Domain Dewa : Penguasa Benua

Domain Dewa : Penguasa Benua
Perkumpulan


Momen kebersamaan Arief dihabiskan di malam itu, mereka saling bercerita hingga matahari terbit. Ketiganya adalah manusia pilihan yang bisa hidup tanpa tidur beberapa hari, jadi hal seperti ini sudah biasa terjadi.


"Jadi kapan kau akan meninggalkan kami?" tanya Arief yang tahu ayahnya akan meninggalkan bumi sebentar lagi.


Yuliana tidak terlalu cerdas untuk mengetahui setiap kata dari suaminya, ia hanya mendengar tanpa menjalankan logikanya dengan baik. Makanya ia memperlihatkan ekspresi terkejut ketika mendengar anaknya mengatakan itu.


"7, aku punya 7 hari bersama kalian. Setelahnya mungkin kita tidak akan bertemu lagi." Doni tampak murung karena mengatakan kebenaran yang ingin dia sembunyikan.


"Aku pikir itu cukup. Ibu, apa pendapatmu tentang Zaha?" tanya Arief dengan sigap ingin mengatakan sesuatu yang mengejutkan.


"Dia anak baik, aku sudah mengunjunginya beberapa kali."


"Aku ingin melamarnya, apa pendapatmu?" ungkap Arief dengan ekspresi serius. Bukannya tanpa cinta, ia cuma ingin membuat pilihan yang paling tepat untuk masa depannya.


Ayahnya akan pergi 7 hari, setidaknya Arief ingin meninggalkan memori yang tidak akan pernah terlupakan. Sehingga ayahnya bisa fokus berkultivasi tanpa mengkhawatirkan Arief dan ibunya.


"Hah? kamu serius!!!"


"Setidaknya kali ini aku tidak bercanda!"


"Apa kalian pacaran?" tanya Yuliana dengan wajah serius.


"Tidak," ungkap Arief sambil menggaruk punggung kepalanya.


Doni tertawa, mendengar anaknya mengatakan hal sensitif dengan entengnya. Padahal dia harus melalukan hidup dan mati untuk melamar Yuliana.


Jessica yang menguping dari luar kamar langsung mendorong pintu. "Aku tidak setuju, bagaimana dengan Nidia! Jangan kadi playboy Bos!"


Leon dan Amelia hanya membeku karena mereka juga mencoba menguping pembicaraan sensitif ini. Keduanya tahu Arief bukan orang yang romantis, jadi pasti ada maksud tertentu.


Arief tersenyum kecut karena mereka bertiga memberikan tanggapan yang berlebihan, padahal hanya tunangan aja.


"Bocah gila, apa kau tidak tahu arti tunangan? Kau itu sudah tua sialan!" bentak Yuliana yang marah karena dia setuju dengan Jessica.


Meskipun tidak bertemu langsung dengan Nidia, Yuliana tahu anaknya menaruh perhatian khusus pada sosok wanita berambut pendek itu.


Perlu diketahui, Nidia sudah memotong rambutnya sebahu supaya kecantikannya tampak mempesona. Hal itu diusulkan Jessica supaya bosnya tertarik pada Diana.


"Aku..."


"Tidak bisa, aku sudah mengatakan Nidia!" ucap Jessica sambil membuang muka dan menyilangkan kedua tangannya.


Arief yang tidak pernah menikah selama 57 tahun hanya bisa tersenyum kecut, padahal menurut pengetahuannya tunangan berbeda dengan pernikahan. Jika seseorang tunangan masih ada kemungkinan untuk dibatalkan.


Karena kepolosan Arief itu mengakibatkan Yuliana dan Jessica tampak marah. Amelia dan Leon hanya tersenyum kecut, mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Mungkin akan terjadi perebutan nyonya besar," kata Leon dengan santai.


Amelia di sampingnya menanggapi, "Semoga tidak ada perang antar negara."


"Memangnya mungkin terjadi?"


