Domain Dewa : Penguasa Benua

Domain Dewa : Penguasa Benua
Kaditula


Pria berjenggot perlahan mendekati Moris, ia melirik matanya yang lebam dan anak kecil yang digandeng.


"Apa Agni sudah bangun?"


"Ya, beruntung dia bangun lebih cepat. Jadi aku bisa keluar lebih cepat dari jadwal."


Dia masih mempercayai pria berjenggot karena keduanya sudah berteman sangat lama. Sampai akhirnya Pria Berjenggot menghunuskan pedangnya ke arah Moris.


"Kejayaanmu sudah selesai, biarkan para pemuda ini menggantikanmu!" katanya sambil mengayunkan pedangnya.


Agni yang merasa ayahnya terancam langsung melepaskan aura panas. Pedang yang diayunkan Pria Berjenggot dihentikan dengan tangan kosong.


Tangannya menggenggam pedang seperti memegang mainan, Agni meremasnya dan pedang itu meleleh.


Pria Berjenggot langsung mundur beberapa langkah, ia memberikan kode pada petarung dibelakangnya.


12 orang yang disewa telah siap menyerang Moris. Semuanya adalah seorang Dewa Menengah, jadi Agni langsung terluka karena mencoba menghentikannya sendiri.


"Moris, jangan melawan. Biarkan aku menggantikanmu sebagai pemilik Dinasti ini!" teriak Pria Berjenggot.


Alasan mengapa Pria Berjenggot itu terus berteman dengan Moris tidak lain karena ia ingin warisannya. Karena menyimpan semua informasi rahasia Moris, pria keji itu menunggu saat-saat Moris sekarat.


"Bajingan kita sudah berteman ratusan tahun, tapi sekarang apa yang kau lakukan!" teriak Moria putus asa sambil menggendong anaknya.


Agni memang kuat tapi kekuatannya masih belum bisa mengimbangi 12 Dewa Menengah. Selain itu Moris juga tidak punya kesempatan menang karena tubuhnya terkena kutukan.


Blue mengirim telepati, "Apa kau mau membangkitkan sedikit kekuatanmu?"


"Tuan, hidup dan mati orang tua ini sudah jadi milikmu. Aku hanya akan menerima apa yang seharusnya diterima."


Moris menjawabnya dengan serangkaian kata membingungkan. Namun Blue mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan orang tua itu.


[Apa anda yakin menggunakan 10 Triliun Energi Kehidupan untuk membantu Moris?]


Tanpa ragu Blue menyetujuinya, seketika tubuh Moris bercahaya dan kekuatannya kembali sebagian.


[Moris telah memulihkan sebagian kekuatannya, lakukan rutin sebanyak 12 kali untuk membantunya sembuh sepenuhnya.]


[Pendinginan kutukan : 30 hari.]


Karena kekuatan Moris sudah sedikit dipulihkan, ia langsung menarik pedang kebanggaannya. Warna kuning menyilaukan tampak sangat familier, Bee yang duduk masuk makan kaki kepiting membelalakkan matanya.


Meskipun dia tidak beranjak dari tempatnya, jubah misterius yang dikenakan membantunya menyembunyikan wujudnya.


"Penang warisan Dewa Cahaya pertama, Kaditula!" ungkap Bee yang menunjukkan wujudnya.


Pedang Kaditula adalah pedang peninggalan Dewa Cahaya pertama. Kemudian pedang itu berkelana sendiri dan menunjuk tuannya sesuai kriteria.


Nama Kaditula berasal dari bahasa sansekerta yang berarti pedang. Menurut sejarah, pedang itu setara dengan tombak Petir Zeus. Namun keberadaan pedang itu telah menjadi misteri, bahkan para maha dewa tidak mengetahuinya.


Karena Moris sudah mengungkapkan keberadaan pedang itu, ia tidak punya pilihan selain membunuh semua saksi mata.


Tangannya diangkat, pedang berwarna kuning menyala itu tiba-tiba sudah menebas Pria Berjenggot. Seketika pria berjenggot itu terbelah menjadi dua.


