Domain Dewa : Penguasa Benua

Domain Dewa : Penguasa Benua
Sabar


Sepasang kalung itu punya susunan simbol yang sama persis dengan Domain Dewa. Arief tidak pernah mencoba membuat simbol dengan energi jiwa, jadi ia tidak pernah tahu itu berhasil.


"Kakek, bolehkah aku meminjamnya?" tanya Arief pelan.


Chen Re mengambil kalung dan memberikannya pada Arief. "Benda ini sudah bersarang di toko sejak kakek buyutku."


Informasi ini sedikit mengejutkan, pasalnya ratusan tahun yang lalu ada pertempuran besar. Banyak manusia yang menghilang dari dunia tanpa ada penyebabnya. Pemerintahan dunia juga mengubur dalam-dalam informasi tersebut.


Meskipun banyak tikus yang mati di gudang, tidak ada bau busuk. Hal itu karena kehadiran dua kalung yang ada di dalam tempat khusus.


Arief mulai mendekat dan menyentuh tutup kaca kalung yang belum diketahui namanya. Matanya terbuka lebar ketika melihat ukiran simbol yang membentuk aksara Nano.


"Kakek, apa kamu tahu tenang Nano?"


Chen Re sedikit terkejut dengan pertanyaan yang diterimanya. Namun ekspresinya langsung berubah tenang setelahnya.


"Aku tidak tahu, mungkin saja leluhurku mengenalnya. Atau mungkin maksudmu teknologi nano yang dikembangkan Perusahaan Aldi?"


Arief menggelengkan kepala, ia tahu bahwa Chen Re mengatakan kebohongan. Namun tidak ada alasan kuat untuk memaksanya mengungkap kebenaran.


"Lupakan saja, Kek. Ngomong-ngomong berapa harga kalung ini?" tanya Arief mencoba menawarnya.


"1 juta, tidak ada tawar menawar. Kalung itu harga keluarga Chen, tapi sekarang kita dalam masa sulit." Chen Re sedikit murung harus menjual barang peninggalan kakek buyut.


"Baiklah berikan aku nomor rekeningnya, saat ini juga aku beli."


Chen Re memberikan nomor rekening khusus milik keluarga, ia berharap uang itu dapat membantu pemulihan keluarga Chen.


"Aku sudah mentransfernya, silahkan cek." Arief berjalan melihat benda lainnya yang ada di dalam gudang.


Chen Re menyempitkan matanya, ia melihat uang yang diberikan kelebihan 0 dibelakangnya.


"Nak, apa kamu salah mentransfernya?"


Arief menggelengkan kepala untuk kesekian kalinya. "Anggap saja itu caraku membantu keluarga Chen," katanya sambil tersenyum manis.


"Terima kasih, Nak. Aku tidak akan melupakan jasamu."


Kalung yang dibeli barusan sangat berharga, 10 juta kredit bukan masalah signifikan untuk keuangan Arief saat ini.


Karena urusannya sudah selesai, Arief keluar dari toko antik milik Chen Re. Tanpa melihat kebelakang ia menuju toko pakaian.


Chen Re dari kejauhan melihat punggung pria muda tersebut. "Apa kau sudah melihatnya, kalung itu menemukan tuannya."


Sosok pria yang baru keluar dari bayangan datang. "Ya, anak itu punya pengetahuan sihir dan pedang."


"Aku tidak peduli dengan bakatnya, tapi tetap lindungi bocah itu!"


"Tapi ketua, aku harus menjaga keselamatan anda." Pria itu menolak permintaan tuanya.


"Kau meremehkan kakek ini, setelah berbincang beberapa kata dengan bocah itu, aku merasa punya kesempatan untuk naik tingkat."


Chen Re menutup toko dan masuk ruang rahasia, tulisan Nano di dinding terlihat menyala.


Ya, Chen Re adalah salah satu pendukung Keluarga Nano ketika di masa jayanya.


Arief masuk ke toko pakaian, ia langsung mengambil beberapa potong baju yang cukup mahal. Tatapan merendahkan dia terima karena pakaiannya sangat tidak layak.


Sesampainya di kasir ia memberikan kartu berwarna platinum yang diberikan Jessica. Sontak semua orang menutup mulutnya dengan tangan, beberapa bahkan mengeluarkan suara tawa.


"Nak, sebaiknya jangan memaksakan dirimu!" ucap salah seorang pria muda yang mengisinya.


Pria muda itu adalah wakil manajer yang baru bekerja dua bulan. Meskipun kinerjanya tidak terlalu bagus, ayahnya kaya raya dan punya banyak koneksi penting.


Umur Arief dan pemuda itu tidak terpaut jauh. Karena tingkat bela diri mereka jauh berbeda, makanya Arief tampak lebih muda.


"Gesek." Arief mencoba meyakinkan kasir.


