Domain Dewa : Penguasa Benua

Domain Dewa : Penguasa Benua
Masalah Rumit


Kata-kata Saint Martha sangat menarik minatnya, Ranai berhenti dan mempertanyakan hubungannya. "Apa hubunganmu dengannya?"


"Tidak lebih dari murid dan guru." Blue mengatakan yang sesungguhnya. Namun jawabannya tidak memuaskan rasa ingin tahu Ranai.


"Tidak mungkin, wanita tua itu tidak mau menerima murid!" ucapnya dengan nada tegas.


Ranai adalah murid Saint Martha di masanya, ia berpetualang bersama hingga meruntuhkan beberapa kerajaan. Sayangnya Pengadilan Surgawi menjatuhi hukum dan melemparnya ke Tartarus.


Padahal Sains Martha sangat kuat, tapi ia tidak mau menolongnya. Jadi Ranai merasa dendam padanya.


"Dendam yang tak berdasar, apa kau ingat siapa yang mengasuhmu ketika desa tempat tinggalmu dihancurkan monster?"


Blue memberikan pertanyaan yang sulit dijawab, Ranai sangat membenci Saint Martha karena tidak membantunya.


Namun setelah diingat lagi, Saint Martha membantunya dari kecil hingga menginjak remaja. Setiap ajarannya diikuti hingga sekarang, bahkan teknik pengembangan diri miliknya adalah ciptaan Saint Martha.


"Bukan urusanmu!"


Ranai tampak sangat marah, ia masih terluka dan memaksa tubuhnya bergerak menikam Blue.


Kecepatannya memang tidak bisa dipandang remeh, tapi Blue bisa menghentikannya dengan dua jari saja.


"Serangan seperti itu tidak mungkin melukaiku." Blue membanggakan dirinya, sebenarnya ia bisa menangkis serangan Ranai tanpa menggerakkan tubuhnya.


Hal itu karena teknik Tangan Dewa miliknya sudah mengalami peningkatan. Bahkan Cyclop mengakui bahwa teknik tangan dewa Blue lebih baik darinya.


Ranai dengan cepat menarik senjatanya, tapi pedangnya tidak bergerak. Blue menghentikannya dengan jari telunjuk dan jari tengah saja.


"Apa maumu!"


"Secara harfiah kamu adalah seniorku, tapi dalam dunia bela diri tidak ada senior yang lebih lemah dari juniornya. Jadi ikutlah denganku!"


"Gak sudi!" ucap Ranai dengan nada ketus.


Setelah mengatakannya, Ranai meninggalkan pedang di tangan Blue dan segera pergi. Ia tahu Blue setidaknya setingkat Saint Martha.


Padahal kenyataannya tidak seperti itu, Saint Martha bertambah kuat. Kekuatannya sekarang tidak masuk akal, bahkan Blue dibuat seperti keripik goreng didepannya.


Blue tidak mau kehilangan kesempatan, ia mengikuti Ranai kemanapun pergi. Bahkan ketika Ranai duduk dan bermeditasi.


Semua ini dilakukan untuk Ranai dan Saint Martha. Melihat deskripsi pengantar dari karakter Ranai, sebenarnya ia sangat merindukan Saint Martha yang dianggap seperti ibunya.


Namun karena gengsi dan dendam tanpa dasar yang jelas, Ranai membuat dirinya diposisi yang cukup sulit.


Hari berlalu tanpa ada kejadian khusus, Blue berburu di sekitar tempat persembunyian Ranai. Ketika dia tidur di dunia nyata, Bee dan kawan-kawannya akan menjaga matanya melihat pergerakan Ranai.


Sampai akhirnya Ranai mendatangi Blue, tangannya yang cekatan langsung menarik pedang miliknya yang tergantung di pinggang Blue.


Sebenarnya kecepatan tidak terlalu tinggi, tapi Blue membiarkannya dan menganggap itu sebagai hiburan.


Karena kekuatan Ranai sudah terisi sepertiga, ia mencoba menantang Blue untuk kedua kalinya. Udara disekitar bergerak menyesuaikan tubuhnya, dalam sekejap mata ia sudah berada di belakang lawannya.


Pedang pendek di tangan kanannya langsung menikam musuhnya. Ranai tersenyum karena Blue tidak merespon, sayangnya kepercayaan dirinya tanpa dasar yang jelas.


Blue dengan santainya menghentikan serangan lawan dengan dua jarinya. "Serangan yang sama tidak akan bisa melukaiku."


Meskipun tidak terlalu kuat di hadapan pada monster, Blue masih bisa mendominasi dibandingkan dengan Ranai yang menyerangnya.


