
Wildan melihat para budak yang belum mencapai tingkat Dewa duduk bersila memahami sesuatu. "Apa mereka bodoh!"
Blue tidak mau mempermasalahkannya sekarang. "Sangat baik, aku suka keputusan kalian. Sekarang pilih, tetap bersamaku atau pergi!"
Pernyataan Blue membuat semua orang terdiam, mereka bimbang harus pergi atau tetap menjadi bawahan seseorang.
"Ambil batu mana ini dan tentukan pilihanmu, jika memilih pergi sebaiknya jangan membuat masalah dengan kami!" kata Blue memancarkan aura membunuh.
Batu Mana berwarna biru dikeluarkan begitu saja. Totalnya ada 201, jadi semua orang bisa mendapat satu.
Wildan tercengang melihat Blue memberikan Batu Biru pada para budak. Padahal jika diberikan padanya, kekuatannya bisa melesat hingga ke Maha Dewa atau Maha Kuasa.
Dua menit berlalu tanpa ada yang berani mengeluarkan suara. Sampai akhirnya Melvin berdiri dan mengambil batu mana berwarna biru.
Setelah mengambilnya, ia duduk di sebelah kanan. "Keluarga Moldova memutuskan ikut denganmu, Tuan!"
Pernyataan Melvin tidak hanya berpengaruh padanya, tapi seluruh keluarga Moldova akan setia mengikuti Fairy Dance dan Blue.
"Aku suka keputusanmu, mari tunggu yang lainnya."
Setelah Melvin, para budak lainnya juga memutuskan. 79 orang memilih untuk mengikuti Fairy Dance dan Blue, sedangkan lainnya pergi.
"80 orang sudah cukup. Aku akan mulai melatih kalian besok, sekarang tidur."
Blue meninggalkan mereka semua, Wildan mendekat dan mengatakan kegelisahannya.
"Tuan, mengapa kamu memberikan batu berharga pada mereka?"
"Tidak ada yang spesial. Mari menunggu dan lihatlah apa yang respon mereka."
Setelah menunggu cukup lama, Wildan melihat kelompok budak di kamp mereka tidur. Matanya terbuka lebar ketika melihat semua orang tidur sesuai perintah. Padahal ada Batu Mana Biru dikantong mereka.
Blue tiba-tiba menepuk pundaknya dari belakang. "Aku tidak butuh orang yang melawan perintah. Meskipun lemah saat ini, mental mereka sudah terlatih!"
"Darimana datangnya bajingan ini, aku sudah menggunakan Stealth!" kata Wildan dalam hati.
"Ya..."
Hari berlalu dengan cepat, pagi-pagi sebelum matahari terbit, Blue membangunkan mereka dengan suara kentungan yang terbuat dari bambu.
Suaranya tidak terlalu keras, sehingga hanya sebagian yang terbangun. Blue sedikit menghela napas karena hanya ada 2 yang keluar dari kamp. Mereka adalah Melvin dan seorang anak kecil berumur 16 tahun.
"Kenapa kalian keluar?"
"Aku mendengar suara aneh, jadi aku keluar!" jawab Melvin sambil menguap. Dia merasa tubuhnya sudah bugar, tapi entah mengapa ia melupakan bahwa dirinya seorang dewa yang tidak perlu tidur.
Blue menatap bocah berusia 16 tahun yang berdiri tegap.
"Karena aku sudah cukup tidur Tuan!" jawabnya dengan penuh semangat.
Blue memeriksa formasi, tidak terjadi apapun pada formasi yang dipasang. Artinya anak didepannya punya kondisi tubuh tertentu sehingga bisa menangkal hawa kantuk di dalam formasi.
Alasan mengapa Blue menyuruh mereka tidur tidak lain hanyalah ujian semata. Jika ada yang memaksa untuk menyerap Batu Mana, sebagian energinya akan menghilang.
