
Tidak ada yang tahu mengapa para titan diam, Blue yang bersusah payah bersikap santun dibuat tercengang.
Bee muncul di sebelahnya. "Ada betapa banyak kartu yang dia miliki?"
Blue menoleh ke arah Bee. "Tidak tahu, setidaknya kita bisa lolos dengan cukup mudah kali ini."
Cyclop yang berlutut juga tidak percaya dengan matanya, ia melihat sosok peri kecil yang bisa di bunuh dengan jentikan jari memarahi Raja Titan.
Eka dan & Dwi tidak peduli dengan situasinya, mereka merupakan keturunan titan jadi simpatiknya tidak berfungsi dengan baik.
Blue mendekat, ia mencoba menjelaskan lagi apa tujuannya. "Raja Titan, jika anda tidak berkenan bersama kami, tolong izinkan kami melewati lantai ini."
Ela berhenti memarahi Raja Titan dan segera terbang ke pundak kanan Blue. "Kuncinya ada di kepalanya! kalau tuan ingin, aku bisa membunuhnya dan mengambilnya."
Cyclop dan para titan lainnya mungkin menganggap itu sebuah candaan. Namun Raja Titan berpikir lain, ia merasa kata-kata tadi bisa terjadi. Pasalnya insting Raja sudah terasah tajam, jadi ia bisa merasakan perkataan Ela bukan bohongan.
"Hei tenanglah makhluk kecil, aku belum menentukan keputusan." Raja Titan mengangkat kedua tangannya sejajar dengan dada. Ia tersenyum kecut tampak jelas sedang menyembunyikan sesuatu.
Para titan segera mengerti, mereka diam dan menundukkan kepala. Jika Raja Titan bersikap seperti itu, artinya makhluk kecil itu punya sesuatu yang istimewa.
"Kecilkan tubuhmu manusia besar!" teriak Ela memberikan peringatan. Ia tahu bahwa bangsa Titan bisa menyesuaikan tubuhnya dengan lingkungan.
Raja Titan tidak menolak, ia mengubah wujudnya menjadi manusia pada umumnya. Layaknya Eka dan Dwi, Raja Titan punya rambut panjang sepunggung berwana merah kehitaman.
"Mari bicara baik-baik, ini kuncinya." Raja Titan memberikan kunci lantai 5 dengan mudahnya. Hal itu karena Ela yang terus mengoceh dan cerewet di hadapan Raja Titan.
Bee dalam wujud lebah gendut segera duduk di kepala Blue. Ia tampak menyilangkan kedua tangannya.
"Ini sangat aneh, mengapa seorang raja menuruti perkataan juniorku!" katanya penuh percaya diri.
Elvy dengan wujud marmut salju muncul di pundak kiri Blue. Ia tampak sedang menyisir bulu saljunya, ia sedang memainkan peran putri yang anggun.
Raja Titan tidak bisa menggunakan sihir atau apapun yang bisa menilai kekuatan orang lain. Namun ia punya insting yang sangat kuat sehingga bisa merasakan bahwa Bee dan Elvy hanya semut.
Namun beda dengan Ela yang bisa memaksa dirinya untuk bertekuk lutut. Meskipun Titan bukan pengecut, mereka sekarang hanyalah bangsa kecil yang bisa punah kapan saja. Jadi Raja Titan harus mengambil keputusan yang terbaik.
"Kau tidak layak menanyakannya!" ucap Raja Titan dengan nada sombong.
Blue bisa menyadari bahwa Raja Titan hanya menuruti Ela. Tanpa mengatakan apapun, Blue melepaskan Teknik Jiwa.
Aura berwarna hitam menyelimuti tubuhnya, matanya berubah warna menjadi kemerahan. Tubuhnya mengeluarkan asap hitam yang sangat mengintimidasi.
Teknik yang dilepaskan Blue lebih mengerikan daripada aura Ela, Raja Titan segera mundur dua langkah. Dia tidak mengerti mengapa manusia bisa punya kemampuan yang begitu misterius.
