
Pintu yang memancarkan cahaya itu mulai meredup. Blue tanpa rasa takut masuk ke dalam.
Raut wajahnya tidak bisa menyembunyikan kesenangannya. Jutaan batu mana berwarna ungu ada di setiap dindingnya.
Meskipun begitu, Monster Api tidak terpengaruh. Ia menyusuhkan batu mana berwarna ungu dengan kakinya. Setelah beberapa kali melangkah, ia menemukan sebuah tuas di lantai.
Sambil jongkok, Monster Api bergumam aneh. Blue yang sudah memainkan Domain Dewa 40 tahun tidak tahu apa yang dikatakan.
Cahaya berwarna kuning terang membentuk sebuah lingkaran simbol. Batu Mana berwarna ungu yang berserakan di lantai langsung tersedot habis.
Blue membelalakkan matanya, ia tidak percaya hal seperti ini bisa dilakukan. Jutaan Batu Ungu diserap kedalam tuas di lantai.
Monster Api mengangkat sebuah benda berbentuk linmas segilima, ia mencoba menyerap energi yang keluar darinya. Namun Monster Api gagal melakukannya.
"Sungguh disayangkan ternyata bukan aku." Monster Api mendekati Blue yang belum tersadar dengan fenomena yang mengejutkan ini.
"Tuan, benda ini adalah kehidupan lamtai 9. Jika seseorang menyerapnya, maka semua mahkluk disini akan bebas dari keabadiannya."
Monster Api menjelaskan tentang konsep dasar dari pembuatan Tartarus.
"Siapa yang menciptakan benda itu?" tanya Blue dengan suara pelan.
Monster Api menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu, yang pasti benda seperti ini hanya ada satu di dunia."
Blue mencoba menyentuhnya, ia merasakan ketertarikan yang tidak bisa dijelaskan. Tangan kanannya mencoba menyentuh linmas, sebuah bayangan hitam muncul dari ujung jarinya.
Teknik Jiwa langsung beredar, bayangan hitam itu memakan linmas segilima. Monster Api mencoba menghentikannya dengan pengetahuannya.
Sayangnya Teknik Jiwa bukan makhluk hidup, jadi dalam sekejap mata ia bisa menerobos penjagaan Monster Api.
Blue merasa tubuhnya menjadi sangat panas, tenik jiwa beredar dan memurnikan energi di dalamnya.
"Argh..."
Rasa sakit yang tidak terbayangkan dirasakan, Blue menahan teriakannya. Sayangnya Mesin virtual Domain Dewa tidak sanggup menahannya lagi, Blue terlempar keluar dari mesin virtual.
Ledakan yang besar menghanguskan setiap sudut ruangannya. Meskipun sudah keluar dari Domain Dewa, Blue masih merasakan sakit.
Ledakan terjadi lagi, gedung tertinggi Markas Besar Fairy Dance meledak. Blue adalah penyebab utamanya, ia tidak mau berteriak dan mengendalikan kekuatannya.
Sosok pria berbadan besar menatap dari kejauhan. "Seperti yang dikatakan bos, dia punya sesuatu yang tidak masuk akal."
Shen Haise mendekatinya. "Sudahlah, kita bukan lagi pemeran utamanya. Biarkan dia berkembang sebagaimana mestinya."
"Sejujurnya aku lebih baik mati di medan perang dibandingkan mempunyai umur sepanjang ini. Tapi bos sudah menentukan jadi aku akan menunggunya." Pria berbadan besar itu berbalik meninggalkan Shen Haise.
"50 tahun, kembalilah." Shen Haise menoleh ke arah perginya pria berbadan besar.
Pria berbadan besar melambaikan tangan. "Aku tidak punya urusan lagi dengan bumi. Buat bocah itu menjadi Pelindung Bumi."
"Itu terlalu sulit."
"Tidak juga, bukankah peramal itu mengatakan ada dua variabel tak jelas. Yakinlah bumi akan selamat meskipun menjadi salah satu lantai tower!"
Shen Haise mengarahkan pandangannya ke Arief yang masih meledak-ledak. Dia tidak bisa menggunakan kekuatan magis, jadi tidak mungkin menolongnya.
"Selesaikan masalahmu sendiri."
Shen Haise melompat dari tebing. Ia mendarat dengan kekuatan fisiknya, tanah yang menjadi pijakannya retak.
"Rasanya tetap aneh," kata Shen Haise sambil membersihkan bajunya. Kekuatan magisnya hilang, tetapi fisiknya masih sama sepeti dulu.
Arief tak sadarkan diri, Jessica menjadi wanita pertama yang menolongnya. Shen Haise yang tampak seperti Yuliana datang dan memberikan instruksi pada Jessica. "Tenang saja, bawakan air hangat."
"Baik."
Shen Haise tidak bisa membantu banyak, jadi ia hanya menuntun Jessica. Secara tidak langsung dia mengajari monster bernama Jessica untuk melangkah ke ranah baru.
2 hari berlalu, Arief bangun dan melihat sekelilingnya. Ia menemukan sosok wanita sedang menyiapkan teh.
"Ibu, apa yang terjadi padaku?"
"Overflow, kau terlalu banyak memakan energi. Tapi itu bagus juga, duku aku juga melakukannya," jawab Shen Haise sambil tersenyum.
Namun senyumnya tampak sangat mengerikan, hingga Arief terdiam dan merinding.
Shen Haise memberikan tips dan trik cara mengatasi Overflow yang dialaminya. Meskipun memakan energi adalah spesialis teknik jiwa, Areif harus mengendalikannya.
"Rasa lapar jiwa yang ada di tubuh seseorang tidak ada habisnya. Hanya penggunaanya yang bisa mengendalikannya." Itulah yang dikatakan Shen Haise untuk membantu Arief.