Dia juga menambahkan simbol untuk memaksa mereka tidur. Sehingga para budak itu akan berhenti menyerap dengan paksa.
Blue sangat puas karena tidak ada satupun budak yang memaksa untuk menyerap Batu Mana. Namun hampir semua dari mereka hampir kehilangan jati dirinya.
"Siapa namamu?"
"Ihsan!" jawabnya dengan suara lantang.
Karena tidak punya marga, bisa dibilang anak didepannya memang seorang budak sejak awal.
"Baiklah aku menantikan kejutan lain darimu." Blue segera memeriksa kondisi tubuh bocah 16 tahun itu, ia tidak punya bakat yang mencolok.
Namun ada sesuatu yang membuatnya bingung.
[Ihsan
...
Potensi : 10
Bakat : Belum ada.]
Kata-kata belum ada sangat membingungkan. Blue harus melihat perkembangannya sebelum menentukan Ihsan layak atau tidak.
"Baiklah, karena hanya kalian yang sudah bangun. Maka..." Blue bergerak sangat cepat sehingga kedua telunjuknya sudah sampai di dani Melvin dan Ihsan .
Teknik penyerap yang sudah dikembangkan oleh Anthony dikirimkan. Melvin dan Ihsan itu memancarkan cahaya hitam.
Setelah pengiriman informasi selesai, Melvin dan Ihsan langsung duduk dan menyerap Batu Mana Biru yang diberikan.
Wildan memperhatikan mereka dari jauh, ia tidak melihat ada yang aneh jadi mulai mengabaikannya dan tidur di atas pohon.
Formasi yang dipasang Blue sangat kuat, bahkan Dewa Puncak bisa terkena tertekan layaknya Wildan. Blue melirik ke arah Wildan sedang tidur.
Dalam beberapa menit saja, Ihsan menunjukkan tanda-tanda yang mengejutkan. Cahaya kuning di tubuhnya mulai keluar dan ia resmi menjadi Dewa Sangat Rendah.
"Ini..."
Batu Mana biru mulai redup, potensinya meningkat drastis setelah menyerapnya.
[Ihsan
Potensi : 70
Bakat : Teknik Penyerapan.]
Blue mulai curiga dengan keanehan itu, ia merasa Ihsan adalah manusia yang bisa menumbuhkan bakatnya sendiri.
Agni dipanggil untuk membantu Ihsan berlatih tanding. Sedangkan Blue menunggu Melvin dan kelompok lainnya bangun.
Sampai jam 8 siang belum ada satupun budak yang bangun. Sedangkan Melvin sudah selesai menyerap Batu Mana.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Blue.
Melvin melihat dan membolak-balik kedua tangannya. "Sangat bagus kekuatanku meningkat 5 kali dari sebelumnya."
Ya, tentu saja meningkat sebanyak itu. Hal itu wajar karena Melvin berhasil menyerap Batu Mana hingga 72%. Angka itu sudah cukup tinggi untuk manusia biasa. Perlu diketahui, Venom bisa menyerap Batu Mana hingga 97%.
"Ok, sekarang bangunkan semuanya dan ajarkan teknik tadi." Blue pergi karena merasa sedikit kecewa dengan semuanya.
Disisi lain Agni menghadapi Ihsan. Keduanya terlihat seumuran, tapi Agni sebenarnya adalah nenek tua yang berusia ratusan tahun.
"Bocah jangan anggap tinjuku lemah!" teriak Agni membanggakan dirinya.
Ihsan mengangguk menandakan persetujuan, kuda-kuda yang dia pasang tampak sangat rapuh.
Agni membuat kuda-kuda bertarung yang sebenarnya, ia berlari dan meninju teman kecilnya itu. Tinjunya hanya dilihat tanpa teknik pertahanan sedikitpun.
Ihsan menerima pukulan keras itu secara langsung, tubuh kecilnya terbang hingga menabrak pohon. Seteguk darah keluar dari mulutnya, bukannya pingsan bocah itu malah menatap tajam ke arah Agni.
