Domain Dewa : Penguasa Benua

Domain Dewa : Penguasa Benua
Hutan Gelap


Blue tidak bisa masuk Dunia Buatan meskipun sudah menjadi sangat kuat. Ia sadar bahwa kekurangannya bukan mental atau konsentrasi, tetapi ada larangan khusus.


Karena masalah bandit penyerangan sudah selesai, Blue melanjutkan perjalanannya. Yami dan Rafaela masuk ke Dunia Buatan untuk mengambil pelatihan tertutup.


Liem dan Kitty juga melakukan yang sama, mereka merasa sudah tertinggal oleh Raul dan Drakula. Meskipun tidak dikatakan, Blue bisa merasakan kompetisi diantara keduanya.


"Sekarang jadi sangat sepi." Blue menghela napas untuk menenangkan dirinya. Sekarang ia hanya berjalan bersama Moris, Agni, dan Yuri.


"Tuan, apa kita memang butuh pasukan lagi?" tanya Moris yang melihat sosok serigala gunung muncul dan menghilang sesuka hatinya.


"Semakin banyak semakin baik." Blue melanjutkan langkahnya tanpa menoleh ke arah Moris yang masih terkagum pada Raul.


Agni mendekati Blue dan menarik lengan bajunya. "Master, apa aku bisa menjadi kuat seperti dua orang tadi?"


"Tentu saja, tunggu beberapa tahun dan kau akan menjadi sekuat mereka."


Blue baru sadar, Agni hanya melihat Raul dan Drakula. Bee yang berjuang menggunakan keterampilan cahaya dilupakan.


"Hei bocah sialan, apa kau tidak menganggap pangeran ini!" teriak Bee dalam wujud lebah gendut.


"Lebah Gendut, jangan berbangga diri. Kau tidak melakukan apapun sejak tadi!"


Keduanya bertengkar tapi tidak ada kekerasan, Blue membiarkannya karena itu bisa menyamakan bahwa dia tahu ada yang mengintai.


"Sepertinya Hades juga tidak bisa diam!"


Kematian Dewa Ebisu membuat Hades harus berpikir dua kali, ia mengembangkan mahkluk cimera untuk membantunya mengalahkan Zeus. Namun beberapa eksperimennya dikalahkan oleh sekelompok manusia tak dikenal. Kali ini Hades pergi untuk memeriksanya sendiri.


Blue dan Hades tidak mau bertindak gegabah. Meskipun Blue yakin bisa menang dengan mengorbankan banyak orang dari Dunia Buatan. Namun itu saja belum cukup membuatnya aman, bisa jadi Osiris atau kekuatan lainnya akan memanfaatkan situasi dan menghancurkan pasukannya.


Yami sudah menjadi pengawalnya, jika Blue mati Yami juha akan menghilang dari dunia untuk selamanya. Mulai sekarang Blue harus hati-hati dalam bertindak.


"Jangan bilang kau masih belum tahu Para Dewa bisa dihidupkan lagi setelah mati?" ucap Bee yang melirik Blue.


Meskipun tidak mengucapkannya secara lisan, Bee paham kekhawatiran Blue tentang orang yang berpihak padanya. Hades dan pasukannya sudah mengakar di Pengadilan Surgawi, tidak mudah untuk mencabutnya.


Begitu pula dengan Osiris yang sudah menjadi dewa kehidupan sekaligus orang terpandang. Menghadapinya secara langsung akan menjadi pilihan yang buruk.


Belum lagi jika Zeus dan Odin keluar dari istananya untuk mengacau, Blue dapat dipastikan akan sangat menderita.


"Ya, aku tahu. Tapi apa kau melihat jiwa Yuji yang masih tersisa?"


Pertanyaan Blue mengarah pada kemungkinan terburuk, jika saja salah satu dari musuhnya mempunyai keterampilan yang dapat memakan jiwa. Maka pasukan Blue tidak akan bisa dibangkitkan.


Bee diam, ia juga tahu kemampuan tuannya sangat istimewa. Namun tidak menutup kemungkinan ada orang lain yang memilikinya.


Setelah beberapa saat berjalan menyusuri hutan lebat, Blue akhirnya sampai di sebuah desa bernama Hutan Gelap.


Sesuai dengan namanya, desa ini tidak mempunyai lampu yang terang ketika malam hari. Informasi mengatakan bahwa Hutan Gelap adalah sarang dari segala kejahatan di tanah dewa.


Blue tidak mau mengungkap identitas aslinya, ia memilih untuk menyuap petugas yang ada di depan gerbang.


"Tuan anda sungguh sopan dan pengertian. Silahkan masuk."


Dua penjaga gerbang memperbolehkan Blue dan 3 rekannya masuk tanpa kartu identitas. Tidak ada yang memperdulikan keberadaan mereka berempat, semua orang sibuk dengan bisnisnya sendiri.


