Domain Dewa : Penguasa Benua

Domain Dewa : Penguasa Benua
Sang Penyihir Terkuat


Kedatangan Satan menjadi musibah untuk umat manusia, ditambah lagi pertarungan Odin dan Zeus akan menghancurkan tanah dewa untuk mencari siapa pemenangnya.


Blue tampak murung, ia kehilangan jati dirinya dalam untuk waktu singkat. Namun sosok wanita dan pria muncul di bayangannya, mereka tidak lain adalah Yuliana dan Doni Baskoro. Keduanya tersenyum manis dan mengepalkan tangan kanannya, mereka ingin mengatakan bahwa semua usaha anaknya tidak akan mengkhianatinya.


Karena Zeus dan Odin sudah bertarung, Blue tidak akan ketinggalan kesenangan, tujuannya memang mengalahkan Zeus tapi Sang Penyihir sejati Odin ada di depan matanya.


Jubah Raja Api langsung keluar dan langsung membungkus tubuh Blue, warnanya yang merah api dengan balutan emas dan hitam pekat membuatnya tampak sangat menawan.


Mahkota di lengan kanan Blue secara otomatis berpindah ke kepalanya, tampak jelas mahkota itu ingin menunjukkan dominasinya sebagai raja. Warnanya kuning keemasan memancarkan cahaya yang menyilaukan, setelah beberapa saat ada 3 batu merah di setiap ujungnya.


Dual Secret Sword juga muncul di kedua tangan Blue, mereka langsung menunjukkan kekuatan aslinya. Warnanya berubah menjadi hitam pekat dengan aksen merah dan emas.


“Bukan waktunya untuk ragu, sekarang waktunya kalian keluar!” ungkap Blue memberikan perintah para penduduk Dunia Buatan untuk keluar semua, khususnya para prajurit yang sudah mengucap sumpah darah padanya.


Energi kehidupan yang selama ini disimpan tidak lagi diperlukan, Blue membagikan 60% energi kehidupan yang terus ia timbun untuk hari ini. Semua makhluk yang keluar dari Dunia Buatan memancarkan cahaya biru dari tubuhnya, mereka mendapat berkah Raja Segalanya.


8 sayap hitam yang selalu bersama Blue tiba-tiba berubah bentuk menjadi lingkaran layaknya Asura. Lingkaran itu terukir simbol rumit yang menggambarkan pengetahuan penggunanya, semakin rumit simbol di dalamnya, maka pengetahuannya akan sangat dalam.


Odin dan Zeus menghentikan pertengkaran mereka untuk sementara, keduanya langsung melebarkan matanya ketika melihat lingkaran pengetahuan Blue tidak kalah dengan mereka.


Odin yang tidak terima langsung melepaskan mana dalam tubuhnya, ia menggunakan wujud seorang penyihir dewasa dan melepas penutup matanya. Lingkaran Pengetahuan muncul di belakang punggungnya, simbol yang mengukirnya tidak kalah rumit dengan Blue. Jadi bisa dibilang pengetahuannya tentang sihir tidak bisa dibandingkan dengan makhluk sejenis.


Zeus yang melihat dua rivalnya mulai serius juga menanggapi, ia memanggil petir dan sebuah senjata muncul di tangan kanannya. Tubuhnya diselimuti petir berwarna kuning dan sebuah lingkaran muncul di belakang punggungnya. Tingkat kerumitan Lingkaran pengetahuan Zeus juga tidak kalah dari Blue dan Odin, bisa dibilang dia adalah penguasa pengguna Energi di seluruh Domain Dewa.


“Siapa yang mengira keberadaan lainnya datang!” ungkap Odin yang sudah melepas penutup matanya.


Siapa yang menyangka mata kirinya tampak memancarkan cahaya ungu kehitaman seperti energi yang digunakan teknik jiwa. Mata itu adalah pusat otoritas Odin, dia juga menggunakan mata itu untuk meramal masa depan.


Alasan mengapa ia membuka penutup mata dan langsung melihat Blue karena ia ingin melihat masa depannya. Namun siapa yang menyangka ternyata Blue tidak dapat di ramal, bisa dibilang kekuatan mata Odin belum sanggup untuk membukanya.


“Ini kali kedua aku mendengarmu mengatakan hal itu, Odin. Jangan bilang dia sama seperti Satan?” tanya Zeus.


