
Arief dalam perjalanan tempat pesta pertunangan Leon dan Dinda Hartono, mereka mengadakan pesta di gedung paling mewah Kota Bandar.
“Apa kecepatan ini sudah setandar pada tahun ini?” gumam Arief melihat spedometer mobilnya menunjukkan angka 210 kilometer per jam.
Karena ia mempunya indera yang melebihi manusia biasa, kecepatan itu tampak sangat biasa. Namun mobil mahalnya sudah mencapai batasnya, jika di naikkan lagi Arief takut mobilnya akan meledak seperti sebelumnya.
Perjalaan dari markas Fairy Dance ke tempat pesta seharusnya di tempuh 1 jam dengan mobil normal, tetapi Arief terlalu ngebut dan ia datang setengah jam sebelum acara di mulai. Dia turun dari mobil dan membawa sekotak kado yang berisi sepasang kalung misterius.
Ketika dia melangkahkan kakinya keluar, seorang pelayan menatanginya dan menawarkan jasa membawa mobil ke parkir. “Tuan, biarkan saya memakir mobil anda.”
“Baiklah, parkir di tempat paling dekat ya. Mungkin aku akan pulang paling cepat.”
Pelayan sadar bahwa semua tamu yang diundang adalah orang terhormat dan penuh dengan kekayaan. Namun siapa yang menyangka ternyata ada anak berusia duapuluhan mencapai prestasi seperti Leon Sang Maestro Fairy Dance.
“Baik, Tuan.”
Arief memberikan kunci mobilnya dengan santai dan segera masuk ke ruang pesta yang akan diselenggrakan 30 menit lagi. Seperti yang diharapkan, tidak ada satupun tamu yang sudah datang, Arief dengan santai mengambil gelas dang mengisinya dengan air putih.
Seorang pria berpakaian rapi dengan jas mendekat dan menghentikan tindakan Arief. “Jangan mengambilnya!”
“Bukankah ini untuk tamu?”
“Jangan berpura-pura menjadi tamu. Ayo bantu kami menyiapkan hidangan, tamu undangan akan datang 25 menit lagi!” teriaknya dengan ekspresi yang sedikit cemas.
Pasalnya hidangan yang disajikan masih belum siap, seharusnya semua sudah selesai 30 menit sebelum acara dimulai. Hal ini terjadi karena beberapa koki tidak bisa menyelesaikan masakan tepat waktu, alhasil semua pekerjaan tertunda.
Arief menarik kemeja lengannya dan langsung menuju dapur, ia tampak berbaur dengan koki yang tampak kelelahan. Dengan kedatangannya para koki bisa lebih fokus dan menyelesaikan hidangan dengan sangat cepat.
“Semangat, jangan membuat kesalahan. Hei pria mata sipit, gunakan sumpit untuk membentuknya!” teriak Arief membakar semangat semua koki.
Pria yang mendatanginya sebelumnya adalah seorang ketua koordinator, dia bertugas mengendalikan semua pelayan suapaya bekerja dengan maksimal. Tanpa sadar dia melihat Arief membakar semangat orang dapur, anehnya meskipun berisik mereka menyelesaikan hidangan dengan sangat baik.
Suara pisau dipadukan dengan api yang menyala-nyala karena minyak membuat pemandangan dapur menjadi sangat indah. Tidak ada yang sadar siapa Arief, mereka mengikutinya karena semua intruksinya baik dan benar. Bahkan kepala koki yang seharusnya berisik memberikan intruksi malah memegang wajan dan mengolah beberapa acar manis.
Tidak berasa setengah jam berlalu, semua masakan selesai di buat tepat waktu. Pelayan membawa makanan dengan cepat.
Arief berdiri di tengah dapur sambil mengelap tangannya. “Kerja bagus, teman-teman. Sekarang istirahat dan bersiap situasi tak terduga!”
Suara Arief tegas dan lantang, semua koki mendengarnya dan menjawab serempak. '”Baik!”
Karena acara akan segera dimulai, Arief keluar dan duduk di kursi yang sudah ditentukan. Dia melihat kanan dan kirinya ternyata Jessica dan Amelia.
“Ini kejadian yang sangat langka, bagaimana kamu bisa terlambat, Bos?”
Arief menggelengkan kepala dan menaruh kotak kado di atas meja. “Aku diseret ke dapur,” katanya dengan santai. Padahal Arief adalah tamu paling terhormat setelah keluarga Leon dan Dinda Hartono.
“Dapur?” Amelia sedikit tercengang mendengarnya. Tamu terhormat disuruh membuat makannnya sendiri di dapur.
Pelayan yang menyuruh Arief masuk ke dapur datang. “Hei, apa yang kamu lakukan. Berdiri dan bersiap di dapur,” katanya berbisik pelan.
Jessica tertawa keras mendengar pelayan memperlakukan bosnya dengan begitu sangati. “Apa kau tidak tahu siapa dia?” tanyanya pada pelayan.
