domain Dewa untuk memastikan keadaan tubuhnya. Meskipun minuman konsentrasi sangat membantu mencukupi kebutuhan nutrisinya, Blue harus sesekali melihat matahari.


Arief keluar dari Domain Dewa, ia meregangkan punggungnya dengan menarik kedua tangannya ke atas. "Uh... nyaman sekali."


Shen Haise yang memakai kacamata bulat menoleh ke belakang. "Apa yang kau lakukan, mandi sana!"


Karena sekarang dia tidak punya kekuatan untuk mengingat semua dalam sekejap mata, Shen Haise harus membacanya satu persatu. Semua buku tentang pengetahuan dan sejarah di dunia ini dibacanya siang dan malam.


Arief masih belum terbiasa dengan sikap ibunya yang sangat dingin tapi penuh kasih sayang. Walaupun Shen Haise bukan ibu kandungannya, ia punya penampilan yang mirip.


"Ok, ok aku lakukan."


Kaki Arief melangkah ke kamar mandi, ia segera melepas bajunya dan mendapati bau yang tidak sedap keluar dari tubuhnya.


"Uegh... apa ini bau badanku?"


Arief tidak menyadari bau badannya terlalu menyengat. Hal itu karena latihannya bersama monster pohon sangat keras.


"Hehe, jadi ini kenapa dia menyuruhku mandi." Arief hanya bisa tersenyum kecut mengingat ekspresi Shen Haise yang tampak dingin.


Tanpa menunggu lama, Arief segera menyelesaikan mandinya. Ia tidak lupa menggosok tubuhnya hingga tidak mengeluarkan bau tak sedap.


"Bu..."


Arief menghentikan perkataannya karena ada Jessica di samping Shen Haise.


"Bos, aku ada kabar gembira untukmu."


Jessica memberikan undangan pernikahan Leon dan Dinda Hartono atau Salju.


"Kenapa mereka terburu-buru?"


Jessica menggelengkan kepala. "Tentu saja karena nenek tua itu, siapa yang mau melepaskan bakat seperti Leon."


Shen Haise menyempitkan matanya ke arah Arief. "Kamu kapan?"


Arief tersenyum tipis dan segera lari ke mesin virtual Domain Dewa. Ia langsung menutup pintu dan masuk ke Domain Dewa.


"Apa anak itu tidak punya rasa cinta? aneh sekali." Shen Haise mengejek Arief yang jomblo beberapa puluh tahu saja.


Jessica menyempitkan matanya ke arah Shen Haise. "Bu, bukankah kamu juga jomblo ribuan tahun?"


Bukannya marah, Shen Haise malah tersentak. "Oh ia, lebih tepatnya 2130 tahun. Itupun jika di hitung waktu dunia atas juga. Secara nyata aku hanya berumur 20 tahunan."


Shen Haise mencoba membela diri, sebenarnya ia sudah kehilangan apa itu cinta. Tidak ada cinta dalam kamus kehidupannya, bahkan tuannya sendiri gagal dalam percintaan.


Jessica menemukan mentor terbaiknya, Amelia yang melihatnya tidak terima dan bergabung bersamanya. Pengalaman Shen Haise membuat mereka berdua belajar artinya hidup.


Tidak muncul pemberitahuan sistem, Blue sedikit bingung dibuatnya. "Jadi semakin aku melangkah kedalam, sistem tidak bisa digunakan."


Blue langsung menghubungi Raja Hollow dan pasukannya. "Dimana kalian?" tanyanya melalui telepati.


Raja Hollow menjawab, "Kami ada di perbatasan lantai 4!"


Mendengar dari nadanya, Blue dapat mengetahui bahwa Raja Hollow dalam keadaan yang kurang baik.


"Naga Angin, keluarlah!" kata Blue memanggil sosok pria bertubuh besar.


"Tuan, akhirnya kau memanggilku. Sudah lama, bla bla bla."


Blue tidak mendengarkan ocehannya yang semakin cerewet. "Bawa aku ke arah sana, rekan kita dalam masalah," katanya sambil menunjuk arah utara.


Naga Angin tampak bersemangat dan mengubah wujudnya menjadi naga. "Bagus, dimana ada kerusuhan disitulah aku hidup!"


Sebelum Blue menaiki punggungnya, Naga Angin sudah melesat dengan kecepatan tinggi. Dia lupa harus membawa Blue untuk mempersingkat perjalanannya.


"Kadal bodoh!" umpat Blue yang sedikit kesal karena ditinggal.


Blue dengan cepat melompat ke punggung Raul, sebuah bayangan tertinggal di tempatnya berdiri. Blue dan Raul melesat dengan dua kali kecepatan udara.


Sebuah gerbang tipis muncul di depan Raul dan memindahkan mereka ke sepuluh kilometer didepannya.


Raul menggunakan tekniknya berkali-kali hingga menyusul Naga Angin yang terbang dengan kecepatan penuh.


"Apa kita harus menembak kadal terbang itu?" tanya Blue terpikirkan ide bagus.


