Domain Dewa : Penguasa Benua

Domain Dewa : Penguasa Benua
Kejutan


Blue mengangkat kedua bahunya. Setelahnya kedua pedangnya di lempar ke udara, anehnya dua pedang itu bisa menyerang sesuai keinginannya.


Posaidon yang pernah melihat ini langsung sadar bahwa lawannya bukan pemain sembarangan. Ia tidak bisa menunda lagi dan harus segera melarikan diri.


Sosok Posaidon membelah diri menjadi 30, dua orang menghalau serangan lawan dan satunya membuat simbol tingkat dewa yang tidak akan bisa dipatahkan.


"Jangan biarkan dia berhasil!" teriak Blue sambil menunjuk Posaidon yang asli.


Mata Dewa bisa menunjukkan dimana yang asli, sehingga bayangan Blue bisa langsung mengganggunya.


Keduanya langsung menuju Posaidon asli dan menusuknya. Pedang yang di bawa dua bayangan tidak sebaik Dual Secret Sword, jadi hanya bisa memberikan goresan kecil. Hal itu tidak dapat membatalkan penyusunan simbol.


Naga Angin menyemburkan energi dari mulutnya, kali ino target adalah segerombolan Posaidon dalam wujud Yudis. Sekali lagi serangan Naga Angin di halau dengan begitu mudah.


"Apa era para naga sudah hilang?" gumam Naga Angin yang kecewa dengan semua serangannya. Siapa yang akan menyangka serangan seekor naga tidak berpengaruh pada manusia.


"Jangan berkecil hati, lihatlah target mulai berkeringat. Artinya ia mulai kehilangan konsentrasi, serang terus!"


Blue memberikan semangat pada Naga Angin, meskipun sebenarnya serangannya memang tidak berguna sama sekali.


Yami menutup matanya dan segera turun, sayapnya yang terdiri dari kumpulan energi aneh di tubuhnya langsung menghilang. Blue tahu ini kekuatan yang menghancurkan Ratu Es tempo hari.


"Berikan ruang untuknya!"


Eka dan Dwi langsung menjaga Yami supaya tidak terkena serangan. Air yang bergelombang membuat Dwi harus mengeluarkan sihir pelindung supaya Yami terus menginjak tanah.


Posaidon tertawa keras, suaranya terdengar sampai ke benteng yang diguyur hujan lebat. Kamal merasa ini bukan pertarungan antar pemain, ia mulai sadar seberapa dalam kekuatan Fairy Dance.


"Bocah, lihatlah hasil dari kemarahan ku!"


Posaidon merentangkan tangannya, ombak setinggi 17 meter terlihat ingin menghantam kearah desa. Blue memejamkan matanya dan melepaskan semua kekhawatiran yang ada di pikirannya.


"Keterampilan Buatan : Tebasan Bintang!"


Dua pedang disatukan, sayatan pedang tercipta membelah gelombang pasang menjadi dua. Meskipun sudah terbelah, itu tidak mempengaruhi gerakan air untuk menghantam desa.


Inilah kemampuan Posaidon yang di takuti Zeus. Setiap serangannya bisa di hancurkan tetapi air akan terus menghantam targetnya.


Rafaela menunjukkan wujud yang sangat familier, empat sayap berwarna putih terang muncul di belakang punggungnya. Bajunya berubah menjadi putih kekuningan, sebuah mahkota melingkar di kepalanya.


"Pelindung Cahaya!"


Sebuah pelindung menyelimuti seluruh desa milik Kamal. Air Posaidon langsung menghantam dinding tak kasat mata tapi hanya terjadi sedikit goncangan.


"Malaikat, mengapa mereka ada disini!" seru Posaidon yang kebingungan.


"Mengapa terkejut, bukankah mereka pelayan kalian?" tanya Blue dengan senyum manis bertujuan untuk memancing informasi yang di ketahui lawannya.