Odin mengangguk dan mengatakan, “Aku ingin mengatakan begitu, tapi energinya sedikit berbeda. Lihatlah warnanya tidak hitam pekat seperti Satan, warnanya hampir sama seperti mataku!.”


“Jadi maksudmu dia bisa mengendalikan kekuatannya?”


“Mungkin seperti itu. Artinya kita harus membunuh dua dari kita,” ungkap Odin mengatakan yang sebenarnya.


Zeus tidak ingin ambil pusing, ia menciptakan petir dari langit dan menyerang Blue. Sambaran petir langsung mengarah ke tubuh Blue yang masih belum sadar sepenuhnya.


Petir berwarna kuning keemasan langsung menyambar targetnya, tapi Blue tidak menghindar. Ia hanya ingin menerima serangan petir dengan tubuh dan jubahnya. Mahkota Raja segera menanggapi dan menyerap energi petir dan mengubahnya menjadi kekuatan tuannya.


“Bukankah ini sudah waktunya bermain!” ucap Blue dengan suara pelan.


Pasukan dari Dunia Buatan sudah siap di posisinya masing-masing. Naga Angin yang tidak mendengarkan perintah tuannya langsung menerjang musuh tanpa strategi. Padahal Blue ingin melemparkan kata-kata keren untuk membakar semangat pasukannya.


Semua pasukan Blue terdiri dari penduduk pribumi yang telah menjadi dewa, banyak darinya hanya dewa tingkat menengah. Awalnya Blue ragu menariknya dari Dunia Buatan, tetapi keraguannya segera hilang karena tujuan akhirnya sudah di depan mata.


Anthony segera mengangkat kedua tangannya, ia memunculkan replika Pohon Dunia untuk meningkatkan kekuatan rekannya. Penambahan status diberikan pada semua orang di Dunia Buatan.


Venom dan Ayahnya terbang di langit, mereka saling memandang dan segera berlari ke arah pasukan Odin. Tanpa rasa takut, mereka menantang duel jenderal pasukan Odin.


Venom menunjuk seorang penyihir yang sudah mencapai puncak tingkat 9. “Aku menantangmu duel, jangan menghindar aku tahu kau seorang pria sejati!” katanya dengan nada menantang.


Penyihir yang mengenakan jubah tidak menampakkan wajahnya, tapi kali ini sosok yang ditantang Venom membuka jubahnya. “Ini pertama kalinya aku di tantang seorang iblis muda yang sangat kuat. Baiklah, mari pindah ke tempat lain!”


Irene menjentikkan jarinya, tiba-tiba tanah dewa bergetar dan semua orang dipindahkan ke tempat yang tidak diketahui. Sebenarnya mereka bukan dipindahkan, tetapi Tanah Dewa diacak-acak sehingga perang bisa lebih terfokus.


Blue, Odin, dan Zeus berada di tempat yang sama, jadi tidak akan ada yang mengganggunya. Begitu pula dengan Venom dan Irene Belserion yang berada di wilayah perang.


Tentu saja Venom tidak mengira ini akan terjadi begitu mudah, tanah dewa yang katanya sangat luas dan melebihi luas dunia manusia tiba-tiba bergeser dan memetakan semua orang sesuai dengan kekuatannya.


“Sihir yang menarik, apa kau butuh istirahat?” tanya Venom menawarkan waktu istirahat pada Irene Belserion.


“Tidak perlu mengasihaniku, memang benar menghabiskan mana cukup banyak untuk menggeser tanah dewa. Tapi itu tidak lebih dari 30% mana dalam tubuhku, jadi apa kau masih percaya diri?” tanya balik Irene.


Venom tersenyum manis. “Tentu saja, jiwaku membara karena Blue sudah menepati janjinya. Melawan penyihir terkuat manusia adalah salah satu impianku selama ini!” katanya sambil mengeluarkan kuku dari kedua tangannya.


Amelia dan Jesicca berada di situasi yang tidak jauh berbeda dengan Venom, mereka dipertemukan dengan pasukan Zeus yang sangat kuat. Bahkan kesempatan menang mereka tidak lebih dari 1 persen.


Namun Amelia dan Jesicca mengatakan satu kata yang sama. “Selama belum 0% artinya masih ada kesempatan untuk menang!”


