Domain Dewa : Penguasa Benua

Domain Dewa : Penguasa Benua
Kerjasama


Raja Hollow datang sendiri memastikan kekhawatirannya. Ternyata benar, Wen di hajar habis-habisan sampai ia tak punya harapan hidup.


"Lepaskan dia." Raja Hollow memberikan peringatan. Namun itu tidak dapat menciutkan tekad Blue untuk menghadangnya.


"Kenapa harus melepaskannya?"


"Kami ras Hollow tidak punya permusuhan dengan manusia, mengapa kalian menyiksa salah satu kapten kami?"


Hirarki Tartarus punya 5 kedudukan, yaitu Rakyat, Prajurit, Kapten, Jendral, Raja. Jadi Wen punya kedudukan yang cukup tinggi.


3 Hollow yang dibunuh Blue hanyalah rakyat, jadi ia bisa membunuhnya dalam beberapa menit saja.


"Menarik, apa kau sedang berpura-pura tidak tahu?"


Pertanyaan Raja Hollow dikembalikan. Blue tahu lawan bicaranya sedang mencari alasan untuk membebaskan Wen.


Meskipun Raja Hollow cukup kuat, ia tidak bisa gegabah dengan para manusia. Karena sejarah selalu mencatat bahwa manusia yang menjadi penerobos Tartarus.


Raja Hollow menghela napas, ia tidak mungkin menyelamatkan Wen. "Baiklah, lakukan sesukamu."


Blue menyempitkan matanya, ia tidak menyangka Raja Hollow membiarkan kapten pasukannya mati di tangan musuh.


Tidak ada yang mau bermusuhan, Blue dan Raja Hollow saling mengerti karena mereka cukup peka dengan ancaman.


Blue tersenyum tipis. "Sepertinya kita sama, bagaimana kalau mengobrol sebentar?"


Raja Hollow mengganti wujudnya menjadi manusia. Kuku-kukunya yang panjang menyusut digantikan kuku manusia pada umumnya, semua bagian tubuhnya menyusut hingga setinggi 180 centimeter.


"Sepertinya menarik," katanya menyanggupi ajakan Blue.


Wen yang merasa terbuang hanya bisa marah dan menjerit. "Bajingan, aku tidak akan melupakan penghinaan ini!"


Ranai tidak punya rasa kasihan, ia membunuh Wen terus menerus hingga nyawanya 1.


"Tamat riwayatmu!" ucap Ranai memotong kepala Wen untuk terkahir kalinya.


Wen terlihat transparan, ia tidak punya pilihan untuk menerima nasibnya. Namun sebuah pemberitahuan sistem muncul dan membuatnya tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha...!"


Tanpa ragu Wen menekan tombol setuju.


...[Serahkan jiwamu pada penguasa Tartarus, Typhon. Energi kegelapan akan merasuk ke dalam jiwamu!]...


Energi kegelapan menghalangi kematian Wen. Aura berwarna hitam merasuki Wen dan memberikan kekuatan yang sangat besar.


Mata yang awalnya sangat suram menjadi lebih sehat, kulitnya yang putih kusam menjadi sawo matang. Kondisinya sekarang sudah sama seperti manusia pada umumnya. Namun energi kegelapan dalam tubuhnya sangat padat.


Energi kegelapan seperti itu mengingatkan Blue pada Azazel yang membuatnya marah. Kematian Tobias teringat kembali, bayangan Tobias dan pasukannya tersenyum.


Blue yang hampir kehilangan akal langsung berdiri, ia tampak sangat marah dan menarik Dual Secret Sword.


"Raja Hollow, maaf saya harus mengurus sesuatu." Blue meminta izin meninggalkan pertemuan untuk sementara.


"Selesaikan urusanmu dulu, kawan. Aku akan menunggumu di sini." Raja Hollow tidak mau menghentikannya.


Blue melebarkan sayap hitam, dengan kecepatan penuh ia sampai di depan Wen yang sudah berubah. Matanya memancarkan kebencian yang sangat dalam.


"Oh ternyata kau biang keladinya!"


Setelah menyelesaikan kata-katanya, Blue menusuk tubuh Wen dengan cepat. Dual Secret Sword memancarkan cahaya merah.


Teknik Amaterasu membakar tubuh Wen yang semi abadi. Meskipun semi abadi Wen masih merasa kesakitan.


Untuk memastikan kematian Wen, Blue menggunakan apinya untuk membakar wilayah ini. Wen yang ada di tengah kobaran api hanya bisa merasakan sakit.