"Apa kau lupa, Nidia telah membangun jaringan yang seluas Jessica. Bisa dibilang bisnis dan kekuasaannya setara dengan keluarga besar. Disisi lain Zaha sudah kita ketahui semua, ia anak dari pemilik perusahaan keuangan terbesar di dunia, Keluarga Walton."


Leon tersenyum kecut mendengarnya, meskipun Nidia berangkat dari kalangan bawah jaringannya sekarang setara dengan sebuah negara. Jadi bisa dipastikan keuangannya tidak kalah dengan keluarga Walton. Ditambah lagi Jessica mendukung Diana, dapat dipastikan akan ada persaingan ketat.


"Semoga saja." Leon menempelkan kedua telapak tangan di depan wajahnya, ia berdoa pada sang pencipta supaya ini bisa selesai dengan damai.


Arief yang tidak tahu harus memilih apa hanya tersenyum kecut. Sedangkan Doni hanya menggelengkan kepala.


"Baiklah, jangan memaksakan keadaan. Apa kau sudah tahu akan ada festival kembang api besok di gunung Harimau Putih?"


Untungnya Dino mengalihkan pembicaraan, jadi Arief dapat menghindar dari pertanyaan yang paling sulit dalam hidupnya.


"Aku tidak tahu!"


"Ayo besok datang kesana, ajak teman-teman dari Fairy Dance untuk merasakan kesuksesan Harimau Putih selama ribuan tahun. Mereka juga akan secara resmi berpamitan dari dunia ini, jadi jangan melewatkannya."


Arief yang mendengar Harimau Putih akan berpamitan dari dunia langsung tegang, pasalnya pendukungnya paling kuat tidak lain adalah Harimau Putih. Jika keberadaan mereka tidak ada, Fairy Dance pasti akan menderita kerugian besar.


Otak Arief berpikir keras untuk menemukan pilihan terbaik, ia harus menarik beberapa anggota Harimau Putih supaya tidak mengikuti jejak ayahnya yang menurut Arief terlalu ambigu.


"Mungkinkah mereka pergi semua?" tanya Arief dengan ekspresi serius.


"Ya, bos besar sudah memberikan perintah. 6 hari dari sekarang semuanya akan menghadapi krisis, jadi tidak ada satupun orang yang akan tinggal di bumi."


Doni tiba-tiba murung, ia tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya. Kekuatannya paling lemah dan bandingkan dengan para seniornya. Jika saja Doni punya 10 tahun lagi, pasti peluang selamatannya cukup tinggi.


Ketiganya sepakat akan menghadiri perpisahan Harimau Putih, Leon dan semua petinggi Fairy Dance ikut dalam rombongan.


Semuanya mengenakan jas resmi layaknya seorang pejabat. Tidak ada satupun dari mereka yang jelek, entah mengapa Cola yang biasanya konyol bisa berubah seperti itu.


Hanya saja Arief sedikit tidak nyaman dengan jasanya karema dada dan punggungnya sudah terlalu besar hingga jasnya ketat.


"Apa aku harus seperti ini?" ucap Arief.


Yuliana menganggukkan kepala, ia tidak sadar anak kesayangannya sudah besar. Tidak hanya tingginya sudah melewati ayahnya, postur tubuh Arief juga lebih berisi dibanding ayahnya.


Pengetahuan Arief tentang perkembangan tubuh sangat baik, jadi ia bisa menumbuhkan setiap ototnya. Sedikit berbeda dengan pengetahuan Doni yang mementingkan tenaga dalam atau mereka menyebutnya energi jiwa.


"Ayo berangkat!" kata Arief memimpin perjalanan.


Lebih dari 15 bus mewah beriringan di jalan, semuanya menuju satu tempat di gunung Harimau Putih. Ternyata tidak hanya Arief dan orang-orang dari Fairy Dance yang datang.


Para petinggi dunia juga datang, Zaha dan Keluarga Walton juga ada. Bahkan Nakamoto pertama yang menjadi pilar kekuatan Keluarga Nakamoto datang.


