Domain Dewa : Penguasa Benua

Domain Dewa : Penguasa Benua
Medan Perang


Naga Angin terperangah melihat dua mahkluk kuat berdiri di depannya. "Siapa kalian sebenarnya?"


"Seperti yang terlihat, aku seorang pemain yang sudah mendapat gelar." Blue tidak menyebutkan gelar yang diterima, dari Ratu Es dan lainnya.


Naga Angin mengepakkan sayapnya, tekanan yang membuatnya tak bisa berdiri langsung pecah. Blue dan Bee hanya tersenyum, mereka sebenarnya sudah tahu Naga Angin sangat kuat.


"Menarik manusia, jadi kau ingin mencoba melepaskan belenggu ini dan menjadikanku anak buah?" tanya Naga Angin sambil mengangkat tangan kanannya dan menunjukkan sebuah rantai.


"Sepertinya ada salah paham, aku disini bukan untuk menjadikanku budak tapi bantu aku mengalahkan Dewa Angin!"


Blue mengatakannya dengan nada santai sambil tersenyum manis. Dia tampak tidak takut dengan sosok naga yang besar itu.


Naga Angin mengerutkan kening mendengar permintaan tidak masuk akal Blue. "Apa kau bodoh?"


"Siapa yang tahu Dewa Angin telah kehilangan kewarasannya dan menggila." Blue menjawabnya sambil mengangkat dua pundaknya.


"Meskipun aku lemah, membunuhmu bukan hal yang sulit untuk dilakukan." Naga Angin menggertak karena tidak sudah dengan pernyataan lawan bicaranya.


"Aku tanya, siapa yang mengurung mu di ruang bawah tanah?" tanya Blue dengan senyum yang belum hilang dari awal.


Pada acara kemarahan Dewa Angin Blue sudah membaca semua sejarahnya. Ia melakukan itu untuk Shadow mengambil kesempatan dalam kekacauan dunia.


Sampai akhirnya ia mengetahui bahwa Dewa Angin dan Naga Angin memiliki hubungan yang aneh. Karena ingin menjadi dewa terkuat, Dewa Angin atau Aeolus mengurung Naga Angin supaya tidak melihatnya mati.


Pada zaman itu, kesempatan naik menjadi dewa sangatlah kecil. Besar kemungkinan mereka akan mati tersambar petir ilahi sebelum menjadi dewa.


Tidak terkecuali Aeolus yang mati dalam perjalananya menuju dewa. Anehnya Aeolus dibangkitkan lagi di tanah dewa dan menjadi sosok pemimpin yang sebenarnya.


Mungkin beberapa tahun lagi dia akan turun ke daratan manusia untuk mencari Naga Angin. Kala itu Naga Angin sudah mati di tangan seorang pemain dan mengambil jantungnya.


Sudah kita ketahui semuanya, Jantung Naga sangat dibutuhkan manusia untuk mendongkrak kekuatannya melawan para monster. Tidak terkecuali Ratu Es yang reka mengkhianati tanah dewa untuk merebut jantung titan dan naga.


"Darimana kau tahu cerita lama ini?" tanya Naga Angin sambil mengepakkan sayapnya hingga semua simbol yang diam-diam Blue pasang hancur semua.


Meskipun terkejut, ekspresi Blue masih tampak tenang dan melempar senyum manis. "Sangat mudah menemukan kisah kalian berdua yang mengarungi dunia dan mendapatkan gelar duo paling ditakuti."


"Aku malu mengatakannya, kami memang dua orang yang paling di takuti pada masanya. Jadi apa yang ingin kau katakan?"


"Aeolus yang kau kenal sudah lama mati, Dewa Angin yang sekarang bukan temanmu lagi. Menurut rumor jiwanya berhasil menyatu dengan salah satu pangeran Dewa Angin. Aku berani jamin ia sedang mencari jalan untuk menemukanmu."


"Bukankah aku hanya perlu menunggunya dan membebaskan rantai yang dia pasang ini?"


Blue menggelengkan kepala. "Sayangnya ia tidak hanya akan membebaskan mu, tetapi juga akan membunuhmu dan mengambil Jantung Jendral Naga milikmu."


Naga Angin menyempitkan mata. "Darimana kau tahu aku adalah seorang jendral?"


"Ah sepertinya salah, kau adalah Naga Raja yang paling dicari. Bagaimana jika seorang pahlawan seperti Raphael mengetahuinya ya..."


Benar, Naga Angin adalah salah satu raja naga yang paling di cari di seluruh domain dewa. Karena Aeolus mengetahuinya, ia mengurungnya di Benua Selatan untuk berjaga-jaga.


Manusia pada hakekatnya membutuhkan kekuatan untuk mendominasi lawannya. Tidak terkecuali Aeolus yang akan mengambil jantung naga angin dan memimpin kerajaan Dewa Angin.