"Bodoh, malaikat itu bukan pelayan! mereka eksistensi yang bisa membunuh dewa jika dia mengizinkannya. Sialan siapa kau sebenarnya!" teriak Posaidon.


Blue tidak mengerti siapa yang dimaksud, ia hanya bisa mengerutkan kening dan mencoba untuk mengorek informasi lebih dalam.


Sayangnya Rafaela tidak bisa mempertahankan wujudnya lebih lama, ia langsung jatuh ke tanah dan sayapnya menghilang.


Posaidon merasa aneh dengan tubuhnya, ia meras tubuhnya sangat lemas karena tenaganya di curi seseorang. Dugaannya tepat, Rafaela menggunakan sebagian kekuatannya untuk memakan energi Posaidon di tubuh Yudis.


Drakula diam-diam menyelinap ke belakang, ia langsung menggerakkan tangannya dan menyerap darah Posaidon yang lengah. Sebagai utusan Blue, Drakula tidak hanya menyerap darah dan energi saja, dia tanpa sadar mempelajari penyerapan jiwa milik Blue.


Hempasan tangan Posaidon menerbangkan Drakula beberapa meter hingga menghantam tanah. "Sialan, kau berhasil membuatku marah!"


Indra Posaidon semakin menurun, Blue tiba-tiba sampai di belakang dan menusuknya dari belakang. Sudah kita ketahui semua, serangan Blue dapat melukai jiwa targetnya.


Karena jiwa yang terluka, Posaidon merasakan sakit yang tak bisa dibayangkan. Ia berteriak sekuat tenaga untuk menghilangkan rasa sakitnya.


Sayangnya Blue bukan orang yang prihatin pada musuhnya, ia menggunakan Blade Dance untuk meningkatkan kecepatan serangannya.


Ratusan sayatan pedang di terima Posaidon tanpa memberikan balasan. "Argh!" teriaknya sambil melepaskan seluruh energi dalam tubuhnya.


Gelombang air semakin tinggi, Eka tidak bisa menahannya. Desa milik Kamal terancam akan hancur, Blue dan semua rekannya tidak bisa berbuat apa-apa karena kekuatan Posaidon bukan milik manusia.


Untungnya Yami membuka mata, ia mengayunkan pedangnya hingga membelah ombak Posaidon dan sayatannya membelah tubuh Yudis menjadi dua.


Tebas itu tadi langsung mengirim Yudis ke rumah kebangkitan, begitu pula jiwa Posaidon yang tidak akan bangun dalam waktu dekat.


Rafaela dan Drakula tidak bisa bertahan lebih lama, Blue segera memberikan Energi Kehidupan untuk mempercepat penyembuhannya. Ela dan Elvy berjibaku menyembuhkan Drakula, sedangkan Anthony yang baru di panggil menyembuhkan Rafaela.


"Apa dia baik-baik saja?" tanya Blue mendekati Anthony. Drakula dengan cepat sembuh karena Ela dan Elvy adalah pendukung yang sangat kuat. Ditambah lagi Drakula tidak terluka fatal.


Berbeda dengan Rafaela yang memaksakan batasnya hingga membangkitkan kekuatan Malaikat yang ditakuti seorang dewa seperti Posaidon.


Blue memberikan 1 triliun energi kehidupan untuk membantu penyembuhan Rafaela, tetapi masih belum ada perkembangan sedikitpun. Disisi lain Anthony sudah berusaha keras sebagai Dryad menyembuhkannya.


"Ini aneh, tubuhnya sangat sehat. Mana dalam tubuhnya juga sangat stabil, mengapa bocah ini belum bangun juga."


Anthony kebingungan dengan kejadian ini, begitu pula dengan Blue yang baru pertama kali melihat fenomena seperti ini.


"Jiwanya terluka, dia tidak akan bangun dalam beberapa tahun ke depan. Lebih baik masukkan dia ke dalam Dunia Buatan supaya Anthony bisa merawatnya." Bee memberikan pendapatnya tentang situasi ini sambil menodongkan kotak makanannya.


