Domain Dewa : Penguasa Benua

Domain Dewa : Penguasa Benua
Budak Bergerak


Blue sempat melirik pak tua yang menawar, dengan Mata Dewa ia berhasil melihat wajahnya.


"Sepertinya dia tidak punya hubungan dengan Dewa Keberuntungan, mungkinkah Shira sengaja menjualnya."


Kejadian ini sangat aneh, tiruan pedang Damaskus terkahir kali dipegang Dewa Keberuntungan. Namun setelah kematiannya, tidak ada yang tahu kemana perginya pedang itu.


Bahkan Shira pemimpin kerajaan juga tidak tahu. Pedang itu seperti hilang di telan bumi, tapi siapa yang mengira akan muncul di pelelangan malam hari ini.


"Apa kalian tahu siapa yang menjual pedang ini?" tanya Blue pada Aqil dan Akil.


"Mereka Keluarga Shin, katanya mereka mendapat pedang damaskus setelah perang melawan Dewa Keberuntungan."


Aqil menjelaskan tentang konspirasi yang diciptakan Keluarga Shin. Ternyata mereka salah satu pendukung kerajaan Damaskus.


Shira membuat situasi sedemikian rupa untuk menghilangkan kecurigaan orang tentang kerajaannya.


Pedang Damaskus asli juga dipajang di atas menara, sehingga semua orang di seluruh kerajaan bisa melihatnya.


Melalui Keluarga Shin, Shira membuat secara tidak langsung menyebarkan jika pedang damaskus yang muncul di seluruh dunia adalah palsu. Pedang aslinya hanya ada di Kerajaan Damaskus itu sendiri.


Strategi ini sangat bagus, Blue menyukainya karena dia adalah orang yang membuat tiruan pedang tersebut.


Untuk membuat situasi tambah kacau, Blue berteriak dari kamarnya. "Barang itu bukan tiruan pedang damaskus!"


Semua mata langsung mengarah padanya, Blue melompat ke panggung dan menunjuk perwakilan Keluarga Shin.


"Darimana kau mendapatkan pedang itu?" tanya Blue.


Kepala Keluarga Shin tahu dia adalah penyelamat kerajaan damaskus.


"Perang melawan dewa keberuntungan."


Blue menarik pedang tiruan yang masih belum digunakan. "Aku juga punya tiruan pedang damaskus!" teriaknya penuh semangat.


Mata jahat semua orang terlihat, mereka semua ingin merebut pedang itu dibandingkan membelinya.


Pak tua di ruang bergumam, "Sialan! harusnya aku tidak membeli pedang itu!"


Blue ingin menguji ketenangan orang disini. Namun siapa yang menyangka semuanya mulai merencanakan tindakan jahat.


Kepala keluarga Shin tidak merespon apapun. Tugasnya adalah membuang tiruan pedang damaskus, jikalau ia mendapatkan keuntungan pasti akan disetor ke kerajaan.


Karena kejadian aneh terjadi, Kepala Keluarga Shin tidak mau membuat masalah lagi.


"Tuan, apa dasar anda menilai pedang itu palsu?"


"Bukankah sudah jelas, pedangku lebih baik dari itu. Bagaimana jika mengadunya?" tanya Blue melirik ke arah pak tua yang membeli pedang.


"Aku keberatan."


Tidak ada kepastian dalam taruhan itu, jika pedangnya memang palsu, maka uangnya akan terbuang sia-sia.


Pak Tua yang memenangkan taruhan langsung mengambil pedang dan membayarnya.


Dari sini saja rencana Shira dan Keluarga Shin sudah berhasil. Mereka menyebarkan rumor bahwa tiruan pedang suci Damaskus lebih dari satu.


Keluarga Shin pergi tanpa diketahui penduduk, mereka pergi diam-diam supaya tidak memancing keributan. Berbanding terbalik dengan Blue yang malah menunjukkan dirinya di alun-alun kerajaan.


Ratusan orang memperhatikannya, mereka menunggu kesempatan untuk mengambil tiruan pedang Damaskus.


"Sepertinya akan lebih menarik kalau keluar." Blue berjalan keluar dari Kerajaan Kairo.


Setelah dia keluar dari wilayah Kerajaan Kairo, 5 orang langsung menyergapnya. Tak tanggung-tanggung, kelimanya menggunakan serangan pamungkas.


Blue berpura-pura terkejut, ia dengan sengaja menjatuhkan tiruan pedang suci Damaskus.


Salah satu dari penyerang langsung mengambilnya, kemudian mereka langsung lari.


