Domain Dewa : Penguasa Benua

Domain Dewa : Penguasa Benua
Beda Pandangan


Pernyataan Emma disambut hangat, Uranus membantunya berdiri. "Tenanglah, sebagai rekan aku pasti membantumu. Tidak perlu ada hubungan murid dan guru disini," katanya dengan santai.


Uranus dan Emma kembali ke Dunia Buatan tanpa memperhatikan Blue yang masih canggung dengan para titan.


Raja Hollow dan pasukannya mendekat, mereka baru sadar karena tekanan para titan terlalu kuat. Jadi mereka pingsan tanpa mengetahui apa yang terjadi. Tau-tau mereka sudah kehilangan satu nyawanya karena ledakan super besar.


"Tuan, apa kita bisa melanjutkan ke lantai selanjutnya?" tanya Raja Hollow.


"Tunggu sebentar, mari luruskan hubungan kita dengan para titan." Blue mengalihkan pandangannya ke arah Raja Titan.


"Raja Uranus ada di pihak anda, sudah semestinya kami ras titan akan mengikuti anda." Raja Titan masih berlutut, ia tidak perlu menjaga wibawanya lagi.


Para titan lainnya tidak membantah, keberadaan Uranus saja sudah cukup untuk menaruh kepercayaan pada Blue.


Blue mengibaskan lengannya, sebuah kontrak muncul di depannya. Tidak kontrak biasa, Blue membuat kontrak yang setara dengan sumpah darah.


"Ayo lakukan dengan cara kuno."


Raja Titan sadar bahwa kontrak itu akan mengekang ras titan. Ia harus memutuskan nasib bangsa titan dengan hitungan detik.


"Tidak perlu ragu, aku siap memberi kalian tempat tinggal yang layak." Blue berencana memasukkan para titan ke Dunia Buatan setelah menandatangani kontrak.


Raja Titan sempat ragu, tapi akhirnya ia memilih untuk melakukan sumpah darah daripada menandatangani kontrak misterius.


Blue tidak percaya ternyata Raja Titan cukup cerdas, Sumpah darah hanya mengikat perorangan. Sedangkan kontrak yang dikeluarkan mengikat seluruh bangsa titan.


"Jika seperti itu, aku hanya bisa menyediakan tempat tinggal pada mereka yang mengucap sumpah darah." Blue tidak mau kalah, ia harus mendapatkan kesetiaan absolut.


19 titan petarung di belakang Raja Titan tidak punya keraguan. Mereka mengucap sumpah darah.


Setelah pengucapan sumpah darah, kekuatan meluap dari tubuh para titan. Mereka akhirnya terbebas dari rantai yang membatasi kekuatannya.


"Kekuatanku kembali?" ungkap Raja Titan yang sudah lama tidak merasakan tubuhnya segar bugar.


Para titan mengangkat kedua tangannya hingga sedada, semua segel yang membatasi kekuatannya telah dicabut.


Setelah menyerap energi dari limas segi lima, Blue menjadi sangat kuat. Jadi berkah yang dimiliki Raja Segalanya juga sedikit berkembang. Bahkan bisa melepaskan segel yang ditetapkan Tartarus.


Raja Hollow dan 250 petarungnya segera sadar. Mereka juga mengucap sumpah darah untuk mendapatkan kekuatan baru.


Benar saja, Raja Hollow mendapatkan kekuatan fisik yang diinginkan. Meskipun poin berkembang biak mereka tidak menambah, tetapi secara garis besar tubuhnya tidak punya batas seperti sebelumnya.


Blue memasukkan semua orang ke Dunia Buatan untuk menikmati energi alam. Meskipun sudah terserap Uranus, energi di sana dapat pulih dengan cepat karena adanya Pohon Dunia.


Blue sekarang hanya berjalan dengan Ghost yang tidak membutuhkan energi alam. Ia hanya butuh energi Yin untuk kesenangannya.


"Apa kau serius tidak ingin masuk ke Dunia Buatan?" tanya Blue.


"Aku bisa masuk dan keluar sesuka hati. Jiwaku sudah terikat padamu, jadi jangan khawatir."


Blue mengangguk, ia segera melanjutkan perjalanan mencari bangsa Titan yang dibicarakan Raja Titan.


Untuk mempercepat perjalanan, Blue menunggangi Raul dan menggunakan Gate. Karena Tartarus penuh bahaya, jadi Blue tidak akan terbang.


Butuh seminggu untuk mencari tempat persembunyian bangsa titan. Blue segera memperkenalkan diri dan meminta izin untuk masuk.


Sayangnya dia dihadang penjaga titan yang kekuatannya tidak lebih lemah dari Naga Angin. Bahkan Eka dan Dwi akan kesulitan melawannya. Jadi Blue memilih untuk menunggu para Titan menyelesaikan pelatihannya di Dunia Buatan.


"Sial, sampai kapan aku menunggu disini!" gumam Blue.


Ela muncul dan ingin masuk Dunia Buatan. "Biarkan aku masuk, Tuan. Akan kupukuli kepala mereka!" ungkapnya.


"Tidak perlu buru-buru, ayo lihat monster disekitar sini." Blue berdiri dari duduknya, ia melangkah menuju hutan yang dipenuhi pohon gosong.


Tidak ada satupun daun hijau, yang ada hanya daun kering berserakan di tanah. Setelah memperhatikan dengan teliti, Blue menemukan keanehan.


"Aneh, mengapa tidak ada sedikitpun monster?" gumamnya pelan.


Mata Dewa digunakan untuk memastikan lingkungannya. Namun semua sudah terlambat, Blue dikepung monster pohon yang sangat banyak.


