Domain Dewa : Penguasa Benua

Domain Dewa : Penguasa Benua
Raid


Arief tidak bisa berhenti memikirkan perkataan Orakel, ia mencoba melupakannya tapi setiap perkataannya terbayang-bayang di kepalanya. Sampai akhirnya ia memilih untuk masuk ke Domain Dewa.


Blue memasuki Domain Dewa tapi ada yang aneh, ia di bangkitkan jauh dari tempat Orakel. Peta si sistem juga menunjukkan ia ada di ujung selatan Tanah Dewa.


Bee muncul dari ruang penyimpanan, ia sedikit khawatir dengan keadaan Blue yang tiba-tiba linglung. "Apa kau baik-baik saja?" tanyanya dengan nada cemas.


"Ya, tenang saja."


Blue mencoba melangkahkan kakinya keluar dari rumah kebangkitan. Namun langkahnya terhenti karena ada pembatas tak kasat mata yang menghentikannya.


Setelah menggunakan Mata Dewa, ia menyadari sistem biru sedang mengurungnya.


[Anda dilarang keluar selama 5 hari.]


"Apa yang terjadi!" ucap Blue kebingungan, ia tidak pernah mengalami hal aneh seperti ini. Namun kekhawatirannya segera mereda setelah pemberitahuan sistem merah membuka jalannya.


[Silahkan keluar dan buat kekacauan!]


Blue mencoba mempercayai perkataan Sistem Merah, ia keluar dari rumah kebangkitan seperti biasanya. Ini adalah kali pertama dalam kehidupan keduanya keluar dari rumah kebangkitan.


Perlu diketahui, Blue belum pernah mati di kehidupan keduanya. Hal itu karena semua kemampuan dan skillnya sudah melampaui pemain biasa.


Ternyata benar, Blue bisa keluar tanpa ada campur tangan sistem biru. Ia memanggil Naga Angin untuk membawanya terbang menuju Moskow.


Butuh waktu lama untuk kembali ke Kerajaan Moskow, Blue mengirim pesan sistem pada Liem dan teman-temannya untuk bersikap rendah.


Malam pertama ditempuh tampa istirahat, Blue dan Naga Angin terbang di atas langit terus menerus menuju Kerajaan Moskow.


Setelah beberapa saat terbang terus-menerus, Blue memilih untuk istirahat sembari mengisi perutnya yang kosong.


Kerajaan Kuala adalah kerajaan yang menjadi tempat persinggahan sementaranya, Blue menunjukkan tanda pengenal pada penjaga gerbang dan langsung berlari ke pasar.


Kedua penjaga yang memeriksa kartu nama Blue langsung melaporkannya ke atasan, keduanya tampak curiga pada Blue.


Tidak mau memperpanjang masalah, Blue memilih mengabaikannya dan membeli beberapa bahan baku untuk masakannya.


Namun kedamaian belanjanya segera sirna ketika seorang kapten keamanan Kerajaan Kuala mendatanginya sembari menunjukkan kartu identitas.


"Tuan Blue, tolong ikuti kami ke kantor."


Meskipun tidak terlalu terkenal di seluruh Tanah Dewa, Kerajaan Kuala adalah tempat yang paling aman di bagian selatan. Kapten keamanan mereka saja setara Dewa tingkat Rendah.


"Baiklah, biarkan aku menyelesaikan belanjaku." Blue membayar kekurangan langsung memasukkan bahan-bahan ke ruang penyimpanan.


Meskipun tidak terlihat, Blue bisa merasakan ada 5 Dewa Menengah yang sedang mengawasinya dari bayangan-bayang.


Sesampainya di kantor keamanan kerajaan, Blue harus masuk ke ruang interogasi dengan sedikit pemaksaan. Sembari melirik pria yang mendorongnya, Blue tersenyum tipis.


"Duduk aku ingin tahu siapa kau sebenarnya?" salah seorang pria berbadan tegap serta tubuh tinggi menginterogasi. Dia adalah komandan pasukan keamanan Kerajaan Kuala.


"Blue, seorang pengembara yang kebetulan singgah di Kerajaan Kuala." Blue memberikan jawaban yang jujur tapi ekspresi Komandan Keamanan berbeda dari harapan.


"Jangan berbohong, kau pikir kartu identitas ini bisa di dapatkan oleh seorang pengembara!" teriak Komandan Keamanan.


Blue melirik kartu identitas yang dia berikan pada petugas keamanan, ia segera teringat Shira meminjam kartu identitasnya beberapa hari dan mengembalikannya.


"Oh, raja Shira pernah meminjamnya untuk alasan pribadi."


Blue belum sadar kartu identitas yang ia miliki setara dengan seorang Raja. Meskipun hanya ditandatangani oleh satu Raja, Blue berhak mendapatkan perlakuan khusus.


Komandan Keamanan malah gemetar marah, ia tidak mengira manusia rendahan yang kekuatannya tidak melebihi Dewa Sangat Rendah mengenal Raja Shira.


"Bajingan, beraninya kau!" teriak Komandan Keamanan sambil memukul meja hingga hancur. Aura membunuh terpancar dari tubuhnya menekan Blue untuk tunduk.


Bukannya takut akan kematian, Blue malah diam di kursinya sambil membersihkan serpihan meja yang ada di bajunya. "Hei bung, aku salah apa?" tanya Blue yang tidak mengerti situasinya.


