
Para penjaga Keluarga Margareta memang kuat di dunia nyata, tapi di Domain Dewa mereka relatif tidak sekuat Blue dan beberapa pasukan Fairy Dance.
Blue tahu tekanan yang dihasilkan dari kecepatan Naga Angin terlalu berat untuk mereka yang sombong. Para penjaga Margareta hanya terlalu meremehkan Domain Dewa, mereka menurunkan penjagaannya hingga pingsan. Margareta juga tidak berbeda jauh, ia mengira Naga Angin tidak terlalu kuat untuk memaksanya menggunakan kekuatan asli.
Dengan dua tepukan tangan, Naga Angin menurunkan kecepatannya. Meskipun sudah diturunkan, Margareta tampak cukup kesulitan melepaskan auranya.
Setelah beberapa saat, mereka sampai di tempat yang dituju. Blue mengerutkan alisnya ketika melihat hanya ada padang pasir saja.
Liem maju dua langkah dan mengukir garis di tanah menggunakan tongkat pemberian Blue. Bentuknya seperti segienam, tapi ada lingkaran aneh yang terbentuk di setiap sudutnya.
"Apa yang sedang dia lakukan?" tanya Margareta yang tidak tahu tindakan aneh yang dilakukan Liem. Jika ingin mengukir simbol, harusnya ia menggunakan mana atau aura. Namun Liem hanya mengukir gambar aneh dengan tongkat sihinya.
"Aku juga tidak tahu, tapi dia jarang melakukan hal seperti ini. Pasti ada maksud tersembunyi yang sedang ia rencanakan."
Sosok kucing melompat ke pelukan Blue. "Dia sedang mengukir simbol jahat. Sebaiknya jangan dekat-dekat kalau tidak ingin mati," ungkap Kitty dengan tatapan serius.
Margareta mengerutkan alisnya, ia merasa direndahkan oleh kelompok Blue. Namun suara kesakitan penjaganya terdengar, ia langsung menghampiri rekan-rekannya. Entah apa yang mereka bicarakan, tetapi semua rekan Margareta tampak serius.
Blue tidak ingin mencampuri urusan mereka, ia melanjutkan pelajarannya melihat simbol yang diukir Liem di atas padang pasir. Menurut pengetahuannya, simbol itu merupakan susunan simbol milik para iblis.
"Mengapa Liem mengukir simbol iblis disini?"
Kitty mencoba menjelaskan menurut pengetahuannya. "Athena dan aku pernah melawan sosok iblis kuat, mereka semua menyusun simbol itu di setiap wilayah kekuasaannya. Meskipun tampak sama, aura yang dipancarkan simbol berbeda, aku tidak yakin apa yang diukir Liem."
"Wilayah kekuasaanya... sekarang semua terhubung, mereka yang berhasil membangkitkan desa di tengah gurun pasir ini juga menyusun simbil."
Blue tampa sadar mengucapkan sesuatu yang seharusnya tidak di dengar Kitty. Untungnya Kitty tidak menanggapinya secara berlebihan, ia menganggap informasi ini ada di dunia nyata dan sudah terbiasa karena Blue selalu menciptakan keajaiban.
"Jika seperti itu maka Liem sedang membangkitkan desa yang kamu maksud." Kitty mengungkap isi kepalanya.
Berbeda dengan Bee yang berpikir kritis, seharusnya informasi rahasia seperti itu tidak mungkin dibocorkan. Namun Blue mengetahui informasi rahasia yang bisa menghancurkan Domain Dewa. Ia mulai merasa bahwa semuanya berjalan sesuai kehendaknya.
Blue mengeluarkan alat masaknya, tidak lupa ia mengeluarkan bahan makanan untuk semua orang termasuk Margareta dan penjaganya.
Setelah menunggu 2 jam, Blue menyelesiakan semua makanan. Namun Liem masih fokus dengan ukiran di tanah, ia tampak sedang berpikir sambil menyentuh dagunya.
"Liem, ayo makan dulu!" teriak Blue memanggil Liem yang sedang fokus. Bukan jawaban yang ia terima, tetapi hanya kesunyian tanpa ada suara.
Bukannya tidak mau menjawab, Liem sudah masuk ke dalam konsentrasi penuh. Semua suara di sekitarnya akan menghilang, bahkan ia tidak akan sadar ada musuh yang mendekatinya.
"Evly, buat simbol pelindung untuk Liem. Biarkan dia menyelesaikan apa yang dimulai," kata Blue sambil mempersilahkan kelompok Margareta duduk bersama rekan-rekannya.
"Sebuah kehormatan bisa mencicipi masakan dari salah satu pemain terbaik Fairy Dance." Margareta hanya memuji saja, ia sudah tahu bahwa orang kuat seperti Blue tidak mungkin membuat masakan enak.
"Tidak perlu memuji, aku hanya koki biasa. Silahkan dicicipi."
