
Padahal Lucas belum memberitahu namanya, tapi pria berbaju biru di depannya mengetahui identitasnya.
Sebenarnya Lucas merupakan pria baik hati, sayangnya dia dianggap tidak punya bakat untuk menjadi raja.
Karena itu dia anak pertama dari 7 bersaudara, Lucas kehilangan posisinya sebagai putra mahkota di gantikan oleh adiknya.
Informasi ini Blue belum tahu, makanya ia hanya diam dan menyebutkan namanya. Sampai akhirnya Lucas menghela napas panjang dan membeberkan isi kepalanya.
"Sebenarnya aku sudah berusaha keras, tapi entah mengapa ayah tidak percaya padaku. Ditambah lagi bakat yang aku miliki hanya sampah!" kata Lucas mengumpat dirinya sendiri.
Blue tersenyum, ia sekarang punya kesempatan bagus untuk menarik sosok yang akan menjadi tokoh terkenal di masa depan.
"Aku tidak merasa kau lemah ataupun tidak berbakat."
"Kamu masih baru naik ke tanah dewa. Mana mungkin tahu perasaanku yang sudah ribuan tahun di tanah dewa. Apalagi sekarang semua adikku sudah naik ke tingkat tinggi, bahkan saudara keduaku sebentar lagi akan naik ke puncak."
Dewa Puncak bukanlah segalanya, masih ada sosok diatasnya yang menjadi maha kuasa, salah satunya adalah Zeus.
"Aku mengerti perasaanmu, sejujurnya aku hidup di lingkungan yang sangat kejam. Bakat yang terlalu rendah selalu menyelamatkan nyawaku dari bencana. Sebagian orang menganggap diriku bukan ancaman, tapi setelah semua jelas aku membalas perbuatan mereka!"
Blue memandang kosong ke arah arena pertandingan, ia mengingat kejadian ketika Shadow menendangnya dari kursi ketua guild. Kedua tangannya menggenggam dan aura membunuhnya sedikit bocor.
Lucas yang awalnya tenang merasakan teror yang amat menyakitkan. Untuk mempertahankan kesadarannya, ia melepaskan aura dewa untuk melindungi tubuhnya.
Melihat Lucas yang waspada langsung menyadarkan Blue. "Sepertinya aku terbawa suasana," katanya sambil melepas senyum manis ke arah Lucas.
"Haha."
Lucas tertawa canggung dan segera mengusap layar di depannya. Ia sedang memasang taruhan untuk laga langit.
Blue juga melihat pemberitahuan sistem yang menyatakan ia ingin ikut atau tidak dalam taruhan.
[Tentukan taruhan anda, pilih nomor peserta, dan nikmati kemenangan!]
Karena Blue punya data yang sangat akurat, tidak ada salahnya bermain sedikit untuk mencari uang. Perlu diketahui di tanah dewa tidak menggunakan koin emas, melainkan menggunakan Batu Mana.
Adanya Batu Bertuah membuat Blue secara alami sangat kaya di tanah dewa. Makanya ia mencoba mencari keuntungan dari liga langit.
Tangannya yang lihat langsung menekan 64 peserta yang akan menang, kali ini ia hanya menggunakan Batu Mana Kuning.
Lucas yang melihat pria gila di sebelahnya menghabiskan 32 Batu Mana Kuning hanya bisa menelan ludahnya. Meskipun banyak dia punya banyak batu mana, sebagian besar digunakan untuk latihan.
Blue melirik Lucas yang menggunakan 3 Batu Kuning untuk taruhan pada satu orang saja. "Mengapa kau tidak menaruh taruhan pada yang lain?"
"Terlalu boros, aku hanya memberikan taruhan pada peserta yang benar-benar kuat." Lucas tidak menyembunyikan pilihannya, ia menaruh taruhan di peserta nomor 23. Padahal Blue menaruh taruhan pada peserta nomor 24.
Ini akan menjadi menarik karena Blue sangat yakin peserta nomor 24 punya bakat dan keterampilan yang cukup mempuni.
Pertandingan langsung pecah, suara para penjudi di liga langit terdengar sampai ke seluruh ruangan. Mereka mempertaruhkan banyak Batu Mana untuk mendapatkan yang lebih banyak.
Berbeda dengan Blue yang masih punya banyak cadangan batu mana, ia memperhatikan pertarungan antara nomor 23 dan 24.
Siapa yang menyangka ternyata sesuai tebakan Lucas, peserta nomor 23 mendominasi pertarungan. Anehnya nomor 24 seperti sedang mengalah dalam pertarungan, ia mencoba memberikan kemenangan pada lawannya.
Blue mengirim pesan telepati pada peserta nomor 24. "Mengapa kau mengalah?"
Peserta nomor 24 segera melirik Blue yang duduk di atas tribun. "Urus saja bisnismu!" jawabnya dengan nada kasar.
Padahal Blue sedikit tertarik dengannya, sayangnya peserta itu menolak tawaran menarik untuknya sebelum mendengarnya.
"Baiklah, lakukan sesukamu."
Blue tidak bisa menyembunyikan senyumnya ketika 28 dari 32 taruhannya benar. Meskipun ada beberapa orang yang mengalah, Blue masih meraih keuntungan yang cukup mempuni.
Pada liga langit, semua taruhan akan dikalikan 50% untuk lantai satu, kemudian akan terus bertambah seiring bertambahnya lantai.
