
Blue menggangguk dan memberikan kode pada Leon. "Ayo!" katanya dengan penuh semangat.
Blue dan Leon bergerak bersamaan, Dual Secret Sword di lempar ke langit. Kedua tangan Blue mengepal dan tinjunya segera terbang ke Dewa Asura.
Kecepatan Blue memang tidak sebanding dengan Asura saat ini, tapi pengalamannya bertarung selama 50 tahun bukan hal yang bisa diremehkan.
Lengan sekaligus cakar Asura berayun mengarah ke Blue. Daya hancurnya tidak main-main, tanah yang sudah hancur beterbangan. 4 sayatan cakar menghancurkan setiap garis serangnya.
Blue mengetahui setiap sayatan cakar punya celah, ia memaksakan dirinya masuk di celah itu.
Tinjunya langsung mengarah ke wajah Dewa Asura. "Jangan ribut sialan!" teriak Blue pada Asura yang terus mengeram.
Meskipun tidak dapat menerbangkannya, Blue cukup puas dengan pukulannya. Karena Efek Weapon dan Armor Break berhasil dipicu.
Leon seperti seorang samurai mengayunkan pedangnya secara vertikal dari jarak 100 meter. Tidak ada yang menyadari posisinya kecuali Blue, jadi ia bisa bebas menggunakan ketrampilannya.
Sayatan yang lebih besar dari cakar aura tercipta. Serangan itu mengarah langsung ke Dewa Asura yang baru terkena efek buruk.
Matanya melebar dan sayatan itu berhasil menghantam wajahnya, Asura hanya bisa berteriak kesakitan. "Agh, apa yang kau lakukan padaku manusia!" teriaknya.
Blue juga sedikit kaget dengan kekuatan yang baru di tampilkan. Kemampuan itu hampir mirip dengan Dewa Cahaya, tetapi ayunannya di bungkus demgan selamat Teknik Jiwa. Bisa dibilang Leon adalah penerus Dewa Cahaya atau mungkin Dewa Cahaya itu sendiri.
"Jangan menganggapku terlalu tinggi," ucap Leon sembari melirik Blue yang sempoyongan karena menghindari gelombang anginnya.
"Anak singa, kau berniat membunuhku, kan?" tanya Blue dengan nada sedikit kesal.
Anggota Fairy Dance semakin aneh, Qin Huang menembakkan meteor panah tanpa melihat ada dirinya dibawah. Kemudian Leon menggunakan keterampilan aneh menyerang ke arahnya, Blue curiga ia sebenarnya hanyalah samsak serangan mereka.
Asura bangkit, ia hanya kehilangan 1% HP dari gabungan serangan sejak tadi. "Kau berhasil membuatku marah, Manusia Hina!"
Cola datang dan menampar kepala Asura dengan perisainya. "Anak anjing, jangan terlalu keras!" ungkapnya sambil tersenyum.
Sebuah cahaya berwarna wkwkw kecoklatan keluar dari perisai, Cola mengayunkannya kembali ke arah Asura.
Kepala Asura terkena serangan Cola kembali, anehnya ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya setiap kali terkena serangan perisai.
Leon dan Blue segera mengerti apa yang diinginkan Cola. "Baiklah, ayo!" kata keduanya bersamaan.
Blue melesat seperti anak panah yang baru lepas dari busurnya, ia berjalan lurus dan memberikan serangan tinju yang kuat. Disusul dengan Dual Secret Sword yang entah dari mana.
Berbeda dengan Leon yang berlari zigzag, dan tubuhnya tampak menghilang sementara. Teknik ini biasa digunakan Dewa Cahaya untuk mengelabui musuhnya.
Ayunan pedang Leon tampak sangat cepat, manusia biasa tidak akan bisa melihat ayunannya.
Sayatan tak kasat mata tercipta, tiba-tiba tubuh Asura terdorong dan kulitnya mengelepuas hingga mengeluarkan sedikit darah. Warna darah Asura tampak sangat berbeda dari manusia pada umumnya, warnanya merah kehijauan.
Blue langsung sadar akan sesuatu, ia berteriak pada Leon dan Cola. "Mundur!"
Sayangnya sudah terlambat, Asura sudah selesai dengan persiapan skillnya. Tubuhnya meledak dan memancarkan cahaya hijau.
Jika Venom melihat ini, mereka akan tahu ini adalah teknik terlarang mereka. Setelah menggunakan teknik ini, para Venom akan sepenuhnya mati. Bahkan Ayah Venom yang dikenal Blue tidak pernah menggukananya.
