
Perkataan Moris mengingatkan Oskar pada sosok guru tua yang membimbingnya ketika kecil. Dengan tangannya ia membentuk kepribadian Oskar hingga saat ini.
Keadilan dan pertemanan selalu ditumbuhkan untuk menciptakan kekuatan. Alasan mengapa Oskar menjadi kuat tidak semata-mata karena aura dewa, tetapi karena teknik rahasia yang disebut energi alam.
Moris adalah pencetus energi alam, ia mengembangkannya puluhan ribu tahun untuk menemukan formula yang tepat. Hanya ada dua orang yang bisa memakainya, orang itu adalah Moris dan Oskar. Sedangkan murid yang lainnya tidak bisa menggunakan Energi Alam karena hati mereka tidak bersih.
Sekarang Moris tidak bisa menggunakan itu karena hatinya tertutupi oleh dendam yang mengakibatkan istrinya meninggal. Ditambah lagi kutukan yang diterima anaknya membuat alam tidak mau menganggapnya lagi.
"Tunjukkan energi alam milikmu!" seru Oskar dengan nada tinggi.
Moris menundukkan kepala, ia tidak bisa menggunakannya sekarang. "Aku sudah tidak bisa menggunakannya!"
Blue teringat sesuatu yang ia warisi dari Shen San. Tanpa menunggu lama ia langsung melepaskan energi alam yang telah diperkuat. Tidak hanya menyerap energinya, Blue juga memperbaiki energi alam disekitarnya.
Meja kayu yang retak mulai menumbuhkan daun, tanah yang retak mulai kembali seperti semula. Burung yang entah dari mana tiba-tiba datang hinggap di pundaknya.
Senyum Blue menandakan bahwa alam disekitarnya senang. "Maaf, aku tidak bisa melindungi kalian lebih lama," ucapnya pelan.
Blue merasa bersalah karena setelah ini ia akan bertarung melawan semua dewa musuhnya. Tidak hanya alam yang akan tersiksa, tetapi semua mahkluk hidup akan terkena dampaknya.
Moris sekali lagi tercengang, tapi kali ini ia tidak sendiri, melainkan ada Oskar yang membuka mulutnya.
"Mengapa kau bisa menggunakan energi alam?" tanya Oskar.
"Energi alam? energi yang aku gunakan hanyalah teknik jiwa untuk menyembuhkan alam. Secara alami mereka memberikan energinya padaku."
Konsep ini sama sekali tidak terpikirkan oleh Moris dan Oskar, mereka berfokus menarik energi tanpa memberikan sesuatu yang bermanfaat. Tanpa menunggu lama, keduanya duduk dan mengedarkan energi alam.
Agni tidak tahu apa-apa, ia mulai duduk dan memejamkan mata untuk sesuatu yang tidak dia mengerti. Sampai akhirnya Blue menepuk pelan kepalanya.
"Jangan melakukan hal yang sia-sia, ayo ikuti aku." Blue mengajak Agni ke lantai atas.
Pemilik Restoran menghampiri mereka. "Tuan, apa masakannya memuaskan?"
"Aku lupa belum memakannya, ngomong-ngomong jangan buka pintunya. Didalam ada seseorang yang mendapatkan pencerahan ilahi!"
Seperti yang kita ketahui semua, Pencerahan Ilahi sangat sulit didapatkan. Jika ada seseorang yang menggangunya, kemungkinan besar mereka akan gagal.
Tidak hanya gagal, mereka akan kesulitan mendapatkan pencerahan ilahi lainnya. Makanya mereka yang menggagalkan pencerahan ilahi akan diburu hingga ujung dunia, bahkan orang yang digagalkan rela membayar dengan semua hartanya untuk menyewa pembunuh.
Blue dan Agni sampai di atas, hari sudah malam, bulan tampak cerah menerangi dinginnya udara.
"Ikuti gerakanku." Blue bergerak melakukan semacam taichi.
Agni ternyata seorang jenius, ia tidak hanya menirukan gerakan, melainkan juga menirukan pernapasan serta kedipan matanya.
Beberapa menit berlalu, udara dingin disekitarnya tiba-tiba mulai hilang. Digantikan dengan udara sejuk yang terus berputar-putar.
Blue tersenyum tipis, anehnya Agni juga melakukannya. Keduanya terus mengulangi gerakan itu hingga udara sejuk menyelimuti seluruh restoran.
Semua orang di dalam restoran bukan manusia biasa, mereka langsung sadar bahwa udara sejuk itu mengandung kekuatan yang melimpah. Tanpa permisi mereka mencoba menarik energi alam tersebut.
Meskipun semua orang bekerja keras, hanya Oskar dan Moris yang berhasil menarik minat energi alam.
Agni dan Blue masih bergerak dengan tempo dan pernapasan yang sama. Keduanya terus tersenyum tipis untuk menyambut dinginnya perang yang akan terjadi.
Satu malam telah berlalu, Agni yang kelelahan tidur di tubuh Raul dalam wujud Serigala Gunung. Blue duduk bermeditasi untuk menenangkan energi yang bergejolak di dalam tubuhnya.
Moris dan Oskar mendobrak pintu loteng bangunan Restoran. Keduanya tampak panik mencari Agni.
"Syukurlah, kalian tidak apa-apa." Moris melepaskan kekhawatirannya.
Oskar juga menghela napas sambil menggendong Alfaro dipundaknya. Padahal sudah lewat sehari tapi Alfaro masih pingsan, itu menandakan ia menggunakan semua kekuatannya.
"Kalian sudah datang, aku tidak mau menanyakan perkembangan hubungan kalian. Jadi ayo pergi!" kata Blue sambil berdiri.