Seperti yang diduga, Blue menemukan petunjuk ketakutan Raja Titan. Teknik Jiwa tidak hanya mengancam jiwa seseorang, tetapi bisa memakan jiwa para titan.
Sudut bibirnya terangkat, Blue segera melangkah. Bee dan Elvy segera mengerti dan melepaskan teknik jiwa. Meskipun mereka berdua tidak menguasai sepenuhnya, setidaknya mereka satu tingkat di bawah Ela.
Raul dan Drakula muncul dalam wujud serigala dan kelelawar, keduanya juga melepaskan teknik jiwa.
Cyclop yang melihatnya langsung gemetar, tanpa sadar dia ketakutan hingga keringat bercucuran di pelipisnya.
Blue dan semua rekannya bisa menggunakan teknik jiwa. Eka dan Dwi tidak mau kalah, mereka mempraktikkannya juga.
Aura hitam keunguan mengitari seluruh area disekitarnya. Para titan yang tidak kuat menahan tekanan langsung berlutut.
Raja Titan tidak mau membuang harga dirinya, ia bertahan sekuat tenaga. Walaupun instingnya mengatakan ia harus berlutut, ia melawannya.
"Apa ini sudah cukup?" tanya Blue sembari menarik tekanan Teknik Jiwa. Diikuti semua rekannya termasuk Eka dan Dwi.
Raja Titan mengangguk tanpa mengeluarkan kata-kata, ia tidak mau mengeluarkannya karena takut suaranya bergetar.
Blue mengangguk pelan, ia mendekati Raja Titan dan mengambil kuncinya. "Aku anggap ini sebagai pertemanan diantara kita."
"Ya, katakan saja seperti itu."
Sosok wanita keluar dari dunia buatan, ia langsung berlutut di depan Blue.
"Bos, Monster Api kehilangan kendali tubuhnya. Anda harus segera mengeluarkannya," katanya dengan suara gemetar.
Ini pertama kalinya Emma gemetar ketakutan, posisinya sekarang menggantikan Tobias yang telah gugur. Jadi kekuatannya tidak bisa diragukan lagi.
Blue tanpa peringatan langsung memanggil, "Monster Api datanglah!"
Monster Api segera keluar dalam wujud aslinya, tubuh yang dipenuhi api menghanguskan setiap lingkungan disekitarnya.
Monster Api terlalu cepat berkembang, hal itu karena Teknik Jiwa mempengaruhi pengetahuannya.
Monster Api hanya setia pada Blue, jadi ia langsung menjawabnya. "Kekuatanku meluap terlalu banyak, aku harus segera melepaskannya."
Blue menoleh ke kanan dan menunjuk sebuah gunung yang penuh dengan lava panas. "Lepaskan saja, Tartarus sangat kuat."
"Baik."
Monster Api mengepalkan tangannya, mulutnya terbuka perlahan dan sebuah bola energi memadat didepannya.
Seperti halnya Naga Angin, Monster Api melepaskan kekuatannya dari mulut Hewan Purba.
Lingkungan di sekitar tampak sangat terang hingga membuat mata para titan kesakitan. Raja Titan yang penasaran memaksakan matanya untuk melihat apa terjadi.
Bola api yang bersinar terang di makan, sinar terang segera menghilang digantikan kegelapan. Segera setelah memakannya, Monster Api menembakkan energinya.
Bola hitam yang melesat sangat cepat menghantam gunung lava. Tepat setelah bertabrakan, ledakan super besar menghempaskan semua makhluk yang ada di lantai 6.
Bahkan Raja Titan yang sangat kuat terbawa arus energi dan terpental beberapa kilometer. Blue tidak jauh berbeda, ia langsung menarik Bee dan lainnya.
Sembari membungkukkan badannya, Blue berguling-guling hingga beberapa kilometer jauhnya. Sayap hitam melindungi seluruh tubuhnya, ia tidak terkena kerusakan sedikitpun.
