
Yuri yang menggunakan sebagian kekuatannya tidak menyangka lawannya tidak terluka sama sekali. Mata Dewa digunakan untuk mencari informasi tentang manusia aneh di depannya.
Sayangnya Mata Dewa milik Yuri tidak dapat menembus pertahanan sistem merah. Hanya ada tanda tanya besar di menu identifikasinya.
"Siapa kau?"
Blue tersenyum tipis. "Wanita cantik sepertimu sangat arogan, apa kedua orang tuamu tidak mengajari sopan santun?"
Meskipun Yuri terlihat muda dan cantik, Blue bisa melihat umurnya lebih dari 2100 tahun.
"Jangan membuatku marah, tanah dewa berjalan sesuai kekuatan. Apa kau ingin menghalangi rencanaku?"
Yuri mencoba menggali informasi yang diinginkan, sosok pria berpakaian biru dengan lambang sayap di dadanya tampak sangat mencurigakan. Jika Pedang Damaskus tidak didapatkan, kesempatannya membalas dendam Yuji akan semakin tipis.
Dewa Ebisu sedang ada di dalam latihan tertutup, ia menginginkan Pedang Suci Damaskus untuk dijadikan senjatanya. Pertarungannya akan berat karena pembunuh Yuji dilindungi Hakim Agung.
"Rencana apa yang kau maksud, mungkinkah ini yang kau cari?" tanya Blue mengeluarkan pedang suci Damaskus.
Meskipun bukan asli, pedang suci itu memiliki sekumpulan simbol yang sangat mendominasi. Bahkan Yuri tidak mengetahui kalau itu pedang palsu.
Yuri yang membuat rencana matang terkejut dengan situasi aneh ini. Pedang suci yang selama ini ia incar ternyata tidak ditangan Penguasa Kerajaan Damaskus.
"Berapa harganya?" tanya Yuri yang tidak mau membuat masalah dengan orang kuat di depannya.
"Bolehkah aku bertanya, mengapa kau mencari pedang suci padahal Ebisu bisa membuat pedang tingkat dewa?"
Blue tidak mengerti mengapa dewa yang bisa menciptakan senjata malah mengincar senjata orang lain.
"Moris adalah pencipta senjata pedang Damaskus, rumor mengatakan bahwa pedang itu bisa melukai regenerasi dewa."
"Apa Ebisu tidak bisa membuatnya?"
Yuri mengerutkan alisnya, ia merasa sedang diinterogasi. "Tidak tahu. Menurut pengetahuanku, tuan tidak bisa menciptakan senjata aneh seperti itu."
Blue melempar Pedang Damaskus palsu, ia tersenyum tipis dan berbalik arah. Yuri yang mendapatkan pedangnya langsung berlari ke arah sebelahnya.
Namun dua bilah pedang tiba-tiba menusuk punggungnya, ia menoleh kebelakang dan mendapati Blue tersenyum kearahnya. Tanpa menunggu lama ia langsung menggunakan keterampilan menyelamatkan jiwa. Tubuhnya memudar dan menghilang seperti debu yang tertiup angin.
Blue tidak bisa berkata apa-apa, ia kembali untuk melihat perkembangan Liem dan teman-temannya.
Disisi lain Yuri muncul di sebuah gua sambil memegang dadanya. Darah bercucuran di sekujur tubuhnya, kemudian mulutnya menyemburkan segumpal darah segar.
"Sialan, siapa orang itu. Meskipun tidak bisa melihatnya, aku bisa merasakan auranya yang menakutkan."
Yuri terguling tak berdaya di dalam gua, ia memeluk pedang Damaskus palsu supaya tidak direbut orang.
Ragna yang baru pulang mendapati ibunya tidak ada, ia langsung masuk ke dalam ruang harta dan mencari beberapa benda berharga. Tujuannya tidak lain untuk memprovokasi Blue yang telah menghinanya.
Setelah berjalan beberapa saat, ia melihat Yuri terluka parah sambil memeluk pedang suci Damaskus. Pikiran gelap mulai menghantuinya, Ragna belahan mendekat dan mengambilnya.
Setelah berhasil mengambilnya, Ragna berlari keluar istana untuk memamerkan kekuatannya. Pedang Suci Damaskus diangkat, cahaya putih langsung terpancar darinya.
Tanpa memperhatikan sekitarnya, Ragna mengayunkan pedang itu untuk menguji kekuatannya. Satu sayatan berhasil menghancurkan patung raksasa didepan istana.
