
Moris dan Agni saling mengangguk, mereka berdua berjalan mengikuti Blue dari belakang. Meskipun Moris punya wewenang yang lebih besar dibandingkan Shira, ia memilih untuk diam sementara.
Shira dan Blue duduk berhadapan di meja yang panjangnya 5 meter. Keduanya tidak bisa melepaskan pandangan karena harus memulai diskusi.
Moris dan Agni berdiri di belakang Blue untuk memastikan keamanan tuannya, begitu pula dengan kesatria kerajaan. Bedannya kesatria Kerajaan berjumlah 21 orang, termasuk orang yang menghadang Blue sebelumnya.
Kesatria Kerajaan hanyalah kumpulan Dewa Menangah dan Tinggi, ada dua orang yang nilai kekuatannya melebihi Shira. Terbesit pikiran Blue ingin segera membatalkan kerja samanya.
Namun sosok pria tua lainnya muncul dan berdiri disebelah Shira. Tidak dapat dipungkiri, kekuatannya setara dengan Dewa Puncak.
Mata pria itu langaung melirik ke arah Agni dan Moris yang berdiri bersebelahan. Keduanya juga memandang pria itu dengan tatapan hangat.
Blue yang duduk di depan segera menyadari Moris dan pria tua itu punya hubungan yang sedikit rumit.
"Kedatanganku kesini tidak lain ingin membantu Kerajaan Damaskus, tapi kami butuh uang muka untuk persiapan." Blue tidak menyembunyikan motifnya, ia segera menuju ke inti pembahasan.
"Aku tahu Ebisu ingin mengambil Pedang Damaskus, tapi kami bukan kerajaan yang mudah digertak. Aku tidak ingin meminta bantuan dari luar!"
Karena sudah melepaskan penyamarannya, Shira bertindak sebagai penguasa Kerajaan Damaskus yang sebenarnya.
Blue yang melihat wibawa penguasa Shira tidak bisa menahan senyumnya. "Kita pernah menempa di tempat yang sama, bagaimana jika aku mengatakan bahwa pedang damaskus palsu ada di tangan Ebisi."
Shira langaung mengerutkan alisnya, ia tahu betul keterampilan pria berbaju biru di depannya. Tidak hanya keterampilan menempa yang ia punyai, tetapi keterampilan simbolnya sangat dalam. Bahkan Shira tidak bisa melihat seberapa banyak simbol yang terpasang pada pedang gagal sebelumnya.
"Apa anda sedang mengancam kami?"
Blue mengangkat bahunya. "Tentu saja tidak, aku menginginkan kerja sama yang adil. Sebenarnya pedang tiruan yang aku buat di ambil Yuri, tapi sekarang Danau Darah telah hancur. Kamu tahu artinya?"
Pria tua di sebelah Shira maju satu langkah. "Apa kau punya bukti Ebisu adalah pelakunya?"
Blue tidak mau memberikan informasi cuma-cuma, ia melempar pertanyaan kembali padanya.
"Mengapa aku harus memberikan buktinya padamu, apa mungkin kau ingin melaporkannya ke Pengadilan Surgawi?"
Ternyata tebakan Blue benar, pria tua di sebelah Shira tersenyum. Meskipun dia bukan hakim di pengadilan surgawi, pengaruhnya di sana cukup besar.
Salah satu pemasok dana terbesar di Pengadilan Surgawi adalah Kerajaan Damaskus, pria tua itu adalah juru bicaranya. Dengan mengandalkan kekuatannya yang setara Dewa Puncak, pria itu berhasil membawa sedikit keuntungan untuk kerajaan.
"Iya, aku ingin melaporkan tindakan keji Ebisu pada mereka!"
"Kau terlalu naif, kakek. Mungkinkah kau lupa siapa orang di balik Ebisu yang sebenarnya?"
"Jangan membuat teori tak berdasar, siapapun yang salah akan mendapat hukuman dari Pengadilan Surgawi!"
Aura membunuh di pancaran pria tua itu, targetnya tidak lain adalah anak muda di depannya. Namun niat membunuhnya terblokir oleh energi tak kasat mata, sumber energinya dari Moris dan Agni.
Blue menggelengkan kepalanya pelan. "Kakek, kau masih saja percaya dengan janji manis seperti itu. Percaya atau tidak hampir 12 pesuruh Pengadilan Surgawi sedang memperhatikan pertemuan kita."
