
Arief telah menyelesaikan kegalauannya, sekarang ia akan mulai fokus dalam pembangunan Fairy Dance jalur skenario utama.
Karakter Blue muncul di pemukiman maron, Liem dan kelompoknya juga muncul secara bersamaan.
"Ayo cari cacing itu!" seru Blue dengan penuh semangat.
Mereka mencoba mencari keanehan di pemukiman ini, mereka sangat kesusahan mencari bukti karena suhunya terlalu tinggi.
Blue memang raja api jika menggunakan jubahnya, tetapi ia memilih untuk tidak menggunakannya. Liem dan Kitty akan mencari bersama ke arah utara, Yami dan Rafaela akan berpisah ke arah yang berlawanan. Sedangkan Blue akan ke selatan.
"Paman, mengapa suhu disini sangat panas?" tanya Blue pada seorang penambang.
"Ini semua karena Dewi Laksmi telah mencabut berkahnya."
"Siapa orang yang menyebabkan kemarahan dewi Laksmi?" tanya Blue dengan suara sopan.
"Siapa lagi kalau bukan kepala desa. Sialan itu benar-benar memberikan pusaka desa pada seorang pemain!"
Blue melihat ekspresi marah penambang itu. "Terus mengapa kamu masih menetap disini?"
"Bodoh, kamu pikir kita tidak mau meninggalkan pemukiman panas ini. Semua penduduk di pemukiman maron sangat lemah, siapapun yang keluar akan menghadapi bandit dan perampok. 10 dari 10 orang yang keluar telah tewas dan tidak pernah kembali lagi."
"Tidak, aku melihat kepala desa kalian ada di Kota Danau Putih. Ia adalah orang yang memintaku membantu kalian."
"Jangan berbohong, kepala desa sudah mati 2 tahun yang lalu. Aku melihatnya sendiri dan makamnya ada di pemakaman desa."
Penambang itu melanjutkan pekerjaan dan segera pergi dari tempatnya. Ia tidak mau berbicara terlalu lama dengan pria aneh yang mengaku melihat kepala desa.
"Aku tidak punya pilihan!"
Blue memilih untuk membuat simbol di seluruh pemukiman maron, ia hanya perlu menghabiskan stamina untuk membuatnya.
Sebelum meletakkan simbol, Blue berjalan ke area tengah pemukiman. Kedua tangannya diangkat dan sebuah tulisan aneh terukir di udara. Pembuat simbol masa kini akan terkejut melihat seorang pemain membuat simbol melayang.
Pengetahuan Blue tentang simbol memang tidak banyak, tetapi ia memiliki banyak pengalaman pembuatan simbol tanpa bakat.
Setelah beberapa saat, simbol sempurna telah berhasil dibuat. Seluruh pemukiman maron terguncang layaknya gempa.
"Rafaela, jangan biarkan satupun orang mati!"
Keterampilan Rafaela digunakan, semua penduduk pemukiman maron telah diselimuti oleh pelindung tak kasat mata.
Air dalam jumlah besar keluar dari dalam tanah hingga membanjiri pemukiman. Seekor cacing berwarna hitam dengan mata merah muncul dari tanah dan menatap Blue.
"Manusia sialan, kau berani menggangu tidurku!"
Blue mengerutkan kening mendengar seekor cacing bisa berbicara. "Mengapa kau membuat penduduk desa sengsara?"
"Siapa yang membuat sengsara, aku hanya makan sesuai kebutuhanku!" ucap Cacing Iblis membuat alasan.
"Siapa yang menyuruhmu?"
"A... apa maksudmu?"
Cacing iblis itu mulai panik karena ada manusia yang mengetahui keberadaannya.
"Jangan berpura-pura, aku tahu raja iblis sedang bermain-main dengan manusia. Cepat atau lambat aku akan membunuh raja iblis itu!" jawab Blue dengan senyum manis.
"Dengan kekuatanmu, kau ingin membunuh raja iblis yang menyuruhku?" tanya Cacing Iblis sambil menahan tawanya.
Blue tidak mau membuang waktunya dan segera menarik dua pedang di punggungnya. Langkah Cahaya segera digunakan, tak lupa ia mengaktifkan Holy Slash untuk menguji ketahanan musuhnya.
...[Blue memberikan kerusakan - 1700, serangan kritis.]...
...[Blue memberikan kerusakan - 5000, serangan pasti.]...
Pedangnya tidak berhenti sampai disitu, ia menggunakan Armor Break untuk mengurangi pertahanan musuh. Mengandalkan kedua kakinya ia mendorong tubuhnya menjauh dan segera menggunakan Gelombang Kejut.
Dua puluh kerusakan beruntun tidak bisa dihindari Cacing Iblis. Hal itu dikarenakan tubuhnya yang besar dan tidak bisa bergerak cepat.
Liem dan Kitty langsung memanfaatkan celah yang ditinggikan musuh. 100 jarum tak kasat mata menusuk musuh, Kitty menggunakan meteor es untuk membekukan tubuhnya.
Cacing Iblis menggeliat karena kesakitan, HPnya turun hingga berwarna merah. "Manusia sialan, aku akan membunuhmu!"
