
Blue mulai bergerak, langkah kakinya tampak sangat lembut dan pedang pengikutnya dari belakang.
Kedua tangan Blue mengepalkan, tepat 100 meter jauhnya dari musuh ia berhenti. Kaki kiri di depan, kaki kanan mendorong bahunya dengan kekuatan penuh.
Tinjunya menciptakan sebuah tekanan dan menghantam Raja Lich dari kejauhan.
Tubuh kuat Raja Lich tidak terpengaruh banyak, tetapi ia masih mengerutkan kening. Pasalnya sensor peringatan serangannya tidak bekerja dengan baik.
"Aneh, aku tidak merasakan serangannya!"
Blue tersenyum tipis, ia langsung menyerang menemukan kelemahan Raja Lich dengan cepat.
Raja dari seluruh mayat hidup itu punya sensor pendeteksi serangan. Jadi sergapan apapun tidak akan bisa mengenainya. Namun serangan fisik yang kuat tidak dapat dideteksi sensornya.
Makanya Raja Lich sangat benci dengan para monster yang punya fisik kuat seperti Titan.
"Siapa kau manusia?" tanya Raja Lich sembari menatap Blue. Sayangnya itu adalah kesalahan terbesar yang dia perbuat.
Ketika kedua mata mereka bertemu, semua kelemahan Lich sudah terungkap. Blue tersenyum dan melepaskan kuda-kuda bertarungnya.
"Blue, seorang mahkluk abadi sepertimu. Tapi aku lebih baik darimu," jawab Blue dengan nada santai.
Raja Lich melambaikan tangannya, pasukan tengkorak yang dikalahkan bangkit lagi dan menjadi lebih kuat. Semua pasukan tengkoraknya mengepung Blue.
"Sombong, katakan itu lagi jika kau selamat dari ini!"
Para tengkorak yang mengepung Blue menyerang bersamaan tanpa menggunakan senjata. Setelah cukup dekat, mereka semua meledak dan menghancurkan tanah di bawahnya.
Asap akibat ledakan menjulang ke langit, tidak ada satupun pasukan Blue yang mengkhawatirkan tuannya.
Bahkan Bee masih sibuk dengan para meneliti para tengkorak, ia memasukkan pedangnya ke mulut musuhnya. "Aku pikir pedang cahaya ini bisa membinasakannya," katanya berbicara dengan pedangnya.
Ela tidak melakukan banyak hal, ia hanya terbang setinggi 3 meter dan memandangi para tengkorak. Meskipun tampak tidak melakukan apapun, sebenarnya ia sedang mempelajari tali energi yang bersumber dari Raja Lich.
"Menarik," kata Ela yang tampak sangat penasaran.
Elvy bermain dengan para tengkorak, ia menciptakan sebuah gunung es dan bermain Ski yang terbuat dari tulang tengkorak. Tangannya yang mulus memegang dua gagang dan menghancurkan musuhnya dengan perasaan senang.
"Hoho, sudah lama aku tidak bersenang-senang." Elvy malah bersenang-senang dengan musuhnya.
Raul dengan penuh semangat mencakar dan membunuh para prajurit tengkorak. Tidak lupa ia memisahkan tengkoraknya dengan tulang lainnya.
"Tulang-tulang ini bisa dibuat sup manis." Raul juga tidak kalah gila dari ketiga rekannya.
Yang paling normal masihlah Drakula, ia tidur di bawah monster pohon yang entah bagaimana bisa muncul. Akar-akar pohon monster menghancurkan setiap musuhnya dengan mudah.
Awalnya Blue berekspektasi tinggi pada teman-temannya, tapi ekspresinya segera berubah datar ketika melihatnya.
"Huh." Blue menghela napas panjang, asap yang mengepungnya segera menghilang.
Raja Lich sudah memperhitungkan bahwa musuhnya tidak akan mati dengan mudah. Namun salah satu kartu andalannya tidak dapat melukai musuh.
Blue menepuk pundaknya dan membersihkan bedu di pakaiannya. "Bukankah sudah waktunya aku menyerang balik?" tanya Blue sambil tersenyum manis.
"Sombong, jangan buat aku...."
Sebelum menyelesaikan kata-katanya, dua pedang berwarna hitam dengan hiasan emas menusuk punggungnya.
Raja Lich melirik ke bawah, ia tidak percaya sensor pertahanan dirinya tidak berfungsi lagi.
Kontak mata sebelumnya mempengaruhi sensor pertahanan Raja Lich, hal itu menyebabkan Dual Secret Sword tidak terdeteksi. Tidak hanya sekali, tetapi Dual Secret Sword selamanya tidak akan bisa dideteksi Raja Lich.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Raja Lich sambil menarik pedang.
Dual Secret Sword bukan bocah manis yang mudah di ajak kompromi, ia langsung menarik tusukannya sehingga rasa sakitnya meningkat.
