
Sayangnya kesenangan itu segera berakhir, hal itu karena monster kepala sapi sudah ketakutan dan kabur.
"Hei setidaknya tunjukan jalannya!" teriak Blue sambil melambaikan pedangnya.
Bukannya berhenti, sekawanan monster sapi malah meningkat kecepatan larinya.
Blue memasukkan pedangnya ke ruang penyimpanan lagi, ia tidak menyangka kesenangan bertarungnya muncul lagi setelah sekian lama.
"Bodoh, siapa yang tidak takut ketika ada manusia melambaikan senjata." Bee keluar dari ruang penyimpanan dan segera mendekati pintu dibelakang Blue.
"Hehe, aku lupa masih membawa pedang." Blue tampak tersenyum tipis.
"Berhenti bicara dan bantu aku memecahkan kodenya." Bee meraba pintu masuk kedalam Tartarus. Mereka semua tidak tahu berapa lantai Tartarus, jadi Blue harus menuruninya satu persatu.
"Ya, ya..."
Biasanya Bee yang tampak malas, tetapi sekarang dia menjadi sangat serius ketika dihadapkan dengan ilmu pengetahuan baru.
Tidak kalah penasarannya, Ela dan Elvy muncul dan membantu memecahkan masalah. Raul dan Drakula juga keluar, tetapi mereka tidur di tempatnya masing-masing.
Keempatnya bukan orang biasa, jadi dalam beberapa menit saja kode pintu dipecahkan.
Sembari memecahkan kode, Blue dan kelompoknya mengetahui kebenarannya. Tartarus punya 12 lantai, semuanya mempunyai monster penjaganya masing-masing.
Beruntungnya Blue ketika sampai langsung ada di wilayah Monster Sapi, jadi cepat menemukan pintu masuk kedalam Tartarus lebih dalam.
Untuk selanjutnya tidaklah pasti, Blue harus segera menyiapkan beberapa simbol peledak untuk mengamankan jalan.
Setelah memeriksa ruang penyimpanan, ia tampak terkejut. "Sejak kapan aku punya peledak segini banyaknya?"
Bee bergumam, "Hm... apa kau sudah lupa membuat simbol peledak ketika ingin menyerbu Azazel."
"Oh iya."
Alasannya membuat peledak sangat banyak tidak lain untuk mengamankan kemenangan, tetapi siapa yang menyangka ternyata Azazel lebih pintar dari dugaan.
Setelah merasa cukup, Blue menarik semua rekannya. Ia merasa akan dikirim ke tempat yang berbeda jika masuk bersama-sama.
Tebakannya ternyata benar, jika ada lebih dari satu orang, maka semuanya akan di lempar ke tempat yang berbeda.
Blue sampai di lantai 11 Tartarus, untuk mencapai dasarnya ia harus menuruni satu persatu. Gelarnya sebagai bangsawan Neraka membuat para iblis yang melihatnya enggan menyapa.
"Sepertinya ada yang aneh."
Blue merasa aneh karena seharusnya para iblis neraka akan menyambutnya. Namun semuanya hanya melirik dan melanjutkan perjalanannya.
Untuk menemukan pintu menuju Tartarus selanjutnya, Blue mencoba bertanya pada iblis yang berwujud manusia.
"Tuan, apa anda tahu pintu menuju lantai selanjutnya?" tanya Blue dengan suara sopan.
Bukannya mendapat jawaban, Blue malah mendapat serangan tinju tepat di wajahnya. Serangan itu tidak dapat dilihatnya, seperti sebuah angin yang tiba-tiba mendorongnya.
Pukulan tadi berhasil mendorong Blue beberapa langkah, matanya langsung menatap iblis yang ditemui. Namun serangan selanjutnya diterima lagi, walaupun serangan itu tidak dapat membunuhnya, harga diri Blue sebagi pemain tercepat langsung ternodai.
Untuk memastikannya lagi, Blue mendekat dan mengepalkan tangannya. Tiba-tiba tangannya berhenti dan tidak mau mengikuti instruksinya.
Blue terbang beberapa meter dari iblis tersebut. "Apa yang terjadi?"
Ternyata teknik yang digunakan iblis berwujud manusia itu sama seperti tangan tak kasat mata milik Martha dan dirinya sendiri. Namun kekuatannya tampak tidak lebih kuat darinya, tetapi kepadanya sama seperti Saint Martha.
Blue baru sadar, semua monster dan iblis di Tartarus adalah penjahat yang sangat kuat. Bahkan beberapa dari mereka pernah menantang penguasa dunia.