Tidak ada kata ampun di depan Blue, Wen sudah meminta ampun sebanyak yang ia bisa. Namun amarah Blue kepada Azazel tidak bisa diselesaikan dengan permintaan maaf.


Sampai akhirnya energi hitam yang membantu Wen keluar dari tubuhnya. Blue dengan sigap langsung menggenggamnya.


"Jangan harap bisa kabur, tunggu saja aku di sana!" Blue menyerap energi kegelapan menggunakan teknik jiwa.


Ternyata benar, teknik jiwa bisa memperbaiki apapun yang ada di depannya. Bahkan energi Kekacauan dan Kehampaan di dalam tubuhnya sudah termakan habis.


Pertarungan singkat itu menarik minat Raja Hollow yang menonton. Ia sedikit terkejut dengan hasil pertarungan, Blue benar-benar menghabisi Wen dalam beberapa menit saja.


"Sudah aku duga, dia berbahaya." Raja Hollow menyadari posisinya. Meskipun ia sebenarnya masih lebih kuat dibandingkan evolusi Wen, Raja Hollow tidak mungkin selamat dari kobaran api abadi sebelumnya.


Blue sendiri sebenarnya tidak sadar bisa menyiksa musuhnya hingga parah seperti itu. Ia hanya menggunakan Amaterasu sampai ke titik kesempurnaan. Dengan bantuan Teknik Jiwa, Blue berhasil melakukannya.


Ranai sadar perbedaan kekuatannya, ia hanya bisa tersenyum melihat Wen yang menghilang. "Ternyata guru memilih murid yang tepat."


Blue kembali menemui Raja Hollow. "Maaf akan keributannya, ayo lanjutkan minum tehnya."


Cyclop tidak bisa menutup mulutnya, ia yakin bahwa energi kegelapan tadi milik Typhon. Namun pria bernama Blue itu bisa membunuhnya dengan mudah.


Disisi lain Typhon membuka matanya, ia merasakan sebagian jiwanya menghilang. "Hoho, temanmu datang!" katanya.


"Tidak, dia datang sendirian."


"Bodoh, sudah aku bilang bawa pasukan terbaikmu!" Raphael mencela tindakan Blue yang sembrono. Typhon bukan monster umum, dia adalah penguasa Tartarus yang sebenarnya.


"Ini akan menarik, biarkan saja dia bersenang-senang." Typhon meninggalkan Raphael yang terikat di penjaga.


"Sial!"


Raphael putus asa ketika mendengar Blue sendirian menerobos Tartarus. Padahal ia sudah memperingatkannya tentang bahaya Tartarus.


Disisi lain Blue berbincang santai dengan Raja Hollow, mereka tampak menikmati pembicaraan sambil tertawa.


Sampai akhirnya Blue menunjukkan tujuannya. "Raja Hollow, aku sangat mengagumi pemikiran tenang tatanan dunia. Namun aku sekarang kita tidak bisa melakukannya karena ada kekuasaan absolut."


Raja Hollow sadar bahwa pembicaraan akan mulai serius. Ia tidak mau melewatkan detailnya, supaya ada celah untuk keluar dari Tartarus.


"Ya, penguasa langit Zeus sangat mendominasi. Belum lagi ada Hades dan Posaidon, mewujudkan perdamaian dengan manusia sangatlah sulit."


Perdamaian yang mereka maksud bukan tentang pembunuhan yang dilakukan Hollow atau manusia. Perdamaian yang mereka bicarakan adalah tentang perasaan tidak menghargai satu sama lain.


Seperti yang dilakukan Wen memandang manusia, padahal awalnya dia adalah manusia normal.


Pembunuhan tak manusiawi itu mengakibatkan peperangan dan dendam yang berlebihan. Jika muncul satu saja sosok yang mendominasi, maka salah satu ras akan hancur.


Inilah ini Blue dan Raja Hollow duduk di satu meja. Mereka membahas kebutuhan ras masing-masing, Blue ingin poin pengalaman untuk meningkatkan kekuatan para manusia, dan Raja Hollow juga menginginkan energi kegelapan yang diambil dari jiwa manusia.


Keduanya sepakat tidak akan membuat perang yang besar. Mereka akan pasif melihat perkembangan satu sama lain sembari menjaga keseimbangan.


"Hades dan Posaidon sudah mati, mereka bukan ancaman bagi dunia lagi. Namun ada dua sosok lain yang lebih mengerikan, mereka adalah Odin dan Satan." Blue menjelaskan dua sosok yang paling mengerikan.