"Blue!" ucap Nakamoto kesembilan.


"Menyebut nama game di dunia nyata tidaklah sopan." Arief mencoba menggoda Nakamoto kesembilan.


"Bacot, semua orang disini sudah tahu siapa kau!"


Seorang pria tua mendatanginya, ia adalah Nakamoto pertama. Matanya langsung menatap ke arah Arief mencoba untuk melihat apa yang dibanggakan anak seusianya.


Namun Doni tiba-tiba menghadangnya. "Jangan lakukan hal bodoh atau akan membunuhmu!" katanya tegas.


Nakamoto pertama menghela napas, ia memang berencana menggunakan kekuatannya untuk menekan bocah usia 23 tahun itu.


"Haha, ini hanya salah paham. Aku hanya penasaran dengan pria yang berhasil menyempurnakan Moon Cutter milik keluargaku."


Doni Baskoro menanggapi, "Pergilah!"


"Ayah, biarkan saja. Mereka teman-temanku, bahkan jika tua bangka itu menggunakan seluruh kekuatannya tidak akan bisa menembus pertahanan mentalku!"


Nakamoto pertama yang sedikit tersinggung langsung melepaskan kekuatan penuh dan menekan Arief. Bukannya takut bocah gila itu malah memasukkan jari kelingking ke hidungnya.


"Apa kau sudah selesai?" tanya Arief sambil melepaskan sedikit energi kekacauan.


Nakamoto pertama mundur dua langkah, ia langsung melempar senyum untuk menunjukkan ketulusannya.


"Sepertinya ini sudah berlebihan, kami pamit dulu."


Nakamoto kesembilan melambaikan tangannya san mengucapkan selamat tinggal. "Hei, jangan lupa bagi hadiah jarahannya!"


"Kau saja tidak nongol, Bajingan!"


Arief mengejek keluarga Nakamoto yang tidak membantunya di perang besar dengan kekuatan penuh. Mereka hanya mengutus Nakamoto kesembilan dan beberapa elit.


Zaha dan ayahnya menghampiri Arief. "Bos, ini pertama kalinya kita bertemu di dunia nyata."


"Ya, siapa yang menyangka Zaha di dunia nyata jauh lebih cantik dari Domain Dewa."


Zaha memainkan rambutnya. "Sejujurnya ini pertama kalinya aku menggunakan make up, ibu memaksaku."


Kepala keluarga Walton bukan orang sembarangan, ia merasakan tekanan besar dari pria di belakang Arief. Lebih gilanya dia merasakan bahwa Arief adalah orang yang berbahaya.


"Oh kenalan, mereka keluargaku. Ini ibuku Yuliana, pasti kalian sudah pernah bertemu. Sedangkan dia ayahku, Doni Baskoro."


Ayah Zaha langsung membelalak, ia tidak bisa melupakan sosok Doni Baskoro yang mendominasi Benua Selatan pada masa jayanya. Bahkan keluarga Walton berada di bawah tekanan karena keberadaannya.


Namun siapa yang menyangka sosok yang begitu kuat melahirkan sosok yang dikenal seluruh dunia. "Memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya," kata Ayah Zaha.


Diana entah mengapa tiba-tiba datang dari samping bersama sosok yang juga tidak kalah penting. Mereka adalah keluarga Hardiman dari barat dan keluarga Hao dari utara.


Justin yang begitu sempurna dan penuh akal tidak dapat mengungguli Diana dalam semua aspek. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk menjadi kaki tangan Diana.


Sekarang Diana tidak jauh beda dengan Jessica yang mengenakan pakaian formal serta kacamata bulat. Rambutnya yang sebahu membuatnya begitu menawan.


"Halo, Bos."


Sebelum dijawab, Zaha dan Nidia saling memandang. Entah mengapa ada isyarat tak langsung yang mengatakan bahwa keduanya sedang bertarung. Sayangnya Arief tidak sadar dan tidak mau mengetahuinya.