Setelah beberapa saat berbincang, Arief kembali ke Domain Dewa untuk melihat apa yang terjadi.
Blue melihat ada Monster Api duduk dan mengedarkan energinya untuk mencari sesuatu. Sedangkan Bee duduk dan makan kaki kepiting kesukaannya.
"Ayo bergerak," kata Blue memberikan perintah.
Monster Api membuka matanya dengan cepat. Ia tidak percaya kemampuan deteksinya bisa diterobos dengan begitu mudah.
"Sudah aku katakan, sosok yang melindungi para player sangat kuat. Tidak ada untungnya kita mencari mereka." Bee memberikan pendapatnya.
Benar saja, Monster Api sebenarnya inin mencari keberadaan Blue dengan cara menelusuri energi yang tertinggal. Namun siapa yang menyangka dengan pengetahuannya sekarang, Monster Api tidak dapat merasakan kehadirannya.
"Kamu benar."
Monster Api berdiri. Ia segera mengikuti Blue ke pintu selanjutnya.
Untuk mematikan teorinya, Blue mencoba memasukkan semua rekannya ke dalam Dunia Buatan. Ternyata berhasil setelah kekuatannya meningkat terlalu banyak.
Monster Api terkejut ia dipindah ke ruang dan waktu yang berbeda. Ia segera duduk dan melacak keberadaan tuannya.
"Ini lebih misterius dari yang aku kira." Monster Api yang kebingungan didatangi sosok pria kekar.
"Selamat datang, Kawan. Siapa namamu?"
"Tuan belum memberiku nama. Panggil saja aku Monster Api."
Anthony sadar betul mengapa Blue belum memberikannya nama. Monster Api didepannya terlalu kuat, jika Blue memberinya nama pasti sosok monster didepannya terlalu menggila.
Dengan cepat Anthony mengakrabkan dirinya dengan Monster Api. Sedangkan Blue masuk ke gerbang lantai Tartarus selanjutnya.
Lantai 8 tampak sangat biasa dibandingkan sebelumnya. Blue menoleh ke kanan dan kiri, banyak pepohonan dan hewan bercengkerama.
"Aneh," ucapnya.
Tepat setelah menyelesaikan perkataannya, Blue mendapati dirinya pusing. Ternyata ia terkena racun ilusi yang membuatnya terperangkap.
"Sial, ini..."
Sistem yang mengatakan dia kebal terhadap semua racun tidak menolongnya. Tartarus adalah tatanan dunia yang berbeda, jadi tidak semua gelar atau title bisa berfungsi dengan baik.
Blue terikat perkataan Shen Haise yang mengatakan "Energi Jiwa adalah pusat dari segala kehidupan."
Setelah mengingatnya, Blue segera duduk dan mengedarkan energinya. Perlahan tapi pasti, rasa sakit di kepalanya mulai memudar.
Blue membuka matanya, tepat di depan wajahnya ada sosok monster aneh bermata 9. Sontak tangan dan Dual Secret Sword langsung berayun.
Tebasan tadi sangat kuat, bahkan bisa membunuh seorang dewa tingkat puncak. Namun monster yang menerimanya tidak bergerak sama sekali, ia hanya menggaruk wajahnya yang terkena serangan.
"Manusia yang menarik, kamu berhasil lolos dari sihir ilusi dengan cepat." Monster bermata sembilan mengatakan sesuatu yang sulit dipahami.
Blue menoleh ke kanan dan kiri, ia mendapatkan para Hollow masih terjebak dalam ilusi. Bahkan Raja Hollow yang kuat harus tunduk di depan ilusi.
"Terima kasih pujiannya, apa anda tahu pintu menuju lantai 7?" tanya Blue dengan suara keras.
Monster bermata sembilan menunjuk sebuah gerbang setinggi mata memandang, bahkan Blue tidak bisa melihat ujung dari pintunya.
"Ini..."
"Kau bisa memilih, menunggu temanmu atau langsung melangkah."
Blue tanpa pikir panjang langsung menjawab, "Aku menunggu mereka."
Jawaban Blue membuat monster besar bermata sembilan tersenyum manis. "Pilihan yang tepat, lantai 7 dipenuhi oleh jiwa gentayangan. Jadi sebaiknya kamu membawa banyak pasukan.
Blue sebenarnya tidak berpikir sejauh itu, ia hanya butuh pasukan Hollow untuk membantunya ke dasar lantai dan menyelamatkan Raphael. Tidak ada kepikiran seberapa sulit Tartarus sebenarnya.
Karena Raja Hollow dan semua pasukannya sangat lama, Blue duduk dan mengendalikan energi jiwa. Secara tidak langsung, energi ilusi yang dipasang Monster Mata Sembilan terserap tubuhnya.
Perlahan keluatan ilusi melemah, sehingga Raja Hollow dan pasukannya dengan cepat keluar darinya.
Monster Mata Sembilan tidak bisa mempercayai kenyataan ini, ada sosok manusia yang berhasil menyerap energi ilusi.
"Pergilah, jangan menunjukkan wajah kalian lagi!" kata Monster Mata Sembilan yang tampak kesal. Dia kehilangan tontonan karena semua pendaki Tartarus sudah bebas.
Blue hanya menganggukkan kepala dan melanjutkan perjalanan. Lantai 8 bisa diselesaikan dengan cepat karena bantuan teknik jiwa, Blue tidak menyadarinya.
Sedangkan Raja Hollow dibelakang merasakan energi ilusi yang mengurung mereka masih menempel di tubuh Blue.
"Sial, ternyata dia lebih kuat dari yang aku duga." Raja Hollow berkata dalam hatinya.
Sebenarnya tujuan mereka tidak ke lantai 1, melainkan lantai 7 untuk merebut para jiwa gentayangan.