Blue tidak bisa menyembunyikan ekspresi anehnya, ia sama sekali tidak melihat pergerakan Moris. Namun musuhnya tiba-tiba sudah terbelah dengan begitu mudah.


"Waktu, itu bisa memengaruhi waktu!" ucap Bee yang terlihat panik.


Blue segera memasukkan semua orang-orangnya ke dalam ruang penyimpanan. Dia tidak bisa kehilangan kewaspadaannya pada Moris, walaupun dia sudah mengucap sumpah darah.


12 Dewa Menengah yang melihat keajaiban ini tampak ketakutan. Mereka mencoba peruntungan dengan cara kabur ke 12 arah yang berbeda.


Namun pedang Kaditula lebih cepat daripada pergerakan mereka semua. Hanya dalam hitungan detik, 12 dewa yang dianggap kuat langsung tersungkur ke tanah dengan tubuh yang tidak menyatu.


Blue bertepuk tangan, ia sudah siap dengan resiko apapun. Meskipun pedang Kaditula sangat kuat, dia mempunyai banyak kartu as yang bisa menyelamatkan dirinya.


"Mengesankan, kau berhasil mengatasi mereka dengan mudah." Blue mendekati Agni yang pingsan, tangannya langsung mengusap dahinya dan memberikan sedikit energi kehidupan untuk membantu kesembuhannya.


Bukannya merasa tertolong, Moris malah menghunuskan pedangnya ke arah Blue. "Jangan menyentuhnya, siapapun yang melihat pedang ini harus mati!"


Blue tertawa terbahak-bahak mendengar pria tua yang mengangkat pedang Kaditula. "Haha, apa kau pikir bisa membunuhku dengan pengendalian waktu seperti itu?"


"Maafkan aku tuan, ini adalah janjiku pada pemilik sebelumnya. Siapapun yang melihat pedang ini harus mati!"


Sebenarnya Agni sudah sadar, tetapi Blue menutup matanya supaya Moris tidak mengetahuinya.


Moris termenung, ia tidak bisa menjawab pertanyaan sederhana seperti itu. Namun cinta kasihnya pada Agni lebih dari janjinya pada pemilik pedang sebelumnya.


"Tidak, aku lebih baik kehilangan nyawaku dibandingkan membunuh putriku!"


Blue kembali menatap Agni. "Apa kau dengar, jangan membuka matamu apapun yang terjadi. Jika takdir mempertemukan kita, aku harap tidak akan jadi seperti ini."


Agni tampak meneteskan air mata, ia menutup matanya erat-erat. Sebagai putri dia tidak ingin kehilangan ayahnya, tapi disisi lain Blue adalah penyelamat jiwanya.


"Maafkan aku!" ucap Moris sambil mengayunkan pedangnya.


Dari pandangan Moris, waktu berjalan sangat pelan. Dia menatap Blue dan mengayunkan pedangnya seperti sebelumnya. Namun hasilnya berbeda, sosok pedang berwarna hitam menghadang serangan Moris.


Blue tersenyum manis karena pengendalian waktu milik Moris hanya berpengaruh pada mahkluk hidup. Karena Dual Secret Sword punya dua jiwa dan satu monster yang diduga Outer, dia bisa bergerak bebas di dalam ruang waktu kekuasaan Moris.


Tidak hanya menghentikan serangan Moris, Dual Secret Sword ternyata juga menyerap jiwa dari Pedang Kaditula.


Moris melompat kebelakang dan mengerutkan keningnya. "Siapa kau sebenarnya?"


"Aku Blue, sosok yang akan menurunkan Zeus dari kursi penguasa dunia!"


Blue dengan santainya berdiri dan menangkap Dual Secret Sword yang terbang kearahnya. Dua pedang berwarna hitam itu lebih berkilau dari biasanya, Blue sudah meningkatkannya menjadi Pedang Dewa Puncak.