Inilah alasan mengapa Blue menyuruh Serly dan pasukannya mengamankan jalur negosiasi. Tujuannya tidak lain untuk menyingkirkan mata-mata yanh ada di dalam kerajaan.
Pria tua itu langsung melepaskan kekuatannya, ia menggunakan Mata Dewa untuk melihat sekelilingnya. Tangannya dengan cepat menarik 4 leher kesatria kerajaan, ia tidak pernah menyangka ini bisa terjadi.
Keterampilan Mata Dewa belum habis, ia melihat Blue dan dua rekannya. Ia bingung karena matanya hanya menampilkan Dewa Sangat Rendah.
"Bagaimana mungkin dewa sangat rendah bisa memblokir niat membunuhku!"
Blue yang sadar pria tua itu meliriknya langsung tersenyum. "Kau tidak akan bisa melihat kekuatanku sebelum bertarung denganku!"
Pernyataan berani itu langsung memicu suasana tegang, 17 kesatria kerajaan yang setia langsung menarik senjatanya.
Pria tua itu mengangkat tangan kanannya. "Berhenti, kalian akan mati jika bergerak!"
Seperti yang dikatakan pria tua, pasukan Blue sudah sampai di belakang pintu. Mereka sudah membersihkan semua penggagu.
"Apa tujuanmu sebenarnya?" tanya Shira yang memahami situasinya mulai tidak kondusif.
"Tujuanku mengumpulkan sekutu untuk melawan Zeus!"
"Apa kau ada di pihak Hades?" tanya pria tua sedikit bersemangat. Dilihat dari segi manapun, pria itu mendukung Hades menjadi penguasa tanah dewa.
"Tidak!"
"Osiris?"
"Tidak juga, aku hanya ingin memperjuangkan kemakmuran umat manusia!" kata Blue dengan suara tegas.
Shira dan pria tua itu adalah manusia seutuhnya, mereka bukan dewa sejak lahir. Jadi mereka ada di posisi yang sama.
"Ternyata kau yang telalu bodoh, bocah."
Blue tidak bisa menyangkal pernyataan seperti itu, ia memang bodoh untuk mengakui kekalahan dan ketidakmungkinan.
"Melihat dari wajahmu, keliatannya kau takut. Hades... Zeus... Osiris!"
Blue menyebutkan tiga nama yang seharusnya ditakuti pria tua, tapi tidak satupun dari nama itu yang membuatnya takut.
"Jangan mengujiku anak muda..."
"Ashura?"
Pria tua itu langaung melepaskan aura dewa tingkat puncak. "Jangan menyebutkan nama bajingan itu didepanku!"
Ashura salah satu dewa yang terus berperang dan menumpahkan daras disetiap pijakan kakinya. Dia dikenal sebagai dewa pembantaian yang terus membunuh para dewa yang menghalangi tujuannya.
Meskipun tidak memihak siapapun, Ashura lebih sering menuruti perkataan Zeus dibandingkan dengan Hades ataupun Osiris.
Walaupun bukan teman ataupun rekan, Ashura dan Zeus tidak bermusuhan. Namun jika Zeus berperang, Ashura akan muncul dan menghancurkan setiap musuhnya.
Tidak ada yang tahu seberapa kuat monster itu, tapi yang pasti dia sudah menjadi Maha Kuasa. Mungkin saja Hades tidak bisa melawannya tanpa trik.
Pria tua yang sudah lepas kendali langsung melompat dan menyerang Blue. Moris dan Agni langsung bergerak, keduanya menghadang serangan lawan dengan kekuatan penuh.
Karena perbedaan kekuatan yang terlalu mencolok, Moris dan Agni terlempar hingga membentur tembok ruangan.
Disisi lain Blue masih sangat tenang, Dual Secret Sword tiba-tiba muncul dan menghadang tinju pria tua.
"Hanya ini kekuatan yang kau banggakan?" tanya Blue dengan senyum manis melihat pria tua yang kesal.
Pedang suci Damaskus dikeluarkan, cahaya keemasan muncul di bilahnya. Tanpa menunggu aba-aba, pria tua mengayunkannya dengan kekuatan penuh.
Blue berdiri dari kursinya, matanya menatap tajam ke arah sayatan pedang. Jubah Raja Api berkibar, menandakan Blue tidak main-main menahan serangan lawan.
Pedang Suci Damaskus palsu di tarik Blue dari ruang penyimpanan, ia mengayunkan pednagnya sambil tersenyum.
Dua sayatan pedang saling berbenturan, ledakan terjadi di ruang pertemuan. Blue melihat pedang palsunya retak dan segera pecah.
