Domain Dewa : Penguasa Benua

Domain Dewa : Penguasa Benua
Persiapan


Kemenangan Fairy Dance tidak membuat Blue senang, ia merasa ada yang janggal dengan Osiris. Kemunculan Hades juga membuktikan bahwa adanya informasi rahasia yang belum diketahuinya.


"Lupakan dulu, ayo keluar dan beli hadiah." Blue keluar dari Domain Dewa untuk mencari hadiah pertunangan Leon dan Salju atau Dinda Hartono.


Mesin Virtual Domain Dewa terbuka penuh dengan asap berbau tak sedap. Arief memandangi tubuhnya berkeringat hingga pakaiannya basah kuyup.


Sembari mengepalkan tangannya, Blue tersenyum manis. "Akhirnya aku mencapai ketinggian yang sama sepertimu, Kakek!"


Kakek yang dimaksud disini adalah Aries Hardiman, sekarang Blue sekuat dia menurut pengetahuannya. Padahal nyatanya masih jauh, karena Aries Hardiman tidak diizinkan mengunakan kekuatan penuhnya.


Tanpa menunggu lama Arief masuk ke kaman mandi dan membersihkan tubuhnya. Tidak lama setelahnya bel kamarnya berbunyi.


Hanya anggota inti Fairy Dance yang bisa menjangkau kamar khususnya. Jadi pasti ada seseorang yang cukup penting menemuinya.


"Tunggu!"


Arief mengenakan kaos hitam dan jeans selutut berwarna biru tua. Terlihat kasual dan tampan dengan rambutnya yang sedikit panjang.


Dengan sela-sela jarinya, Arief menyisir rambutnya supaya terlihat rapi. Nyatanya tidak semudah itu, rambut Arief terlalu lemas untuk mendapat perawatan yang begitu sederhana.


Setelah membuka pintu, Arief mendapati sosok wanita cantik berdiri di depan pintunya. Dia adalah Nidia yang mengenakan kaos merah muda serta rambut yang terikat rapi kebelakang.


"Hei."


"Hei..."


Keduanya tampak canggung karena tidak terlalu sering mengobrol. Nidia sudah cukup percaya diri dengan kemampuannya sekarang, ia adalah Pemimpin Grup Fairy menggantikan Jessica yang fokus mengembangkan investasi.


"Apa kamu hari ini free?" tanya Nidia dengan suara lembut. Tiba-tiba ia teringat kenangan di pantang ketika Arief menggandeng tangannya.


Arief dengan percaya diri mengatakan, "Bilang saja mau jalan-jalan. Ayo, hari ini aku ingin belanja hadiah untuk Leon dan Dinda."


Jawaban Arief membuat Nidia tampak membatu. Nidia mengira Arief juga malu-malu sepertinya, nyatanya tidak seperti itu.


"Kebetulan sama. Ayo ikut mobilku saja."


Nidia dengan tubuh kaku dan jalan kikkuk memimpin jalan parkir khusus Markas Besar Fairy Dance. Meskipun dalam perjalan tidak ada pembicaraan sama sekali, Arief dan Nidia terus berpikir apa yang harus dibicarakan di dalam mobil nanti.


Keduanya masuk kedalam mobil tanpa mengatakan apapun. Nidia menyalakan mobilnya dengan sekali tekan.


Disisi lain Arief juga tidak tahu barus memulai pembicaraan dari mana.


Mobil mulai berjalan keluar Markas Besar Fairy Dance. Jessica dari ruang kerjanya hanya bisa tersenyum melihat mereka berdua akrab.


"Kemana kita?" tanya Arief.


"Menurutmu kemana?" pertanyaan Arief dikembalikan karena tidak tahu harus menjawab apa.


Arief sendiri harus berpikir keras untuk menemukan jawaban terbaik. Setelah berpikir Arief menemukan tempat yang cukup bagus.


"Bagaimana kalau ke Mall Central Bandar?"


Mall terbesar di Kerajaan Kediri, bahkan diakui seluruh dunia sebagai salah satu mall yang masuk ke jajaran tempat paling berharga nomor 132.


Pusat Perbelanjaan itu juga bertengger di posisi ke 12 terbaik di dunia. Jadi Arief mereka menemukan tempat yang cukup berkelas. Pasalnya kedua orang di dalam mobil itu tidak pernah memikirkan uang.


Kekayaan Arief sudah mencapai triliunan kredit atau miliaran koin emas. Perlu diingat koin emas dapat digunakan di dunia nyata. Begitu pula dengan Nidia yang bisa menghasilkan jutaan kredit dalam hitungan jam.


Sampai di depan gerbang Mall Central Bandar tidak ada pembicaraan di antara keduanya.


Petugas keamanan menghentikan mobil Arief dan Nidia. "Permisi tuan, ada yang bisa dibantu?"


Petugas itu berniat ingin menawarkan jasa parkir untuk kedua tamu terhormat. Pasalnya mobil yang mereka kendarai adalah Korseg, salah satu mobil termahal di dunia dan hanya diproduksi sebanyak 10 unit.


Karena Arief punya pengetahuan tentang mobil, ia tidak mempermasalahkannya.


Nidia keluar dan memberikan kunci mobilnya dengan santai. "Parkir di A2, aku sudah memesannya."


Meskipun terlihat kaku di depan Arief, Nidia sebenarnya sangat tenang di hadapan orang lain.


"Baik, Nona."


Arief dengan pakaian kasual masuk ke dalam mall bersama Nidia yang punya nilai tinggi.


Meskipun hanya mengenakan kaos, Nidia memakai jam tangan seharga puluhan juta kredit serta sepatu edisi terbatas.