Namun ada sedikit keanehan, setelah menggukan teknik terlarang, Asura masih hidup sehat dan tidak terkena efek samping.
"Apa?" ucap Blue terkejut.
Namun setelah menggunakan teknik itu, wujud Asura menjadi serigala seutuhnya. Ia tidak lagi meninggalkan akal manusia. Hanya instingnya yang akan bermain dalam pertarungan kali ini.
Blue segera memeriksa teman-teman, ia hanya bisa membelalakkan matanya untuk kedua kalinya.
Leon menggunakan otoritas Dewa Cahaya untuk melindungi seluruh tubuhnya. Sehingga racun tidak bisa menginfeksi tubuhnya.
Cola juga tidak kalah, ia menggukan otoritas Dewa Bumi untuk mengeraskan seluruh benda disekitarnya. Termasuk kulitnya itu sendiri, sehingga racun tidak akan bisa hidup di dalamnya.
Sebuah rantai berwarna ungu muncul dari bawah Asura. Rina dengan kemampuan sihirnya berhasil menghentikan pergerakan Asura.
Tidak tanggung-tanggung, Rina menggabungkannya dengan teknik simbol yang sangat rumit. Blue sendiri tidak bisa menguraikannya dengan waktu singkat.
Cahaya berwarna ungu menjulang ke langit, Asura yang ada di dalamnya tidak bisa bergerak selamat sedikitpun.
"Manusia kau benar-benar tercela, menggukan kekuatan iblis!" teriak Asura dengan sekuat tenaganya.
Rina tersenyum tipis, perlahan senyumnya menjadi sangat jahat hingga iblispun takut melihatnya.
Blue dan Loen kembali beraksi, mereka memanfaatkan kesempatan yang ada dan menghancurkan semua.
Sebuah cahaya berwarna ungu muncul di kaki Blue, tinjunya lebih berat dari biasanya hingga Asura terlihat kesakitan.
Sayatan pedang Leon tidak seperti sebelumnya, meskipun kurang kuat ia menciptakan ratusan sayatan pedang dalam beberapa detik saja.
Pukulan demi pukulan di lancarkan, batas waktu simbol akan segera habis, Blue melompat kebelakang dan menarik Dual Secret Sword dari udara.
"Ekstrim Blade!" katanya menyebutkan keterampilan yang bisa menciptakan garis lurus berwarna putih terang.
Tubuh Asura tertembus dan kerusakan berwarna merah muncul di atas kepalanya. "Agh..." teriak Asura kesakitan, ia tidak bisa melemparkan kata umpatan karena sakitnya.
Meskipun sakit, Asura menikmatinya. Tanpa dirasa ia tersenyum tipis dan tertawa setelahnya.
HP Asura tinggal 20%, kekuatannya meledak sekali lagi. Ruangan dari mulutnya terdengar sangat menyakitkan telinga.
"Gelombang Kejut!" teriak Blue sambil melompat kecil dan langsung mengayunkan pedangnya.
20 sayatan pedang menerjang Asura yang masih kesakitan. Kerusakan berwarna merah terus muncul di atas kepalanya.
Leon tidak mau kalah, ia juga menggukan keterampilan pedang miliknya sendiri atau keterampilan buatan.
"Hiah!" teriak Asura yang berhasil keluar dari kekangan Rina.
Lina langsung menggunakan keterampilannya untuk melindungi rekan-rekannya. Aura yang dipancarkan Asura sangat kuat hingga HP setiap orang bisa berkurang otomatis.
Blue masih tetap berdiri tanpa bantuan Lina, ia punya banyak poin resistensi. Jadi tekanan Asura tidak akan berpengaruh pada tubuhnya.
"Ini sedikit sulit," ucap Blue sambil mengerutkan alisnya. Ia berkata begitu bukan karena ledakan kekuatan Asura melainkan karena ada tamu yang seharusnya tidak datang.
Sosok pria dengan pakaian serba hitam layaknya kesatria datang, armornya terbuat dari kulit naga. Orang-orang menyebutnya Dragon Slayer, Agnologia.
Dikabarkan dia adalah Raja dari para raja naga, karena terlalu kuat ia membantai rasnya sendiri.
Naga Angin yang merasakan sosok Agnologia langsung keluar daei Dunia Buatan tanpa dipanggil. Matanya memancarkan kebencian yang sangat dalam.
"Hoo, masih ada naga yang selamat!" ucap Agnologia.
Asura yang kehilangan kesadarannya langsung menyerang Agnologia karena paling dekat dengannya.
