Domain Dewa : Penguasa Benua

Domain Dewa : Penguasa Benua
Bermain


Blue dan kelompoknya tidak langsung menyelesaikan Skenario Utama, mereka pergi ke Desa Abidzar untuk menemui Gandring.


Hanya Blue yang masuk kedalam toko. "Bagaimana dengan pesanan ku?" tanyanya dengan suara pelan.


"Aku selalu menyelesaikan tugas dengan baik. Lihatlah ini," jawab Gandring sambil mengeluarkan senjata yang dipesan.


Blue mengayun ayunkan senjatanya, ia menarik pedang dari punggungnya dan meletakkan di atas meja. Pedang Gandring diayunkan untuk membelah salah satu Dual Secret Sword. Bukannya menghancurkan Dual Secret Sword, pedang buatan Gandring patah.


"Bukankah ini kualitasnya jauh dari yang aku inginkan?" tanya Blue dengan senyum tipis. Ia sengaja melakukannya supaya kakek tua itu mau bergabung dengan Fairy Dance dan mendampingi Aden sebagai pandai besi.


Gandring yang tidak percaya pedangnya langsung patah menyentuh Dual Secret Sword. Tepat setelah jarinya bersentuhan, Gandring berteriak kesakitan. Ia langsung memegang kepalanya.


Blue tidak tahu apa yang terjadi, ia menarik dan memasukkan lagi pedangnya. Gandring berhenti berteriak, ia mulai mengatur napas dan menatap Blue.


"Pedang jahat apa itu?" tanya Gandring sedikit ketakutan. Ia merasa pedang Blue lebih terkutuk dari keris buatannya.


Sebagai tanggapan Blue menggelengkan kepala. "Dual Secret Sword, ia pedang terbaik yang aku miliki. Jadi coba ciptakan pedang yang sama sepertinya."


"Tidak mungkin, itu bukan buatan manusia!" jawab Gandring dengan cepat.


"Baiklah, kalau begitu ciptakan 100 pedang level 255 tingkat Epik. Aku akan menyediakan bahannya dan memberikan bayaran diawal." Blue menantang Gandring membuat 100 pedang tingkat Epik.


Ganding merenung menghitung segala kemungkinan. "Baiklah, aku membutuhkan 1000 bahan untuk membuat 100 pedang Epik."


"Jangan bercanda, aku kesini supaya tidak mengganggu produksi senjata Fairy Dance. Aden saja bisa menciptakan 100 pedang tingkat Epik dengan 250 bahan!" seru Blue dengan suara sedikit keras.


Gandring tidak percaya dengan perkataan Blue. "Tidak mungkin, jika kau mengatakan kebenaran aku bersumpah akan melayani Fairy Dance!" bentaknya dengan nada tinggi.


Blue tersenyum tipis, ia masih memperlihatkan ekspresi mengejek. "Ikuti aku!"


Blue menggunakan Gate untuk menjangkau Desa Koral. Gandring segera masuk dan mencari orang yang sangat dibanggakan Blue.


Aden bekerja dengan serius, ia tidak memperhatikan kedatangan tuannya. Senjata diproduksi secara masal, Aden sangat fokus memukul besi panas dengan alat yang sudah cukup canggih.


Beberapa Robot yang menganggur juga bekerja sebagai buruh dan tukang angkat di bengkel Desa Koral.


Gandring membelalakkan matanya ketika melihat semua pedang berhasil dibuat dengan sangat baik. Tingkat pedang paling buruk yang dihasilkan Aden adalah Langka, dengan 250 bahan ia bisa menciptakan lebih dari 100 pedang epik.


"Apa sekarang kau percaya?" tanya Blue dengan senyum tipis. Ia merasa telah menjebak Gandring dengan sangat baik, makanya ia bisa mendapatkan jasa salah satu pandai besi hebat.