Hades sudah terlalu jauh menginjakkan kaki di kekuasaan Osiris, ia tidak mau mengambil resiko masuk ke Desa Hutan Gelap.


"Tikus itu pintar menyembunyikan diri. Ayo kita lihat berapa lama kau bisa bertahan!" gumam Hades dari kejauhan.


Hutan Gelap mempunyai tingkat kejahatan yang sangat tinggi. Banyak perdagangan budak maupun permintaan pembunuhan.


Blue datang kesini dengan tujuan membawa beberapa orang yang pantas untuk melayaninya. Selama ada uang, Blue pasti bisa mendapatkan orang yang diinginkan.


"Untuk ukuran bocah kau sungguh berani datang kesini bersama pelayanmu!" kata salah seorang pria berbadan kekar.


Blue sebenarnya tidak mau menanggapi, tetapi dua orang itu terus mengganggunya untuk jalan. "Apa kalian bosan hidup?"


"Oh takutnya, Tuan Muda tolong selamatkan aku!" kata salah satu pria kekar dengan nada mengejek.


Moris yang tidak tahan mendengarnya langsung bergerak. Kedua telapak tangannya meremas muka kedua pria kekar, seketika kepala keduanya menghilang.


Pembunuhan sudah biasa terjadi di Hutan Gelap jadi orang di sana hanya menoleh kemudian melanjutkan perjalanan.


Blue melirik ke arah Moris yang lepas kendali dan membunuh kedua pria tersebut. Padahal ia ingin memanfaatkan keduanya menjadi penunjuk jalan.


"Ayo pergi!"


Meskipun diabaikan, semua orang melihat dan menghafal wajah Blue dan kelompoknya. Hal ini lumrah dilakukan di Hutan Gelap.


Untuk memancing umpan besar paling cocok di tempat perjudian, Blue menyuruh Moris dan semuanya berkeliling.


"Jangan membuat keributan, kita disini hanya sementara." Blue memberikan peringatan kedua, tapi ia tidak yakin Moris bisa menahan diri diperlakukan tidak sopan.


"Baik, Tuan."


Moris, Agni, dan Yuri berkeliling. Mereka mengumpulkan informasi dan membeli beberapa peralatan yang dibutuhkan.


Blue berjalan menuju tempat perjudian laga tarung. Di tempat ini akan ada dua budak yang dipertandingkan, penonton bisa memasang taruhan berupa Batu Mana atau Batu Dewa.


Perlu diingat, Batu Dewa adalah sebuah benda berharga untuk meningkatkan kekuatan seseorang. Blue tidak memilikinya, tapi ia sudah puas dengan beberapa batu mana.


Pasalnya Batu Mana dan Batu Dewa cenderung sama, bahkan masyarakat di Tanah Dewa lebih memilih Batu Mana karena lebih lembut energinya.


Blue duduk di tempat penonton, tidak ada yang tahu siapa identitas aslinya. Ia melihat dua petarung yang akan bertanding, tanpa ragu Blue memasang taruhan pada angka 98.


"Hadirin sekalian, mari kita sambut Petarung Nomor 76!"


Pembawa acara memberikan penyampaian yang meriah, penonton yang mendengarnya langsung berteriak histeris. Banyak dari mereka yakin nomor 76 akan menang.


"Penantang kali ini tidak kalah keren, dia Nomor 98!"


Blue baru sadar para budak itu tidak punya nama, mereka hanya menyebutkan nomor urutnya. "Ini akan menjadi pertandingan yang menarik!" gumamnya pelan.


Seorang pria gendut menghampirinya. "Hei kawan, bagian mananya yang menarik. Jelas nomor 76 akan membantai pria cungkring itu!"


Blue menggunakan Mata Dewa, tetapi Sistem Merah tidak menampakkan dirinya lagi. Sudut bibirnya tersenyum manis karena semua informasi dari pria didepannya langsung masuk ke pikirannya.


"Tuan muda salah. Kali ini pria cungkring itu akan menang."


Pria gendut yang membawa 5 pengawal itu adalah Tuan Muda dari Kerajaan Sam atau tempat Osiris bersembunyi.


"Jangan bercanda, kawan."


"Apa anda mau taruhan pribadi?" tanya Blue sambil mengeluarkan 20 Batu Mana berwarna Kuning.


Untuk orang biasa Batu Mana itu tampak sangat istimewa. Namun bagi Blue batu itu hanya segenggam sampah di ruang penyimpanannya.


"Bagus, ayo bertaruh!"


Tuan Muda dari Kerajaan Sam itu terlihat sangat antusias. Dia mengeluarkan 20 Batu Mana Kuning untuk dijadikan taruhan.


Blue masih sedikit bingung mengapa tuan muda sam yang mempunyai pamor religius bisa berada di tempat seperti ini. Namun ia tidak bisa membuang kesempatan sedikitpun.


Bisa jadi Osiris dan Kerajaan Sam tidak memiliki hubungan yang jelas layaknya Damaskus dan Pengadilan Surgawi.