Tidak terkecuali iblis didepannya, Blue mencoba mengedarkan auranya. Namun sebuah pukulan meluncur lagi dan mendarat di perutnya.
Pukulan itu tidak menghasilkan kerusakan yang besar, tetapi Blue merasakan fungsi tubuhnya mulai tidak normal.
Seperti halnya manusia, jika terkena serangan bertubi-tubi dan mengarah pada titik krusial, mereka akan mulai kehilangan keseimbangan.
Blue melompat kebelakang dan menarik Sayap Hitam, tanpa pikir panjang ia kabur dari jangkauan iblis berwujud manusia.
Bukannya mengejar, iblis itu tampak menghela napas dan bosan melihat sekelilingnya.
Blue sampai disebuah gua yang ditinggalkan, ia duduk bersila dan bermeditasi. Setelah beberapa menit akhirnya ia mendapatkan kendali penuh atas tubuhnya.
"Apa-apaan tadi itu?"
Bee keluar dari ruang penyimpanan, ia mulai mondar-mandir. "Sepertinya ini lebih sulit dari yang kita duga."
Raul yang tampak malas nyeletuk, "Kenapa tidak kita taklukkan semuanya dan bawa mereka ke permukaan. Aku pikir itu akan menjadi pertarungan yang menyenangkan!"
Blue dan Bee memandang Raul yang tidur di atas batu. Keduanya baru sadar pentingnya mencari rekan kuat, semua monster dan iblis di Tartarus sangat kuat. Jika mereka berhasil membawa semuanya ke permukaan, Zeus dan semua penguasa dunia bisa digulingkan.
Terdengar sangat gila, tetapi itu masuk akal. Blue mengepalkan tangannya. "Aku setuju!" katanya.
Untuk melawan iblis berwujud manusia yang tidak pernah ngomong tadi, Blue harus belajar tentang sense.
Teknik sense sebenarnya hanyalah teknik dasar penggunaan prana. Namun karena Blue merasa dirinya terlalu kuat, ia melupakan dasar-dasarnya.
Sembari menutup mata, Blue duduk dan merasakan udara panas disekitarnya. Meskipun pelan, ia merasakan perubahan dan arah angin melalui kulitnya.
Matanya dibuka perlahan, Blue tampak sangat tenang. "Aku sudah siap!"
Dengan penuh percaya diri Blue mengayunkan pedangnya, tapi sebelum pedangnya mengenai lawan, pipinya terkena serangan hingga ia terbang beberapa meter.
Ekspresi iblis yang menjadi musuhnya tidak berubah sama sekali, berbanding terbalik dengan Blue yang sudah mengaktifkan Teknik Sense sebelum menyerang.
"Aku tidak merasakan apapun!" Blue tidak bisa berhenti terkejut, ia sudah menggunakan teknik yang paling bisa diandalkan.
Sebelum bangkit, tubuhnya tiba-tiba terangkat dan dibanting layaknya sebuah pakaian yang akan dijemur.
Blue membentur tanah berkali-kali, ia tidak bisa merasakan mengapa tubuhnya tidak mau mengikutinya. Darah bercucuran dimana-mana, Blue tidak bisa melawan sedikitpun.
Padahal sangat jelas lawannya tidak lebih kuat darinya. Sampai akhirnya Blue menemukan strategi gila.
Karena dia tidak bisa menghindari serangan musuh, maka ia membentuk auranya menjadi sebuah tangan transparan.
Auranya langsung menangkap musuh dan mencoba membanting, keduanya saling membanting ke tanah.
Namun iblis berwujud manusia langsung pingsan setelah membentur tanah beberapa kali.
Blue melirik bar HP miliknya. "Tidak lebih dari 12%." gumamnya melihat HP yang kurang.
Tidak mau membuat kesalahan, Blue mendekati lawan tanpa melepaskan auranya. Sampai akhirnya ia memastikan bahwa lawannya sudah pingsan.
"Huh, mahkluk apa sebenarnya dia ini!"
Tepat setelah menyelesaikan perkataannya, Blue merasakan tubuhnya tertusuk benda yang sangat tajam hingga menembus perutnya.
"Ugh!"
Blue memuntahkan seteguk darah segar, ternyata iblis yang pingsan tadi menyerangnya tanpa sadar. Sistem pertahanan tubuhnya langsung aktif karena nyawanya dalam masalah besar.
Setelah memuntahkan darah, Blue mengusap dengan kain di lengan bajunya. "Sungguh mahkluk yang aneh!"