Ebisu sudah sampai di sama setelah merasakan energi yang begitu familier. Ternyata Pedang Suci Damaskus dipegang Ragna.
"Yuri, kau benar-benar mengkhianatiku!"
Dewa Ebisu yang sudah gelap mata langsung menarik panahnya dan menghujani Ragna dengan panah suci miliknya.
Ragna yang tidak tahu apa yang terjadi dengan sigap menangkis semua panag dengan pedang palsu. Meskipun palsu, pedang itu berfungsi dengan baik dan menghadang semua panah.
Beberapa panah Ebisu berhasil menancap ke tubuh Ragna. Dewa Ebisu bertepuk tangan dan menampakkan wujudnya.
"Seperti yang di harapkan dari Pedang Suci Damaskus, berikan padaku!" ucap Dewa Ebisu.
"Tuan, mengapa kau melakukan ini?" tanya Ragna yang tidak tahu bahwa Dewa Ebisu adalah pengguna panah.
"Apa lagi kalau bukan untuk kekuasaan. Oh iya, aku lupa mengatakan ayahmu juga mati dengan panah ini. Semoga kalian segera bertemu!"
Ragna adalah ras iblis, ia melepaskan kekuatan garis keturunannya. Namun semua enerhinya tiba-tiba terserap kedalam panah.
"Jangan paksakan dirimu, panah itu terbuat dari material langka. Jadi kekuatan iblis neraka tidak akan bisa melukaiku!"
Ragna perlahan tak sadarkan diri, ia mati dalam keadaan menatap musuhnya. Sayangnya Ragna yang punya bakat terbaik tidak bisa melanjutkan umurnya. Tubuhnya transparan dan menghilang di depan istana Danau Darah.
Dewa Ebisu yang melihat beberapa saksi mata langsung membunuhnya. Ia tidak bisa meninggalkan jejak sedikitpun untuk masalah dikemudian hari.
Sayangnya ia lupa bahwa di istana Danau Darah ada ruangan rahasia. Yuri terlihat sangat marah, tapi ia tidak bisa keluar karena luka di tubuhnya.
"Jadi selama ini kau adalah penyebab kesengsaraan ini, brengsek!" kata Yuri sambil mengeratkan giginya.
Karena sumpah darah yang telah dia berikan pada Dewa Ebisu, Yuri tidak bisa mengkhianatinya tanpa persiapan. Tiba-tiba ia teringat sosok pria berbaju biru yang memberikannya pedang Damaskus.
"Ya, dia adalah pilihan satu-satunya!"
Blue yang sedang menempa pedang bersin. "Apa Domain Dewa sudah menambahkan fitur bersin. Ini sungguh mengganggu penempaan." Tangannya yang memegang baja panas langsung membuangnya.
"Tuan, Danau Putih mengalami goncangan hebat. Sepertinya ada pertarungan disekitarnya!" kata Liem yang melaporkan situasinya.
Liem dan Kitty tanpa pikir panjang langsung meninggalkan tempatnya. Mereka menjadi dua saksi mata yang melihat pembantaian Dewa Ebisu pada rakyat Danau Darah.
"Ya, kalian mundur dulu. Ebisu sudah mendapatkan apa yang diinginkan, sekarang waktunya kita bergerak."
Blue keluar dari ruang penempaan dan segera ke istana Kerajaan Damaskus untuk menemui Shira. Untuk menjaga negosiasi berjalan lancar, beberapa orang keluar dari Dunia Buatan. Mereka adalah Yami, Rafaela, Naga Angin, Emma, dan Serly.
"Halo Bos, sudah lama kita tidak bertemu!" ucap Serly dengan nadanya yang begitu santai. Tepat setelah mengatakannya ia merasa aura dewa disekitarnya cukup tipis.
"Apa ini benar tanah dewa?" lanjutnya kebingungan. Pasalnya di dalam Dunia Buatan ratusan kali lebih padat dibandingkan tanah dewa.
"Ada konspirasi dibalik semua ini. Untuk sekarang kalian amankan jalur negosiasi."
Serly akan menjadi pemimpin kelompok kecil dalam pengamanan jalur. Kemungkinan besar pasukan Ebisu akan menyerang Kerajaan Damaskus untuk menghilangkan bukti kejahatannya.
Kemampuan Serly sebagai hantu tua sangat baik, ia bisa memetakan semua kemungkinan dan membuat pergerakan pencegahan.
Blue memanggil Moris dan Agni untuk menemaninya. Sedangkan Liem dan Kitty akan menjadi kelompok Serly.
