
Situasi yang semakin memburuk dipecahkan oleh getaran suara dari atas gunung Harimau Putih.
"Terima kasih telah menghadiri acara akbar kami teman-teman. Saya Rose Hardiman sangat senang bisa berdiri di atas panggung ini."
Wanita bernama Rose itu punya alis yang cukup tebal serta bibir yang cukup tebal membuatnya semakin menawan. Tidak ada pria muda yang bisa melepaskan pandangannya pada wanita cantik di atas panggung.
Sayangnya semua orang tua yang hadir dalam pesta ini bukan sembarang orang. Mereka semua melepaskan aura tipis untuk melindungi seluruh tubuhnya dari trik Rose Hardiman.
Rose sebagai pembawa acara tersenyum manis, ia bisa memahami situasinya. Namun matanya segera terbuka lebar ketika melihat kelompok Fairy Dance yang masih tenang.
Kelompok Fairy Dance yang hadir dalam pertemuan semuanya masih muda. Hanya ada satu pria paruh baya berumur 50 tahunan, dia tidak lain adalah Qin Huang yang membawa panah.
Merasa dirinya terhina, aura pemikat yang dia kembangkan langsung mengikat ke arah para anggota Fairy Dance. Anehnya kelompok itu sama sekali tidak bergeming, semuanya berdiri tegap.
Sampai akhirnya seorang pria berbadan besar menepuk pundak Rose. "Jangan buat masalah dengan mereka. Bahkan jika kau mengeluarkan jiwamu, tidak mungkin bagimu merobohkannya dengan aura pemikat!"
Pria besar itu adalah sosok bernama Shie yang datang bersama dengan pria berbaju biru. Badan besar dan hitam membuat semua orang ketakutan menatap matanya.
Tidak terkecuali semua anggota Fairy Dance, anehnya Arief masih memandangnya dengan senyum manis.
"Mengapa akhir-akhir ini banyak orang kuat?"
Arief tidak dapat melihat dasar kekuatan pria besar di atas panggung. Meskipun terkejut, ia tidak boleh menunjukkan ekspresinya.
Shie dari kejauhan tersenyum manis dan segera pergi. Para hadirin langsung tersadar dan melihat panggung lagi.
Shie bergerak ke sebelah pria berbaju biru. "Seperti yang anda katakan, pria itu bukan dari zona waktu ini."
"Pantas saja, waktu di dunia ini yang paling lemah. Baiklah, sekarang selesaikan persiapan!" ucap seorang pria berbaju biru.
Pria besar di sebelahnya hanya diam, ia melirik Arief dari kejauhan. Alisnya mengerut seperti melihat musuh yang ingin dia bunuh.
Tanpa sadar aura membunuhnya sedikit bocor, pria berbaju biru menjentikkan jarinya. Seketika aura yang bocor ditutupi.
Tidak ada yang tahu mengapa pria di sebelah pria berbaju biru ingin membunuhnya, tetapi Arief merasakan ia tidak akan bisa lolos jika tiga orang yang meliriknya bergerak. Bahkan kekuatan Aries Hardiman tidak bisa menyamai salah satu dari mereka.
"Sial, sebenarnya apa yang terjadi!" gumam Arief yang mulai menyesal datang ke pertemuan ini.
Rose Hardiman sebagai pembawa acara mengangkat tangannya. Asap putih meledak dan menutupi seluruh gunung Harimau Putih, tidak ada orang yang bisa mereka di dalamnya.
Para wartawan dan manusia biasa kebingungan, mereka sengaja bersembunyi untuk merekam apa yang sebenarnya terjadi. Namun tiba-tiba semua orang yang hadir menghilang.
"Dimana mereka?" teriak salah seorang wartawan.
"Bodoh jangan berisik!" sahut wartawan lainnya.
Tidak ada satupun dari mereka yang tahu situasinya, para wartawan saling mengobrol dan mencari jawabannya. Namun tidak ada satupun yang bisa memberikan kepastian.
Disisi lain, Arief menyadari asap yang menyelimuti mereka tampak seperti bom asap di Domain Dewa tapi skala besar.
"Kalian, jalan lengah!" ucap Arief memberikan peringatan pada rekan-rekannya.
Doni Baskoro masih di sebelah Arief, seharusnya masih ada kesempatan untuk mereka keluar hidup-hidup jika ada kerusuhan.
"Hadirin yang terhormat, maafkan saya yang berbuat lancang sebelumnya. Aku Rose Hardiman benar-benar minta maaf!" ucap pembawa acara sambil menundukkan kepalanya.
Tidak ada yang berani menjawab, semua orang yang hadir hanya diam. Mereka semua tahu seberapa berbahayanya Rose Hardiman di dunia. Meskipun dia tidak pernah tampak di publik, pengaruhnya tidak main-main.
"Baiklah, berdirinya aku disini tidak lain karena adanya kebutuhan khusus Harimau Putih untuk masyarakat dunia."
Sebelum menyelesaikan perkataannya, Aries Hardiman naik ke panggung dan menepuk pundak Rose.