Sebenarnya Blue hanya berpura-pura bodoh, ia tahu statusnya sangat istimewa. Namun penampilannya terlihat tidak meyakinkan, makanya penjaga keamanan Kerajaan Kuala mengira ia adalah perampok.


"Berhenti!"


Blue menoleh ke arah Halim dan menggunakan Mata Dewa untuk mengintip statusnya. Senyumnya langsung muncul ketika melihat Halim adalah Dewa Puncak yang siap untuk menjadi Maha Dewa.


"Maafkan rekanku, Tuan Blue." Halim menundukkan kepala untuk meminta maaf dengan tulus.


"Jangan menganggapnya serius, Tuan Halim. Aku hanya kebetulan lewat dan mencari keberuntungan." Blue tersenyum tipis untuk menyambutnya.


Halim membalasnya dengan senyuman. "Tuan Blue sungguh bijak, mari ikuti aku ke istana."


Blue tidak punya alasan untuk menolak, ia mengikuti Halim bersama beberapa jendral Kerajaan Kuala.


Sesampainya di istana, Blue dijamu dengan makanan yang super mewah. Bahkan beberapa diantaranya dapat meningkatkan status secara permanen.


"Sambutan yang mewah, Tuan Halim. Aku hanya datang untuk bertamu sebentar."


"Anda terlalu memuji Tuan Blue."


Keduanya bercengkerama cukup lama, Blue menyadari ada sesuatu yang dibutuhkan Kerajaan Kuala.


"Tolong sebutkan tujuan anda yang asli, Tuan Halim?" tanya Blue dengan senyum manis sambil menaruh pisau dan garpu miliknya.


"Tuan Blue memang sangat cerdas, kami hanya ingin meminta Tuan Blue mendampingi penyerangan Raid di ujung utara." Halim mengatakan tujuan aslinya.


Raid Tanah Merah adalah Raid yang belum terselesaikan sejak ribuan tahun lamanya. Akhir-akhir ini raid itu mulai tidak stabil dan memunculkan beberapa monster tingkat 900 yang cukup merepotkan.


Meskipun ribuan pembuat simbol telah dikerahkan, monster dari Raid masih tetap keluar dan membunuh beberapa rakyat.


Kesatria kerajaan juga sudah ditugaskan untuk menenangkan atau setidaknya membunuh bos di dalam raid. Setelah ribuan kesatria yang setara dengan Dewa Menengah tidak bisa mengubah keadaan.


Meskipun mereka mati, para dewa itu bisa dibangkitkan dengan metode khusus. Mereka yang sudah dibangkitkan langsung menyerang mengundurkan diri dari kesatria kerajaan. Terlihat dari wajahnya mereka semua takut akan mahkluk yang sangat kuat.


"Jadi anda memintaku membimbing pasukan Kerajaan Kuala memasuki Raid Tanah Merah?" tanya Blue.


Halim tersenyum tipis dan menggelengkan kepala. "Kami tidak punya pasukan yang berani memasukinya lagi, termasuk dua jendral di belakangku."


Blue sudah tahu sifat asli dari Halim, ia sedang memanfaatkan kekuasaannya untuk berbohong. Blue menganggukkan kepala dan menyetujuinya, "Baiklah. Aku akan pergi sendiri."


Melirik ke arah para kesatria kerajaan, Blue bisa melihat ekspresi mereka yang mencoba membunuhnya. Belum terlihat mereka di pihak mana, Blue akan mencoba menyelesaikannya.


Setelah sampai di depan Raid Tanah Merah, Blue melirik ke arah 5 Jenderal Perang Kerajaan Kuala. Mereka tampak berwajah datar dan tidak ada sedikitpun rasa ketakutan.


Padahal jelas dikatakan bahwa semua orang masuk ke dalam raid telah keluar sari pasukan kerajaan. Namun 5 orang yang mengikutinya memiliki pengalaman, Blue bisa mengetahuinya dari sistem merah.


Tidak hanya pengalaman biasa, kelimanya adalah veteran yang memasuki Raid ini sebanyak 7 kali. Blue tidak mau membuat pergerakan mencurigakan, ia melanjutkan langkahnya masuk.


Baru beberapa langkah memasuki raid, patung setinggi 20 meter berdiri tegap di depan gerbang menuju raid utama.


Patung itu berbentuk pria tua yang menutup mata kirinya menggunakan sebuah penutup mata berwarna hitam. Burung gagak bertengger di kedua pundaknya. Aura yang dipancarkan sedikit membuat Blue merinding, matanya langsung melirik ke arah kaki patung.


Blue menemukan beberapa tulang manusia, mereka tampak sangat kuat dan berwarna putih terang.


"Tuan Blue, mari abaikan bangkai para pengkhianat yang lari itu. Ayo segera masuk!" ucap salah satu jendral perang.


Blue mengangguk dan segera mendorong gerbang menuju raid. Monster setinggi 3 meter langsung menyerang mereka.


Bukannya maju, 5 jenderal yang mendorongnya untuk maju malah bertahan sehingga terkena serangan monster. Akhirnya 5 orang jenderal kerajaan Kuala keluar dari Raid.


"Tidak, tuan Blue!" teriak salah seroang pria yang berpura-pura.


Gerbang raid tertutup seperti biasa, kelimanya tersenyum dan menunggu kedatangan Blue untuk merebut drop yang dijatuhkan para monster.


"Aku sudah menduganya." Blue tersenyum manis karena salah satu pengikut Odin sudah menghampirinya.