"Alat apa yang mereka gunakan, bagaimana bisa sangat kuat?" tanya Gandring yang tidak pernah menggunakan pemukul yang begitu besar.


"Inilah kemajuan teknologi, aku akan membuat semua orang disini bisa menciptakan pedang dengan lebih cepat serta tidak mempengaruhi jiwa pembuatnya."


"Jiwa pembuat?"


"Jiwa seorang pandai besi masih diperlukan untuk membuat sebuah senjata. Jika Aden tidak fokus, pedang yang ia hasilkan akan lebih buruk dari Langka."


Gandring kagum dengan keberadaan Aden yang begitu fokus ketika membuat senjata. Meskipun ia harus menuruti perkataan tuannya, Gandring merasa pengetahuannya masih di bawahnya.


Blue mengerti apa yang dipikirkan Gandring. "Mereka hanya bekerja 8 jam, setelah jam kerja mereka bebeas melakukan eksperimen penempaan besi."


Ekspresi Gandring menunjukkan ketidak percayaan, wajarnya pandai besi bekerja 15 jam setiap hari. Namun Blue menyatakan bahwa ia mempekerjakan pandai besi hanya 8 jam.


"Bagaimana kalian mencukupi kebutuhan seluruh kota hanya dengan satu pabrik?" tanya Gandring.


"Makanya aku membutuhkan jasamu, aku berencana membuat pabrik baru di Desa Abidzar. Aku yakin kemampuan penduduk lokal sepertimu lebih baik daripada Aden dari ras kurcaci."


Blue berani mengatakannya karena ia yakin bahwa para ras kurcaci tidak mudah tersinggung. Mereka mengutamakan kerja dan menghidupi keluarganya dengan baik.


Sekarang para kurcaci yang bekerja di bengkel Fairy Dance lebih dari 350 orang. Kerja mereka sangat baik, makanya Jessica bisa memutar uang Fairy Dance dengan sangat baik.


"Aku akan menunggu Aden menyelesaikan tugasnya dan menentukan keputusanku!" ucap Gandring.


Blue tidak percaya Gandring tidak langsung menepati janjinya. "Bukannya kamu bersumpah akan mengikuti Fairy Dance jika aku menunjukkan ini?"


"Aku lebih baik mati daripada mengikuti orang yang salah."


Blue tidak bisa melakukan apapun, mungkin Gandring mati di kehidupan sebelumnya karena sifat keras kepala yang dimiliki.


Melihat Gandring yang serius menatap pembuatan Aden, Blue segera meninggalkannya dan menuju bangunan guild Fairy Dance.


Blue melihat bangunan yang sangat megah dengan ornamen emas. Ditambah lagi adanya simbol yang cukup kuat.


Seorang wanita cantik menghampirinya. "Bos, sangat jarang melihatmu di kota."


Wanita itu tidak lain adalah Nidia yang ingin melaporkan kemajuan desa miliknya. Tentu saja laporannya harus diserahkan secara manual ke Jessica.


"Iya, aku sedang santai. Apa kamu punya waktu hari ini?" tanya Blue cukup berani.


"Dunia nyata apa disini?"


"Ya disini, aku sudah lama tidak berkeliling Desa Koral. Bagaimana jika kita berkeliling?" tanya Blue dengan wajah polos.


Disisi lain Nidia tersipu mendengar pria idamannya mengatakan sesuatu yang paling diinginkan seluruh wanita di dunia.


Meskipun sebagian besar penduduk dunia hanya mengetahui Leon, para pemain yang tahu seberapa hebat Blue pasti akan mendambakan jalan bersamanya.


"Ten... Tentu."


Nidia langsung berlari ke ruangan Jessica dan segera pergi. Padahal Jessica ingin mengatakan sesuatu.


"Memangnya apa yang membuatnya begitu terburu-buru." Jessica membuka jendela ruangannya, ia melihat Blue dan Nidia berduaan.