"Sialan, apa sih maumu!"


"Karena sudah sampai disini, aku akan mengatakan yang sebenarnya. Ucapkan sumpah darah padaku dan aku akan membawamu ke permukaan, serta berperang dengan Zeus."


"Memangnya kau siapa mau menantang Zeus?"


Ranai tahu bahwa penyebab kehancuran desanya adalah akibatnya pertarungan Zeus dan Hades. Namun kekuatannya tidak kunjung berkembang, jadi ia mencoba menantang Hades dan berakhir di Tartarus untuk waktu yang lama.


"Hades sudah mati, tubuhnya sekarang dikuasai Azazel." Blue menceritakan rincian kejadian pertarungan Fairy Dance dan Pengadilan Surgawi.


Setelah beberapa saat, Ranai rampak memikirkan sesuatu dengan serius. Menilai dari kejadian barusan, Blue memang sangat kuat.


"Bagaimana jika dibandingkan dengan Saint Martha?"


"Kau tidak bisa membandingkan kekuatan kita berdua, Saint Martha berfokus pada kebajikan dan kebaikan. Sedangkan kekuatanku bebas tanpa halangan."


Blue mengatakan yang sesungguhnya, Teknik Jiwa miliknya memang mengedepankan berpikir tenang dan tekad kuat. Urusan kekuatan tubuh dan aura nomor sekian.


Ranai tidak bisa menolak kesempatan emas yang dia dapatkan. Tanpa menunggu lama, Ranai yang sangat bangga akan dirinya berlutut dan mengucap sumpah darah.


"Aku Ranai mengucap sumpah darah pada Blue."


Setelah mengatakannya ia tidak kunjung menerima kontrak, hal itu karena gelar Blue yang sesungguhnya belum disebut.


"Blue, Raja Segalanya!"


Ranai mengulangi sumpahnya dan diikuti dengan gelar Blue itu sendiri. Cahaya biru menyelimuti tubuhnya, efek khusus pengikut Raja Segalanya segera didapatkan.


Setelah menerima sumpah darah, Blue langsung memukul kaki Ranai dengan tongkat kayu yang entah ia dapatkan dari mana.


Ranai di hajar habis-habisan hingga dia terluka parah. Namun karena Blue kaya raya, ia menggunakan pil kehidupan untuk menyembuhkan Ranai. Tidak lupa ia memberikan ramuan penambah HP dan MP.


Secara resmi telah ditetapkan, Ranai menjadi murid langsung dari Blue. Tidak hanya teknik jiwa, Blue juga mengajari teknik yang dia dapatkan dari celah dimensi.


"Amaterasu."


Ranai awalnya kesulitan, tetapi dengan bimbingan Blue, dia berhasil menyelesaikan latihannya selama 6 bulan saja.


6 bulan tampak sangat lama di Tartarus, tapi di dunia hanya hanya 18 hari. Blue menghabiskan waktu yang cukup banyak hanya untuk melatih Ranai.


"Sekarang waktunya kau berlatih mandiri." Blue memasukkannya ke dalam Dunia Buatan.


Sedangkan Blue akan mencari rekan-rekannya di lantai 10. Wen bukanlah tujuannya di Tartarus, jadi ia akan mengabaikannya.


Dengan bermodalkan komunikasi antar pengikut, Blue bisa menemukan Cyclop, Eka, dan Dwi dengan cukup cepat.


"Jadi dimana aku bisa menemukan kunci menuju lantai bawah?" tanya Blue dengan ekspresi serius. Ia sudah berkeliling tapi tidak menemukan sedikitpun petunjuk.


Namun perjalanannya tidak sia-sia, Blue mendapatkan panen poin pengalaman berkat adanya Hollow.


Cyclop menggelengkan kepala. "Aku tidak pernah ke lantai 10, jadi pengetahuanku tidak akan membantu."


Blue mencoba membaca peta yang sudah terbuka, ia tidak menemukan sedikitpun petunjuk. Sampai akhirnya ia duduk dan memasak untuk Bee dan kawan-kawannya.


Sembari menyantap makanan, Blue mengajak Cyclop makan bersama. Meskipun mereka sebenarnya adalah bawahan dan atasan, Blue tidak suka namanya senioritas di pasukannya.


Sayangnya peraturan itu tidak berlaku bagi pangeran kita, Bee. "Duduk sini bawahan. Ingat aku adalah kakak tertuamu!"


Raul menguap karena dia sudah menghabiskan makanannya. Sebenarnya kakak tertua adalah Raul itu sendiri.


Bee dan semua orang melihat Raul yang menguap dan tidur. Setelah melihatnya tidur, semua orang melanjutkan aktivitasnya.