"Tolong jangan lakukan, Bos. Aku ingin menghancurkan harga dirinya." Raul memberikan saran yang lebih masuk akal.


Raul meningkatkan kecepatannya lagi, sepuluh bayangan muncul di belakang. Blue lupa tentang Raul yang mendapatkan berkah petir.


Sebuah petir muncul di setiap kali kaki Raul menginjak sesuatu. Kecepatannya terus meningkat, untungnya Blue melapisi tubuhnya dengan teknik jiwa.


Naga Angin melihat bayangan biru menyalipnya. "Hei, hei tidak ada yang lebih cepat dariku!" teriaknya dengan penuh amar. Ia lupa bahwa itu adalah kecepatan maksimalnya.


Naga Angin tertinggal cukup jauh, Raul dan Blue sudah sampai di tempat kejadian.


"Perang yang mengerikan." Raul mengerutkan kening melihat para Hollow tergeletak di tanah. Meskipun belum mati melihat sosok manusia mati masih cukup mengerikan.


Darah bercucuran dimana-mana, Blue melihat sosok tengkorak dengan jubah berwarna hitam dengan aksen ungu.


"Apa dia Lich?"


"Melihat perawakannya, seharusnya dia Lich yang dimaksud Raja Hollow."


Naga Angin yang kesal karena ketinggalan langsung menyemburkan energi angin dari langit. "Bajingan mana yang menyalipku!" teriaknya dengan penuh kesal.


Wujud naga menghancurkan para tengkorak yang dipanggil Lich, hanya butuh satu serangan untuk membunuh ribuan tengkorak.


"Hoo, akhirnya ada musuh yang layak." Lich memuji kekuatan Naga Angin, ia tidak takut sama sekali.


Naga Angin membabi buta menyerang para tengkorak, tapi tengkorak yang dihancurkan terus bangkit dan hidup kembali.


Lich yang mengendalikan tengkorak mulai kewalahan. Meskipun ia punya Mana yang melimpah, jumlahnya masih terbatas. "Sial," umpatnya pelan.


Tepat ketika Lich tidak fokus, sebuah pedang menusuk jantung mana miliknya. Raja Hollow ada di belakang dan tersenyum.


"Apa ini akhir darimu, Kawan?"


"Sialan kau zombie!" teriak Lich yang mulai kehilangan kendali atas tubuhnya.


Jantung Mana sangat rentan dengan benturan, jadi ia tidak bisa bertahan dengan baik. Tubuh Lich perlahan memudar, ia kehilangan kontrol atas tubuh abadinya.


"Sialan!" teriaknya dengan penuh amarah.


Naga Angin menghancurkan gunung dengan hembusan napasnya, jadi teriakan Lich tidak dapat didengar pasukannya.


Raja Hollow berteriak karena sudah membalas dendamnya, ia teringat kenangan yang menyiksanya.


Sekelompok Lich memborgol ras Hollow dan menyiksanya. Bukan tanpa alasan, para Hollow dijadikan mesin penghasil Mana untuk para Lich.


Tidak main-main, para Lich berhasil membuat salah satu anak Raja Hollow menjadi mesin penghasil Mana mereka. Itulah alasan mengapa saat ini Raja Hollow sangat emosional.


Blue memperhatikan ada sebuah asap hitam berkumpul, sosok manusia dengan ekspresi datar muncul dari dalamnya.


"Kita bertemu lagi teman lama," katanya sembari melihat Raja Hollow dengan tatapan merendahkan.


Raja Hollow sendiri langsung membelalakkan matanya. "Sial kau masih hidup bajingan!"


"Apa kau pikir anakmu bisa membunuhku dengan sedikit pengorbanan itu? jangan bercanda!"


Pria dengan wajah datar itu adalah Raja Lich yang hidup lebih lama dari Raja Hollow saat ini.


Dengan pengorbanan anak Raja Hollow, diharapkan Raja Lich akan tersegel dan tidak bisa menggunakan kekuatannya lagi. Namun nyatanya sekarang berbeda, Raja Lich tampak sehat bahkan terlihat lebih kuat.


Blue memperhatikan kesamaan dengan Lich sebelumnya. Jantung Mana milik Raja Lich tidak ada di tubuhnya.


"Tobias..."


Blue menghentikan perkataannya, ia lupa Tobias sudah tiada. Dia harus beradaptasi dengan keadaan ini.


"Emma, datang dan cari jantung mana miliknya." Blue memberikan perintah.


Emma dan sekelompok pembunuh menghilang, mereka berpencar mencari Jantung Mana dengan petunjuk yang ada.


Raja Hollow yang sudah kehilangan akal mulai menyerang musuh. Ayunan pedangnya sama sekali tidak bertenaga.


Blue bisa memahami perasaannya yang kacau. Oleh karena itu, Blue harus membunuh Raja Iblis dan mengambil junahnya.


Entah mengapa Jubah Raja Api sangat ingin memakan jubah milik Raja Lich.


"Ayo bergerak," ucap Blue.


Bee, Ela, Elvy, Raul, dan Drakula menjawab bersama. "Ya!"