
Aji tidak mau kalah dengan Agnologia, ia segera berdiri dan berlari ke arah musuhnya. Tinjunya segera melayang dengan kecepatan tinggi, tanpa terasa ia sudah mencapai pipi manusia hitam itu dan mendorongnya setengah langah.
Agnologia membiarkan serangan musuh karena ia ingin melihat seberapa lawannya. “Ini sedikit mengecewakan, aku kita kau lebih menarik!” katanya dengan ekspresi merendahkan.
Sebagai seorang petarung Aji sudah ratusan kali kalah melawan Blue, jadi hinaan ringan seperti itu bukan masalah untuknya. Kakinya mulai melompat dan kuda-kudanya berubah menjadi petarung gaya bebas seperti Blue. “Haha, jangan mengira aku sudah serius!”
Agnologia melangkah maju dengan kecepatan sedang tapi kekuatan tinjunya sangat kuat. Aji menggeser tubuhnya ke kanan dan mengayunkan kaki kirinya untuk menendang muka musuhnya.
Tinju Agnologia berhasil membersihkan semua tumbuhan dan gelombang angin menghancurkan tanah. Tendangan Aji tampak tidak menyakitkan, tetapi Agnologia merasakan sesuatu yang aneh.
“Hmm!” gumam Agnologia yang merasa tendangan tadi dapat merusak ritme serangannya.
Benar saja, Aji sudah siap dengan tendangan kedua. “Jangan melamun di tengah pertarungan!” katanya dengan senyum manis di wajahnya.
Agnologia menggunakan tangannya untuk menghentikan serangan musuh, tetapi tendangan Aji tiba-tiba berbelok dan tetap mengenai pipinya hingga ia terdorong setengah langkah.
Tidak mau membuang momentum yang didapatkan, Aji menggunakan serangan beruntun menggunakan kakinya yang sangat cepat. Namun Agnologia bukan manusia biasa, ia menangkap kaki Aji dan membantingnya.
Bukannya terbanting dengan keras, Aji malah memegang tangan Agnologia yang besar dan memutar tubuhnya hingga merangkul musuh dari belakang. Lengannya segera mengunci lawan dengan teknik RNC, tapi kekuatan Aji dan Agnologia terlampau jauh sehingga Aji harus melompat dan melepaskannya. Sebelum melompat, Aji memberikan tendangan ringan ke tengkuk musuhnya.
Aji mendarat dengan mulus, ia tidak melepaskan pandannya dari musuh karena Agnologia lebih kuat darinya. “Bukankah ini lebih menyenangkan?” tanya Aji di depan semua anggota Fairy Dance yang menonton.
Kana dan kelompoknya melihat Aji berhasil solo raid melawan bos kuat. “Sialan, apa si bocah gila bela diri itu ingin mengambil semua perhatian!” kata Kana sambil melangkah maju.
Namun Horizon langsung menghentikannya. “Jangan gegabah, Aji sedang menolong kita dari pertarungan sia-sia.”
Seperti yang dikatakan Horizon, Aji sedang membeli waktu supaya Agonologia segera serius dan menghemat kekuatan rekan-rekannya.
Tinju Agnologia muncul kembali, Aji tidak punya waktu untuk menghindar. Kedua tangannya membentuk angka plus dan menggeser sedikit sudutnya sehingga serangan Agnologia tidak akan memberikan kerusakan maksimum.
Meskipun tidak terkena serangan telak, Aji di pukul undur 3 langkah. Tidak sampai disitu, Agonologia meniru serangan tinju yang dipraktikkan Aji sebelumnya, puluhan pukulan melayang salam hitungan detik. Dalam prosesnya, Aji tidak kehilangan fokus sedikitpun. Ia memanfaatkan tekniknya untuk membelokkan serangan musuh dan menghemat HP miliknya.
Tidak sampai 2 menit, Aji harus merelakan nyawanya karena kekuatan lawan terlalu kuat. Sosok pria berbaju biru muncul dan menghentikan pukulan Agnologia, punggungnya tampak sangat familier di mata Aji.
“Sejak kapan aku mengajarimu mengalah pada musuh?” kata Blue yang mengenakan pakaian khas Fairy Dance.
Teknik Baguazhang digunakan, Blue membelokkan serangan musuh dengan sempurna. Tidak seperti Aji yang terlalu keras kepala dengan teknik bela diri miliknya, Blue menggunakan teknik yang sekiranya perlu digunakan. Melawan musuh dengan daya hancur yang kuat, Blue harus membelokkan semua serangan dan tidak memberikan serangan balik sampai benar-benar aman. Berbeda dengan teknik Aji yang akan langsung menyerang balik setelah mendapat kesempatan kecil. Kedua teknik yang digunakan Blue dan Aji tidak ada yang salah, tetapi mereka punya fungsi yang berbeda.