Tepat setelah semuanya bubar, Moris dan Agni mendatanginya. "Tuan, anda mencari kami?"
"Ayo masuk, kita punya urusan dengan penguasa kerajaan."
Moris tidak punya alasan untuk menolak, ia sebenarnya adalah pemilik dari kerajaan ini. Namun Shira menjadi penguasanya karena ia harus fokus mengurus Agni.
Ketiganya berjalan menuju istana kerajaan, dua penjaga gerbang menghadangnya. "Tuan ini bukan tempat umum, tolong menjauh!"
"Aku punya urusan dengan penguasa kerajaan." Blue menunjukkan kartu identitasnya yang biasa.
"Maaf anda tidak bisa masuk, Tuan."
Moris menunjukkan token istimewa untuk masuk dan keluar istana kerajaan. Warnanya tampak seperti coklat susu, token itu hanya dimiliki oleh Moris atau keturunannya.
"Biarkan kami menghubungi atasan!"
Salah seorang penjaga langsung berlari menghubungi kesatria kerajaan. Dalam beberapa detik saja tiga kesatria puncak kerajaan Damaskus menatap Blue.
"Siapa kalian?"
"Aku hanya teman yang pernah bertemu dengannya ketika bekerja." Blue tidak berbohong, tapi ia mencoba membuat perspektif ganda.
Tidak mungkin seorang raja bekerja dengan seorang prajurit baisa. Ditambah lagi ia tampak seperti seorang rendahan yang tidak memiliki kekuatan.
Mata Dewa langsung menyala, salah satu kesatria dapat memastikan mereka bertiga adalah Dewa Sangat Rendah.
"Pulanglah, Nak. Istana ini bukan tempat rekreasi!"
Blue tidak bisa membiarkannya pergi begitu saja, bagaimana jika kita mengadu keterampilan pedang. Jika aku kalan kami akan pergi tampa protes, jika menang biarkan kami menemui penguasa kerajaan.
Disisi lain Shira mendengar keributan di gerbang istana, ia langsung menggunakan keterampilan untuk melihat.
"Pria itu ada disini, apa yang dia lakukan dengan ranting kayu itu!"
Blue menggenggam batang kayu yang ia ambil dari bawah pohon. "Ayo mulai!"
"Sombong!"
Salah satu penjaga gerbang langsung mengayunkan pedangnya, ia menggunakan aura dewa untuk menghantam lawannya. Meskipun seorang Dewa Rendah, para penjaga gerbang itu terlihat sangat lambat.
Blue melangkahkan kakinya dan menghindari tebasan musuh dengan jarak yang tipis. Ayunan ranting pedangnya mengenai bilah pedang lawan, sebuah pertarungan aura ditampilkan.
"Bodoh, apa kau pikir kesatria hanya sebuah nama!"
Pedang kesatria Kerajaan Damaskus menyala, tanpa peringatan ia menghantamkan sisi tumpul pedangnya ke arah Blue.
Sayangnya itu adalah kesalahan besar, Blue melompat dan memadatkan energi jiwa ke ujung ranting pohon. Bilah pedang yang berbenturan dengan ranting pohon langsung patah.
Langkah kakinya perlahan mundur, kesatria kerajaan kalah melawan ranting pohon. Tidak hanya harga dirinya, tetapi tubuhnya bergetar ketakutan.
Blue mendekat dan menepuk pundaknya. "Jangan terlalu tertekan, kau masih sangat muda." Kesatria kerajaan itu baru berumur 200 tahun, jadi bisa dianggap muda untuk ukuran tanah dewa.
Blue mengalihkan pandangannya pada sosok pria yang memperhatikannya dari kejauhan. "Shira, sampai kapan kau ingin berdiam diri?"
Shira menarik teknik penglihatannya, ia hanya bisa tersenyum kecut dan menghilang dengan cepat. Tiba-tiba tubuhnya sudah sampai di depan Blue.
"Sejak kapan kau menyadarinya?"
"Sejak mataku melihat dan hidungku mencium bau badanmu!"
Blue menggosok hidungnya untuk menyombongkan dirinya. Meskipun sebenarnya dia tahu dari sistem merah.
"Haha, kamu memang pria yang mengerikan. Jadi untuk apa kamu mencariku?"
"Jangan bicara formal, biasa saja seperti sebelumnya. Aku ada informasi penting yang tak mungkin diungkapkan di ruang terbuka seperti ini."
"Aku paham, ayo masuk dan membicarakannya di dalam."
Blue menganggukkan kepala di melihat Moris dan Agni, ia memberikan kode untuk mengikutinya.