Anthony yang melindungi Pohon Dunia di datangi seorang pria dengan pedang di pinggulnya. Dia adalah Sakata Sang pembelah apa saja, wajahnya yang kocak dan lucu membuat semua orang salah menilainya. Walaupun wajahnya tampak tidak meyakinkan, satu tebasannya bisa membelah gunung di tanah dewa.


“Hoam, aku mengantuk. Jangan ganggu aku sebelum perang aneh ini selesai!” katanya sambil menyenderkan badannya ke Pohon Dunia yang di jaga Anthony.


“Apa kau tidak menghentikan asupan energi dari Pohon Dunia pada semua musuhmu?” tanya Anthony.


“Jangan samakan aku dengan para budak itu, aku kesini hanya untuk menepati janjiku berpihak pada Zeus dan memberikan pelayanan yang menarik. Salah satunya adalah menebas pohon dunia yang telah kau ciptakan!” jawab Sakata dengan santai.


“Terus kenapa kau malah tidur dan tidak memotong pohonnya?”


Sakata menggelengkan kepala. “Jadi tidak menegangkan, biarkan Si Kakek tua dan penyihir sok imut itu merasakan kekuatannya terus berkurang, haha!” jawabnya sambil tertawa ringan.


Samurai bernama Sakata itu sama seperti Athena yang menandatangani kontrak sistem. Meskipun isi kontrak mereka berbeda, Zeus mengakui kekuatan keduanya sudah cukup untuk melancarkan misinya.


Disisi lain Blue berhadapan dengan Zeus dan Odin. Ketiganya saling memandang dan menggerakan tubuhnya bersamaan, tidak ada yang memihak satu sama lain. Blue menyerang dengan tangan kanan dan menghadang serangan dengan tangan kiri. Pertarungan tangan kosong diperlihatkan, Odin tentu saja orang paling dirugikan dalam prosesnya.


Sebagai seorang penyihir Odin langsung melompat mundur dan menciptakan sebuah es runcing. Tangannya segera melambai dan menargetkan Zeus dan Blue secara langsung. “Terima ini otak otot!” ungkap Odin yang keluar dari perseteruan paling awal.


Zeus menangkap balok es di ujungnya. “Jangan bercanda Odin, serangan lemah ini tidak bisa melukai kulitku!” katanya meremehkan serangan lawan. Blue tidak mau mengambil risiko seperti Zeus, ia melompat den terbang lebih tinggi.


Odin tersenyum meliat tanggapan mereka, ia tersenyum manis dan balok es tadi meledak dan mengeluarkan asap hijau. Racun, itu adalah racun yang digunakan Hydra Sang Monster Laut untuk membunuh mangsanya.


Blue mengayunkan pedangnya secara vertikal, ia membelah gas racun dan segera mundur. Alisnya mengerut karena serangannya tidak dapat membelah gas racun yang mengarah padanya.


“Bodoh apa kau pikir racun ini mudah terbelah!” kata Odin dengan nada tinggi.


Zeus yang berada di pusat putaran gas beracun hanya diam dan menatap Odin. “Seperti biasa, kau selalu menggunakan trik rendahan untuk melawanku!” katanya dengan tatapan kecewa.


Energi di dalam tubuh Zeus meluap dan mengubah postur tubuhnya. Awalnya Zeus tampak seperti kakek tua yang rentan, tapi dalam beberapa detik saja ia berubah menjadi pria sejati dengan otot besar layaknya Thor.


Kedua lengannya direntangkan, Zeus memutar seluruh tubuhnya hingga menciptakan pusaran angin. Gas racun yang mengelilinginya segera dihempaskan ke langit.


Kejadian tak masuk akal terjadi tepat di depan matanya, Blue tidak bisa berkata apa-apa. Meskipun begitu ia masih mengepalkan tangannya karena tekadnya melawan musuh yang lebih kuat darinya telah muncul.


Jarak di antara Blue dan kedua Outer tidak sedikit, tapi ia teringat pelajaran yang di sampaikan Shen San. “Tidak ada perjuangan tanpa rasa sakit, tapi percayalah sakitnya sementara dan bahagia akan terasa selamanya.”


Setelah kata-kata itu muncul dalam kepalanya, Blue langsung terbang dan menggunakan Langkah Cahaya untuk mendekati Odin. Entah apa yang merasukinya, pergerakan kakinya begitu mulus dan tusukan Dual Secret Sword menjadi lebih mulus.