"Ini gila." Blue bergumam pelan, ia melihat titik tembakan.
Gunung lava yang awalnya berdiri tegap menghilang, bahakan lava di tengahnya menguap. Kekuatan panas Monster Api melebihi lava, itu sedikit mengejutkan untuk para Titan dan Blue sendiri.
Disisi lain Monster Api malah bersendawa. "Huh, akhirnya sedikit lebih tenang," katanya sembari menoleh ke kanan dan kiri.
Raja Titan belum menutup matanya sejak tadi, ia bisa melihat kerusakan yang dihasilkan Monster Api sama seperti perang Ragnarok.
Kenangan kekalahan Titan terbayang di benaknya, Raja Titan tiba-tiba merasa sangat malu karena kalah dengan pasukan manusia.
Monster Api segera mendekati Blue yang menggunakan wujud sempurna. Blue mengenakan jubah api emas, serta 8 sayap muncul di punggungnya.
Rambut Arief berubah menjadi putih sepanjang punggung, matanya berwarna merah darah, serta tubuhnya tampak sangat kekar.
"Apa itu tadi?" tanya Blue pada Monster Api.
"Overflow, itu yang bisa aku katakan. Entah apa yang mendorongku untuk mengatakan itu Overflow." Monster Api menjelaskan kejadian aneh yang terjadi dalam tubuhnya.
Setelah mempelajari dan mempraktikkan teknik jiwa, ia mendapatkan pemahaman aneh. Adanya energi alam yang melimpah membuat Monster Api menyerap semuanya.
Bahkan Anthony yang mengendalikan Dunia Buatan kebingungan karena semua energi alam berbelok ke arah Monster Api.
Blue tidak percaya dengan apa yang terjadi, Monster Api sekarang tampak seperti reinkarnasi Shen San yang sangat kuat.
Raja Titan segera menyadari posisinya, ternyata pasukan Blue lebih mengerikan dari kelihatannya. Sosok monster yang mungkin lebih tua darinya muncul, makhluk aneh bernama Monster Api itu sangat kuat.
Sebagai bentuk permintaan maaf, Raja Titan berlutut di depan Blue dan Monster Api. "Maafkan kami yang tidak menyambut anda tuan Uranus."
"Ha?"
Blue dan Monster Api sama-sama bingung, mereka berdua bukan jelmaan Uranus sang dewa kejam dan memakan semua anaknya.
"Anda adalah dewa Uranus yang kami tunggu." Raja Titan menatap ke arah Monster Api dalam wujud manusia.
"Bukan, aku tidak ada kaitannya dengan dunia ini. Panggil saja aku Monster Api seperti lainnya."
Blue mengelus janggutnya. "Uranus, terlihat sangat mendominasi seperti kekuatanmu. Mulai sekarang aku akan memanggilmu Uranus!"
Penamaan Blue tidak pernah meleset, tubuh Monster Api memancarkan cahaya kuning. Kekuatannya meluap lagi, tetapi tidak sampai Overflow seperti sebelumnya.
"Baik Tuan!" jawab Uranus sambil berlutut.
"Bagaimana kekuatan barumu?"
"Tidak ada yang spesial, setelah Overflow sebelumnya tambahan kekuatan ini seperti tetesan air di samudera."
Jawaban Uranus sangat menarik perhatian Emma, ia tertarik dengan kecepatan perkembangan dan pemahamannya. Segera setelahnya, Emma mendekat dan berlutut.
"Tuan Uranus mohon terima saya sebagai murid." Emma mengatakan keinginannya.
Meskipun sudah menjadi murid Blue secara langsung, Emma tidak bisa bangkit sepenuhnya karena keduanya punya kepribadian yang berbeda.
Blue mengajarkan cara membangun pondasi yang kuat untuk membentuk masa depan tanpa batas. Sedangkan Uranus punya jalan pintas yang tidak diketahui semua orang.