Domain Dewa : Penguasa Benua

Domain Dewa : Penguasa Benua
Tujuan


Pak Tua yang masih tersenyum melanjutkan perkataannya. "Huh, aku tidak mengira akan menjadi seperti ini."


Arief mencoba menenangkan dirinya, mungkin ini adalah efek samping dari kekuatannya yang diluar nalar.


"Dari kapan kau menjadi seperti ini, Pak Tua?"


"Baru-baru ini, anehnya setelah aku mati orang pertama yang aku pikirkan dirimu Bocah!"


"Jangan membuatku tertawa, kau masih punya keluarga dan anak-anakmu!"


"Tidak, mereka semua sudah tidak ada. Hanya aku seorang yang masih terjebak di dunia ini!"


Arief bukan orang bodoh, Pak Tua punya dua orang anak dan seorang istri. Jika di total dia punya lebih dari 100 anggota keluarga, pasti ada kecelakaan yang membuatnya seperti ini.


"Jadi mengapa anda mendatangiku?" tanya Arief dengan nada formal.


"Tolong pimpin pasukan Garuda, meskipun mereka tidak kuat harusnya masih bisa mengenalimu sebagai pemimpin!" ucap Pak Tua sambil tersenyum manis.


"Apa kalian tidak pergi seperti Harimau Putih?" tanya Arief.


"Sejarah Garuda memang sangat dalam, tapi kami tidak pernah bisa ikut dengan mereka karena alasan khusus."


Pak Tua menceritakan sejarah pembentukan Pasukan Garuda yang tidak diketahui publik. Hanya ada beberapa orang saja yang tahu bahwa leluhur Pasukan Garuda ada kaitannya dengan Harimau Putih.


Itulah mengapa Aries Hardiman selalu melindungi mereka dari kerusakan parah. Tapi setelah pasukan Garuda bisa menyembunyikan auranya, mereka mendapat sorotan dari pasukan khusus lainnya.


Inilah alasan mengapa Pak Tua selalu sibuk dan menjadi korban dari perseteruan panjang. Sekarang pasukan Garuda yang masih hidup tidak tahu harus berbuat apa dan melakukan apa.


Tidak lupa Pak Tua menjelaskan bahwa pasukan Garuda sama seperti Harimau Putih yang berdiri sebelum Ragnarok, perang antara manusia dan dewa.


Sosok pria bernama Aldi memimpin semua umat manusia menghadang para dewa dan membawanya ke gerbang kemenangan. Garuda juga ikut dalam peperangan itu, tetapi semua petinggi pentingnya tewas.


Hal itu mengakibatkan warisannya hilang, sehingga lambat laun mereka menyusut hingga menjadi pasukan khusus biasa. Berbeda dengan pasukan Harimau Putih yang masih memiliki Aries Hardiman, Pasukan Garuda sudah tidak memiliki satupun leluhurnya.


Mungkin saja pasukan Seven Soul sudah melupakan mereka. Itulah mengapa Pak Tua meminta Arief memimpin Pasukan Garuda yang masih tersisa.


"Apa kau tahu sosok Aldi yang menjadi pemimpin pasukan Seven Soul?" tanya Arief.


"Jangan bercanda, aku hanya berumur 94 tahun. Mana mungkin aku melihat wajah sosok manusia ribuan tahun yang lalu."


"Apakah artinya Aries Hardiman berumur..."


Sebelum menyelesaikan perkataannya, Pak Tua mengangukkan kepala. "Ya, dia lebih tua daripada yang kau kira. Aku meninggalkan warisan Pasukan Garuda di bawah markas kami. Tidak ada seorangpun yang tahu itu!"


"Apa kau berniat menghilangkan warisan Garuda!" teriak Arief merasa kesal.


"Tidak, pewaris yang aku tunjuk juga tewas dalam insiden aneh. Orang itu tidak lain adalah ayahmu!" ucap Pak Tua.


"Ayah belum mati, ia masih hidup dan ada di rumah kakek." Arief tidak menyembunyikannya karena tahu Pak Tua sudah mati.


Ekspresi Pak Tua terlihat tidak percaya, tetapi ia harus mempercayai perkataan bocah didepannya. "Baiklah, aku percaya padamu. Tapi jangan biarkan warisan Garuda hilang!"


Sebelum menghilang, Pak Tua mengatakan kode yang harus digunakan untuk membuka berangkas warisan.


Tubuh Pak Tua menghilang sepenuhnya. Arief tidak punya pilihan lain, ia langsung ke bawah dan mencari mobil pribadi.


Setelah melihat kanan dan kiri, Arief baru ingat dia tidak punya mobil. Kakinya langsung melangkah dan berlari ke sebreang jalan.


Toko mobil mewah ada di depannya, Arief tanpa pikir panjang langsung masuk. Tidak satupun sales yang mendatanginya karena mengenakan kaos berwarna hitam dan kelana coklat susu biasa. Setelah dilihat lagi Arief hanya mengenakan sendal jepit bermerek swalo.


Arief mencoba mendatangi seorang pria dan perempuan yang mengenakan baju rapi di sebelah mobil.


"Aku ingin mobil yang sudah siap dipakai!" kata Arief yang terburu-buru.