Moris tidak percaya dengan apa yang dia lihat, dia segera mengaktifkan kemampuan pedangnya. Tebasan digunakan sekali lagi, tapi kali ini dengan seluruh kekuatannya.


Dual Secret Sword menghadang sayatan pedang yang mengarah ke Blue. Tiba-tiba sosok Bee muncul dan menyentil dahi Moris.


"Bajingan, kau tidak menghormati pangeran ini!" teriaknya dengan nada tinggi.


Pedang Kaditula menyadari bahwa Bee adalah keturunan Dewa Cahaya. Makanya dia bisa masuk ruang waktu yang diciptakan Kaditula dengan mudah.


Dual Secret Sword ingin menebas Moris yang sudah kelelahan. Namun Bee menghentikannya dengan kedua tangannya.


Tangan Bee yang menghentikan Dual Secret Sword langsung menghitam, jiwanya terserap sedikit karena pedang itu hanya mematuhi tuanya Blue.


Anehnya, Blue sudah tahu ini akan terjadi. Ia tiba-tiba mengucap sesuatu dan Dual Secret Sword berhenti menyerang Moris untuk sementara.


Pedang Kaditula gemetar ketakutan, ternyata pedang milik Bee adalah paling lemah diantara 7 pedang warisan Dewa Cahaya. Namun entah mengapa Kaditula yang dianggap paling kuat merasa takut.


Pedang Cahaya milik Bee berubah wujud menjadi manusia, ia dengan cepat menangkap Kaditula dengan tangannya. Tanpa ragu ia membantingnya ke tanah hingga retak.


"Beraninya kau menyerang tuannya tuanku!"


Bukannya bangga, Bee malah memiringkan kepalanya. "Gunakan bahasa yang bisa dimengerti pedang bodoh!"


Cahaya identik dengan pengendalian waktu, jadi 7 warisan pedang bisa mengendalikan ruang waktu tertentu. Anehnya 7 pedang warisan hanya ada 2 yang tertulis di sejarah.


Karena ruang waktu sudah pecah, Blue memalingkan wajahnya karena 5 warisan pedang Dewa Cahaya dihancurkan Athena untuk membuat tombaknya yang sangat kuat. Bahkan Petir Zeus tidak dapat dibandingkan dengan tombak dan perisai miliknya.


Bee yang melihat perilaku aneh tuannya langsung mendekatinya. "Katakan padaku, dimana pedang warisan lainnya!" katanya sambil menarik kerah Blue.


"Mereka sudah hancur, Athena menempanya menjadi tombak dan perisai. Jangan tanya aku bagaimana caranya meleburkan material milik Dewa Cahaya."


"Bagaimana caranya? Aku ingin menghancurkan Kaditula."


"Menarik, baiklah aku tunjukkan caranya!"


Untuk meleburkan senjata Dewa Cahaya membutuhkan Jubah Raja Api miliknya, kemudian mereka harus mengunjungi gunung berapi milik naga api.


Seperti yang kita ketahui, Agni adalah keturunan Naga Api. Jadi ia bisa menjadi kunci masuk ke dalam klan Naga Api.


"Dewa Cahaya menitipkan pedang ini padaku, dia tidak ingin Kaditula dihancurkan!" kata Moris yang hampir kehabisan tenaganya.


Blue tidak peduli dengan penyerangan Moris sebelumnya. Ia tahu betul janjinya dengan Dewa Cahaya sangat penting.


"Jadi begitu, aku sekarang mengerti mengapa Dewa Cahaya terdahulu ingin Kaditula tetap ada meskipun saudara-saudaranya telah hancur." Blue baru sadar bahwa pedang Bee adalah warisan Dewa Cahaya.


Matanya melirik Bee dan menatapnya tajam. "Sejak kapan pedang itu menjadi istimewa?"


Bee mengalihkan pandangannya dan mencoba merubah topik pembicaraan. "Ayo lupakan ini, jadi kapan kita mencari rekan lainnya. Kaditula sudah terluka, dia tidak bisa mengaktifkan ruang waktu untuk sementara."