Semua mata berfokus pada pemegang pedang. Dalam sekejap mata ratusan orang mengejar para pemegang pedang.


Merasa dirinya terancam, pemegang pedang langsung mengayunkannya. Sayatan pedang langsung tercipta hingga menghancurkan tanah.


Puluhan orang dipukul mundur, bahkan beberapa orang malah tewas. Sayatan dari tiruan pedang suci Damaskus sangat kuat, itulah yang mereka pikirkan.


Kenyataannya pedang itu diperkuat oleh simbol yang dikendalikan Blue dari jarak jauh.


"Menarik, ayo mengamuk kawan!" gumam Blue melihat segerombol manusia mengeroyok 5 orang.


Tidak butuh waktu lama untuk memojokkan pembawa pedang, empat rekannya sudah dikirim ke neraka.


"Jangan harap sialan!"


Teriakan pria itu terdengar sampai ke telinga Blue. Dengan senyum manis, Blue mengendalikan simbol dan menaikkan aura pedang kemudian menebas setiap orang.


Puluhan orang tewas dalam sekejap mata, sisa musuh yang mengepung mulai melangkah mundur. Mereka memilih untuk mundur sementara.


Pria pemegang pedang suci Damaskus tumbang, ia tidak bisa menggerakkan badannya. Untungnya aura pedang masih terus terpancar hingga mengusir para perampok.


Blue mendarat di depan pria tersebut. "Pertunjukan yang menarik kawan. Ngomong-ngomong kalian dari kelompok mana?"


Bukannya menjawab, pria pemegang pedang itu malah marah dan mengeratkan giginya. Dengan sekuat tenaga pria itu mengayunkan pedangnya.


"Ayolah, aku hanya bercanda."


Blue menusuk pria yang merebut pedangnya. "Aku ambil lagi ya..."


"Sial...!" teriak pria yang susah payah mempertahankan pedangnya.


Blue menghilang layaknya debu yang tertiup angin. Hutan terlihat sangat sepi, tapi sosok pria tampan muncul dari belakang pohon.


"Aku harus berhati-hati, dia pria yang sangat licik." Osiris dia adalah dewa kehidupan yang melihat konspirasi aneh di wilayahnya.


Disisi lain Blue tersenyum manis, ia berhasil menarik Osiris keluar dari tempat persembunyian. "Sepertinya bukan waktunya menyerang."


Meskipun menyadari keberadaan Osiris, Blue tidak dapat menentukan tempatnya. Ini akan menjadi bencana jika Osiris lebih kuat dari perkiraan.


Moris, Agni, Ihsan, dan Yuri muncul di sebelah Blue. Mereka memberikan laporan tentang Kerajaan Kairo.


"Tuan, sepertinya banyak kekuatan gelap yang bersarang di bawah kerajaan."


Moris sudah menyelidiki beberapa jalut perdagangan manusia. Ia melihat banyak informasi dan semuanya mengarah pada kerajaan.


"Seperti yang aku temukan, hampir semua bandit punya bekingan di dalam istana. Baik itu pembunuh bayaran maupun pedagang barang ilegal." Yuri menyampaikan informasi yang dia dapatkan.


Karena Agni dan Ihsan masih kecil, mereka tidak bertugas mengumpulkan informasi. Mereka hanya fokus berlatih untuk mengejar ketertinggalan.


"Kita harus menunggu waktu yang tepat. Ayo ke pasar budak!" Blue memimpin jalan semua orang.


Pasar budak terbuka lebar untuk para penduduk kerajaan kairo. Namun sedikit dipersulit untuk para pelancong yang datang dari luar.


"Tunjukkan kartunya!" bentak penjaga pintu masuk. Ada 7 penjaga pintu yang tampak garang dan menakutkan.


Moris menyodorkan kartu identitas salah satu bangsawan di Kerajaan Kairo. "Kami perwakilan dari keluarga Syah."


"Maafkan saya tuan," kata penjaga sambil memberikan jalan. Mereka semua tampak ketakutan ketika melihat kartu identitasnya.


"Tentu lain kali jangan merendahkan orang!" ucap Moris.


Mereka semua masuk kedalam ruangan. Blue tersenyum manis melihat banyak budak yang berbakat dan berpotensi memberontak.


"Beli semua budak, jangan pedulikan harganya!" kata Blue memberikan perintah pada Moris.


"Baik tuan."


Dalam sekejap mata semua budak menandatangani kontrak perjanjian. Mereka semua akan dipaksa menurut semua perkataan Blue.


"Baiklah, ayo buat sedikit kekacauan!"