
Monster yang menyerang tidak normal, dilihat dari langit mereka bergerak sangat solid. Itu menandakan mereka sudah terlatih atau mungkin dikendalikan oleh seseorang.
Tepat sebelum turun, Blue mendapati salah seorang pria berbaju merah bercampur hitam berdiri di belakang para monster.
"Mungkinkah?"
Blue tidak melanjutkan perkataannya, karena pria berbaju hitam itu malah menyerang gerombolan monster.
Mengandalkan tinjunya, pria itu mengalahkan semua monster dengan mudah. Setelah dilihat lebih teliti, Blue menemukan sosok yang dikenalnya.
Bondan itulah nama pria yang menyerang gerombolan monster dari belakang. Perlu diingat, Bondan sebelumnya adalah preman desa. Karena selalu kalah dengan Dona, Bondan memilih bergabung dengan Fairy Dance, siapa yang menyangka sekarang mereka adalah pasangan yang serasi.
Dona dari belakang juga mengikutinya, mengandalkan tinjunya ia berhasil menghabisi seluruh monster yang mendekat.
"Kenapa tinjumu menjadi sangat lambat!" teriak Dona bertujuan mengejek Bondan.
"Hei nona, jangan samakan aku dengan yang dulu. Mari lihat siapa yang paling banyak membunuh monster!" jawab Dona sambil mengepalkan kedua tangannya.
Keduanya adalah petarung sejati, tidak ada satupun dari mereka yang mendapat gelar dewa tertentu. Sampai akhirnya Blue menyadari ternyata mereka adalah pencipta dewa itu sendiri.
Dengan kerja keras pemain bisa mendapatkan gelar yang mereka inginkan. Salah satu contohnya adalah Bondan Dewa Tangan Emas dan Dona Dewa Pejuang.
Satu pukulan Bondan menggetarkan tanah di sekitarnya, beberapa monster yang berada di jangkauan serangannya langsung dilempar.
"Terima kasih!" ucap Dona yang sudah menunggu para monster di terbangkan. Tangannya tidak berubah, tetapi 8 sayatan udara muncul dan membelah tubuh monster dengan mudah.
Dona sebagai Dewa Pejuang bisa menggunakan menciptakan gelombang serang layaknya pengguna pedang. Berbeda dari petarung lainnya yang harus menyentuh target untuk memberikan kerusakan, Dona hanya perlu mengayunkan tangannya untuk menciptakan sayatan pedang.
"Itu curang!" teriak Bondan yang sudah susah payah mengurangi HP para monster.
Dona hanya menjulurkan lidahnya dan segera mencari target yang baru.
Meskipun kecepatan pembersihan mereka sangat lambat, Blue bisa mengandalkan keduanya untuk mengambil kesempatan.
"Sepertinya kalian sudah berkembang," kata Blue yang muncul dari belakang.
Siapa yang mengira Blue harus menggunakan Gate untuk bisa keluar dengan keren.
"Bos, sudah lama aku tidak melihatmu!" ucap Bondan yang sudah mengubah sifatnya menjadi pria yang bersemangat.
"Yah, aku sering melihat kalian latihan." Blue mengungkap keakrabannya. Meskipun melihat Dona dan Bondan, ia tidak menyapanya karena semua orang di guild mengenalnya.
"Ya aku paham. Ngomong apa yang kau lakukan disini?" tanya Bondan.
Blue tersenyum tipis. "Tentu saja menghentikan para monster, aku sudah membawa beberapa orang. Jadi mari selesaikan ini dengan cepat."
The Celestial muncul di belakangnya, mereka sudah cukup istirahat dan langsung ke belakang Blue. Padahal itu tidak direncanakan, Reza menunggu momen krusial supaya penampilan mereka tampak keren.
"Salam, buka jalannya. Kita harus melindungi kota!" teriak Blue yang mencoba menyelamatkan kota.
Salam dengan penuh semangat langsung melangkah maju dan mengayunkan perisai miliknya. "Berhentilah monster berisik!" teriak Salam sambil mengaktifkan skill provokasi.
Skill provokasi dapat menarik perhatian para monster untuk menyerang penggunaanya. Jadi Salam akan bertahan sekuat tenaga untuk mempermudah teman-temannya.
The Celestial baru saja ingin memulai serangan, tapi Blue dan Dona sudah berlari cukup jauh.
Blue tindak menarik Dual Secret Sword karena ingin merasakan bertarung dengan temannya. Tinjunya langsung mendarat tepat di pipi monster orc.
Dona mulai menyerang dari sisi seberang. Ia mengunakan tangan kiri untuk membuka tekniknya.
Blue segera melompat mundur karena Dona ingin membuat sebuah keributan.
"Teknik tangan kosong, Penghancur Aura!" gumam Dona menyebutkan nama keterampilannya.
Tangan kiri sudah di tempat paling nyaman, tangan kanan mengepal hingga cahaya putih menyelimutinya. Tanpa perintah tangan kanannya tiba-tiba sudah ada di depan dan kuda-kuda Dona berubah.
Ledakan besar menghancurkan tanah dan semua monster di jangkauan serangannya, lebih dari 30 orc mati.
Blue tersenyum tipis, ia ingin bergerak tapi Bondan sudah mengambil tindakan. Tanpa peringatan ia mengepalkan tangannya dan membantingnya ke tanah. Jika dilihat lebih dekat, tangan Bondan berubah menjadi emas dan sangat keras.
Tanah yang tidak salah apapun terbang ke langit, para monster juga ikut terbang karena gelombang udara yang dihasilkan.
Adam dengan cepat menebas semua monster. Pedangnya menang tampak biasa, tapi kontrol tangannya setidaknya sama atau lebuh tinggi dari Leon.