Margareta mengambil sendok dan degera memasukkan makanan ke mulunya. Perlahan tapi pasti, makanan yang di kunyah menciptakan cita rasa yang tidak pernah mereka nikmati.
Ekspresi dingin Margareta mulai berubah kemerahan, ia tidak bisa menahan hawa nafsunya dan segera menghaniskan makanan di makoknya.
Setelah habis dia barus sadar ternyata rekan Blue sudah menghabiskan jatahnya dan meminta mangkok ke dua. Margareta menoleh kebelakang untuk memastikan rekan-rekannya. Matanya sekali lagi mau copot, semua rekan-rekannya ternyata tidak ada dan sudah mengantri untuk mangkok ke dua.
Blue hanya tersenyum manis melihat tingkah konyol para orang yang dirumorkan seorang vampir dubia nyata. Setelah melihat kelakuan mereka, Blue ragu bahwa keluarga Margareta adalah vampir.
Setelah beberapa saat, akhirnya Liem menyelesaikan semua ukirannya. Sebuah istana megah tiba-tiba muncul dibarengi oleh para monster.
Blue mengerutkan alisnya, ia merasa pernah melihat ini sebelumnya. Tapi entah mengapa ia melupakan sesuatu yang begitu penting.
"Ini istana Raja Neraka Lucifer!" ucap Kitty menggunakan telepati.
"Tuan, aku berhasil memanggil istana di neraka. Jika kita berhasil membunuh semua monster, istana ini akan menjadi milik kita!" seru Liem sambil melambaikan tangannya.
Tiba-tiba sosok monster bersayap dengan kecepatan tinggi mencoba menusuk Liem dari belakang. "Beraninya kau merebut istana tuanku!"
Bukannya menghindar, Liem hanya melihatnya dengan mata yang berubah merah. Keduanya tampak saling berkomunikasi, tetapi mereka menggunakan telepati sehingga Blue dan lainnya tidak mendengar.
Margareta dan kelompoknya sudah mengeluarkan senjatanya, mereka siap bertempur untuk merebut desa misterius didepannya.
"Bos, apa kita tidak merebutnya dari tangan kelompok ini?" tanya seorang penjaga Margareta.
"Apa kau bodoh, sudah jelas kekuatan kita jauh di bawah mereka. Kalau mau mati jangan menyeretku!" jawab Margareta dengan suara pelan.
Meskipun dia sudah berteman baik dengan Jessica, ia masih seorang pebisnis yang bergerak ketika keuntungan ada di depan mata. Namun musuhnya sekarang bukan manusia biasa, ia tidak bisa gegabah merebutnya.
Blue waspada dengan pergerakan kelompok Margareta yang menarik senjata setelah seekor monster menghampuri Liem. Ia sudah mengerti bahwa kelompok Margareta punya maksud tersembunyi tapi tidak mau bergerak.
"Apa kalian menginginkan istana ini?" tanya Blue melemparkan pertanyaan menjebak.
"Ketua Blue terlalu berlebihan, kami disini hanya untuk membantumu. Jadi jangan berpikiran Sprektre akan merebutnya dari anda." Margareta menekan emosinya untuk memiliki istana megah di tengah gurun pasir.
"Aku tidak bercanda, kalian bisa memilikinya. Namun aku minta 70% keuntungannya untuk Fairy Dance yang akan dikembangkan di Benua Timur."
"Ketua Blue telalu melebih-lebihkan istana ini. 70% bagi Sprektre sangat besar, bagaimana jika membaginya 50 50. Semua administrasi kami yang mengurusnya."
"70% adalah garis bawah yang aku berikan. Lebih baik pikirkan lagi setelah melihat istananya." Blue berjalan menuju gerbang.
Nama istana yang muncul sedikit membingungkan semua orang.
...[Selamat Blue talah menjadi pemain pertama yang menemukan istana neraka, Lucifer Village.]...
Seperti yang dikatakan Kitty, ternyata Liem mencoba untuk memanggil istananya di Neraka. Dab gurun pasir ini adalah media terbaik untuk memanggilnya.
Ditambah lagi para monster bersembunyi, Blue berharap kelompok Margareta tidak menyadarinya. Namun setelah menoleh ia segera sadar bahwa Margareta dan kelompoknya sudah sadar banyak monster yang bersembunyi.
Blue merasa rencananya menarik Margareta menjadi budak istana ini akan segera gugur. Nyatanya berbeda dari pikiran Blue, ternyata Margareta malah kagum dan waspada karena banyak monster yang bersembunyi di depan Blue, ia harus hati-hati dalam ucapannya.
"Terima kasih telah memberikan kepercayaan ini pada kami, jadi kapan kita menandatangani kesepakatan aliansi?" tanya Margareta.
"Semua itu akan diurus Leon, aku hanya perantara dan petualan bebas saja."
Jawaban Blue membuat Margareta ingin memukul pria tinggi tersebut.