Aries Hardiman berdiri di atas panggung dan mengatakan, "Kami Harimau Putih akan undur diri dari dunia, mohon memaklumi keputusan kami!"
Semua orang di pertemuan ini bukan orang bodoh, mengundurkan diri dari dunia artinya tidak akan ikut campur dalam perubahan dunia. Bisa dibilang para pemimpin kerajaan ataupun negara sudah menyiapkan strategi untuk kejadian ini.
Lebih dari setengah dari tamu tersenyum tipis, Arief merasakan kekacauan dunia akan segera terjadi. Dia harus mempersiapkan orang-orangnya, tepat ketika ia menoleh ke belakang, Leon dan teman-temannya tampak sangat percaya diri.
Arief tersenyum dan memandang Aries Hardiman kembali. Ia tidak perlu mengkhawatirkan rekan-rekannya karena mereka semua kuat.
Salah seorang pria dari keluarga Walton mengangkat tangannya. "Bagaimana dengan kerjasama kita?"
"Perlahan kita akan menghapuskannya. Harimau Putih sudah terlalu menghantui dunia, aku harap kalian bisa mengelola dunia dengan baik!"
Aries Hardiman mencoba menggiring pendapatnya tentang kebebasan bernegara maupun beragama. Namun penjelasannya tentang kebebasan membuat para pemimpin negara dan kerajaan langsung mengerahkan pasukan khusus.
Sekali lagi perang mungkin saja akan terjadi, Arief tidak bisa tinggal diam. Ia harus mencari cara untuk melindungi semua anggota Fairy Dance.
Ini berbeda dari Domain Dewa, nyawa seseorang dipertaruhkan dalam perkelahian dunia nyata. Jika negara atau kerajaan sudah bergerak, pasti senjata canggih akan digunakan.
Pria dari keluarga Hao mengangkat tangannya. "Memangnya apa alasan kalian mengundurkan diri dari dunia yang indah ini?"
"Karena alasan yang tidak dapat dikatakan. Intinya kita harus membiarkan manusia mayoritas membuat keputusannya!"
Pertemuan diisi dengan pertanyaan dari semua keluarga, termasuk Arief yang menanyakan penjagaan di markas Fairy Dance.
Jawaban Aries Hardiman malah menggiring opini publik bahwa Fairy Dance adalah benteng tak tertembus meskipun tanpa pasukan Harimau Putih.
Pertemuan selesai, semua pemimpin negara dan kerajaan melihat ke arah Fairy Dance. Entah mengapa mereka seperti sedang haus darah, anehnya tidak ada satupun orang Fairy Dance yang takut sama sekali.
Selesai dari pertemuan di Gunung Harimau Putih, Arief mengumpulkan semua anggota Fairy Dance. Dia tampak serius di tengah kerumunan anggota.
"Aku tidak mau mengatakan ini, tapi kita dalam bahaya besar. Jika kalian ingin mengundurkan diri aku persilakan sekarang!"
Kata pertama yang keluar dari Arief tidak lain menyuruh anggota Fairy Dance mengundurkan diri. Dia tahu seberapa berbahaya pada negara dan kerajaan, hanya anggota yang loyal dan bertekad kuat yang dia butuhkan saat ini.
Anehnya tidak ada satu orangpun yang berdiri, mereka diam di kursinya dan melihat Arief dengan tatapan serius.
Melihat mereka begitu loyal membuat Arief melemparkan senyum manis. "Terima kasih, aku tidak akan pernah melupakan jasa kalian!"
Pertemuan ini tidak lain untuk membahas keamanan markas Fairy Dance. Karena di Domain Dewa mereka sudah diakui dan Harimau Putih memilik mengundurkan diri, Fairy Dance harus membuat pertahannya sendiri.
Tepat setelah pertemuan selesai, sosok yang dia kenal muncul. "Kau tampak sangat sibuk anak muda!" Pria itu tidak lain adalah Pak Tua yang menjadi atasan Yuliana dan Doni.
"Pak Tua, kau seperti hantu yang selalu muncul di waktu yang tidak tepat."
"Ya, aku memang hantu."
Jawaban spontan Pak Tua membuat Arief tertawa keras. "Kau bisa saja bercanda, duduklah aku akan membiarkanmu teh."
Arief berdiri dan menyeduh teh. Perlu diingat kemampuan Arief dalam menyeduh teh tidak bisa diremehkan, dia sejak kecil sudah membantu ibunya di kedai teh.
Setelah beberapa saat mengaduk teh, Arief duduk di depan Pak Tua sambil menuangkan teh ke cangkir putih.
"Terima kasih anak muda, aku selalu rindu dengan teh buatanmu."
Tangan Pak Tua meraih teh di cangkir putih, anehnya tangannya menembus teh dan senyum manis muncul di wajahnya. Sorotan matanya memandang, "Sepertinya ini tidak bisa lagi ku penuhi."
Arief tidak mungkin menyembunyikan ekspresi terkejutnya, ia melotot melihat cangkir putih dan tangan Pak Tua yang menembusnya.