"Hei, bukankah ini terlalu cepat," lanjutnya sambil tersenyum manis. Ia merasa senang karena bosnya sekarang meluangkan waktu untuk mencari pasangan.


Amelia yang muncul entah dari mana duduk. "Bukankah kau yang harusnya khawatir, umurmu sudah cukup untuk menikah."


Jessica melirik Amelia yang seumuran dengan bosnya. "Ais, jangan mengejekku. Pernikahan dan jodoh itu sudah ada yang mengatur."


"Terserahlah, lihat ini. Aku punya berita yang mengejutkan untukmu."


Amelia memberikan dokumen penting yang ia dapatkan dari Divisi mata-mata. Dokumen itu menyatakan bahwa Keluarga Gong telah berhasil menggandeng 7 sesepuh di Benua Timur.


Jessica duduk di sofa. "Memangnya aku peduli dengan itu, selama kita tambah kuat tidak ada masalah yang akan terjadi."


"Guruku mengatakan kita setara dengan prajurit paling biasa di pasukannya. Artinya masih jauh dari kata kuat, apa kau tahu apa artinya?" tanya Amelia dengan ekspresi serius.


"Yah, artinya kita sangat lemah sampai tidak perlu diperhatikan."


Jessica dan Amelia tidak tahu pasukan Harimau Putih sudah berdiri sebelum perang Ragnarok di dunia nyata. Artinya prajurit paling biasa mereka berumur ratusan tahun.


Namun dua wanita di ruangan itu mengatakan mereka sangat lemah.


Blue dan Nidia menghabiskan waktu berkeliling Desa Koral. Sesekali mereka berhenti untuk melihat taman dan permainan yang sama persis dengan dunia nyata.


"Wah aku sudah lama tidak melihat mesin capit. Mau main?" tanya Blue menunjuk mesin capit boneka.


Nidia membusungkan dada dan mengatakan, "Aku adalah ahli di bidang ini. Lihat dan pelajarilah!" ucapnya dengan penuh percaya diri.


Koin perak langsung dimasukkan, tangan kanan Nidia segera menggerakkan capit. Dengan senyum manis ia menekan tombol tarik. Sayangnya bonekanya jatuh sebelum di bawa ke kotak pengambilan.


Blue merasa ini sudah waktunya unjuk gigi. Meskipun sudah lama tidak bermain, Blue mempunyai perhitungan matang tentang setiap kejadian.


Jadi ia memperhitungkan kemiringan dan kekuatan capit, tangan kirinya yang menekan tombol tarik terdengar pelan. Boneka berwarna biru laut berhasil di dapatkan dengan sangat mudah.


"Sepertinya aku harus melukai kepercayaan dirimu itu," ucap Blue sambil merogoh tempat penerimaan boneka. Tidak lupa ia memberikan boneka itu pada Nidia yang ada di sampingnya.


"Terima kasih," kata Nidia dengan suara pelan.


"Ayo cari mainan lainnya." Blue menarik pergelangan tangan Nidia, mereka bermain dengan senyum yang terus terpancar di wajahnya.


Sampai akhirnya hari sudah mulai sore, Blue harus memastikan Gandring pulang ke Desa Abidzar. Jadi ia harus kembali ke bengkel Aden.


Nidia masih memegang boneka biru laut pemberian Blue. "Aku yakin jika menjualnya pasti mendapatkan uang yang sangat banyak. Apa yang aku pikirkan, mindset Jessica sudah mengalir ke otakku!"


Setelah menggerutu aneh, Nidia segera ke portal antar kota dan kembali. Ia bertekad tidak akan menjual boneka yang ia dapatkan hari ini.


Disisi lain Blue tidak merasakan apapun, ia hanya mengisi waktu santai tanpa memperhatikan sekitarnya. "Aneh, mengapa aku tidak merasakan apa yang aku rasakan dulu. Sudah lupakan saja."


Kakinya terus melangkah ke bengkel Aden untuk memeriksa Gandring.