Dengan ekspresi wajah jijik, keduanya mencoba menjauh. "Maaf, kak kami akan panggilkan staf yang bertugas."


Padahal mereka berdua juga seorang pegawai. Arief sama sekali tidak tersinggung, ia menunggu 2 menit tapi belum ada yang datang menemuinya. Wajah Arief mulai kusam karena ia harus segera meluncur ke tempat yang dikatakan Pak Tua.


Arief tahu wanita itu dari tahu melayani seseorang yang bertanya. Setelah memperhatikan ternyata pelanngan tadi tidak membeli, kedua pelanggan sebelumnya hanya membuat konten video.


"Tidak masalah, rekomendasi mobil tercepat yang siap jalan!"


Wanita berkacamata itu menjelaskan semua mobil kelas rendah yang ada. Arief yang sebenarnya tahu semua spesifikasi mobil ini langsung menunjuk mobil paling mahal.


"Aku ingin Bugati! Jangan lemparkan urusan pembayaran ke pihak lain. Aku ingin membawanya sekarang!"


Bugati yang ditunjuk Arief seharga 18 miliar kredit, uang sebanyak itu tidak mungkin dimiliki anak berusia 23 tahun.


"Tapi mobil itu..."


Arief mengeluarkan kartu berwana putih kebiruan layaknya berlian. Itu adalah kartu khusus yang diberikan Jessica dengan nominal tanpa batas.


Karena Arief sebelumnya tidak pernah memiliki informasi tentang kartu itu, ia mengeluarkannya dengan santai.


Tidak hanya perempuan berkacamata yang kaget, tetapi orang yang hanya tanya dari tadi tidak dapat melepaskan pandangannya pada Arief yang mengenakan baju biasa.


"Baik, Pak!" jawab wanita berkacamata dengan penuh semangat.


Perlu diketahui, bonus untuk pegawai itu sekitar 10 persen dari penjualan. Artinya pegawaiwati itu akan menjadi orang kaya dadakan hanya karena satu penjualan.


Arief tidak peduli dengan uang langsung mengambil kartu dan mengendarai mobilnya ke tempat tujuan. Semua orang di tempat itu memandangi Arief dengan kekaguman yang gila.


Pemilik toko mobil itu datang dan menangakan siapa yang membeli mobil termahal di tempatnya. "Siapa yang membeli mobil disini!"


Wanita berkacamata itu ingin maju, tetapi salah seorang senior mengambil kontrak dan menyodorkannya ke pemilik.


"Semua berkat kerja keras kita semua, Bos."


Pria yang menjadi pemilik toko itu tersenyum. "Baiklah, kalian kembali dulu. Sudah lama aku tidak menghubungi bocah gila itu!"


Semua karyawan yang mendengar bosnya mengumpat langsung ketakuta. Pasalnya hanya teman dekat yang mendapatkan umpatan bosnya.


Pria paruh baya itu tidak lain adalah ayah Amelia, Roni. Karena keuangannya di bantu Amelia, sekarang Roni menjadi bos besar dalam transportasi dan mobil mewah.


Ponsel langsung diambil dari sakunya, Roni menekan nomor yang pernah memukulnya. "Hei, bocah kenapa kau tidak menemuiku!"


"Aku sedikit terburu-buru, jadi tidak sempat melihatmu!" jawab Arief yang sedang mengendarai mobil dengan kecepatan 310 kilometer per jam. Anehnya ekspresi wajah Arief tampak datar dan tenang.


"Berikan rekeningmu, aku ingin mengembalikan uangmu!"


18 miliar mau dikembalikan langsung oleh bosnya, siapa orang yang tidak terkejut dengan perkataannya. Bahkan pelanggan VIP di belakang Roni sempat tercengang.


"Tidak usah, aku membelinya. Ini juga sepertinya mobilnya tidak bertahan lama." Arief melihat kepulan arap di mesin mobil. Untungnya dia sudah sampai di tempat tujuan.


Suara ledakan terdengar keras, salah satu mobil termahal didunia meledak hanya dalam beberapa menit saja setelah keluar dari showroom mobil.


"Suara apa itu?" tanya Roni yang manis mengelus dadanya.


"Mobilmu baru saja meledak. Ah lupakan saja, aku sedikit sibuk. Ayo lanjutkan lain waktu!"


Arief menutup teleponnya, sedangkan disisi lain Roni membeku dan melihat teleponnya dengan tatapan kosong.


"Kau benar-benar menghancurkannya dalam beberapa menit saja?" ucap Roni yang masih membeku.


Seorang wanita berambut pendek mendatangi Roni, dia adalah Amelia dengan pakaian khas Fairy Dance. "Ayah, apa yang terjadi padamu?"


"Apa bosmu sekarang sudah gila? Dia baru saja membeli mobil dan menghancurkannya dalam beberapa menit saja."


"Oh, bukan hal yang mengejutkan. Jadi apa dia tamu VIP yang kamu katakan?" tanya Amelia mengalihkan pembicaraan.


Bukannya senang, para tamu VIP malah ketakutan karena bos Amelia adalah orang gila yang membuang 18 miliar kredit dengan begitu mudah.