Untuk penduduk asli, mereka memerlukan undangan khusus atau bisa baik ke lantai atas dengan kekuatannya sendiri. Beberapa pangeran dari kerajaan lainnya juga pernah bermain liga langit, 100% diantaranya naik ke lantai 5 dengan mudah.
Berbeda dengan Lucas yang selalu mendapatkan lawan keras. Ia merasa bahwa seseorang sudah mempersiapkan itu sebelum pertandingan, itulah mengapa sekarang ia terdampar di lantai 1 dan bermain judi.
"Yes, aku menang kawan." Lucas membanggakan dirinya karena mendapatkan 4 batu mana kuning dan 50 batu putih.
Melihat Blue mendapatkan banyak batu mana membuatnya geram. "Sombong!"
"Haha," tawa Blue terdengar cukup keras.
"Bolehkan aku bertanya apa sebenarnya kegunaan batu mana di tanah dewa?" tanya Blue dengan suara pelan.
Menurut ingatannya, tidak ada satupun dewa yang menggunakan senjata sihir. Mereka bertarung dengan senjata yang ada di tangannya, bahkan beberapa diantaranya menggunakan tinjunya.
"Batu Mana digunakan untuk menarik energi dewa, setelah menghancurkannya bakat individu yang akan berperan penting dalam penyerapan."
Lucas tanpa sadar menceritakan masalah yang menimpanya. Ternyata hampir semua titik penyerapan di tubuh Lucas tersumbat, hal itu menyebabkan penyerap energi dewa turun hingga 90%.
Meskipun sudah berlatih ribuan tahun, Lucas hanya menjadi seorang dewa menengah. Penyebabnya belum diketahui, padahal waktu kecil ia membuka 99 jalur penyerapan.
Blue tidak bisa memberitahunya secara langsung, ia mencoba memanfaatkan momentum dan memberikan jalan.
"Aku tidak tahu mengapa kalian fokus pada satu kekuatan. Padahal dunia ini sangat luas, inilah yang menyebabkan kalian tidak pernah bisa menang melawan Zeus!"
Perkataan Blue berhasil menyentuh alam bawah sadar Lucas yang mulai memberontak dengan metode pelatihan. Tubuhnya bergerak otomatis dan menepuk pundak Blue.
"Aku akan membayar berapapun, ajarkan aku caramu menjadi kuat!"
Blue tersenyum manis melihat Lucas bersemangat untuk menjadi kuat. "Aku tidak perlu uang ataupun batu mana, yang aku butuhkan rekan yang dapat membantuku."
Lucas langsung menjadi serius, ia tahu Blue baru saja naik ke tanah dewa. Namun sudah ada musuh yang harus disingkirkan.
"Bandit mana yang harus aku singkirkan."
"Jangan terlalu bodoh, kau tidak akan bisa menahan jentikan jarinya."
"Siapa dia?"
"Zeus!"
Seketika Lucas langsung terdiam mendengar pria didepannya ingin berurusan dengan penguasa tanah dewa.
Setelah beberapa saat berpikir jernih, Lucas mulai sadar. "Apa kau yakin dengan perkataanmu?"
"Tentu saja aku yakin."
Tepat setelah Blue menjawab, pemberitahuan sistem yang menyatakan taruhan untuk pertarungan 32 besar akan segera dimulai. Blue dengan cepat memasang taruhannya pada 16 peserta potensial.
Berbeda dengan Lucas yang memilih nomor 23 untuk kedua kalinya. Sekali lagi Blue dan Lucas memilih dua orang yang berbeda dalam satu arena.
Blue hanya bisa menghela napas, ia tidak bisa mengendalikan pertandingan di dalam arena. Hal yang mungkin dia lakukan adalah memberikan instruksi.
Namun memberikan instruksi dari telepati tidaklah etis. Jika diketahui oleh panitia, sanksinya sangat berat. Jadi Blue memilih untuk tetap diam dan melihat pertandingan dimulai.
Tidak butuh waktu lama untuk mengalahkan musuh nomor 23. Blue hanya bisa tersenyum kecut karena datanya benar, tetapi ada suatu yang janggal dalam pertarungan.
16 peserta yang lolos ke babak selanjutnya langsung berdiri di arena masing-masing. Mereka tidak boleh menggunakan serangan fisik untuk memenangkan pertarungan.
Bukannya marah, Blue malah tersenyum dan memikirkan beberapa rencana licik untuk membawa mereka yang kurang baik dalam sihir.
Pertandingan hari ini dimenangkan nomor 23, Blue bisa memastikan bahwa liga di lantai pertama tidaklah menarik. Karena ada banyak kejanggalan yang memberikan nomor 23 kemenangan instan.
Karena penasaran Blue mengikuti nomor 23 ke manapun dia pergi. Karena ada Langkah Hantu, keberadaan Kitty dan Liem juga tidak diketahui musuhnya.
Sampai akhirnya pria nomor 23 mendatangi sosok pria besar mengenakan jaket putih dan kacamata berwarna biru.
"Bagaimana? Mudahkan?"
"Aku sudah membayar sesuai permintaan, aku akan segera datang lagi karena ada pengacau di luar."
Pria nomor 23 segera pulang ke rumah dan memberikan obat pada ibu angkatnya yang sakit di rumah gubuk seperti itu.
Tidak ada yang tahu asal-usulnya, tetapi ibu angkatnya memberikan kasih sayang dan cinta dibandingkan ayahnya. Hal itu membuat Lucas tersentuh untuk ke sekian kalinya
Ternyata bayaran untuk membuat mereka naik tidaklah mahal. Blue baru tahu karena banyak peserta yang memberikan suap.