"Ya, pokoknya pangeran ini kakak tertua," katanya sambil membusungkan dada.


Cyclop tidak menanggapi dengan serius, jadi ia hanya mengangguk dan menghabiskan masakannya.


Tidak lama setelah menyelesaikan makannya, sebuah ledakan terjadi di gurun pasir. Penyebabnya adalah peperangan antara dua kubu Hollow.


Menurut ingatannya, Hollow tidak berkelompok sebanyak ini. Ini menandakan ada yang bisa mengendalikan Hollow dan mulai peperangan ini.


Kubu kanan ada sosok yang dikenalnya, siapa lagi kalau bukan Wen yang gila akan kekuatan. Dalam beberapa bulan saja poin berkembang biaknya naik 100 ribu.


Artinya ada 100 ribu Hollow yang sudah mati di tangannya, atau mungkin dia menggunakan cara sebelumnya. Menyuruh manusia membunuh Hollow dan menyerap energi kegelapan.


Disisi sebaliknya ada sosok pria bertubuh kekar dengan wujud manusia seutuhnya. Blue langsung menggunakan Mata Dewa untuk memastikannya.


Sesuai dugaannya, pria berotot itu adalah Hollow yang berhasil membangkitkan kesadarannya. Dilihat dari poin reproduksi, sebelah kiri jauh melebihi Wen.


Namun keterampilan Wen sangat merepotkan bagi para Hollow. Setiap kali ada Hollow mati, Wen bisa menyerapnya dan merubah batu energi kegelapan menjadi kekuatan.


Pria kekar itu berbicara bahasa manusia. "Wen, bukankah kita sudah berjanji tidak akan mengusik satu sama lain?"


"Bukan aku yang menggangu kalian. Para manusia yang membunuh Hollow dan mengambil batu energi kalian."


Wen masih saja membela diri, padahal sudah jelas bahwa dia adalah dalang dibalik pembantaian kelompok Hollow.


Pria kekar yang menjadi perwakilan Hollow sangat marah, ia menunjuk Wen. "Serang!"


Peperangan terjadi, Wen membawa pasukan Hollow setia miliknya. Perwakilan Hollow juga membawa kepercayaannya.


Ledakan terjadi dimana-mana karena para Hollow yang setia pada Wen meledakkan dirinya demi kemenangan bersama.


Wen berjanji akan mengisi nyawa mereka jika perang ini dimenangkan olehnya. Dengan sedikit aba-aba, semua Hollow di bawah kepemimpinan Wen meledak lagi dan lagi.


Dalam sekejap mata ribuan Hollow menjatuhkan Batu Energi Kegelapan, pengikut Wen dengan cepat mengambilnya.


Pria kekar perwakilan Hollow tidak terima dan bergerak secara pribadi. Tangannya mengepal dan menyerang Wen. Ledakan besar terjadi, serangan hebat tadi bisa dihentikan Wen dengan pedangnya.


"Haha, kemenangan ada di pihak kami!"


Wen mencoba mengaitkan pada organisasinya. Padahal tujuan sebenarnya dari perang melawan Hollow adalah peningkat kekuatannya.


Blue dari kejauhan menonton ditemani dengan sekotak popcorn. Begitu pula dengan Bee yang tidak bisa lepas dari kaki kepiting goreng.


"Pertarungan yang tidak seimbang." Bee mengungkap pendapatnya.


Sayangnya pendapat itu tidak sesuai dengan Blue. "Wen sebentar lagi akan mundur, raja yang sebenarnya akan datang."


Seperti yang dikatakan Blue, sosok pria dengan pakaian mewah muncul membawa para kesatria Hollow. Dia adalah raja Hollow yang hidup puluhan ribu tahun.


"Berhenti!" teriak Raja Hollow dengan suara lantang.


Wen menghentikan pasukannya, ia tidak mau menarik perhatian Raja Hollow untuk sementara.


"Yang Mulia Raja, kami menghadap dengan penuh rasa hormat." Wen membungkuk dan memberikan salam layaknya bangsawan.


"Apa yang terjadi disini?"


Wen tersenyum manis. "Semua ini bermula ketika dia menuduhku menyerang pasukannya. Padahal kami fokus memperkuat pasukan dengan membunuh monster."


Wen menunjuk musuhnya dengan sangat santai. Ia sebenarnya adalah manusia, jadi akalnya sudah berkembang dengan baik.


Pria kekar terkejut hingga bola matanya hampir keluar, hanya dengan sedikit provokasi pria kekar itu langsung naik pitam.


Sebelum menyerang, seorang kesatria menghentikan amarahnya. "Jangan bertindak bodoh!"