“Dia kepala koki yang berkerja di dapur. Kami berhasil menyelesaikan makanan berkat dia bergabung tepat waktu.” Kepala Pelayan mengatakannya dengan suara pelan karena sedang berbicara dengan Nona Jessica Si Tiran Keuangan.
Jessica menggelengkan kepala. “Jika dia hanya seorang kepala koki berarti aku hanya pemotong wortel di dapurnya.”
“Graff Diamonds Hallucination!”
Jam tangan super mahal yang terbuat dari berlian langka dan hanya diproduksi 10 buah di seluruh dunia, serta ada 2 di Benua Tengah. Arief berhasil mendapatkan salah satunya karena ia membeli dengan harga mahal ketika baru di rilis. Tanpa mengedipkan mata Arief menawar jam itu di online menggunakan beberapa koin emas.
“Apa jam ini mahal? Aku membelinya di online.” Arief sebenarnya tahu harga jam ini lebih mahal daripada mobilnya yang baru.
“Maafkan saya tuan!” teriak Kepala Pelayan sambil menundukkan kepalanya.
“Lupakan saja masalah ini, aku menikmati pekerjaan didapur. Sampaikan salamku pada semua orang.”
“Baik, Tuan.”
Arief mengikuti acara dengan tenang dan penuh hikmat, kedua keluarga melantunkan beberapa nyanyian yang mengikat janji suci kedua belah pihak.
Satujam telah berlalu tapi belum ada tanda-tanda acara akan selesai. Padahal arief harus segera menyelesaikan kredit dengan Nym dan Potter, mungkin saja Hades sudah membuat pergerakan dengan para cimera.
“Apa mereka menikah, kenapa acaranya sangat lama?” ucap Arief pelan.
Jessica dan Amelia hanya menggelengkan kepala, mereka tidak tahu seberapa akut kejombloan bosnya. Bahkan diumurnya sekarang, Arief tidak mengetahui acara pertunangan yang memang memerlukan waktu.
Setelah acara selesai, semua orang memberikan hadiah sesuai kemampuan. Karena Leon adalah ketua grup Fairy, dia mempunyai banyak rekanan yang memberikan hadiah mewah, bahkan beberapa memberinya mobil ferari.
Tempat ketika Arief memberikan hadiah dan ingin mengatakan beberapa kata mutiara, seorang wanita berteriak histeris. Semua mata memandanganya dan tercengang setelahnya.
Langit malam yang dingin dengan bulan purnama berubah warna menjadi merah menakutkan. Bulan purnama yang indah menjadi sangat menakutkan dan semua orang mulai panik, beberapa dari mereka menelpon kenalannya untuk mencari informasi.
Arief terdiam melihat langit yang berwarna merah darah. Dia tahu ini akan terjadi, tetapi waktunya sangat tidak tepat. Harusnya kejadian ini terjadi ketika dia berumur 30 tahunan, tetapi terjadi sekarang.
“Pasti ada hubungannya dengan Seven Soul!” gumam Arief pelan, ia mengambil HP di saku dan menekan nomor ibunya.
Namun siapa yang menyangka tangisan ibunya membuat Arief panik. “Apa yang terjadi, Bu?”
“Arief, jangan pernah mencari kita. Hiduplah dengan tenang disana.”
“Kenapa, Bu!”
Arief panik dan berlari ke arah mobilnya, ia langsung menancap gas mobil pergi ke markas Fairy Dance . Tidak lupa ia menghubungi tim intelegen Fairy Dance untuk menari penyebab fenomena aneh ini, ia juga menanyakan keberadaan kedua orang tuannya.
“Gunung Harimau Putih?”
Arief langsung mengarah ke sana, ia langsung berlari setelah sampai dan melihat ayahnya tergeletak tak berdaya dengan darah di sekujur tubuhnya. Kedua tangan tidak ada di tempatnya, Doni Baskoro tidak bisa memperhatankan nyawanya.
Banyak anggota Shen juga tewas padahal mereka punya kekuatan yang dapat menggunacang dunia, tetapi mereka semua tewas. Yuliana terluka tetapi tidak mengancam nyawanya.
Sosok pria berpakian hitam melirik ke arah Arief, pria besar itu adalah Shen San yang sedikit terlambat. “Ketahuilah semua ini terjadi karena kami tidak membunuhmu!” ucap Shen San sambil mengeratkan giginya.
Tetapi sosok pria berpakaian biru menggelengkan kepala. “Jangan menyalahkannya, semua ini terjadi karena takdir.”
“Sejak kapan kamu bercaya takdir, Bos.” Wanita cantik mengenakan pakaian hitam mendatanginya.
“Yah, bisa dibilang kita juga salah. Para dewa gila itu berhasil menerobos penghalang yang kau buat!”
Shen Haise tersenyum kecut karena ia tidak punya alasan. “Siapa yang menyangka formasi dunia yang ia bangung berhasil di terobos.”