Sebelum menggunakan keterampilan pamungkasnya, Blue dan Yami saling menatap dan mengangguk.
Keduanya berlari beriringan dan menggunakan pedang untuk membuat kerusakan terus menerus. Blue menggunakan Blade Dance sedangkan Yami menggunakan Tarian Pedang.
Sekilas nama skill mereka sama, kenyataannya sangat berbeda. Blue memanfaatkan kecepatan pedang ganda untuk menciptakan serangan bertubi-tubi. Sedangkan Yami memanfaatkan pedang tunggal untuk menciptakan momentum, sehingga memicu sayatan pedang dengan kecepatan tinggi.
Singkatnya serangan Blue hanya bisa digunakan dalam jarak yang cukup dekat, sedangkan Yami bisa digunakan jarak jauh.
Kombinasi mereka berdua sangat sempurna, tidak ada kesalahan sedikitpun. Cacing Iblis mati sebelum menggunakan serangan pamungkasnya.
Tidak ada satupun orang yang mendapatkan poin pengalaman karena levelnya terpaut cukup jauh. Blue level 210, sedangkan Cacing Iblis level 300.
"Untung aku punya keterampilan yang bisa menghasilkan poin pengalaman," kata Blue sambil menusuk tubuh cacing iblis.
...[Blue mendapatkan 100 ribu poin pengalaman.]...
"Naik level sekarang tambah sulit, aku harus menemukan cara yang efisien." Blue segera memikirkan cara untuk naik level bersama rekan-rekannya.
Penduduk desa keluar dari rumahnya dan mendekati Blue yang berhasil mengalahkan cacing iblis.
Seorang pria paruh baya mendekat dan bersujud layaknya menyembah dewa. "Terima kasih telah membantu kami, Dewa!"
"Hah?"
Tentu saja Blue kebingungan, ia tidak pernah mengatakan bahwa dirinya adalah dewa. Matanya langsung melirik Rafaela yang tersenyum dan menganggukkan kepala.
...[Raja Segalanya telah mendapat pengikut setia. Energi kehidupan akan ditambahkan sesuai jumlah penduduk.]...
"Rafaela, apa ini semua perbuatan mu?" tanya Blue.
Rafaela mengangguk menandakan persetujuan. "Tuan, sudah tugas kami para utusan untuk menambah pengikut anda. Jadi aku memberi mereka kesempatan melayani anda."
Perkataan Rafaela ada benarnya, Blue mulai berpikir untuk menarik para penduduk yang sudah ditinggalkan dewi mereka.
"Sekarang kalian sudah bebas dari kekeringan. Gunakan ini untuk membangun pemukiman kalian supaya menjadi tempat yang layak." Blue mengeluarkan berlian dan memberikannya pada pria paruh baya.
Kakek tua yang memberikannya misi muncul di depan matanya, tidak ada yang melihatnya tersenyum. "Terima kasih telah membantu keluargaku!"
...[Penyelesaian misi terlalu baik, sistem akan merubah hadiah anda menjadi penambahan kerusakan pasti sebanyak 1000 poin dan 10 poin keberuntungan.]...
Blue tidak tahu apa yang sedang terjadi, ia hanya bisa tersenyum melihat hadiahnya dilipat gandakan. Ia dan kelompoknya segera pergi dan menyelesaikan Skenario Utama.
Didalam perjalanan, mereka di hadang lagi oleh seseorang yang dikenal.
"Tuan Toma, apa kebutuhan anda mendatangi pria miskin dan lemah ini?" tanya Blue dengan senyum manis.
"Mulutmu masih beracun seperti biasanya. Aku mendatangimu karena Keluarga Gong memintaku untuk membuang identitas mu sebagai murid ketua divisi Pedang Kaku."
"Bahkan Tujuh Mawar bisa dipaksa sedemikian rupa. Keluarga Gong memang sesuatu yang menakutkan." Blue belum kehilangan senyumnya.
"Aku hanya memberikan peringatan padamu, Keluarga Gong bukan sesuatu yang bisa kau usik."
"Bagaimana jika aku menambahkan pasukan ibuku. Apa menurutmu aku masih orang bodoh yang tidak bisa mengenali gunung semeru?"
"Ibumu memang kuat dan banyak jaringan, aku pikir ia bisa menjadi kartu as yang menjanjikan. Bagaimana kalau kita membentuk aliansi?"
"Sepertinya menarik, apa yang kamu inginkan?"
"Sangat sederhana, keluarkan aku dari Tujuh Mawar dengan selamat."
"Bukankah kesempatannya sudah terbuka lebar. Buat pasukan Pedang Kaku keluar dari Tujuh Mawar dan pergilah ke pasukan Revolusioner."
"Masuk pasukan revolusi tidak mudah seperti membalik tangan!"
"Katakan bahwa anak nyonya menyuruhmu masuk pasukan revolusi. Aku tidak bisa menjamin keselamatanmu di dalam sana, karena ujian akan tetap dilakukan meskipun aku yang membawamu!"
"Hah?"