Oskar dan Alfaro tidak dapat meninggalkan Pengadilan Surgawi, mereka memisahkan diri untuk menyelesaikan tugasnya.
Sedangkan Moris yang masih menggunakan wujud pria muda mengikuti Blue ke salah satu Kerajaan Moris, Damaskus.
Kerajaan Damaskus adalah sebuah kerajaan yang bergerak di bidang penelitian teknologi dan kedokteran. Banyak orang Kerajaan Damaskus menjadi pengrajin simbol di Batu Mana.
Ditambah lagi banyak herbal yang dapat meningkatkan kemampuan meditasi seseorang. Jadi Blue memilih tempat ini untuk mencari herbal yang dapat ditanam di Dunia Buatan.
Sudah kita ketahui semua, Dunia Buatan mempunyai perbedaan waktu yang sangat mencolok. Terkahir kali Dunia Buatan mempunyai waktu 10 kali lebih cepat dari Domain Dewa, tetapi sekarang telah berubah menjadi 30 kali.
Inilah alasan mengapa pemain ataupun Blue tidak bisa masuk. Otak mereka akan hancur jika masuk kedalam Dunia Buatan.
Bayangkan saja, Domain Dewa dan Dunia Nyata punya selisih waktu 10 kali. Ditambah lagi perbedaan Dunia Buatan dan Domain Dewa 30 kali, itu artinya Dunia Nyata dan Buatan punya perbedaan waktu 300 kali lipat. Sederhananya 1 hari di Dunia Nyata setara dengan 300 hari Dunia Buatan atau hampir 10 bulan.
Blue melangkah masuk ke dalam gerbang, ia menunjukkan kartu identitas dan bisa masuk dengan tenang. Namun Moris dan Agni dicurigai karena kartu identitasnya berbeda.
"Bro, mereka adalah temanku. Bagaimana jika membebaskannya, aku yang menjadi penjaminnya." Blue menyodorkan dua Batu Mana Kuning pada dua penjaga.
Kedua penjaga saling melirik dan tersenyum. "Tuan, anda terlalu baik. Kami hanya bercanda, silahkan lewat."
Blue membalas senyumnya, ia dan kelompoknya segera masuk ke Kerajaan Damaskus. Liem dan Kitty diam saja di belakang, mereka bukan orang baik jadi tidak peduli.
Liem adalah Lucifer, tidak ada orang yang sejahat dia di dunia ini. Kitty adalah alien yang tidak peduli dengan dunia.
Hanya Moris dan Agni yang terlihat kebingungan, mereka menganggap Blue adalah orang baik yang penuh dengan keadilan.
"Apa yang kalian pikirkan?" tanya Blue tanpa melihat Moris dan Agni yang berjalan di belakangnya.
"Tuan, tindakan itu bukannya melanggar kaedah keadilan?" ungkap Moris dengan suara pelan.
Blue tersenyum tipis, tapi Moris dan Agni menyadarinya. "Aku bukan orang baik, jadi jangan samakan aku dengan para pahlawan."
Setelah memberikan jeda beberapa detik, Blue melanjutkan perkataannya. "Kadang manusia butuh sosok jahat untuk meningkatkan motivasinya, kau tahu aku bisa sampai sini tanpa menjadi pahlawan ataupun iblis."
Penyataan Blue menyadarkan Agni tentang pentingnya memilih jalan hidup. Ibunya mati demi mempertahankan idealismenya, sedangkan ia dulu sakit-sakitan.
Disisi lain Moris menundukkan kepala, ia teringat banyak orang yang mati karena idealismenya. Semua orang yang berbuat jahat akan langsung ia hukum, salah satunya penerima suap akan di hukum mati.
Berbeda dengan Blue yang mempunyai pemikiran aneh. "Kehidupan ini tidak ada yang abidi, biarkan mereka menjalankan kehidupannya."
Meskipun tindakan menyuap adalah sebuah kejahatan, tetapi tidak ada yang dirugikan. Bahkan Kerajaan tidak dirugikan karena penjaga itu juga akan menggunakannya didalam kerajaan.
Tidak ada yang sempurna di dunia ini, Blue menganggap suap adalah sesuatu yang wajar untuk manusia. Namun Moris masih berpegang teguh pada keyakinannya.
"Aku tidak akan merubah kepercayaan itu, tapi jangan paksakan kehendakmu pada manusia seperti kami yang ingin bebas."
Blue menyinggung tentang peraturan kerajaan, Moris adalah pembuatnya secara langsung. Hakekatnya manusia tidak butuh peraturan, tapi mereka butuh dihormati.
Bayangkan saja tidak ada tarif pajak, terbukanya lapangan kerja yang melimpah. Suasana kerja yang baik serta kenyamanan keluarga selalu terjaga.
Peraturan tidak perlu ada jika dunia seperti itu, tapi...
Domain Dewa bekerja dengan kekerasan. Mereka yang kuat akan hidup dan yang lemah akan mati. Jadi Blue tidak perlu bersikap baik pada musuh.
Ditambah lagi ia adalah manusia yang akan menggunakan segala cara untuk mencapai keinginannya.
Moris dan Agni hanya diam, mereka merenungi apa yang dikatakan tuannya. Bukan masalah keadilan atau moral, tetapi masalah motivasi untuk menjadi kuat.
Blue melanjutkan langkahnya sampai di depan tempat penempaan senjata. "Kalian boleh pergi dulu, aku akan masuk sendiri."
Liem dan Kitty langsung menghilang, mereka mengumpulkan data Kerajaan Damaskus untuk dilaporkan setelahnya.
Moris dan Agni tidak bergerak sama sekali, mereka masih merenung apa yang disampaikan Blue. Tidak ada kebenaran yang abadi, hanya manusia yang menganggapnya buruk.