"Siapa yang tahu." Blue tidak mau menjawabnya, walaupun ia sudah menemukan kelemahannya, jika Jantung Mana milik Raja Lich tidak ditemukan, maka dia tidak akan bisa dibinasakan.
Luka tusuk Raja Lich sembuh dengan sangat cepat. Ia turun dan mendekati Blue.
"Aku tahu kau ingin melewati lantai 4, ini kunci khusus untukmu." Raja Lich menyodorkan kunci palsu yang dia buat.
Blue menerimanya dengan senang hati, pasalnya kunci palsu itu mempunya material yang cukup berguna untuk perkembangan para pasukannya.
Setelah mengambil kunci, Blue tidak menurunkan kewaspadaannya. Benar saja Raja Lich langsung terbang ke arah Jantung Mana miliknya.
Namun Blue menghentikannya dengan Tangan Dewa. "Kenapa terburu-buru, ayo ngobrol bersama. Santai dulu."
Blue mendapatkan informasi bahwa Jantung Mana milik Lich sudah ditemukan, tapi pasukan Emma harus bersusah payah melawan penjaganya.
Raja Lich di tahan dalam negosiasi yang tidak akan pernah menemukan titik terang. Waktu demi waktu berjalan, Raja Lich tiba-tiba membelalakkan matanya.
"Maaf Blue, aku punya urusan mendesak." Raja Lich panik terbang menuju tempat persembunyiannya.
Diwaktu yang bersamaan, Emma berhasil merusak Jantung Mana milik Raja Lich. Energi mana di sekitarnya meningkat drastis, jadi Emma dan pasukannya memilih untuk menyerapnya.
Setelah cukup jauh, Blue akhirnya mengetahui sesuatu. Emma berhasil mendapatkan Jantung Mana yang benar.
Blue mengangkat sudut bibirnya, ia memanggil Raul dan mengikuti Raja Lich.
Raul punya langkah kaki yang sangat tenang, jadi kehadirannya akan sedikit susah untuk ditemukan.
Hanya butuh beberapa saat sebelum mereka semua berhenti. Raja Lich langsung masuk ke dalam gua persembunyian Jantung Mana miliknya.
Matanya langsung terbelalak melihat Jantung Mana yang telah dipupuk sekian lama hancur. Yang paling membuatnya kesal adalah para manusia yang menyerap energinya.
"Manusia sialan!" teriaknya dengan nada penuh amarah. Raja Lich langsung menggunakan ledakan besar untuk menghancurkan gua.
Sayangnya Raja Lich tidak mengerti siapa lawannya. Emma dan pasukannya segera kabur dan tidak melanjutkan tindakannya.
Prajurit terkuatnya sudah mati, sekarang Jantung Mana sudah hancur. Raja Lich tidak bisa berbuat apa-apa, ia akan mati dalam beberapa hari.
Sayangnya Blue bukan orang baik, ia melepaskan aura jiwa dan mendekati Raja Lich. Aura jiwa sangat kuat hingga menekan Raja Lich.
"Blue, apa yang kau lakukan?" tanya Raja Lich berpura-pura tidak mengerti.
Blue tersenyum manis. "Jangan pura-pura, bukannya ini yang akan kau lakukan setelah berhasil menyelesaikan tugas."
Raja Lich tidak percaya rencana sempurna yang telah di susunya malah di patahkan dengan sangat mudah.
"Apa maumu?"
"Berikan jubah itu!" jawab Blue dengan tegas. Ia tidak tahu mengapa Jubah Raja Api mengungkap jubah milik Lich dan Raja Lich.
"Sebelum kau membunuhku, jangan harap mendapatkan jubah warisan ras kami!" bentak Raja Lich dengan nada tinggi.
"Baiklah." Blue menghilang dan menusuk punggung musuhnya dengan Dual Secret Sword.
Raja Lich tidak dapat merespon untuk kedua kalinya. Ternyata kontak mata yang dilakukan Blue dan Raja Lich membuat kelemahannya terbuka lebar.
Raja Lich terkena serangan telak, ini adalah pertama kalinya dia terluka. "Sial, andai saja Jantung Mana masih ada!"
Blue tidak membiarkan mangsanya kabur, ia menggunakan teknik jiwa untuk memakan semua tubuh Raja Lich.
"Ini lebih berguna dari kelihatannya."
Blue mengambil kunci asli dan membuka lantai 3. "Uranus urus semuanya," katanya dengan santai.
Uranus segera mencari titik penopang lantai 4. Jadi sebentar lagi pasti akan menemukan sumber yang bagus.
Sebelum masuk, sosok Liem keluar dan menghentikan tuannya. "Sepertinya ini hanya jebakan, ayo cari yang asli."
Blue jadi sedikit bingung, sebenarnya pemimpinnya yang mana.