Blue tersenyum tipis dan mencoba melangkah, tapi lagi-lagi dia dihalangi oleh sebuah sihir putih yang dilepaskan Reza.
Ledakan besar menghabisi semua monster yang di terbangkan Bondan. Padahal ia ingin tampil keren dengan kekuatan penuhnya.
Hujan panah turun dari langit, walaupun tidak sebanyak meteor Qin Huang, Koko bisa menirunya dengan hujan panah yang berjumlah ribuan.
Bondan dan Dona tidak bergerak, mereka menerima serangan panah tanpa terluka. Keduanya bisa mengendalikan Mana Shield dengan sangat baik.
Blue tidak mau membuang kekuatannya, ia mundur untuk menghindari hujan panah yang di tembakkan rekannya sendiri.
Adam sudah terbiasa dengan hujan panah, ia menghindar sesuai dengan jalur serangnya. Meskipun tampak sederhana, Blue bisa melihat kesulitan menghindari hujan panah.
Ratusan monster berhasil dikalahkan dalam waktu singkat, tapi perjuangan mereka belum selesai. Pasalnya lebih dari 100 ribu monster masih mengelilinginya.
Setelah hujan panah yang ditembakkan Koko, Riko memberikan efek tambahan untuk semua tim.
Cahaya berwarna ungu terang menyelimuti seluruh tubuh anggota tim. Efek yang diberikan Riko tidak main-main, setidaknya semua orang mendapatkan 10% kekuatan tambahnya.
Rangga langsung bergerak, 5 binatang buas muncul dan menerkam para monster. Kekuatan mereka berlipat ganda karena pengaruh dari Riko.
Abimanyu melindungi Rangga sehingga temannya itu bisa fokus menyerang. Kelemahan paling fatal seorang pemburu adalah pertahanan dari belakang.
Berbeda dari summoner, seorang Pemburu punya kemampuan fisik yang hampir sama dengan para petarung. Namun mereka tidak punya keterampilan yang mendukungnya.
Abimanyu seorang kesatria, jadi ia dengan mudah menghentikan serangan monster untuk mengamankan Rangga. Kombinasi serangan keduanya tampak sangat baik, tapi Blue masih melihat celah besar diantara mereka.
Celah yang dimaksud adalah kesukaan yang terus di terima Abimanyu. Cepat atau lambat Abimanyu akan tumbang jika dibiarkan seperti itu terus.
Randi muncul sebagai penyelamatan, ia mengunakan skill penyembuhan untuk menekan kerusakan fatal yang diterima Abimanyu.
Tepat setelah menggunakan skill penyembuhan, sosok Yudi muncul dengan tombaknya dengan kecepatan tinggi. Tusukannya menciptakan sebuah aura yang dapat menembus semua monster.
Randi adalah seorang pendukung, meskipun dasarnya dia bukan penyembuh, tapi dengan pengetahuannya ia berhasil membuat skill penyembuh.
Yudi seorang pengguna tombak tunggal, meskipun ia tidak terlalu terkenal keterampilannya tidak kalah dengan Jessica. Walaupun total kerusakannya jauh tertinggal dibandingkan dengan Jessica, Yudi punya ketepatan serangan yang sangat baik.
Setiap tusukan tombaknya Yudi mengenai semua titik fital hingga menciptakan serangan ganda. Kelas yang dia miliki juga sangat unik, setiap kali memberikan serangan fatal pada musuh, ia akan memberikan serangan ganda secara otomatis.
Rangga, Abimanyu, Yudi, dan Randi bekerja sama dengan sanga baik. Blue memperhatikannya dari belakang sampai lupa untuk menyerang.
"Apa aku salah lihat?" katanya terkejut dengan situasi yang terjadi.
Dona dan Bondan bekerja sama mengalahkan semua monster hingga membuat jalur aman ke kota.
Adam dan Salam mengamankan jalurnya, sehingga rekan-rekannya bisa lewat dengan aman. Perlahan tapi pasti, mereka semua bergerak mendekati kota.
"..." Blue merasa tidak perlu ikut campur dalam pertahanan kota. Namun anggapannya segera hancur setelah munculnya sosok yang hampir sama seperti Raja Lich.
Aura kematian menyelimuti sekujur tubuhnya, Blue mengerutkan alis. "Apa dia pemain?" tanyanya sedikit terkejut.
Tebakan Blue ternyata salah, dia adalah Lich yang hidup abadi. Bahkan Zeus tidak bisa membunuhnya karena struktur tubuhnya sangat unik.
Lich itulah yang mengendalikan monster untuk menyerang kota. Tujuannya tidak lain untuk mengumpulkan energi kematian, kemudian ia akan menyerapnya untuk bertambah kuat.
"Raja Hollow, datanglah!" kata Blue memanggil musuh bebuyutan para Lich, mereka tidak lain adalah ras Hollow yang sudah berpindah ke Dunia Buatan.
"Bukankah mereka sudah musnah?" ungkap Raja Hollow.
"Sepetinya dia manusia yang berhasil menerima warisan para Lich. Apa kalian punya saran?" tanya Blue memberikan kesempatan.
"Tuan, biarkan kami menyelesaikan dendam ras. Tolong panggil 25 jenderal Hollow untuk membantu!"
Blue langsung memanggil 25 Jenderal Hollow untuk membantu Raja Hollow. Meskipun mereka sudah bertambah kuat, tapi Lich bisa membunuhnya dengan mudah.
Raja Hollow dan pasukannya segera menerjang musuh tanpa pikir panjang. Semuanya tampak penuh tekad untuk membalas dendam, Blue merespon tekad mereka dengan cara memberikan energi kehidupan.
Tubuh para Hollow memancarkan cahaya kuning dan status mereka meningkat cukup banyak.