Raja Hollow secara tidak sadar mendapatkan pemahaman yang lebih besar. Pengetahuan tentang dunia luar membuatnya naik tingkat dengan begitu mudah.


Untuk menyembunyikan peningkatannya, Raja Hollow hanya tersenyum dan menutup matanya. Setelah beberapa saat ia mulai berbicara, "Jadi jika aku ingin mewujudkan mimpiku, kita harus melawan mereka bertiga?"


"Tidak juga, bukankah kehidupanmu di sini sudah nyaman?" tanya Blue dengan ekspresi santai.


Raja Hollow menggelengkan kepala. "Terlalu kecil, aku ingin menjelajahi dunia tanpa ada paksaan dan masalah yang merepotkan."


"Kalau seperti itu berarti kau harus melawan para penguasa saat ini." Blue mengulurkan tangan kanannya. Dia berencana menjalin hubungan kerja sama dengan ras Hollow.


Meskipun mereka nantinya akan menjadi momok yang menakutkan, setidaknya saat ini ras Hollow bisa menjadi bantuan untuk melawan Zeus.


Raja Hollow tersenyum dan menjabat tangan lawan bicaranya.


Sebelum menjawab ia tersenyum tipis, "Tentu saja."


Setelah berbincang ringan, Blue mendapatkan akses ke lantai 9 tanpa ada pertumpahan darah. Eka dan Dwi meninggalkan ras raksasa setelah pelatihan khusus. Bahkan beberapa ada yang ikut ke Dunia Buatan dan mengabdi pada Raja Segalanya.


Raja Hollow memperhatikan setiap langkah dari perkembangan pasukan Blue. Tanpa sadar ia mulai merinding dan bersyukur karena tidak menjadikannya musuh.


"Untungnya aku benar." para Hollow rendahan saling bertarung, hingga mereka mencapai tingkat yang lebih tinggi.


Monster Hollow pada dasarnya tidak terbatas, berbeda dengan ras Raksasa yang membutuhkan waktu untuk berkembang biak.


Setelah persiapan matang, Blue dan semua rekan-rekannya siap menuju lantai 9. Pada lantai ini Blue mendapatkan sekutu yang cukup kuat.


250 ras Hollow berdiri di belakangnya, mereka akan menjajah lantai 9. Raja Hollow sedikit tegang karena ia pernah dihajar habis-habisan oleh para monster di lantai 9.


249 Hollow lainnya setara dengan tingkat Jenderal, jadi seharusnya tidak terlalu lemah. Poin Berkembang Biaknya juga lebih dari 5 juta.


Blue memasukkan semua rekannya ke dalam Dunia Buatan kecuali Ras Hollow. Kakinya langsung melangkah masuk ke lantai 9 diikuti pasukan ras lainnya.


Beberapa saat berlalu, Blue sudah sampai di lantai 9. Ia melihat banyak lava meleleh di sekitarnya. "Gunung berapi?" gumamnya pelan.


Monster api muncul dan mendekatinya. Gelarnya sebagai bangsawan Baron tidak diabaikan, monster rendahan itu membungkuk.


"Tuan Baron, apa yang anda lakukan di sini?" tanya Monster Api dengan suara sopan.


Blue dapat yakin monster api itu tulus menghormatinya. Tidak ada tanda-tanda yang sama sepeti monster berkepala sapi.


"Aku ingin menuju dasar Tartarus, salah seorang temanku di penjara." Blue tidak menyembunyikan niatnya. Itu dilakukan untuk membangun kepercayaan lawan bicaranya.


"Lantai dasar dijaga Typhon, dia lebih sulit dari yang anda bayangkan. Kenapa tidak mengurungkan niat anda?" tanya Monster Api dengan suara rendah.


Blue tidak menyangka ternyata monster api masih menghormatinya padahal sedang mengincar nyawa Typhon.


"Aku sudah mempersiapkannya sejak lama. Jadi tidak mungkin kau menghentikanku."


Monster api mengangguk. "Anda adalah orang yang kami tunggu, ayo ikuti aku."


Monster api menuntun jalan menuju sebuah gua yang penuh akan kobaran api. Blue menggunakan Jubah Raja Api, jadi tidak akan ada kerusakan.


Setelah berjalan beberapa saat, Monster Api tersenyum. "Sudah pasti anda adalah orang yang ada di dalam ramalan. Tidak mungkin ada manusia yang bisa masuk gua keramat kami dengan begitu santainya."


Blue segera membuka peta dan melihat lokasinya. "Gua Kristal Api!"