Banyak mata memandangi mereka berdua, banyak orang mencemooh Arief karena penampilannya. Hingga salah seorang generasi muda dari kota sebrang menghampirinya.


"Bocah minggir, wanita ini tidak cocok untukmu!" katanya dengan nada tinggi serta segera mendekati Nidia.


Banyak orang langsung berkumpul di sekitar Nidia karena Arief disingkirkan. Hampir semua orang di mall terbesar ini kaya raya, termasuk Nidia dan Arief.


"Karena kamu sibuk, aku duluan." Arief melambaikan tangannya pada Nidia yang di tengah kerumunan.


Arief berjalan menuju sebuah pameran mobil mewah, mungkin saja ada yang cocok sesuai dengan Leon.


Setelah berjalan beberapa menit, para karyawan tidak ada yang menghampirinya. Padahal beberapa menganggur karena tidak ada pekerjaan.


"Usir bajingan ini, siapa yang menyuruh dia masuk!" teriaknya dengan penuh emosi.


Dua penjaga keamanan dari ikatan pameran mobil mendekati Arief dan langsung merangkul lengannya.


"Pak tolong segera keluar, bos kami tidak ingin anda disini."


Dua penjaga itu langsung menarik tangan Arief. Namun tidak dapat menggerakkannya, perlu diingat kekuatan Arief di dunia nyata hampir mirip dengan Domain Dewa.


Merasa dirinya terhina, Arief mengibaskan tangannya hingga dua penjaga keamanan tersungkur.


"Ok, anggap saja aku pergi!" ucap Arief keluar.


Terlalu banyak pilihan membuatnya tidak dapat menentukan hadiah yang cocok. Sampai akhirnya ia bertemu kakek tua sambil mengelus janggutnya.


"Apa anda masih percaya dengan khasiat batu giok?" tanya Arief sambil mendekati kakek itu.


"Anak muda zaman sekarang tidak tahu apa artinya kesehatan dan kepercayaan. Pergilah, tinggalkan aku sendiri menganalisa batu ini!"


Arief menggelengkan kepala. "Batu ini tidak dapat menghasilkan uang. Jika mau ambillah batu di ujung sana." Dia menunjuk sebuah batu berukuran kecil yang ada di pojok ruangan.


Arief hendak meninggalkan kakek itu, tapi suara terdengar.


"Tunggu, Nak. Sepertinya aku setuju denganmu." Kakek berjenggot putih itu tidak bodoh, ia bisa membedakan mana tebakan asal dan analisa mendalam.


Setelah memperhatikan batu di ujung ruangan, Kakek Berjenggot Putih menyadari bahwa itu adalah harta langka.


"Ya, Kek." Arief mendekati kakek yang memanggilnya.


"Bagaimana caramu menganalisa batu dari kejauhan?"


"Insting."


Jawaban Arief tidak memuaskan kakek berjenggot putih. Ia bertanya bagaimana cara mengetahuinya dari jauh terapi Arief menjawabnya sedikit melenceng.


"Bagus, Nak aku Chen Re. Ayo ikut aku kebelakang."


Ternyata Chen Re adalah pemilik dari toko batu langka. Meskipun terlihat sepi pengunjung, nyatanya semua pengunjung yang datang adalah orang kuat.


"Saya Arief Kek." Untuk sementara Arief tidak mau mengatakan marganya, karena Baskoro sudah mulai membuka diri dan mengembangkan bisnis di seluruh benua.


Jadi nama Baskoro menjadi marga yang paling disegani di dunia nyata.


"Ayo jangan membuang waktu lagi."


Chen Re memimpin jalan ke gedung belakang, Arief merasakan energi alam yang terus berputar di dalam ruangan.


"Ini gudang peninggalan kakek buyut, aku tidak tahu mengapa banyak tikus mati disini."


Arief tersenyum manis. "Ruangan sangat nyaman," katanya sambil memejamkan mata.


Orang biasa tidak akan mengerti apa yang dirasakan Arief saat ini. Jadi Chen Re diam seribu kata.


"Menurutmu batu mana yang terjual mahal?"


Arief menunjuk dengan dua tangannya. Ia memilih beberapa batu yang punya aura kuat. Namun ada satu benda aneh yang membuatnya penasaran.


Benda itu adalah patung berbentuk manusia berkepala rubah layaknya Anubis, teman Osiris.


Tepat setelah Arief menyentuhnya, cahaya yang tidak bisa dilihat manusia biasa merasuki tubuhnya.


Arief tiba-tiba mendapat ingatan pahit kehancuran Bumi di masa depan. Anehnya Arief ada di sana ketika bumi di serang mahkluk tak dikenal.


"Nak, apa kamu sakit?" tanya Chen Re yang melihat Arief pucat.


"Aku baik-baik saja, sepertinya aku harus segera mencari hadiah untuk temanku."


"Hadiah apa yang ingin anda beli?" tanya Chen Re mencoba untuk membalas kebaikan Arief.


"Hadiah apa yang pantas untuk acara pernikahan?" tanya Arief pada kakek berjenggot putih.


"Bagaimana jika itu?"


Chen Re menunjuk dua kalung yang punya liontin terbuat dari batu giok berwana hijau.


Arief merasakan ada yang aneh setelah lemari kacanya dibuka. "Mengapa ada simbol dan formasi di sini!"


Tentu saja Arief terkejut melihatnya, formasi yang disusun rapi menunjukan bahwa pembuatnya sangat terampil.


"Kakek siapa yang membuat kalung ini?" tanya Blue dengan suara pelan.


"Dunia ini sangat luas, aku sendiripun hanya menjelajahi sekitar 2% dari seluruh dunia."


Jawaban kepala keluarga itu sangat menyentuh, Arief memberikan salam beladiri.