"Pedang paslu tetap saja palsu!"
Blue dengan santainya menggelengkan kepala sambil menarik pedang lainnya yang memancarkan cahaya keemasan. Sekali lagi pedang damaskus palsu muncul.
"Aku Oberon mengakui kekuatanmu!"
Pria tua itu menyebutkan namanya, Oberon berarti umur panjang atau sehat selalu dalam bahasa jerman. Sesuai dengan namanya, Oberon sebenarnya hidup di masa Moris dan Oskar.
Moris yang merasa pertemuan ini tidak menemukan titik terang membuat gerakan, tapi telepati dari Blue menghentikannya.
Oberon yang melihatnya langsung menunjuk Moris. "Aku akan membunuhmu dulu sebelum tuanmu!"
Dengan kecepatan tinggi, Oberon menerkam Moris. Namun tangannya tiba-tiba berhenti tepat 5 centimeter di depan kulit Moris.
Energi alam digunakan dengan maksimal, walaupun belum sembuh total, Moris masih seorang jenius yang tiada tanding di eranya.
Tangannya bergerak perlahan, beberapa bayangan tangan muncul di arah gerakannya. Oberon tidak sadar apa yang terjadi, tiba-tiba 8 telapak tangan mengenai tubuhnya.
"Teknik rahasia, 8 tangan dewa!" ucap Moris dengan suara pelan.
Nama teknik itu mengingatkan sosok yang selalu menemaninya dikala muda, Oberon langsung berdiri dan bertanya. "Siapa kau sebenarnya?"
"Aku tidak mau meyakinkanmu, ingatlah aku melalui telapak tanganku!"
Sekali lagi kata-kata yang mengingatkan Oberon pada sosok Moris. "Bagaimana mungkin kau masih hidup?"
"Tuan menyelamatkanku, jangan sebarkan berita bodoh atau yang lainnya. Kali ini aku akan membalasnya!"
Moris bermaksud ingin membalas dendam pada ayahnya Osiris. Karena kenyataan yang tidak masuk akal sudah meracuni isi kepalanya. Istri dan anaknya sekarat karena ayahnya, bahkan ibunya juga mati karena ayahnya.
Anehnya semua orang menganggap ayahnya sebagai seorang yang baik hati dan dermawan, padahal sebenarnya benar-benar busuk.
"Lawanmu mustahil dikalahkan, jangan bertindak bodoh dan kembalilah ke laboratorium!" ucap Oberon.
Moris menggelengkan kepala. "Aku sudah membulatkan tekadku." Matanya langsung melirik Blue yang menarik kursinya dan duduk dengan santai.
Oberon langsung paham apa yang dikatakan Moris, pria bernama Blue adalah kunci kepercayaan Moris untuk melawan ayahnya.
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Tapi berikan kami waktu untuk berpikir!"
"Baiklah, kalian punya waktu 3 jam sebelum Ebisu menyerang Kerajaan Damaskus."
Blue berdiri dari kursinya padahal baru saja duduk. Dia membalikkan badannya dan 7 orang yang tidak pernah dilihat orang kecuali Oberon mengikutinya keluar.
Oberon menarik kursi sambil menghela napas panjang. Dia sedang berpikir keras, bukan karena takut mati, ia hanya sedang terpikirkan anaknya.
Fakta yang mengejutkan terungkap kembali, Oberon sempat bermusuhan dengan Moris karena perselisihan pendapat.
Moris menentang rencana balas dendam Oberon karena Osiris ayahnya terlalu kuat. Makanya ia mengurungkan niat untuk membalas dendam keluarganya.
Kerajaan Damaskus adalah hadiah yang diberikan Moris pada Oberon untuk menenangkan emosinya. Keluarga Oberon masih tersisa, makanya ia bisa mengembangkan kerajaan ini dengan baik. Berbeda dengan Moris yang hanya meningalkan satu anaknya saja, itupun terkena kutukan Osiris.
"Ayah, apa anda punya pertimbangan untuk bergabung dengan Blue?" tanya Shira.
Oberon hanya diam, ia masih belum selesai mencari jalan keluar untuk seluruh keluarganya. Melawan Osiris, Hades, dan Zeus di waktu yang sama bukan pilihan yang tepat. Mereka harus mempersiapkan diri untuk skenario terburuk, 3 kubu itu bersatu.
"Tinggalkan aku sendiri!" teriak Oberon meminta semua orang keluar dari ruangan.