Domain Dewa : Penguasa Benua

Domain Dewa : Penguasa Benua
Pendinginan


Iblis Kecil merubah wujudnya menjadi manusia pada umumnya. Kulitnya tampak hitam dan matanya memancarkan warna putih.


Azazel mengerutkan alisnya. "Makhluk apa sebenarnya kau ini?"


Meskipun berpengetahuan luas, Azazel masih kebingungan dengan setengah iblis. Nyatanya ia merasakan kehadiran Iblis Neraka tingkat tinggi, tapi di waktu yang sama ia merasakan kekuatan dewa manusia. Begitu pula dengan 6 teman Iblis Kecil, semuanya setengah iblis.


"Siapa yang tahu." Jawaban Iblis Kecil melukai harga diri Azazel yang dipertaruhkan sejak tadi.


Wajah Azazel tampak kesal karena ia dipermainkan, tangannya mengepal dan tinjunya tiba-tiba melayang ke arah pipi Iblis Kecil.


Sayangnya kecepatan Azazel dapat dihindari Iblis Kecil dengan mudah. Hal itu bisa terjadi karena mereka berdua adalah seorang iblis.


Kemampuan Azazel sebenarnya adalah manipulasi ruang layaknya Yami dan Zeus. Ia bisa membuka sebuah ruang khusus untuknya kemudian memindahkan tubuhnya ke titik tertentu. Sayangnya kemampuan ini punya beberapa masalah utama.


Salah satunya adalah ruang yang diciptakan Azazel rentan hancur hingga mengakibatkannya terkurung di dunia yang tak diketahui. Hal inilah yang mendasari ayah Venom berhasil menyegelnya.


Karena Iblis Kecil sudah tahu trik kecil musuhnya, ia berniat menghancurkan ruang milik Azazel. Namun tebakannya ternyata salah, Azazel malah menggunakan kekuatan fisiknya.


Kecepatannya tidak kalah dengan teknik ruang yang ditampilkan sebelumnya. Iblis Kecil yang kebingungan langsung terkena pukulan telak hingga ia terjun bebas.


Melihat Iblis Kecil terkena serangan, 6 setengah iblis lainnya langsung memberikan serangan gabungan ke Azazel hingga ia memuntahkan darah segar.


Tidak hanya muntah, Azazel merasa tubuhnya tidak bisa sembuh karena energi neraka miliknya terserap.


"Apa yang terjadi?"


Inilah mengapa Blue memilih Iblis Kecil menjadi bawahannya. Kemampuan khusunya bisa melukai Iblis Neraka maupun Maha Dewa.


Karena adanya sesuatu yang kurang, Azazel mulai mencarinya. Setelah beberapa saat, ia menemukan penyebabnya.


"Jadi kau sudah tahu kekuatanku!" ungkap Azazel.


"Rasa takut akan kematian dan kekalahan menjadi sumber energi Raja Neraka, Azazel." Iblis Kecil mengeluarkan sebuah buku dan membacanya.


Meskipun tampak sama, buku itu sebenarnya adalah imitasi atau tiruan dari Buku Neraka yang diinginkan Raphael.


Sekarang Iblis Kecil memilikinya karena kasus khusus, ia tidak sengaja menemukannya di Neraka ketika berlatih bersama tuannya.


Setelah sedikit modifikasi, buku temuan itu bisa sangat mirip dengan Buku Neraka. Namun ada banyak kelemahan yang tidak bisa diketahui musuhnya.


Azazel yang melihat buku neraka mulai panik, ia teringat sosok pria tampan yang meluluh lantakan kekuasaannya hanya karena ingin menemukan batu mengkilap. Pria tampan itu adalah Satan dengan buku neraka di tangan kirinya.


Tidak lupa ia terbayang pipinya di hantam dengan satu tangan hingga seluruh daratan di Neraka terkoyak.