Agnologia tidak melanjutkan pukulannya, ia menatap Blue yang tidak terkena serangan sedikitpun. “Teknik yang menarik, bagaimana jika kau menyerangku?” tanyanya dengan ekspresi sombong.
Blue tidak melepaskan kesempatan yang diberikan, ia langsung melangkah maju dan menyerang Agnologia di leher. Anehnya Teknik Baguazhang di tiru hingga tingkat tertentu sehingga serangan Blue berhasil di belokkan.
Sayangnya Agnologia melupakan sesuatu yang mendasar, menggunakan teknik di depan pawangnya adalah tindakan paling bodoh. Blue membelokkan pukulannya tepat di saat tinjunya berbenturan dengan tangan Agnologia. Tangan Blue tampak seperti menembus tangan Agnologia, padahal sebenarnya itu hanyalah serangan acak yang sering di praktikkan preman jalanan.
“Sampai kapan kau duduk, Sialan!” teriak Blue sambil menoleh ke arah Aji.
Segera setelah mendengar teriakannya, Aji meminum ramuan penambah HP dan MP, sekaligus ia bermeditasi untuk memulihkan sebagian konsentrasi dan staminanya.
Blue terus menyerang, tidak ada satupun pukulannya yang berhasil di blokir atau dibelokkan Agnologia. Hal itu membuat Agnologia marah besar dan melepaskan aura mematikan dan membuka segel kedua.
Tubuhnya mulai membesar seperti sebuah balon yang akan meledak, wujudnya perlahan berubah menjadi seekor naga hitam dan giginya terlihat putih mengkilap. Blue melompat menjauh dari Aji yang masih meditasi, ia tidak menyangka perkembangan situasinya secepat ini.
“Musnahlah kalian manusia!” teriak Agnologia dalam wujud naga hitam. Semburan energi dari mulutnya langsung menghanguskan semua benda di sepanjang garis serangnya.
7 gebang muncul dan menghentikan serangan Agnologia yang terlalu berlebihan, orang yang menghentikan serangan itu tidak lain adalah Rafaela dalam wujud malaikat.
“Naga Hitam, pertarunganku dengan Arthas tidak ada hubungannya denganmu, serahkan dia segera dan hiduplah lebih tenang!” kata Rafaela dengan ekspresi datar.
“Bagus, akhirnya ada orang yang berani mengancamku. Bocah bernama Arthas itu sudah ada di dalam domainku, selama aku tidak mati dia akan selamanya di sana. Jadi jangan harap aku membiarkan kalian membunuhnya!” jawab Agnologia dengan nada sombong.
Sebuah cahaya berwarna emas memberikan penambahan status pada semua anggota Fairy Dance. Semua yang mendapatkan penambahan status langsung berlari ke arah Agnologia yang tidak tahu apa yang terjadi.
Blue tidak percaya salah satu rekan terbaiknya bisa menggunakan keterampilan aneh. Semua orang yang mendapat penambahan status diberikan satu keterampilan pasif yang memungkin mereka untuk kebal serangan dalam waktu 5 detik setelah HPnya turun hingga 1.
[Pelindung Raja Segalanya (Penambahan Dewi Kemakmuran)]
[Memungkinkan semua mendapat perlindungan dari dewi kemakmuran yang baru, Rafaela. Jika HP turun hingga 1, efek kebal akan diperoleh selama 5 detik (Tidak mempengaruhi keterampilan khusus dari kelas. Keterampilan ini bisa digunakan setiap 10 menit sekali.]
Keterampilan yang sangat gila, itulah mengapa para anggota Fairy Dance berlomba-lomba untuk menyerang musuh dan memberikan kerusakan tambahan. Agnologia yang menerima serangan terlihat kesulitan melawan lautan manusia.
“Benar, serang aku semuanya!” teriak Agnologia segera melepaskan ledakan Aura yang dapat menguras tenaganya. Meskipun berhasil mengalahkan beberapa orang, Agnologia tidak tahu bahwa mereka punya kekebalan yang menyelamatkan nyawanya.
Perahu terbang yang dari tadi tidak memberikan serangan langsung menembak meriam, ribuan peluru perahu terbang menghujani Agnologia. Karena merasa peluru perahu terbang menyakiti pertahanannya, Agnologia mencoba untuk menghindar.
Namun sebuah rantai berwarna putih, ungu, hitam. coklat, emas, merah, biru, hijau, dan kuning mengikat kakinya. Para penyihir Fairy Dance tidak membiarkan Agnologia kabur dengan mudah.