Sekali lagi Blue dikejutkan lawannya karena berdiri disampingnya seperti tidak terjadi apa-apa.
Reflek Blue mengayunkan pedangnya, tetapi pedangnya berhenti sebelum mengenai targetnya.
"Siapa kau?" tanya iblis untuk pertama kalinya.
Sembari menarik pedangnya, Blue menjawab dengan santai. "Blue Raja Segalanya!"
Karena namanya sangat mendominasi, tidak ada salahnya Blue mengungkapkannya. Namun itu tidak berarti apapun di depan iblis berwujud manusia.
"Oh, kenapa kau bisa dibuang ke Tartarus?"
"Aku tidak dibuang, tujuanku mencari Raphael. Sialnya aku harus menuruni lantai yang sangat panjang."
"Oh, ada Typhon yang menjaganya. Apa kau tidak takut manusia?"
"Apa yang perlu ditakutkan?"
"Menarik, ada manusia bodoh yang ingin menentang Typhon." Sebuah buku muncul di depannya, ia berniat memberikan tekniknya pada Blue.
"Ini?"
"Pelajari itu. Jangan berharap bisa menemukan lantai selanjutnya tanpa mengetahui teknik rendahan seperti itu."
Blue menyentuh buku tersebut, informasi lengkap tentang cara menggunakan teknik tangan tak kasat mata yang kompleks masuk ke dalam otaknya.
Karena banyaknya informasi yang masuk, Blue harus fokus dan tanpa sadar ia duduk bersila mempelajari tekniknya.
Auranya yang tenang tiba-tiba mulai bergejolak, ia membentuk tangan tak kasat mata seperti biasanya. Namun Blue merasakan ada yang salah dengan tekniknya, ia mengulangi prosesnya dari awal.
Waktu berlalu begitu cepat, tidak ada yang tahu berapa lama Blue duduk termenung dan mencoba tekniknya.
Bee disampingnya hanya diam dan memakan kaki kepiting goreng. Ia menggambar beberapa simbol untuk memperluas pengetahuannya. Dia sadar tubuhnya tidak bisa berkembang menjadi lebih kuat lagi, tetapi pengetahuan akan menjadi pembeda.
Iblis berwujud manusia yang melihatnya tersenyum, ia mendekati Bee dan bertanya, "Penggunaan simbol memang sangat baik, tetapi penguasaan otot tidak kalah penting."
Satu kata dari iblis itu membuka jutaan kemungkinan di otak Bee. Ia tersenyum ke arah iblis dan mengangguk. "Terima kasih," katanya.
Setelah mendapatkan sedikit petunjuk, Bee merubah wujudnya menjadi manusia dan mulai berlari. Meskipun tampak konyol seorang dewa berlari, Bee menemukan sesuatu yang baru setelah memacu dirinya lebih keras.
Tanpa sadar kakinya bergerak terus menerus menelitinya seluruh Tartarus lantai 11. Karena Blue masih duduk memahami teknik barunya, Bee menjaga dirinya sendiri.
Keduanya berlatih bersama, Bee sekali-kali mengayunkan pedangnya. Karena melihat kesungguhannya, Si Iblis mendekati Bee dan menyuruhnya mengayunkan pedang setidaknya 1000 kali sehari.
Padahal tidak ada matahari maupun bulan di Tartarus. Tapi Bee melakukannya tanpa sedikitpun protes.
Ayunan pedang Bee awalnya terlihat pelan dan tanpa tenaga. Padahal ia sudah menggunakan pedang cahaya.
Lambat tapi pasti, Bee menemukan iramanya. Ia sekarang tidak hanya mengandalkan aura cahaya, melainkan ia bisa bertarung tanpa menggunakan aura sedikitpun.
Ela, Elvy, Raul, dan Drakula tanpa sadar juga mengikuti jejak Bee. Mereka semua mendapat pencerahan dari Iblis yang tidak diketahui namanya.
Sampai akhirnya Blue membuka matanya, ia berhasil menyelesaikan teka-teki yang selalu menjadi tembok penghalangnya.
"Tidak ada yang sempurna di alam semesta," gumamnya. Setelah mengatakannya Blue berhasil membuat auranya menghilang, padahal ada puluhan tangan yang siap untuk menjatuhkan lawannya.
Si Iblis dengan senyum manis menyerangnya, Blue menjadi keripik goreng dibuatnya. Meskipun sudah membangkitkan tangan dewa, Blue tidak bisa melawan iblis yang menjaga lantai 11.