"Berlututlah, aku akan membayar semua tagihanmu." Pria muda yang tidak diketahui namanya itu membuat penawaran kejam.


Pernyataan sombong pemuda itu membuat Arief tidak dapat menahan dirinya.


Sembari mengambil ponsel jadulnya, Arief menghubungi Jessica. "Beli seluruh saham, Jasmin!" katanya.


Jessica di dalam kantornya mengerutkan kening, ia merasa ada yang aneh dengan bosnya. "Bos, toko Jasmin dan seluruh barang di dalamnya milik Grup Fairy. Kenapa juga harus membeli sahamnya?"


Suara tawa semua orang terdengar Jessica. "Jangan-jangan!"


Tangan Jessica dengan cepat menarik laptop dan mengetikkan sesuatu tanpa mematikan panggilannya.


Pada layar laptop tampak jelas Arief sedang direndahkan. Jika saja dia membuat gerakan, semua orang yang mengejeknya akan jadi mayat.


Terlihat mengerikan, tetapi Teknik Jiwa memungkinkannya melakukan hal ekstrim seperti itu. Dengan sedikit gugup, Jessica mengambil telepon dan berteriak pada seseorang.


"Bajingan gila, apa yang kau lakukan pada bos!" teriak Jessica.


"Bos? Kami tidak menerima tamu sepenting itu." Jawab manajer penanggung jawab toko Jasmin.


"Bodoh, keluar dan lihat tokomu sendiri. Jika bos marah, Jasmin akan ditutup hari ini!" ungkap Jessica langsung mematikan telepon.


Manajer toko Jasmin seorang laki-laki, ia langsung berlari keluar dan melihat sosok pria muda ditertawakan.


Kakinya gemetar dan langsung berlari ke arah kerumunan. Kata pertama yang keluar dari mulut pegawainya membuat Manajer Toko tidak bisa menahan amarahnya.


"Manajer, ada bocah yang tidak bisa membayar. Harus kita apakan?" tanya kasir sedikit tertawa.


Manajer mall juga merendahkan Arief. "Manajer Kim, jangan terlalu keras padanya. Bocah ini hanya udik yang baru keluar dari hutan!" katanya dengan mulut terbuka lebar karena tawa.


Arief menghela napas. "Baiklah, lupakan." Dia berjalan keluar toko dengan hati yang sedikit kesal. Namun karena kesabarannya, ia bisa keluar tanpa menyakiti siapapun.


Manajer toko yang tampak pucat langsung melayangkan tamparannya pada penjaga kasir. Meskipun penjaga kasih seorang wanita, ia melakukannya tanpa rasa bersalah.


"Brengsek! Kau menendang keluar bos Jasmin!" teriaknya dengan penuh amarah.


Sebelum ada yang menjawab, Manajer Kim langsung menunjuk pintu keluar. "Bawa bos kembali atau kau dipecat!"


Telepon Manajer Kim berdering, itu panggil dari Jessica. Tangannya sedikit gemetar ketika mengangkatnya.


"Bagus, kau mengusir bos."Jessica langsung menutup telepon setelah mengatakan ancamannya.


Manajer Mall juga mendapatkan telepon, itu panggilan dari ayahnya. "Ada apa ayah?"


"Bajingan apa yang kau lakukan!" teriak Ayahnya dengan suara penuh amarah.


Grup Fairy dipimpin Jessica membuat gerakan yang sangat agresif. Semua modal yang diberikan untuk pengembangan Mall Central Bandar ditarik semua.


Nilainya tidak sedikit, ayah Manajer yang mengelola gedung pusing tujuh keliling karena kontrak yang ditetapkan Grup Fairy sangat menuntut.


Tidak hanya itu, semua tanah di sekitar Mall Central Bandar telah di beli Grup Fairy. Jika negosiasi gagal, semua tanah bebas itu akan dijadikan pusat perbelanjaan lainnya dan menutup semua akses Mall Central Bandar.


Tidak main-main, Jessica mengerahkan lebih dari 100 penguasa hukum untuk mengambil hak atas tanah dan bangunan milik Mall Central Bandar.


Para investor lainnya langsung menarik diri dan menutup mata akan kejadian ini. Mereka tidak mau mengambil resiko karena keuntungan kecil.


Saham Mall Central Bandar anjlok hingga tidak bisa diselesaikan hanya dengan dana segar. Pergerakan Jessica ini dilakukan dalam beberapa menit saja.


Arief tidak tahu apa yang terjadi, ia hanya berbelanja layaknya pria biasa memakai kartu cadangan.


"Sial aku lupa membawa kartuku."


Kartu yang dimaksud adalah kartu platinum khusus untuk dirinya sendiri.


"Terima kasih," ucap kasir toko pakaian yang tampak sepi pembeli.