Peluru meriam dari perahu terbang tidak sekali atau dua kali mengenai tubuh Naga Hitam, ada ribuan peluru yang menghantamnya. Agnologia tampak sangat marah dan melepaskan ledakan aura sekali lagi.
Rantai yang mengikat tubuhnya hancur, tetapi rantai lainnya muncul dan mengikatnya lagi. Para penyihir Fairy Dance bergantian menghentikan pergerakan Agnologia, hingga ia tersiksa di pusat serangan meriam dari perahu terbang.
Zaha yang baru datang tidak tahu apa yang ada di pusat serangan. “Biarkan aku ikut menyerang!” teriaknya dengan suara imut khas Zaha.
Dua senjata muncul dari punggungnya, senjata itu tampak seperti penembak laser tapi dalam versi yang lebih besar. “Ini belum cukup, ayo tunjukkan yang lainnya!” teriak Zaha dengan suara keras. Sebuah senjata penembak laser yang sangat besar muncul di depan badannya, sayap yang membuatnya terbang langsung menutup dan berubah menjadi senjata laser.
Zaha mendarat dengan mulus di tanah, 5 ujung senjatanya mengeluarkan sebuah bola energi yang sangat padat. Bahkan semua anggota Fairy Dance harus mundur karena Zaha sudah mulai beraksi.
Blue dan semua orang menghindar kecuali perahu terbang yang masih menyerang Agnologia. Setelah beberapa saat Zaha tertawa keras dan berkata, “Sudah siap, kapan kita menembak, Sayang!.”
Tidak ada yang mendengar suara keras Zaha, hanya Blue yang mendengarnya. Bukan karena gelombang udara atau yang lainnya, tapi karena Zaha memang mengirim telepati pada Blue secara personal.
Tanpa diduga Zaha berkembang menjadi wanita dewasa yang sangat agresif. Blue hanya bisa tersenyum kecut mendengarnya, ia mengangguk untuk memberikan persetujuan.
Zaha langsung melepaskan pelatuk penembak laser yang berhasil menghanguskan semua benda di sepanjang jalan serangannya. Bahkan tanah yang dilewatinya langsung terbakar menjadi abu.
Agnologia berhasil mempelajari serangan musuh, sehingga ia langsung menggunakan Mana Shield yang lebih kuat. Kedua lengannya langsung di ayunkan untuk membersihkan debu yang menutupi pandangannya.
“Aku merasa ada yang aneh,” gumamnya pelan.
Tepat ketika ia berhasil menyingkirkan debu, laser 5 buah menghantam tubuhnya dan mendorongnya hingga batang hidungnya tak terlihat. Tidak hanya menghancurkan tanah, gunung yang dilewati serangan laser menguap layaknya air yang di rebus, hilang.
Agnologia berusaha keras mempelajari struktur mana untuk membuat pertahanan yang lebih kuat. Namun siapa yang menyangka ternyata seorang Agnologia gagal mempelajarinya dan berakhir menyedihkan dengan inti mana di dalam tubuhnya hancur.
“Sial!” teriak Agnologia yang menyesal meremehkan musuhnya dan menahan kekuatan inti naga.
Tidak hanya anggota Fairy Dance yang terkejut melihat serangan mematikan yang di tembakkan anak kecil bernama Zaha, tapi semua dewa yang melihatnya juga mewaspadai serangan aneh yang di bawa para pemain.
Serangan laser sebenarnya ada di Domain Dewa, komposisi mananya sangat sederhana dan dipelajari semua penyihir. Namun Zaha berhasil membuat sebuah energi alternatif yang hampir menyerupai energi Nuklir di Bumi, jadi Agnologia dan semua dewa yang melihatnya tidak tahu apa yang terjadi.
Padahal serangan laser itu bukan senjata penghancur masal yang paling besar, ada senjata Nuklir yang masih di sembunyikan Zaha di laboratoriumnya saat ini. Niatnya senjata itu akan terjun menghancurkan Zeus dan pengikutnya.
Zaha yang menjadi pusat pembicaraan semua orang tidak peduli dan meniup ujung senjata laser miliknya. “Hufh, hufh, hufh kenapa masih panas ya? Padahal aku sudah menggunakan bahan terbaik! Ok waktunya mencari bahan di neraka lagi!”
Disisi lain, para raja iblis neraka merinding ketakutan. “Apa wanita gila itu sedang menghancurkan wilayah lain, sepertinya aku telingaku rusak karena mendengarnya tertawa.”
“Jangan menyebutnya bodoh, apa kau lupa semua harga kita di jarah wanita gila itu. Bahkan tulang kita dijadikan bahan untuk membuat senjatanya!” ucap salah seorang Raja Iblis berwujud singa.