Perlu di ketahui, Dewa Angin bukan gelar satu orang saja. Makanya Aeolus harus menjadi lebih kuat untuk membunuh saudaranya dan menjadi satu-satunya Dewa Angin.


"Aku tidak percaya!"


Blue mengatakan semua ciri-ciri Aeolus pada saat ia masih menjadi manusia. Ia juga membeberkan semua rencana yang akan dilakukan Aeolus setelah turun daei tanah dewa.


Blue tidak menjawab dan hanya bisa tersenyum. Pada kehidupan sebelumnya ia adalah pemain level 1000an, jadi menuju tanah dewa bukan sesuatu yang mustahil. Namun Blue hanya bisa tinggal beberapa hari karena kelasnya hanya tingkat 3.


Naga Angin memandangnya dengan tatapan penasaran. "Baiklah, aku akan percaya padamu. Tapi biarkan aku pergi jika tebakan mu salah."


"Tentu saja." Blue melebarkan senyumnya dan mencoba melepaskan simbol tingkat tinggi yang terpasang.


Dengan bantuan Bee, Elvy, Ela, Liem, dan Kitty, pekerjaan pembebasan Naga Angin bisa selesai dalam sehari saja.


Naga Angin segera merubah wujudnya menjadi manusia. Ia menggerakkan pergelangan tangannya untuk melepaskan semua otot yang kaku.


"Aku bersumpah akan melayanimu, tetapi lepaskan kontrak darah jika Aeolus tidak mengkhianati ku!" ucap Naga Angin yang berwujud manusia dengan pakaian hijau.


Meskipun tidak lebih tampan dari Blue, Naga Hijau memiliki paras yang cukup menawan. Postur tubuh yang bagus serta tinggi badan mencapai 180 centimeter menambahkan kesan istimewa.


...[Raja Naga Angin telah membuat sumpah darah denganmu. Semua status akan ditingkatkan sebanyak 10% dan energi kehidupan melambung hingga 100%.]...


Blue tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk jabat tangan. "Selamat datang di Fairy Dance. Aku adalah salah satu pendiri guild yang akan melindungi jantung berharga milikmu."


"Ya, ya, ya... Terus mengapa kau tidak mengambilnya sendiri? melihat kekuatanmu dan seluruh temanmu mungkin bisa memaksaku menggunakan kekuatan penuh."


Yami menarik sedikit pedangnya. "Jaga bicaramu!"


Aura Yami adalah keanehan dunia, siapapun yang merasakannya akan mengalami perasaan takut. Tidak terkecuali Naga Angin yang tanpa sengaja melangkah mundur.


Anehnya Liem sudah ada di belakangnya dan menepuk pundaknya. "Jangan tersinggung, dia memang seperti itu."


Genggaman Liem terasa sangat berat. Perlu di ingat, ia adalah Lucifer yang membunuh mahkluk yang tak terhitung jumlahnya.


Rafaela menggunakan skill penyembuhan dan semua orang menjadi tenang. Blue sedikit terkejut Rafaela bisa menggunakan skill yang dapat menenangkan aura kuat milik Liem dan Yami bersamaan.


"Sudahlah, apa kalian ingin terus bermain-main?" tanya Rafaela yang jarang sekali berbicara.


Liem dan Yami langsung kembali ke posisinya, berbeda dengan Bee yang masih melirik Rafaela dengan tatapan aneh.


"Keterampilan ini hanya ada di tanah dewa, bagaimana manusia mortal sepertinya punya skill itu. Selain itu level skill ini pasti tidak rendah!" Bee segera ingat sosok Blue yang selalu menarik orang kuat ke sisinya. Entah itu penduduk pribumi maupun pemain berbakat.


"Baiklah, ayo tinggalkan tempat ini dulu. Desa ini akan menjadi medan perang yang mengerikan."


Blue menggunakan Gate dan segera masuk meninggalkan Naga Angin yang masih terperangah tak percaya.


"Apa tuanku yang sekarang itu dewa maha tinggi? Bagaimana dia bisa mengeluarkan skill Gate dalam beberapa detik saja!" Sembari kebingungan, Naga Angin tetap melangkahkan kakinya masuk kedalam portal.


Mereka semua sampai di tempat yang tinggi, Blue mengeluarkan alat masak dan segera menggoreng dan merebus sesuatu.


Bee dan Elvy duduk layaknya pangeran dan putri, berbanding terbalik dengan Raul dan Ela yang lesehan di tanah.


Ela masih mending karena ia membuat sesuatu, sedangkan Raul hanya tidur seperti seekor kucing tidur di lantai hangat.


Drakula segera mencari pohon dan merubah wujudnya menjadi kelelawar, ia membuat sihir supaya matahari tidak menyengat dan segera tidur.


Liem membantu Blue memasak, Yami duduk bermeditasi, Rafaela menutup mata dan tidak melakukan apapun. Sedangkan Kitty bermain dengan kuku tajam miliknya.


"Tidak, aku yakin pernyataan ku sebelumnya salah!" gumam Naga Angin pelan.