Blue tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Ia melihat dengan jelas, Ihsan tidak berkedip sedikitpun ketika menerima pukulan di pipinya.
Ihsan mencoba berdiri, ia meniru kuda-kuda yang dilakukan Agni. Meskipun masih banyak yang harus dikoreksi, ia tampak mencoba sesuatu.
Agni yang merasa senang lawannya bertambah kuat menghajarnya tanpa ampun. Ia ingat waktu kecil ibunya menghajar dirinya untuk menjadi kuat.
Pengajaran ras naga memang sedikit berbeda dengan manusia normal. Naga punya kulit yang sangat keras, sedang manusia tidak punya.
Ihsan tak sadarkan diri, ia sudah menerima ratusan pukulan. Namun belum bisa mengendalikan kekuatan kekuatan dewa yang ada di tubuhnya.
Blue muncul dan memberikan ramuan penambah HP dan MP. Seketika Ihsan membuka matanya dan langsung bisa berdiri lagi.
"Latihan hari ini sudah cukup."
"Baik, Tuan." Ihsan kembali ke kamp sambil mengusap darah di dahinya dengan tangan kosong.
Ketika di perjalanan, ia mengambil beberapa daun untuk menyembuhkan lukanya. Blue tidak peduli dengan daun-daun itu karena hanya herbal rendahan.
Namun siapa yang menyangka Ihsan mengambil setiap. Herbal yang berguna untuk tubuhnya, pengetahuan itu tidak mungkin didapatkan dalam beberapa tahun saja.
"Siapa sebenarnya bocah itu!" kata Blue yang mengikutinya dari belakang.
Melvin melatih semua orang menggunakan teknik yang dia dapatkan. Ihsan terluka parah dan masuk ke dalam kamp tampa melihat sekitarnya.
"Apa yang terjadi padamu?"
"Aku terluka." Jawaban Ihsan singkat, padat dan jelas.
Melvin tahu anak berusia 16 tahun itu sangat istimewa. Padahal dia bangga dengan bakatnya, tapi entah mengapa instingnya mengatakan bahwa Ihsan sangat hebat.
"Jangan memaksakan dirimu."
"Ya, tapi aku belum memaksa diriku." Ihsan memejamkan matanya mengingat semua gerakan Agni dan menyesuaikan dengan tubuhnya.
Melvin pergi untuk menghormati keputusannya.
Hari berlalu dengan cepat, tidak berasa satu bulan telah dilalui di kamp pelatihan. Para budak sudah menjadi Dewa Rendah atau diatasnya.
Melvin sebentar lagi akan menjadi Dewa Tinggi, jadi kekuatannya sudah ratusan kali dari sebelumnya.
Blue membunyikan kentungan bambu pada jam 4 pagi. Meskipun suaranya pelan, semua orang bangun dan langsung menyusun barisan sesuai urutannya.
"Sangat bagus, sekarang serap batu ini lagi." Blue memberikan Batu Biru setiap pagi.
Wildan mulai curiga karena tidak mungkin manusia bisa mengeluarkan batu biru sebanyak itu.
Blue menghilang dari tempatnya dan muncul di sebelah Blue. "Apa kau sudah mengerti mengapa aku memelihara mereka?"
"Ya..."
Wildan tidak dapat menyangkalnya. Pertumbuhan para budak itu diluar nalar sehat, hanya dalam sebulan mereka langsung melompat beberapa tingkat. Jika diberikan 2 tahun, mereka akan menjadi sosok penting di tanah dewa.
"Dua tahun terlalu lama, 6 bulan sudah cukup untuk bocah itu memukul wajahmu hingga bonyok, haha."
Tawa Blue membuat Wildan merinding, ia tidak menyangka bocah berumur 16 tahun sudah menjadi Dewa Tinggi dan mempunyai teknik bertarung yang mengerikan.