Agnologia yang merupakan seorang Dragon Slayer menangkap serangan Asura dengan satu tangannya.
"Lihatlah dirimu Asura!" kata Agnologia yang meremehkan kendali pikiran Asura.
Berkat perkataannya itu kesadaran Asura kembali pulih tapi kekuatannya masih sama.
"Sial!" ucap Blue yang tidak bisa membereskan Asura sebelum hal merepotkan lainnya datang.
Agnologia mengenakan armor yang terbuat dari sisik naga, padahal aslinya dia adalah naga jahat.
HP Asura tidak lebih dari 20% tetapi kesadarannya kembali pulih. Hal itu membuat kontrol kekuatannya meningkat drastis. Situasi ini sangat merugikan bagi timnya.
Namun sosok pria setinggi 2 meter membanting perisai ke tanah di depannya. Pria itu adalah Cola yang sudah siap bertarung sejak tadi.
"Jangan melupakan kami, Bos!" katanya tanpa menoleh kebelakang.
Blue memejamkan matanya sejenak. "Aku tidak pernah melupakan kalian, tapi kali ini akan lebih sulit!" katanya memperingatkan Cola dan semua teman-temannya.
Qin Huang muncul di belakangnya dan memainkan panahnya. "Jangan khawatir, aku sudah siap!" katanya memancarkan cahaya terang berwarna merah di matanya.
Untuk pertama kalinya Leon menarik pedang dari ruang penyimpanan. Kali ini dia bukan samurai murni, tetapi orang yang bernama Leon.
Gaya dua pedang terinspirasi dari Blue, tetapi Leon masih mempertahankan penggunaan Katana atau pedang bermata satu.
Rina muncul dari kabut berwarna ungu, ia hanya menganggukkan kepalanya. Lina juga turun dari langit menggunakan sayap seorang peri.
Naga Angin yang dari tadi menahan amarahnya langsung menyerang setelah penampilan Blue dan kawan-kawannya.
"Hei, sialan aku belum mengeluarkan kata mutiara!" teriak Blue yang kesal momennya di rusak Naga Angin.
Wujud Naga Sejati muncul, Naga Angin mengayunkan cakarnya dan menghancurkan setiap tanah di sepanjang garis serangannya.
Asura yang sudah mengembalikan kesadarannya melompat, ia tidak boleh kehilangan kesadarannya lagi.
Berbeda dengan Agnologia yang menerima serangan dari Naga Angin tanpa menggunakan keterampilan apapun.
Seranhan cakar naga mengenai Agnologia secara langsung. Ledakan besar memunculkan asab berwarna coklat.
"Sepertinya kau masih anak-anak, Naga Angin." Agnologia mulai kelihatan dari balik debu.
Bukan main-main, Agnologia tidak menerita kerusakan sedikitpun. Armornya jauh lebih keras dibandingkan dengan naga dewasa.
Untuk memastikan kemenangan, Blue harus mencari kelemahan dari Armor Naga milik Agnologia.
"Kau ingin mengetahuinya, Bocah?" tanya Agnologia melirik ke arah Blue yang memikirkan cara menembus armornya.
Sontak Blue tercengang mendengarnya, ia yakin belum mengeluarkan kata sedikitpun. Namun Agnologia bisa mengetahui niatnya yang di balut dengan ekspresi datar.
Karena Blue sudah cukup berpengalaman, ia segera sadar dan memantapkan pijakannya. "Seperti yang anda katakan, tentu saja sebagai musuh aku ingin mengetahui kelemahan Armor Naga molikmu!"
Agnologia tertawa terbahak-bahak hingga memegang perutnya. "Haha, bagus manusia. Kau sangat jujur hingga aku ingin membunuhmu paling akhir!"
Kedua mata saling memandang, Blue tidak mau terlihat lemah di hadapan Agnologia yang dikatakan bisa melawan Zeus ataupun Odin.
"Hah, lupakan saja. Aku datang bukan untuk bertarung, toh Asura sudah dibuang. Kedatanganku kesini memperingatkan kalian, Zeus sudah bergerak!"
"Terima kasih peringatannya, aku pikir kau juga bawahan darinya." Blue mencoba membongkar niat kedatangan Agnologia.
"Bawahan? jangan bercanda. Meskipun aku bukan Outer, setidaknya otoritas kami tidak jauh beda!" katanya sambil meninggalkan medan perang.
"Sialan!" umpat Blue yang kesal pada Agnologia. Padahal kematian Asura tinggal setitik lagi, tapi naga terbang itu membangkitkan kesadarannya kembali.