Satan, sosok pangeran neraka yang tidak mau diatur atau mengikuti mahkluk lainnya. Ia hanya senang dengan pertarungan dan menjadi kuat.


Penampilan Iblis Kecil tampak sepertinya, tetapi kulit dan matanya berbeda jauh. Azazel yang tidak bisa mengendalikan kemarahannya langsung bergegas.


Kepalan tinjunya mulai terbang menghantam setiap benda di sekitarnya. Tanah dan pohon beterbangan, Azazel marah besar atas kehadiran Iblis Kecil dan 6 rekannya.


"Jangan lengah, kita tidak diizinkan mati!" teriak Iblis Kecil memberikan motivasi pada kelompoknya.


Mata Azazel berubah warna menjadi biru bara api. Kulitnya merah seperti sebuah bara yang siap menghanguskan apa saja.


Karena tidak mempunyai target yang jelas, Azazel menghancurkan setiap musuh di dekatnya. Bahkan seorang cimera yang baru menyelesaikan tugasnya langsung terbakar hangus.


Azazel melirik ke arah cimera yang hangus. Tangan kanannya langsung menusuk tubuhnya hingga terpecah layaknya kaca jauh.


Tawa Azazel terdengar, Iblis Kecil tanpa sadar mundur mendengarnya. Instingnya sebagai iblis mengatakan Azazel bukan lawan yang bisa dikalahkan.


Namun sosok Blue yang tertawa muncul di benaknya, kepalan tangannya menjadi lebih rapat. Tanpa peringatan aura hitam khas seorang iblis meledak. Iblis Kecil mulai menggunakan kekuatannya, begitu pula dengan 6 rekannya.


Azazel yang merasakan pancaran aura langsung tertarik dan menyerangnya dengan ayunan lengan.


Puluhan jarum energi muncul dan menghujani Iblis Kecil dan rekannya. Namun serangan itu mudah dihindari.


Tidak sampai disitu, Iblis Kecil dan kelompoknya langsung bersiap menyerang. Dengan kepalan tinjunya Iblis Kecil menyerang dari depan.


Karena Azazel cukup peka, ia menghadang tinju Iblis Kecil dengan satu tangan.


"Jangan membuatku tertawa," ucap Azazel mengejek serangan Iblis Kecil yang sangat lemah.


Tepat setelah menyelesaikan perkataannya, suara tebasan pedang terdengar dan memotong lengan Azazel yang menangkap serangan Iblis Kecil.


Sayangnya itu bukan tindakan bijak, Azazel punya ekor yang dapat digerakkan sesuka hati. Kibasan ekornya langsung menerbangkan sosok setengah iblis yang mencoba menikamnya. Begitu pula dengan setengah iblis yang berhasil memotong lengannya.


Azazel melompat kebelakang untuk memperlebar jarak. Ia berfokus penyembuhan tangannya supaya bisa bertarung dengan normal.


Melihat tangannya tidak kunjung sembuh, Azazel tercengang. "Kenapa regenerasiku sangat lambat!"


Untuk memaksimalkan penyembuhannya, Azazel mengalokasikan 30% kekuatannya. Namun hal itu menjadi kesempatan emas untuk Iblis Kecil dan kelompoknya.


Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, Iblis Kecil dan kelompoknya terus menghujani Azazel dengan serangan ringan tapi berdampak.


Venom dan Dagon berhasil memulihkan kekuatannya, mereka juga tidak bisa tinggal diam. Dagon memanggil ratusan monster air untuk mempersulit lawannya.


Venom dengan cakar racun memberikan luka yang tidak bisa disembuhkan dengan cepat.


"Argh!" kata Azazel yang tidak bisa mengendalikan emosinya. Tekanan mentalnya sangat besar ketika menggunakan wujud sempurna iblis neraka.


Perlahan kesadaran Azazel mulai pudar, kekuatannya terus bertambah seiring hilangnya kesadaran. Sebagai seorang Iblis Neraka, sudah sewajarnya dia punya kepribadian gila dan sombong.