Lebih dari 300 monster pohon bersiap menyerang, mereka menciptakan sebuah akar hitam dan menusuk ke arah Blue.


"Sial!" umpat Blue yang masuk ke dalam jebakan para monster.


Jubah Raja Api dibangkitkan, cahaya keemasan langsung membakar semua akar monster pohon. Namun itu tidak menyelesaikan permasalahan.


Nyatanya para monster pohon itu hanya menginginkan energi hidup, jadi mereka akan menyerang siapapun yang punya energi kehidupan.


Blue bermanuver, ia berkelok-kelok menghindari serangan monster pohon. Meskipun banyak, Blue mendapatkan sebuah ide gila.


Tangan kanannya menarik sebuah pengikat kepala dari ruang penyimpanan. Tanpa pikir panjang ia menutup matanya dengan ikat kepala itu.


Aura ungu kehitaman muncul, Blue mencoba memprediksi serangan musuh. Sebelum ia bergerak, akar dari monster pohon tiba-tiba menusuk perutnya.


Karena Blue punya karakter yang sangat kuat, ia langsung melompat ke belakang dan menstabilkan pijakannya. Tangan kanannya mengambil ikat kepala, ia melihat Bar HP miliknya.


Blue bergumam pelan, "Ternyata tidak separah yang aku kira." Setelah terkena serangan monster, Blue mendapati HPnya berkurang 2% saja. Artinya ia bisa menerima 50 serangan di waktu bersamaan.


Blue menutup matanya lagi, ia mencoba memprediksi serangan dengan mata tertutup. Meskipun lemah, akar monster pohon punya pola serangan yang tidak menentu.


Persepsinya memang sangat kuat, tetapi refleknya masih sedikit kurang. Blue mencoba memanfaatkan kesempatan ini untuk meningkatkan refleknya.


Akar pohon menyerang Blue tanpa henti, ada 300 monster pohon menyerang bersama-sama. Blue memprediksi jalur paling aman untuk kabur.


Tubuhnya terus bergerak menghindar, keringat mulai bermunculan di dahinya. Blue kelelahan tapi ia masih tersenyum manis.


"Ini lebih menyenangkan dari yang aku kita." Blue menikmati prosesnya, tidak ada yang tahu berapa lama ia menghindar.


Karena sudah cukup lama, Bee keluar dari ruang penyimpanan dan mengambil kotak makanannya. Ia menonton pertunjukan menghindar yang diperlihatkan tuannya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Bee pada Elvy yang mencoba menyalakan api.


"Apa matamu buta, tentu saja aku ingin membuat api."


Kedua mata Bee tampak datar, ia melihat ke kanan dan kiri. Lingkungan disini sangat hangat, anehnya Elvy ingin menciptakan api.


"Apa kau bodoh?"


Bee menjawab pernyataan Elvy dengan hinaan. Keduanya sudah seperti keluarga, jadi tidak akan marah meski perkataannya sedikit kasar.


"Aku menyesal menganggap orang sepertimu penuh dengan pengetahuan." Elvy masih mencoba menyalakan api dari bekas kayu.


Bee yang tidak tega menggunakan jari telunjuk memancarkan cahaya untuk membakar kayu kering.


"Bagus, sekarang kita bisa sedikit santai."


Bee hanya mengangguk dan memakan kaki kepiting goreng kesukaannya. Ia masih tidak mengerti apa yang sedang dilakukan Elvy.


Udara yang hangat tiba-tiba berubah dengan satu hembusan angin. Angin yang membawa hawa dingin mulai menyebar, para monster pohon segera berhenti menyerang dan menggunakan teknik pertahanan.


Blue yang penasaran apa yang terjadi membuka penutup matanya. "Mengapa mereka diam?" ungkapnya pelan.


Ternyata para monster pohon berhenti karena hawa dingin. Blue segera mendekati Elvy untuk menghangatkan tubuhnya.


"Apa sekarang kau mengerti, Lebah Gendut?" tanya Elvy sambil membusungkan dadanya.


"Bodoh, memang apa gunanya jubah yeti?" ucap Bee dengan santai.


Jubah Yeti bisa menghilangkan hawa dingin, jadi sebenarnya pembuatan api unggun tidak diperlukan. Namun Blue memilih untuk mendekat karena menghargai usaha Elvy.


Sayangnya pangeran gendut itu tidak punya hati nurani, ia langsung mengatakan kebenarannya tanpa jeda sedikitpun.


"Sudahlah, api ini juga ada untungnya." Blue menunjuk gerombolan monster pohon.


"Mereka mendekat?" ucap Elvy.


"Mereka kedinginan, jadi mencari tempat untuk berteduh. Elvy buat obor dan tancapkan di setiap sudut lingkungan monster pohon."


Blur memberikan perintah, Elvy dengan cepat bergerak dan membuat obor dari batu mana.


"Kenapa kau melindunginya?"


Blue menggelengkan kepala. "Usahanya memang bermanfaat, hanya kau saja yang tidak melihat kegunaannya."


Sudut pandang keduanya memang sedikit berbeda, tetapi Bee selalu meyakini bahwa tuannya bukan manusia melainkan dewa yang tahu segalanya.


Awalnya Bee memang ingin menghancurkan motivasi Elvy untuk berbuat yang wajar. Hal itu guna untuk pertarungan melawan Zeus dan pasukannya.


Kejadian kecil yang tidak signifikan harus dihilangkan. Bee ingin semua rekannya fokus pada perang dan membawa kemenangan.


Tidak berbeda jauh dengan Blue, tetapi ia memilih untuk bersama teman-temannya menaklukkan Domain Dewa.