Blue membuka ruang penyimpanan makanan di sistem, kemudian memberikan 5 kepiting goreng pada Bee.


"Berapa lama dia akan tertidur?" tanya Blue penasaran.


"Tidak ada yang tahu berapa lama dia terbangun dalam ruang sadar miliknya. Saudaraku pernah mengalami ini dan ia terbangun setelah 12 tahun."


Blue mengerutkan kening. "Sejak kapan kau sudah mengingat kehidupan masa lalumu?"


"Sudah lama, aku hanya ingin melihatmu sengsara saja, hihi." Bee langsung pergi dengan kotak makan penuh.


Blue tidak mengejar, ia mendatangi Drakula yang duduk meditasi karena menyerap kekuatan Posaidon. Tubuhnya di selimut aura berwarna biru laut, itu jauh dari kesannya sebagai seorang vampir.


Yami di ujung ruangan juga bermeditasi, ia memancarkan energi berwarna ungu gelap. Anehnya energi itu menjadi lebih jinak dibandingkan sebelumnya.


Hanya Liem dan Kitty yang keluar tanpa terluka. "Tuan, berapa lama kita bertahan disini?" tanya Liem yang merasakan gelombang perang akan pecah sekali lagi.


"Apapun yang terjadi kita harus mempertahankan desa ini."


Blue mendekati Rafaela dan Anthony, dengan lambaian tangan dia memindahkan keduanya ke Dunia Buatan untuk penyembuhan.


Naga Angin juga terluka karena serangan yang di terima sangat banyak. Hal itu dikarenakan tubuhnya sangat besar, serangan acak akan mengenainya.


"Apa kau sudah baikan?" tanya Blue memandang Naga Angin dengan tatapan khawatir.


Sebelum menjawab Naga Angin tersenyum, ia teringat dengan tuannya sebelumnya. "Ya, luka seperti ini tidak akan membunuhku."


"Baiklah."


Blue memberikan 10 juta energi kehidupan untuk meningkatkan statusnya serta mempercepat penyembuhannya.


Suara ketukan pintu terdengar pelan dan sopan.


"Tok... Tok... Tok."


Blue membukakan pintu, ia melihat Kamal mengenakan jubah serba hitam gelap. "Apa yang kau lakukan?"


"Bolehkan aku masuk dulu?"


"Baiklah, ayo masuk."


Kamal melihat kiri dan kanan ruangan, ia melihat banyak simbol terpasang di setiap sudutnya. "Seperti yang diharapkan dari sosok ketua Blue. Anda bisa menciptakan simbol yang begitu rumit di ruangan sekecil ini."


"Bukan sesuatu yang patut dipuji. Jadi apa maksud kedatangan mu kesini?" tanya Blue dengan wajah darat.


"Bantu aku menyingkirkan para pengkhianat. Aku sudah mengetahui ada pengkhianat di 9 pengawal. Namun pengetahuanku terlalu dangkal dan aku mencoba menghubungi Reza. Anehnya dia malah menyuruh aku bertanya padamu."


Blue melempar sebuah dokumen kertas cukup tebal. "Itu daftar orang yang harus kau singkirkan. Seharusnya informasi itu sudah cukup untuk memuaskan keinginanmu, Kan?"


Kamal terkejut dengan dokumen yang di berikan. Ia langsung mengambilnya dan membaca setiap detail, wajahnya mulai berubah serius ketika melihatnya.


"Ini sangat memuaskan, berapa persen kenyataan dalam informasi ini?"


"Tidak ada yang mutlak di dunia ini. Itu semua data yang telah aku kumpulkan dalam waktu dekat. Setidaknya itu bisa membantumu mengembalikan guild yang sudah kau bangun."


Blue tersenyum karena benar-benar ingin menarik Kamal ke dalam tim utama.