Makanya sosok yang gila dan sombong itu mulai menguasai tubuhnya.


Setelah beberapa saat bertahan, kedua tangan Azazel meremas udara. Ruang disekitarnya terdistorsi, Iblis Kecil dan kelompoknya langsung terlempar sangat jauh dan semuanya terluka. Beruntung mereka tidak ada yang tewas.


Nasib buruk menimpa Venom yang ada di paling depan, kedua tangannya hancur dan organ dalamnya terluka parah.


Dagon menggunakan teknik pelindung dan membawa Venom lari meninggalkan medan perang. Bukan karena dia pengecut, tetapi Venom butuh perawatan.


Dalam perjalanan kaburnya, Dagon bertemu dengan Ela dan Elvy. "Cepat tolong Venom, dia terkena serangan telak!"


Ela dengan sigap langsung menolong Venom dan meninggalkan pekerjaan lainnya. Meskipun pasukan rendahan sangat dibutuhkan dalam perang, peran Venom jauh lebih penting dari mereka semua.


Dagon yang percaya pada murid Anthony langsung pergi dan menemui Azazel.


"Kenapa dia tidak bergerak." Dagon terlihat bingung karena Azazel dari tadi tidak bergerak dari tempatnya.


Karena penasaran, Dagon mendekat untuk memastikannya. Baru saja langkah pertama dijalankan, Azazel sudah ada di depannya dan menggunakan trisula untuk menusuknya.


Karena panik, Dagon langsung menggunakan keterampilan penyelamat jiwa dan meninggalkan medan perang.


"Sial, apa itu?"


Melihat dari kejauhan, Azazel tidak bergerak sama sekali. Mengetahui informasi ini, ia langsung menyampaikannya melalui pemberitahuan guild.


"Jangan mendekati area ini, Azazel menjadi gila!"


Karena belum punya solusi terbaik, Azazel dibiarkan sendirian. Dagon beralih tugas membantai para keroco cimera yang sombong.


Dengan satu tamparannya, ia berhasil membunuh salah satu cimera kuat. Tidak hanya membunuh, Dagon memakannya.


"Sudah lama aku tidak makan daging enak."


Meskipun para cimera sebenarnya adalah serangga, tetapi wujudnya hampir sama seperti manusia. Jika ada pemain yang melihatnya, mereka pasti akan merasa sangat jijik.


Setelah bergabungnya Dagon dalam misi pemberantasan, pasukan Azazel dalam waktu singkat dapat dihancurkan.


Yami, Raul, dan Drakula ada di wilayah selatan. Mereka sudah menyelesaikan tugasnya sejak tadi. Namun belum ada perintah untuk masuk lebih dalam, ditambahkan lagi adanya peringatan di area dalam.


Meskipun mereka sangat percaya diri dengan kekuatannya, tidak satupun darinya yang menentang kehendak tuannya.


Raul dalam wujud serigala gunung sedang tiduran di atas batu. Begitu pula dengan Drakula yang menggelantung di atas pohon.


Hanya Yami yang tampak normal, ia duduk di tanah dengan mata tertutup. Setelah diperhatikan lagi, ternyata Yami tidak kalah gilanya dari mereka. Duduknya adalah meditasi, napasnya adalah meditasi, dan waktunya adalah meditasi.


Ketika semua sibuk dengan pekerjaannya, ketiga pria itu malah bersantai. Dagon menemuinya dan berteriak kencang hingga pohon di sekitarnya tumbang.


"Woi!!!"


Meskipun suaranya dapat memecahkan gendang telinga, Yami tidak bergerak dari meditasi. Drakula masih bergelantungan di pohon yang masih berdiri kokoh, padahal pohon di sekitarnya tumbang. Begitu pula dengan Raul yang masih tidur di atas batu yang utuh, padahal batu disekitarnya hancur.


"Mereka gila!"